Laman

Jumat, 08 April 2011

Anekdot: Gedung DPR



Ada dua orang sahabat yang sudh berteman sejak SMA, saat ini usia pertemanan mereka sudah meginjak tahun ke-5. Sebagai mahasiswa tentu informasi yang mereka kumpulkan adalah informasi-informasi berbobot seputar kuliah, teknologi, ekonomi, sosial, politik dsb dsb. Belakangan ini tiap kali sedang menikmati makan malam, berita yang muncul di salah satu stasiun tv nasional adalah kisruh politik aparat pemerintahan.

“Sampe saat ini nalar gua kok belum bisa nerima rencana pembangunan gedung DPR ya!”

“Yaiyalah jelas. Gak masuk akal!”

Wakil rakyat yang tidak merakyat. Itulah sebutan untuk para anggota DPR akhir-akhir ini. Bagaimana caraya mereka bisa merencanakan pembangunan gedung yang masih belum jelas fungsinya.
DPR adalah wakil-wakil rakyat yang menyuarakan aspirasi rakyat.

“Menurut lo masuk akal gak sih kalo katanya wakil rakyat itu menyuarakan aspirasi rakyat? Coba geh pikir. Kalopun rakyat-rakyat kecil menyampaikan keluh-kesahnya kepada kader partai yang ada di daerah, trus yang di daerah meyampaikan ke kabupaten trus akhirnya sampe ke jajaran tertinggi di DPR, apa iya isi aspirasinya masih utuh? Kan unbeliveable banget!”

“Iya ya. Awalnya mereka pesen supaya dibangun gedung sekolah yang baru, eh, malah yang mau dibangun gedung DPR!”
HAHAHAHA

Kamis, 17 Maret 2011

wibawa

bagaimana bisa? ha!

s
e
lalu

setiap belajar dan menelaah materi-materi yang mebyebutkan nama-nama semacam Aristoteles, Plato dsb, apalagi yang ada kaitannya dengan filsafat, saya bertanya(tanya):


"benarkah 
Islam adalah agama yang terakhir muncul? 
benarkah? 
tidak adakah yang bisa memberikan saya informasi bahwa fakta-fakta tersebut telah ditukar? 
bahwa tanggal-tanggal itu telah diganti?"

haloo, 
kita semua harus tahu , dan mungkin memang sudah tahu bahwa Allah adalah pencipta alam semesta bagaimana mungkin Islam muncul di barisan belakang, di negara ini.
aku mau jawaban!

Rabu, 16 Maret 2011

mungkin ini saatnya introspeksi diri

"ada saat ketika kamu merasa suatu hal kecil yang sulit kamu ungkapkan, telah membuat tiba-tiba kamu diam. merasa kosong. dan kamu menyepi." >> ini tweetku sore ini. setelah pemotretan (pengurus Sema)

banyak hal kecil yang terjadi hari ini, bahkan setiap hari. pernahkah kamu tiba-tiba diam karena suatu hal? 
kalo aku bukan pernah, tapi terkadang. 
setelah kutelaah sedikit lebih dalam, sebenernya k\'kesulitan' yang kita rasakan itu disebabkan oleh berbagai hal:

malu
sulit menerima kenyataan
sulit memahami suatu hal
emang lagi kacau



aku adalah tipikal orang yang suka dengan rahasia. jarang bercerita (secara lisan).
ke
nya
taan
nya 

"menyimpan rahasia adalah hal menyenangkan. namun tahukah betapa menyiksanya rahasia itu saat mendesak untuk dijabarkan."

mungkin selain suka rahasia, aku juga tipikal yang sulit percaya dengan seseorang. ada dua hal yang begitu senditif dalam hidupku yang jika kamu menyinggungnya, akan ada yang berderai-derai. dan itu adalah saat aku 'terluka' karena belum (juga) sanggup menerima kenyataan itu.

tapi hari ini. aku diam karena hal lain. bukan dua hal tadi.
Tuhan...
"seandainya ada alat pendeteksi hati, aku mau pake buat membahasakan apa yang semrawut sekarang. "

mungkin sebaiknya aku introspeksi diri, aku harus tahu apa yang sedang Tuhan ingin katakan.

Senin, 14 Maret 2011

edisi galau

setelah menempuh kurang lebih 4 semester di Fakultas Ilmu Budaya Undip, ternyata s u l i t untuk menyadari kenyataan bahwa ini sungguhan.


sore tadi saya dan yayuk baru saja mengikuti jalsah ruhiyah, semacam liqo/ kajian untuk mencharge  ruhiyah, jiwa. tema yang diangkat adalah taubat. namun seperti biasa saya tak pernah sepenuhnya mengikuti. di sela kajian, pasti kami akan menyelipkan diskusi (sendiri). at least, satu hal yang saya ingat sampai malam ini adalah, Murabbi sore tadi mengatakan bahwa 


kita harus mencari tahu, menelaah apa yang sebenarnya Tuhan maksudkan atas setiap kejadian yang Ia hadirkan.

 sama seperti postingan saya kemarin, bahwa segala sesuatu akan terlihat bisa saja jika hanya dilihat secara kasat mata. 
memasuki semester 4 ini, sebagian mahasiswa sastra indonesia angkatan 2009 mendapatkan 24 sks sehingga bisa mengambil mata kuliah 2 sks di semester 6. sayangnya, sebagian teman-teman saya berencana akan mengikuti peminatan linguistik. jadi, ada 3 peminatan di jurusan sastra indonesia, yaitu Sastra Indonesia, Linguistik, dan Filologi. berhubung semua jadwal pada linguistik semeter 6 bentrok dengan jadwal kami semester 4, akhirnya mereka beralih pada mata kuliah pilihan, Pengkajian kesenian tradisional. saya sendiri mengambul peminatan sastra dunia atau biasa juga disebut sastra bandingan. 

awalnya saya mengira bahwa ruang lingkup sastra dunia/ sastra bandingan hanyalah sastra luar/ terjemahan, sebagaimana teori Remak , namun kemudian dipatahkan oleh Pak Sapardi dengan teorinya yang menyatakn bahwa : sesunggunya sastra bandingan lebih ditujukan pada studi sastra yang melampaui batas kebudayaan. artinya, tidak harus sastra belgia, perancis, amerika dan semacamnya yang bisa dibandingkan, melainkan jawa, sunda, lampung, bali dan yang lainnya pun bisa.>> setidaknya ini yang saya catat dari kuliah hari kedua bersama pak Sukarjo Waluyo. 

dari sinilah tercetus dalam pikiran saya untuk membandingkan karya sastra daerah kelahiran saya, Lampung, dengan karya sastra Jawa, pada Tugas akhir nanti. saya pun mulai mencari tahu di mana sekiranya saya bisa mendapatkan karya sastra berbahasa lampung. langkah awal saya adalah ngewall Pak Isbedy Stiawan, dari beliau saya mendapatkan rekomendasi nama seseorang yang ternyata juga merupakan tokoh di Lampung, yaitu Udo. Z. Karzi. dari Udo (Udo adalah sebutan kalau tidak salah Paman dalam adat lampung) inilah saya mengetahui sebuah kenyataan yang sulit saya terima. berikut ini wall singkat kami.


selamat siang, Udo (sapaan)
saya mau tanya, kirakira bisa menemukan cerpen/ novel berbahasa lampung dimana ya?
saya sedang kuliah di luar lampung, dan sepertinya (akan) membutuhkan karya sastra berbahasa lampung. terimakasih :)
5 hours ago ·  ·  · See Friendship

    • Udo Z. Karzi 
      hingga saat ini, boleh dibilang baru ada empat buku berbahasa lampung: momentum (kumpulan sajak udo z. karzi, 2002); mak dawah mak dibingi (kumpulan sajak udo z. karzi, 2007); di lawok, nyak nelepon pelabuhan (kumpulan sajak oky sanjaya, 2007), dan cerita-cerita jak bandar negeri semuong (kumpulan cerpen asarpin aslami, 2007). ke depan diharapkan semakin banyak buku sastra berbahasa lampung yang akan terbit. semoga.

      sayangnya, buku-buku yang sudah itu sudah langka.

      2 hours ago · 

    • Destaayu Wulandari jadi, saya gak bisa mendapatkan buku" itu?
      about an hour ago · 

    • Udo Z. Karzi coba tanya info yang pegang buku itu. saya adanya masing-masing 1 eksemplar.
      about an hour ago · 

    • Destaayu Wulandari di percetakannya juga ga memungkinkan kah, Udo?
      about an hour ago · 

    • Udo Z. Karzi di penerbit? kayaknya dah distribusikan semua.
      about an hour ago · 

    • Destaayu Wulandari hmm. yaudah kalo gtu. saya coba cari info ke mereka. makasih banyak Udo..
      about an hour ago · 

    • Udo Z. Karzi sama2. ato... kapan pulang ke lampung? nti saya usahakan nyariin.
      about an hour ago · 

    • Udo Z. Karzi ok, kabari juga kalau pulkam.
      about an hour ago · 

    • Destaayu Wulandari oke, insyaallah..
      about an hour ago · 

    • Destaayu Wulandari baru masuk semsester lagi, biasanya tiap libur semster baru pulang. oh gtu. dengan senang hati, mohon dikabari ya Udo :)

ternyata, geliat sastra di tanah kelahiran saya begitu memprihatinkan. dan ini membuat usikan kecil di hati saya, haruskah saya mengubah rencana awal untuk mengambil peminatan sastra indonesia kepada Filologi? haruskah? haruskah??? (dramatisasi)
bahkan sebelum akhirnya saya meyakini untuk mengambil sastra indonesia, saya harus merelakan cita-cita yang saya rajut jika mengambil peminatan linguistik (saya punya impian besar pada peminatan linguistik, namun darah sastra seperti membakar semua itu).
what should i do?
tahukah kalian, kegalauan yang saya rasakan ini menjadi 'semakin' setelah saya tiba di blog Udo . 

Minggu, 13 Maret 2011

ladiest first in fact

ini bukan tentang seberapa aku (kami) gede rasa atau seberapa ganteng dia.
pagi tadi, pas aku sama yayuk pulang dari kajian ahad dhuha di maskam Undip, kami dihadapkan pada suatu perlakuan yang sungguh menyenangkan.


jadi ceritanya. motor kami akan belok di jalur sah buat belok (apaan ya namanya). pokoknya ini tuh jalur belok yang biasanya ada di jalan yang berjalur dua, ngerti ga ngerti, pokoknya di tembalang tuh jalannya berjalur dua. nah, kita mau belok yang di depan bakso gang tunjung sari. di saat yang sama sebuah motor mau belok dari arah berlawanan, jadinya yayuk berhenti dengan maksud membiarkan motor itu duluan. eh, malah motor itu ikutan diemm. kita sempet diem-dieman sebentar sampe akhirnya masnya yang ngendarain motor ngangguk sambil senyum. kami pun jalan duluan. 


seperti biasa. kita berdua kalo misalnya ngeliat hal aneh dan unik bakal senyum tanda paham (sepaham). 
"seneng ya digituin. contoh laki-laki yang pengertian ya gitu" kata yayuk
"ini baru yang namanya ladiest first. padahal tadi masnya bisa aja langsung nyelonong lewat duluan"

Aku Membaca


Aku Membaca

Tahukah kau, pagi tadi kubaca lembar pertama wajahmu
: di kehidupan kedua
Pada pengantarnya, sekelumit masa lalu berbaring menjaring matahari

Koma, itukah kaki-kakimu, Tuan?
Menggambar jejak di jalanan yang baru kemarin kau lewati
Kau melewatinya lagi

Di bab pertama, kau tersenyum mengawali waktu
Jejarimu, memeluk asa yang membuncah nyaris tumpah
Kau genggam mimpi dengan tinta matamu
Lihat.
Matamu berkantung, Tuan.

Aku membaca, bahwa kau kerap membaca kami
Dari pagi hingga larut, mungkin.
Ini begitu tebal, halaman kerap mengekor tak mau putus
Bab pembahsan ini sungguh monoton
: aku bosan

Dan, Jika ini sebuah penutup, lalu dimana kesimpulan.
Aku membaca, setumpuk aksara tanpa tanda(tanda).

Tembalang, 6 maret 2011


Sabtu, 12 Maret 2011

catetan maksa

beberapa hari ini salah satu kegiatan yang gua lakiuin untuk ngisi waktu luang- awal semester- adalah baca novel. sampe hari ini, gua udah nyelesain "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" Tere Liye sama "Rahim"nya Fahd Djibran. tadinya gua pingin bikin resensi testimoni, tapi gatau kenapa berasa ada sindrome yang selalu ngalangin imajinasi gua untuk bikin prolog -alasan- 

yang jelas dua buku itu keren banget, dan wajib baca. sedikit bocoran (mudahmudahan kapankapan sempet bikin testimoni khususnya) RTW bercerita tentang kebijaksanaan Tuhan dalam memberikan segala sesuatu kepada manusia tidak akan melebihi kapasitas kesanggupan kita. sedangkan Rahim adalah buku unik yang tampil dengan gaya penceritaan berbeda, menceritakan tentang kehidupan manusia di alam rahim yang ga pernah kebayang selain baca buku ini.

 intinya, dari dua buku yang gua sebutin di atas adalah: 
setiap hal yang hanya dilihat secara kasat mata tidak akan menunjukkan apa-apa, biasa aja. justru rahasia dibalik setiap hal itulah yang penting, karena rahasia memang dibuat sebagai penyemangat untuk melanjutkan hidup di hari esok. dan gua baru tau kalo ada orang -akun- sekreatif pocong.
(kalimat yang benerbener gak nyambung) 

jadi gini, pocong adalah sebuah akun di twitter dan koprol yang sempet booming pada masanya, dan sekarang dia tetep eksis di dunia(nya) maya. yang unik dari pocong ini adalah, dia selalu tampil ngocol ala raditya dika, kalo lagi kumat suka ngaku-ngaku sebagai artis indonesia. dulu (biar dramatis) gua yang penasaran tentang siapa dia, sempet percaya pas dia mengatasnamakan Dude Herlino di tweet nya, eh besoknya dia ngaku Derby Romero *tuing

whateverlah, 
yang jelas gua suka dengan inovasi yang dia buat. gua suka dengan aktivitas menulisnya. 
buat yang pingin tau gimana sih sebenernya pocong, jalanjalan ke twitter atau blognya. dia adalah konsultangenes hantu pertama yang gua tau. semoga aja secepatnya anggota keluarganya yang lain membuat inovasi baru daripada sekedar nakutnakutin orang.

lompat

Senin, 07 Maret 2011

Dimanakah bisa kutemukan?



Dimanakah bisa kutemukan?

Rintik adalah hujan yang tertahan
Dari celah matamu yang hapir patah, aku sembunyi
Lebam-lebam sunyi masih nyata di pintumu
: sebuah cinta yang tertelan batu

Aku, sebuah rintik yang menjelma hujan
Disanakah kau?
Di jalanan yang basah, di tepi penjual tanya
Siapakah kau?

Kutemukan basah di bekumu
Di pekat malam yang tertelan pagi
Aku masih mencari

Tembalang, 6/3/11

Minggu, 27 Februari 2011

Tiga Banding Satu



Dilahirkan sebagai satu-satunya perempuan dalam keluarga bukanlah sebuah impian, melainkan takdir. Kerap, jika seseorang bertanya dan mengetahui bahwa aku satu-satunya anak perempuan di antara 3 saudara laki-lakiku, “wah, beruntung banget, pasti kamu dapet kasih sayang ekstra”. Aku juga pernah dengar selentingan bahwa nantinya ketika kami telah memasuki fase ‘dewasa’, aku –satu-satunya anak perempuan- akan mendapatkan sebuah perlakuan spesial dari 3 saudaraku tersebut, entahlah seperti apa maksudnya. Yang jelas, aku sangat bersyukur atas semua yang Tuhan berikan. Meski terkadang muncul perasaan-perasaan sedih karena tak memiliki teman untuk berbagi, seorang kakak perempuan.

Terlepas dari apapun itu, aku percaya bahwa Tuhan lebih paham apa yang kita butuhkan. Memiliki 3 saudara laki-laki sekaligus, bagiku sangat memberi warna dalam hidup.

Kakakku, anak sulung dalam keluarga kami adalah tipikal pria yang sangat patuh beragama. Ia bisa (sedang) menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dia adalah motivator dalam hidupku. Hidupnya sistematis, penuh perhitungan.
Namanya Agus Herryanto. Salah satu kisah masa kecilnya yang kuingat adalah:
Dulu, saat usianya baru 5 tahun ia selalu ikut ke sekolah jika Ibu kami mengajar. Karena keintensifannya mengikuti kelas (1 SD), maka ketika hari pembagian raport ia merengek bahkan hampir menangis karena tak mendapatkan raport seperti yang lainnya. Akhirnya atas izin kepala sekolah, kakakku mendapatkan raport. Sejak saat itulah ia resmi menjadi murid SDN 4 Pardasuka. Kediniannya masuk SD membuatnya menjadi sarjana pada usia 21 tahun, bukan 22. SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 Tahun dan kuliah 4 tahun.
Beberapa bulan setelah menuntaskan kuliahnya, kakakku diterima bekerja di sebuah perusahaan ternak, sebagai penyuluh. Sejauh yang kutahu, pekerjaannya adalah memperhatikan pola makan ternak-ternak, memberikan obat jika ada hewan yang sakit, menghitung bobot hewan sebelum dijual dsb. Kini, 4 bulan sebelum usianya genap 23 tahun, ia telah menikah dengan seorang wanita pilihannya. Ah, suka atau tidak suka, sebenarnya aku telah “kehilangan” seorang kakak, satu saudara laki-lakiku.
22 februari 2011 lalu ia resmi menikahi teman SMAnya. Aku jadi ingat satu lagi kejadian paling konyol (mungkin), sepanjang hidupnya.
Suatu hari, kakakku tidak pulang ke rumah setelah sekolah. Kami sekeluarga paanik, namun yag terlihat sangat panik adalah aku dan ibuku. Waktu itu adikku Adfa belum lahir, dan aku tak tahu kemana ayah dan adikku (Aan) waktu itu. Yang jelas selepas maghrib kami berdua pergi ke wartel. Dengan modal sebuah hp (butut) kakakku yang entah sengaja atau tidak, ditinggal di rumah. Sampai di wartel, ibu mendaulatku untuk menghubungi semua nomor hp teman-teman kakakku. Dan dengan polosnya aku mengiyakan. Sayang, kami tak mendapatkan informasi apapun. Ketika itu aku sempat berfikir, jangan-jangan kakakku tak punya teman? *tuing. Keesokan harinya kebetulan hari minggu, kakakku akhirnya pulang. Ba-bi-bu pertanyaan kami tumpahkan padanya, ternyata ia pergi ke Tangerang dengan temannya, demi untuk membeli seperangkat perkakas semacam obeng yang sedang dijual murah. Aku sampai tak habis pikir. Dan efek terbesar yang timbul dari rentetan peristiwa tersebut adalah, kakakku tidak masuk sekolah gara-gara semua temannya menanyakan keberadaannya setelah kuhubungi satu-satu malam itu. =D.

aku adalah anak kedua dalam keluarga, setelahku adalah adik pertamaku, Aan Novan Setiawan. Jika dibandingkan, adik dan kakak pertamaku adalah dua orang sangat bertolak belakang. Dalam bidang agama adikku sangat kurang, semenjak masuk sekolah menengah ia menjadi semakin ‘bandel’ dan semaunya, suka keluar malam saat malam minggu, playboy, dan... alay (–-‘), ini yang paling kusayangkan. Dengan wajah gentengnya, adikku memang wajar jika playboy, tapi kenapa harus alaaaaay???, hmp.
Aku pernah membawa perihal adikku ini dalam liqo’ ketika sma, murobbiku pun menyarankan agar aku memberi perhatian lebih padanya. Beliau mengatakan bahwa laki-laki lebih sulit menemukannhidayah dibandingkan perempuan. Jika sudah terlanjur seperti itu, maka harus ada yang mengaragkannya. Maka akupun pelan-pelan menyarankan pada adikku untuk mengikuti ekskul Rohis di sekolahnya. Awalnya ia menurut, namun belum sampai seperempat perjalanan ia memutuskan untuk keluar dan memilih ekskul Pramuka. Alsannya saat kutanya mengapa adalah ketidakkondusifannya ekskul Rohis. Ya, kuakui mmang seperti itulah Rohis. Jika tidak ada tekad kuat, pasti mental.
Namun, yang membuat aku tetap bangga dan menyayanginya adalah kerajinannya. Kami bertiga (aku belum tahu bagaimana Adfa karena usianya baru satu tahun) mewarisi kebiasaan baik orangtua kami, yaitu rajin belajar. Bandel- bandel begitu, adikku tetap berprestasi di sekolahnya. Semester lalu ia mendapat peringkat pertama di sekolahnya, jurusan elektro. Dan itu membuatnya diperbolehkan membawa Vixion ke sekolah oleh orangtua kami. Dan malam ini, aku baru saja mnemaninya membuat tugas dari sekolah, merangkai sound system. Kami tertawa lepas saat bersama mendengar hasil rakitannya yang menggunakan salon rusak, suaranya seperti alien =D. Adikku tetaplah adikku =)

Yang terakhir, si kecil yang cerdas, Adfarizkia Al Hanif. 5 februari ini tepat 1 tahun usianya. Kami sekeluarga memang syang banget sama dia, aku aja saking excitidnya bela-belain pesen mainan ke Yayuk buat dia, sama kemaren pas di jogja aku beliin puzzle. Padahal pas sampe ditangannya Cuma diusek-usek, yaiyalah, belom ngrti gimana maeninnya. Malah sepupu-sepupunya yang udah 3-4 tahun yang maenin.
Perkembangan Adfa memang pesat, dia uda bisa ngeledekin orang-oran disekitarnya, terutama aku, yang baru bisa ketemu tiap 6 bulan sekali. Gaya meringisnya kalo lagi puas ngerjain orang, khaaas banget =)