Laman

Selasa, 30 Agustus 2016

Mungkin Jodohmu sedang Mencari Alamat Barumu...

#Ini cerita Mba Tusi di grup whatsapp #PayTrenDhuhaTeam, soal pesanan Quran yang terlambat sampai#
Saya tadi dapet chat dari FMM (Film Maker Muslim) Mas Iqbal, kan saya pesen paket sama beliau. Waktu itu ditujukan ke alamat Jakarta trus ga nyampe2 malahan nyasar (dan sekarang saya tidak di Jakarta lagi, sudah pulang kampung ke Purwokerto, red.). Saya waktu itu lost control, emosi. Saya agak dingin sama mas Iqbalnya. Saya udah minta maaf dan bilang nyesel kek gitu. Alhamdulillah beliau baik dan coll bgt ngadepin saya Sudah bisa disimpulkan ya beberapa jam kemudian paketnya beneran dateng. Subhanallah.
Mba Tusi share isi chatnya:            
[30/8 08.34] Fmm: Assalamualaikum
[30/8 08.34] Fmm: Gimana ukh barang nya sudah sampe ?
😊🙏              
[30/8 08.38] Tusi: Wa'alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh...belum Mas, insyaAllah sebentar lagi sampai 😊
[30/8 08.48] Fmm: Subhanallah... 😊🙏🙏🙏                      
[30/8 08.49] Tusi: Lagi belajar Mas, belajar tenang, baik sangka, dan bicara yang baik-baik saja jadi doa
😊 Maafkan saya Mas kemarin sempet emosi, marah, dingin dlsbgnya. Saya malu sama Mas Iqbal bisa2nya saya begitu   Oyah kalo saya malu sama Mas Iqbal harusnya saya lebih malu sama Allah ya. Astaghfirullah...
[30/8 13.14] Tusi: Alhamdulillah mas beneran dateng paketnya.subhanallah ya
☺😊                      
[30/8 14.35] Fmm: Alhamdulillah Mba akhir nya dateng juga
😊😊😊🙏🙏🙏
[30/8 14.35] Fmm: Aduhhh saya yang harusnya minta maaf sama Mba Tusi... maafkan saya                      
[30/8 14.40] Tusi: Sudah saling memaafkan hehe trus yg nyasar itu memang bisa kembali Mas?
[30/8 14.45] Fmm: Nggak tau nihh, saya belum sempet complain lagi, lagi banyak kerjaan... Kalau misalnya gak balik gpp... mudah-mudahan yang terima barang nya bisa hatamin Al-qur'an itu                      
[16:26, 8/30/2016] Tusi Nasuha: Aamiin Ya Allah mas
👍🏻👏🏻
Masya Allah ya, hikmah dari cerita Mba Tusi, nungguin Quran yang telat datang karena ada perubahan alamat aja harus sabar dan keep berbaik sangka. Sama juga dengan kita menunggu jodoh ya, atau menunggu semua impian. Bisa jadi, dulu pas kita doa ingin ini dan itu ke Allah, keadaan iman kita masih lemah, masih di bawah standar. Tapi kita pengin aja ketemu jodoh. Atau keinginan lain yang belum setara dengan tingkat keimanan kita ke Allah.
Beberapa waktu kemudian kita berusaha jadi lebih baik, berhijrah, otomatis kan alamatnya ganti ya. Namanya hijrah pasti pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kalau Mba Tusi pindah dari Jakarta ke Purwokerto. Dan gaada yang salah juga, bukan tentang terlambat datang si Quran tadi, si Jodoh tadi, si Rumah tadi, si Mobil tadi, si Kerjaan tadi, melainkan paket (impian) tersebut dihold karena “sistem” sedang dalam proses pembaharuan database penerima. 
Setelah proses revisi selesai, Impian kita harus melewati jalanan berbeda. Kemungkinan lebih jauh. Yang jelas, insyaAllah jalan yang lebih baik. Sebab Allah sudah janjikan dalam Quran mengenai orang-orang yang berani berhijrah baik secara lahir maupun batin:
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisaa’ (4): 100] 
InsyaAllah si pemilik alamat, si pemilik mimpi pun sedang terus memperbaiki diri. Dan voila! Alhamdulillah, sampai juga ke Purwokerto. Quran itu sampai ke tangan Mba Tusi dalam keadaan yang mungkin lebih menggembirakan, ada bersama keluarganya, sudah lebih baik pemahamannya terhadap Allah, sudah bertemu banyak orang-orang positif (di #PayTrenDhuhaTeam) sehingga dia bisa menceritakan hal sederhana ini.
Thanks for your sharing, Mba Tusi yang sholehah 😊
Aamiin saya jg makasih loh Mba Dest, Mba Liyya, ga semua orang mau dengerin kita.
Yup, tidak semua orang bersedia menjadi pendengar. Kalau saya sih paling senang dengar cerita. Dulu suka banget kalau lagi ngobrol sama Qur, saya selalu mengosongkan gelas di kepala, dan membiarkan semua ceritanya masuk memenuhi gelas. Halah :D. Di balik cerita Mba Tusi yang sekilas sederhana itu, curhatan di kala galau, nyatanya, mengandung hikmah luar biasa  😊😊😊😊😊
So, #kalemaja kalau jodohmu belum sampai. Pastikan kita memang sedang memperbaiki diri, dan Allah sedang bimbing dia sampai ke alamat tujuan. InsyaAllah...

ALLAH DULU, ALLAH LAGI, ALLAH TERUSSSSSSS
#PayTrenDhuhaTeam #BeliUlangIndonesia #DestaNikah26102016


Senin, 25 Juli 2016

CERITA BERBURU PASPOR DI KANTOR IMIGRASI

Saat terbesit keinginan untuk bepergian ke luar negeri, maka satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah paspor. Sebab meskipun kita sudah memiliki tiket pesawat, kerabat yang akan menampung selama di luar sana, ittenerary, dll, tanpa paspor semuanya pasti tak berguna. Tapi bila paspor sudah di tangan, perkara tiket pesawat dan biaya hidup bisa diupayakan, misalnya mencari sponsor, atau menodong orang tua *lol*

Satu-satunya tempat untuk bisa membuat paspor tentu saja adalah Kantor Imigrasi (Kanim). Namun demikian, sebelum berangkat ke sana sebaiknya cek dahulu secara on-line. Seluruh Kanim telah terintegrasi di situs web imigrasi.go.id. Ada dua cara pendaftarannya, melalui ipass (registrasi online) atau walk-in (datang langsung ke kanim).

Registrasi melalui ipass memang sebaiknya dicoba. Beberapa keuntungannya adalah
  • Efisiensi waktu dan kertas. Setelah registras online, kita memang  tetap harus membawa semua berkas asli yaitu paspor lama (jika ada), kartu keluarga, ktp, ijazah, akta kelahiran, akta nikah, surat rekomendasi/ keterangan domisili/ kartu pegawai (bagi yang berasal dari luar kota Jakarta)
  • Tidak perlu mengisi formulir,
  • Tidak perlu antre untuk mendapatkan nomor antrean.
  • Bisa langsung membayarkan biaya secara transfer atau tunai.
  • Setelah melakukan pembayaran, bisa memilih waktu kedatangan untuk mendapatkan nomor antrean foto & sidik jari.
  • Tapi untuk persiapan sebaiknya disipkan saja foto kopi berkasnya masing-masing satu lembar.

Sedangkan registrasi walk-in sebagai berikut:
-          
  • Harus datang ke Kanim sepagi mungkin. Bahkan pengalaman di Kanim Kelas I Jakarta Timur, ada yang datang sejak pukul 5.00 pagi. Ini tidak mengherankan, sebab setiap hari calon pendaftar selalu padat. Dan pendaftaran setiap hari dibatasi sejmlah 275 orang dengan pembagia 150 pendaftar online, 70 pendaftar walk-in, 30 pendaftar prioritas (manula, balita, disabilitas), dan 25 pendaftar lain-lain.

Saya pernah nekat berangkat pukul 8.00, sejam kemudian tiba, dan akhirnya mendapatkan nomor antrean 114. Akhirnya saya harus berada seharian di Kanim, karena baru dipanggil sekitar pukul 15.00,dan berakhir pukul 16.30. Padahal saat berangkat meninggalkan pekerjaan, saya hanya izin “sebentar” ke supervisor.
  • Harus membawa berkas asli dan foto kopi. Catatan saya: ktp di foto kopi bagian depan dan belakang dalam satu kertas A4 dan jangan dipotong.
  • Siapkan  materai.
  • Bawa alat tulis sendiri.
Suasana saat menunggu sesi foto dan sidik jari di Kanim Cipinang

Prosedur pelayanan registrasi walk-in:
  • Mengambil formulir pendaftaran gratis.
  • Mengisi formulir, melengkapi dengan materai dan seluruh berkas foto kopi dalam satu bendel.
  • Menunggu antrean untuk foto pra antrean sebenarnya.
  • Menunggu panggilan untuk mendapatkan nomor antrean sebenarnya. Kemungkinan kita akan disalip dengan beberapa peserta prioritas seperti lansia dan balita.
  • Mendapatkan nomor antrean dan menunggu di ruang tunggu yang untuk foto paspor dan sidik jari.
  • Dipanggil sesuai nomor antrean , berkas foto kopi diminta sambil menunjukkan berkas aslinya.
  • Melakukan sesi foto dan sidik jari
  • Mendapatkan billing pembayaran
  • Melakukan pembayaran
  • Menunggu proses pembuatan selama 3 hari
  • Kembali lagi ke Kanim

  • Catatan: bagi pendaftar yang menggunakanKTP daerah, persiapkan juga surat keterangan kerja/ KTP domisili/ surat rekomendasi dari pejabat berwenang. Pengalaman saya: karena saya bekerja di Jakarta sedangkan KTP  yang saya punya adalah KTP daerah, saya melampirkan SURAT REKOMENDASI DEKAN untuk keperluan beasiswa yang memang sudah saya dapatkan beberapa waktu sebelumnya, dan ada dalam email.
Prosedur Pelayanan ipass:


  • Tidak perlu mengisi fomulir, tetapi bisa langsung mengantre (lebih cepat) untuk foto guna mendapatkan nomor antrean foto dan sidik jari paspor
  • Setelah mendapatkan nomor antrean, ikut menunggu panggilan
  • Menyerahkan dokumen foto kopi (mungkin), menunjukkan dokumen asli.
  • Melakukan sesi foto dan sidik jari
  • Prosedur Pengambilan Paspor
  • Karena saya walk-in, jadi hanya menceritakan proses walk-in.
  • Loket baru akan dibuka pukul 10.00 pagi. Tetapi upayakan datang pagi karena kita akan menyerahkan bukti pembayaran, yang selanjutnya diurutkan menjadi nomor antrean. Waktu itu saya tiba pukul 09.00 pagi, mendapatkan nomor urut 42.
  • Saat pengambilan cukup membawa bukti pembayaran dan lembar billing dari Kanim. Tetapi bila aka diwakilkan, bawa juga KTP dan KK, sebab yang boleh mewakilka pengambilan paspor hanya anggot keluarga yang namanya tercantum dalam KK. Sepertinya juga harus mengisi form surat kuasa yang disediakan di loket.
-    Cerita kecil saat pengambilan, saya berdiri tepat di belakang seorang artis FTV. Wajahnya sangat familiar. Saya perhatikan petugas loket begitu santai dan nyaman melayani artis itu. Dengan ramah menunjukkan di mana harus tanda tangan. Sampai kemudian tiba giliran saya, hanya karena saya bingung harus menulis nama dan tandatangan di sebelah mana, petugas itu mengatakan pada saya: “Wah masih muda sudah bingung, gimana mau ke luar negeri.” Saya meggerutu dalam hati.

Demikialah pengalaman saya memuat paspor di Kanim Kelas I Jakarta Timur. Untuk pelayanan saat proses pembuatan saya cukup puas karena tempatnya nyaman, ada hiburan, ada fasilitas masjid, tempat cas ponsel, tempat bermain anak, dan petugas yang aware. Tetapi untuk proses pengambilan paspor, masih perlu diperbaiki system antreannya. Mestinya waktu buka loket bisa dibuat lebih pagi agartak buang waktu.

Senin, 23 Mei 2016

PAYTREN=MLM (?)


Paytren adalah Jodoh yang sempat Tertunda

Jika diibaratan jodoh, maka “perkawinan” saya dengan Paytren sebetulnya sudah diawali dengan perkenalan di awal tahun 2014. Sayangnya, perkenalan itu gagal membuat saya terkesan, dan bahkan memutuskan untuk tidak melanjutkan niat tersebut. Sesaat setelah dijelaskan sedikit mengenai cara kerja Paytren, seketika saya ilfeel. Entah karena si Mak Comblang  (baca: Agen) yang tak pandai menjelaskan, atau karena memang Tuhan masih ingin menundanya. Sejak hari itu tak ada lagi komunikasi antara saya dengan Paytren. Sampai akhirnya dua tahun berlalu, saya dipertemukan lagi dengan Paytren.

Pertemuan kami yang kedua adalah sebuah CLBK, persis: Cinta Lama Bersemi Kembali. Jika pada pertemuan pertama saya mendapati both Paytren di sebelah kanan, maka pada pertemuan di bulan Januari 2016, saya melihat Paytren ada di sebelah kiri. Keduanya sama-sama saya temui usai Kajian Ahad Dhuha  bersama Yusuf Mansur yang rutin diadakan di Masjid Istiqlal Jakarta di tiap pekan ke-empat. Saya sengaja menghampiri Paytren, menanyakan kabarnya, dan saling bertukar kontak. Dengan sikap yang saya buat agak sedikit cuek, saya bilang akan coba beradaptasi ulang dulu. Bagaimanapun, dulu saya sempat gagal mencintai Paytren.

Adaptasi ulang yang saya maksud adalah membeli paket Kartu Perdana (KP 25). Meskipun kangen, saya tidak bisa langsung blak-blakan mengatakannya. Dengan KP25, saya akan bisa memastikan apakah kali ini Paytren sudah lebih baik, dan bisa membuat saya nyaman atau tidak. Sesampainya di rumah, saya langsung membuka diri, mencoba memahami cara kerja Paytren. Pada KP25, saya langsung mendapatkan cashback berupa deposit sebesar Rp15.000. Deposit itupun saya coba gunakan untuk mengisi pulsa handphone.

Sebelumnya Mak Comblang kami yaitu Mas Hayat telah lebih dulu memandu saya melakukan registrasi. Awalnya saya harus mengunduh aplikasi Paytren di Playstore. Saya diberi serial number, kemudian mendapatkan id, username dan password. Jujur, di pertemuan kedua kami, saya merasakan perubahan yang begitu besarnya pada Paytren. Saya berhasil melakukan percobaan transaksi, lalu membuat pengumuman kecil pada rekan kantor bahwa mulai hari itu saya menjual pulsa. Dan pada hari itu juga, saya mendapatkan pelanggan pertama yaitu Pak Kusno. Dia butuh pulsa sebesar Rp50.000. Berhubung deposit yang saya miliki hanya Rp15.000, itupun sudah saya isikan pulsa ke nomor saya sendiri, saya bergegas mengabarkan Mas Hayat bahwa saya ingin mengisi deposit.

Mas Hayat langsung memandu saya. Pada aplikasi Paytren, fiturnya sudah lengkap dan mudah. Saya hanya perlu memilih menu Deposit-Isi Deposit-dan akan muncul instruksi untuk mentransfer uang ke rekening Paytren Pusat. Kelebihan Paytren dalam hal transfer adalah tidak perlu adanya konfrmasi. Sebab dalam tiap transaksi sudah ada kode unik yang bisa langsung dipahami oleh system. Misalnya, saya sudah order deposit sebesar Rp50.000, kemudian saya mendapatkan instruksi untuk mentransfer sebesar Rp50.123. Jumlah itu tidak akan pernah sama dengan pengorder lain di seluruh dunia (by the way, Paytren memang sudah mendunia, padahal asli Indonesia). Beberapa menit kemudian, saya mendapatkan sms bahwa deposit sudah bertambah. Lalu saya cek ada menu deposit, jumlahnya sesuai. Bahkan kelebihan sebesar Rp123 pun masuk ke dalam deposit saya.

Sedikit demi sedikit, saya mencoba untuk memahami Paytren. Pun, sebaliknya. Selain untuk kekebutuhan pulsa hanphone dan listrik, Paytren bisa membantu saya dalam pembelian tiket kereta/pesawat, juga untuk membayar iuran, misalnya BPJS dan PAM. Bahkan dalam waktu dekat, Paytren akan memudahkan para pengguna di wilayah perdesaan. Di mana penggunanya bisa tarik tunai di Alfamart, meskipun tak punya ATM. Jadi, kita yang bekerja di kota atau bahkan di luar negeri, akan lebih mudah mengirim uang ke kampung. Mengingat Alfamart sudah menjangkau sampai pelosok desa.

Singkatnya, hanya dalam waktu 2 hari, saya memutuskan untuk menerima lamaran Paytren. Keputusan itu disahkan dengan saya memberikan mahar (ya, Paytren menganut Patrialisme) sebesar Rp350.000. Dengan mahar itu, saya mendapatkan seuah lisensi, semacam surat pengesahan bahwa saya sudah menjadi istri Mitra Paytren. Jika pada KP25 saya hanya bisa transaksi pulsa, maka setelah mendapatkan lisensi Paket Basic sebesar Rp350.000, saya resmi menjadi Mitra Paytren dan berhak menggunakannya untuk mendapatkan mitra lainnya. Transaksi saya pun tidak lagi terbatas pada pulsa, tetapi sudah full. Semua menu bisa saya gunakan seperti pembelian tiket dll tadi. Dan yang lebih menyenangkan, saya akan berkesempatan mendapatkan komisi turunan.


Lalu timbul pertanyaan, apakah Paytren yang sudah saya "nikahi" itu ternyata sebuah MLM? Dan apa pula komisi turunan? Yang jelas, saya sadar bahwa Paytren bukanlah bisnis kecil sekadar berjualan pulsa. lebih dari itu, kita bisa membuka lapangan kerja. Pada bagian lain saya akan ceritakan juga soal pengalaman berjualan pulsa semasa kuliah yang ternyata tidak semenguntungkan jika menggunakan Paytren.
Bersambung, insyaallah...

Kamis, 14 April 2016

LIMA TATAPAN BERNILAI IBADAH

Tahukah kamu, ada Lima tatapan manusia, yang ternyata bernilai ibadah:
1. Menatap wajah Ibu-Bapak. Mungkin inilah alasan mengapa sebagai anak kita harus berbakti kepada orangtua. Mengunjungi beliau saat jauh. Jadi, saat sedang mengobrol dengan Ibu dan Bapak, upayakanlah untuk menatap wajah mereka. Jangan sampai sudah mengorbankan waktu pulang ke kampung halaman, kita justru menatap layar gadget saat mengobrol dengan beliau.
http://family.fimela.com/resources/news/2013/08/21/1212/paging/2105/640xauto-tips-untuk-ibu-baru-menjalin-ikatan-dengan-bayi-kecilmu-130821i-2.jpg
2. Menatap wajah suami-istri. Dibandingkan menatap wajah orangtua, agaknya tren yang lebih berkembang di masyarakat adalah menatap wajah Suami atau Istri. Sehingga menikah memang salah satu sunah rasul yang harus sangat diupayakan.
3. Menatap Ka'bah. Siapa yang tak ingin naik haji? Mari luruskan niat. Bahwa menunaikan ibadah haji bukanlah semata perkara kesiapan lahir batin. Sebab ada nilai ibadah yang muncul ketika kita menatap Ka’bah. Jadi, tak ada salahnya kita memajang foto Ka’bah di rumah. Semoga bisa disegerakan berkunjung ke Rumah Allah tersebut.
4. Menatap Al Quran. Hanya dengan menatap ayat-ayat Al-quran, sudah mendapatkan nilai ibadah, paham atau tidak paham sudah dinilai ibadah. Apalagi sambil membacanya, memahami maknanya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Menatap wajah alim ulama. Mungkin bagi sebagian orang, berkecimpung dengan ulama bukanlah hal populer. Tapi tak masalah. Cara sederhana untuk bisa mendapatkan nilai ibadah dari menatap wajah para alim ulama tak harus repot jauh-jauh datang ke tempat beliau yang memang jauh. Minimal, datanglah pada kajian-kajian yang diadakan di lingkungan tempat tinggal. Salah satunya datang ke Kajian Ahad Dhuha Masjid Istiqlal. Upayakanlah untuk datang di awal waktu. Menunaikan sholat Dhuha di sana. Kemudian duduk di barisan terdepan.

Kelima poin di atas disampaikan dalam Kajian Ahad Dhuha, 10 April 2016. Kajian diadakan rutin setiap Hari Minggu pekan kedua dan keempat, pukul 08.00 WIB. Kajian tersebut diisi oleh Aa Gym dan Ustaz Yusuf Mansur.

Senin, 11 April 2016

Tuhan dan Tukang Cukur Tak Pernah Ada

Suatu hari, Ahmad datang ke sebuah tempat potong rambut. Ia ingin merapikan rambutnya. Dengan rileks, ia duduk di kursi, dan Si Tukang Cukur siap bekerja.
Sambil mulai melakukan pekerjaannya, Tukang Cukur itu meracau. Ia mengatakan pada Ahmad. “Saya mah ga percaya bahwa Tuhan itu ada.”

Baru saja Ahmad merasa rileks karena sensasi dingin di kepalanya, seketika ia kaget. Matanya tak berkedip memperhatikan ekspresi wajah si Tukang Cukur dari cermin di hadapannya. Ia tak menyangka akan muncul kalimat sedemikian rupa dari seorang Tukang Cukur langganannya.
Source: http://merrittonbarbershop.ca/wp-content/uploads/2015/09/barbershop.jpg

“Loh, kenapa begitu, Mang?”
“Ya katanya Tuhan itu Maha Kaya, tapi kenapa ga semua orang dikayakan saja?"
Ahmad ingin menjawab, tapi ditahan karena agaknya Tukang Cukur itu akan segera melanjutkan kalimatnya.
“Katanya Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, kenapa masih ada orang-orang yang hidupnya penuh masalah. Kenapa ga dibahagiakan saja semuanya? Pokoknya saya mah ga percaya Tuhan itu ada. Tuh, lihat, orang-orang yang dirawat di Rumah Sakit, kalau memang Tuhan itu ada, mestinya gaada lagi orang sakit. Katanya Tuhan Maha Penyembuh. Ga percaya saya mah. Titik.”
Ahmad bergeming. Hingga tidak terasa Tukang Cukur itu telah menyelesaikan kewajibannya. Rambut Ahmad sudah rapi sekarang. Sejak tadi ia hanya tersenyum mendengarkan ceracau si Tukang Cukur.
Sebagai langganan terbaik, Tukang Cukur itu selalu mengantar Ahmad sampai pintu keluar. Sesampainya mereka di luar, Ahmad menyempatkan diri untuk merapikan rambut barunya. Dan dari kaca depan itu, ia melihat ada seseorang dari kejauhan melintas. Rambutnya gondrong tak beraturan. Sebelum pamit, gantian ia yang menyampaikan kepada Tukang Cukur.

“Mang, tahu ga kalau saya mah ga percaya Tukang Cukur itu ada.”
“Heh, maksud kamu apa. Kan jelas-jelas saya baru selesai mencukur rambut kamu. Dan sekarang rambutmu sudah rapi.”
“Tetap aja saya ga percaya. Tukang Cukur itu gaada di dunia ini.”
Tukang Cukur itu menggeleng. Heran sekali dengan ucapan Ahmad.
“Saya ga percaya. Tuh, coba Mamang lihat di seberang sana. Ada orang gondrong, berantakan rambutnya.”
“Mana?”
“Tuh, di bawah flyover.” Ahmad masih mengusap-usap rambutnya di depan kaca.
“Oh, iya. Trus kenapa?”
“Kalau memang Tukang Cukur itu ada, seharusnya semua orang rambutnya rapi.”
Mendengar itu, Si Tukang Cukur sontak menjawab.
“Heh. Kalau di dunia ini ada orang gondrong macam itu, bukan karena Tukang Cukur gaada. Tapi… karena dia ga datang, ga mencari Tukang Cukur!”
Ahmad tersenyum, mengucapkan terima kasih kemudian pamit.

***Kisah disampaikan dalam Kajian Tauhid Daarut Tauhid Jakarta, 10 April 2016.
Yuuk, hadiri Kajian Ahad Dhuha tiap Minggu pekan kedua dan keempat di Masjid Istiqlal Jakarta. Diisi oleh Aa Gym dan Ustaz Yusuf Mansur.

Selasa, 29 Maret 2016

PROPAGANDA LGBT DI SEQUEL COMIC 8?

Bisa jadi alasan terbesar yang mendorong seseorang untuk menonton COMIC 8: CASINO KINGS PART 2 adalah penat. Setelah sepekan tertekan dalam aktivitas kerja, otak butuh selingan untuk penyegaran. Sayangnya, satu-satunya film bergenre komedi yang ready to watch di bioskop adalah sequel Comic 8: Casino Kings. Kenapa disayangkan, sebab pada tanggal 20 Maret 2016, penonton yang hadir di Teater 5 Mega Mall Bekasi tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak di bawah umur. Padahal, film itu tidak seharusnya disaksikan oleh para penonton yang belum sepenuhnya memahami kondisi saat ini. Dalam hal ini dituntut peran preventif bagi para orangtua yang mungkin awalnya berniat untuk hiburan keluarga. Misalnya mencari review mengenai film yang akan ditonton.
Awalnya saya berpikir positif bahwa film ini akan memberi hiburan. Sampai kemudian dimulailah scene-scene yang memang tidak tersurat, hanya tersirat, mengarah pada propaganda LGBT dan pornografi. Di antaranya: Dialog antara Kingkong (diperankan oleh Sophia Latjuba) dan dr. Pandji, selain keduanya melakukan undercensor kissing, disiratkan bahwa Sophia Latjuba menampakkan bagian sensitif dari tubuhnya kepada Pandji. Sambil berkata bahwa dia telah mengubah semuanya kecuali satu: bagian sensitif itu. Artinya, dalam film itu Sophia Latjuba memerankan sosok seorang Transgender. Kingkong yang pada sequel pertama adalah laki-laki, kini di sequel kedua telah melakukan operasi plastik menjadi wanita yang begitu anggun dengan harapan Dr. Pandji akan tertarik padanya.
Scene lain adalah saat Ence berada di atas tubuh Indro (keduanya dalam posisi sama-sama tertelungkup) lantaran sebuah bom yang diledakkan dari atas mercusuar. Bahkan scene itu diperjelas dengan dialog. Selain itu, ada satu hal yang membuat saya risih yaitu saat dimunculkannya sebuah benda bernama vibrator, tapi disebut remote bom. Bentuknya aneh. Jika umumnya remote control adalah lonjong normal, tapi di situ remote bom dibuat menyerupai alat kelamin pria.
Hal terparah yang akhirnya membuat saya nyaris mual adalah ketika Nikita Mirzani berpose melahirkan. Di saat sedang terjadi baku hantam antara kelompok Comic 8 dan dr. Pandji CS, Nikita yang merupakan tim dr. Pandji mendadak mengalami kontraksi. Melihat kondisi genting itu, Ernest pun refleks membantu proses persalinan. Tanpa kain penutup.

Apresiasi

Seandainya tidak disusupi oleh scene-scene kotor seperti itu, saya yakin film ini akan tetap bisa menghibur masyarakat. Toh, sudah banyak scene mahal yang pure komedi. Di antaranya saat Hanna El Rasyid (sebagai Bella) meminum racun untuk menyusul kematian kekasihnya, lalu diputar backsound lagu Isabella yang merupakan lagu dari Malaysia. Kelucuan dipicu selain karena aneh ada lagu Malaysia di film Indonesia, juga karena Isa dan Bella adalah pasangan yang unik, Isa bergigi tonggos (hanya peran) sedangkan Bella wanita yang cantik. Agaknya disispkannya unsur Ke-Malaysiaan dalam film Comic 8 (bahkan dalam credit tittle tampak ucapan terima kasih kepada pihak Malaysia atas penggunaan salah satu lagunya) merupakan strategi pemasaran yang bagus untuk menggaet penonton lintas negara.
Saya juga mengapresiasi film ini karena kebisaannya menunjukkan bahwa Indonesia tetap selangkah lebih maju dibandingkan Malaysia dalam hal kekayaan bahasa. Hal itu bisa tampak dari ujaran-ujaran dari seorang Interpol (diperankan oleh Prisia Nasution). Secara umum, banyak kosa-kata Malaysia (bahasa Melayu) bisa dimengerti oleh orang Indonesia, meskipun konteksnya tidak persis sama, tapi tidak sebaliknya. Terbatasnya variasi kosa-kata Malaysia membuat ujaran mereka kerap terdengar janggal. Misalnya saat Indro mengucapkan “Ulur Waktu”, justru dipahami menjadi “Ulu Watu”. Setelah diulang-ulang, barulah ia mentranslete menjadi “distract”.
Interpol cantik itu tidak mengalihbasakan ke dalam bahasa Malaysia, melainkan bahasa Inggris. Apakah itu disebabkan karena memang dalam keseharian mereka berbahasa campuran (Melayu Indonesia), atau justru percampuran itu disebabkan oleh terbatasnya kosa-kata mereka. Entahlah. Kadang perasaan dan dugaan semacam itu seketika saja muncul bila ingat berulang kali Malaysia mengkalim ini dan itu dari Indonesia sebagai milik mereka. Meskipun sesungguhnya apa-apa yang sudah sangat melekat pada diri bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa dicuri hanya lewat klaim.
Masih soal bahasa, satu hal yang sering saya perhatikan di film-film Indonesia adalah penggunaan kata ganti “lu-gue”. Selain terus menggalakkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penggunaan “lu-gue” di film Indonesia terutama yang berpotensi diputar secara internasional saya pandang perlu. Ini terlepas dari persoalan bahasa Indonesia. Sebab “lu-gue” cenderung melekat pada konteks budaya Indonesia. Di mana kebiasaan berbahasa “lu-gue” lahir dari adanya percampuran antara etnis Tionghoa dan etnis Betawi di masa lampau.
Tidak hanya soal bahasa, ada nilai budaya khas Indonesia yang juga ditunjukkan dalam Comic 8.  Itu terlihat saat Ge Pamungkas melontarkan kata “beliiii” saat ia menemukan sebuah warung di tengah hutan. Sontak itu mengingatkan kita pada masa kanak-kanak yang sangat lekat dengan kebiasaan jajan.
Di samping itu, ada pula muatan soal etika, dan justru itu pula yang membuat film ini sarat komedi. Di mana Babe Cabita dan Ge Pamungkas menahan diri untuk tidak ikut melawan Barry Prima karena alasan takut kualat. Pada scene ini, saya dan penonton dalam bioskop bisa tertawa beberapa kali selama adegan berlangsung.
Bila akan ada sequel lanjutan dari Comic 8, semoga propaganda kotor semacam LGBT tidak perlu lagi disisipkan. Sebab tanpa hal-hal seperti itu, film Indonesia (tidak hanya Comic 8) sudah bisa menampilkan tontonan yang tak hanya menghibur tetapi juga sarat nilai budaya.



Rabu, 23 Maret 2016

Are You Happy, or Pretend to be?


http://expertelevation.com/wp-content/uploads/2014/07/lead-magnet-pic.jpg
Jika diibaratkan sebuah benda, mungkin gambaran terbaik dari hal bernama bahagia adalah ‘magnet’. Pertama, magnet memiliki dua kutub yang berbeda sifatnya, positif dan negatif. Kedua, perbedaan kutub itu mengakibatkan satu kutub memiliki daya tarik, sedangkan satu kutub lainnya justru harus ditarik agar menghasilkan pergerakan.

Ingat ga kapan terahir kali kamu merasa sangat bahagia ketika melakukan sesuatu dari awal hingga akhir? Mungkin waktu lulus kuliah, diterima bekerja, dilamar oleh kekasih, atau apapun itu. Yang jelas, inti dari pertanyaan tadi adalah apa hal yang membuat kamu bahagia dari awal sampai akhir. Bukan hanya bahagia di awal tapi sedih di akhir, ataupun sebaliknya. Sebab, bahagia itu seperti magnet, tidak mungkin kedua ujungnya sama rasa. Atau lebih tepatnya, jangan sampai sama rasanya.

Coba diingat-ingat, lebih bahagia mana saat kamu masuk SD dan lulus SD? Ketika pertama kali masuk SD, pasti sudah lebih dulu merasakan sedihnya kehilangan masa-masa bahagia di TK bukan? Hari-hari pertama di sekolah baru juga kerap menjadi suatu kondisi yang hening bahkan angker. Penyebabnya beragam: dari mulai belum punya kawan, bayangan guru kelas yang mungkin saja galak, pelajaran-pelajaran baru yang bisa saja sulit untuk dimengerti, dsb. Kemudian hari berangsur lunak. Tahun-demi tahun dilalui dengan berbagai rasa. Apalagi bila sudah punya kawan akrab, rasanya setiap hari ingin selalu ada di sekolah untuk bermain bersama.

Akhirnya tibalah masa kelulusan. Masihkah kamu ingat apa perasaan yang dominan saat lulus dari Sekolah Dasar? Tentu jawabannya akan beragam. Tapi mestinya, menurut teori magnet tadi, bila kamu cenderung tidak bahagia saat masuk SD, maka kamu akan bahagia saat lulus. Karena ada orang yang justru bahagia saat masuk SD, dan ia lulus dengan rasa sedih. Siklus itu akan berlangsung, bahkan berulang sampai kapanpun. Jadi, akan menjadi sebuah pertanyaan besar, bila ada seorang Mahasiswa Baru merasa begitu bahagia di tahun-tahun awal kuliahnya, tapi ia juga bahagia saat lulus sebagai sarjana. Apakah dia benar-benar bahagia, atau hanya berpura-pura?

Logikanya, kebahagiaan di awal kuliah, tentu dirangkai dengan kebahagiaan saat menjalani masa-masa kuliah. Entah itu selalu mencapai nilai sempurna pada perkuliahan, terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, atau bisa menjadi asisten dosen. Klimaks dari kebahagiaan itu terletak saat dinyatakan LULUS SKRIPSI oleh dosen pebimbing. Kemudian, kebahagian itu mau tak mau akan menjadi sebuah antiklimaks ketika wisuda.

Sebaliknya, perasaan tertekan di awal kuliah (mungkin karena salah jurusan, atau dipaksa untuk mengambil jurusan yang tidak sesuai minat), akan menjadi sebuah bom waktu. Hari-hari di setiap perkuliahan menjadi beban yang semakin hari semakin berat. Tapi di sisi lain tetap ada perjuangan. Sama, klimaks dari perasaan tertekan itu ada saat dinyatakan LULUS SKRIPSI. Ujungnya, saat wisuda timbulah perasaan lega. Bahagia.

Kedua perbedaan itu bisa juga menjadi ukuran seberapa sukses kita mengerjakan sesuatu. Katakanlah kita merasa bahagia saat diterima bekerja. Itu menjadika kita bekerja dengan totalitas dan loyalitas. Bertemu banyak orang baru dengan berbagai watak dan latar belakang. Tentu akan menjadi sebuah kesedihan jika kemudian kontrak kerja berakhir. Harus ada perpisahan. Harus ada kesudahan. Padahal kita sangat mencintai pekerjaan itu. Begitupun sebaliknya. Bila kita sudah tertekan di awal karir, pasti berakhirnya kontrak kerja ibarat terbukanya sebuah penjara yang selama ini mengekang.

Poin pentingnya, hidup adalah pilihan: bahagia di awal atau di akhir. Bila pada satu magnet hanya punya satu sisi daya tarik, artinya pada sisi yang lain kita harus menyiapkan diri untuk ditarik. Satu saat kita membahagiakan orang lain, dan pada saat yang lain kita akan dibahagiakan. Dengan catatan, saat  membahagiakan berarti kita siap berjuang untuk sesuatu, bergerak, penuh semangat. Sementara dibahagiakan adalah berarti rela untuk diperjuangkan oleh sesuatu, pasrah, tak punya daya. Dan akhirnya kita sadar bahwa untuk bahagia, kita harus bisa mempertemukam sebuah kutub magnet, dengan kutub magnet yang lain agar terjadi tarik-menarik. Agar terjadi hubungan sosial antara satu dengan yang lain.

So, are you happy, or pretend to be?


Senin, 15 Februari 2016

Senja Ada pada Alina


Sejak mengenal Seno Gumira Ajidarma pertama kali lewat roman Negeri Senja, sulit rasanya untuk bisa berhenti mengagumi beliau sebagai penulis dengan karya yang sangat imajinatif. Senja adalah matahari yang separuh tenggelam, dan separuh sisanya tergantung di cakrawala. Demikian SGA sangat berani menciptakan “senja yang selesai”. Entah SGA sadar atau tidak, cerita yang ia buat-buat tentang senja telah berhasil menghapus stigma bahwa senja selalu menjanjikan perpisahan. Karena SGA, kini ada sebuah keyakinan bahwa keindahan senja bisa dinikmati (se)lama(nya). Tak hanya dalam novel, tapi juga dalam kehidupan.

Tahun 2016, setelah sekian tahun menunggu, akhirnya Negeri Senja kembali dicetak ulang oleh penerbitnya. Tak hanya iu, dua buku lain yaitu Sepotong Senja untuk Pacarku dan Tak Ada Ojek di Paris sudah bisa ditemui di berbagai toko buku. Dan Februari 2016, SGA melakukan peluncuran SSUP di Galeri Indonesia Kaya. Acara tersebut diisi dengan pembacaan trilogi Alina: “Sepotong Senja untuk Pacarku”, “Tukang Pos” dan “Jawaban Alina”. Masing-masing cerpen dibacakan oleh Abimana Aryasatya, Butet Kertaradjasa, dan Dian Sastrowardoyo.

Menjadi Sukab, Abimana tampak menjiwai karakternya. Meskipun ia hanya duduk, tapi perubahan karakter suara yang menandakan perbedaan tokoh, membuat penonton terkesima, dan bahkan meleleh oleh perannya di pangung itu. Ia mampu menjadi Sukab yang romantis. Terutama terhadap Alina. Meskipun menurut Alina, Sukab itu malang, sangat malang dan akan selalu malang dengan kegoblokan cintanya pada Alina. Bagaimana tidak, Sukab nekat memotong senja yang sedang merekah menjadi seukuran kartu pos, lalu mengirimkannya pada Alina yang berada di Ujung Dunia.

Tukang Pos merupakan karakter yang tak bisa dienyahkan dalam trilogi Alina. Sebab dialah yang mengantarkan senja dalam amplop kepada Alina. Sayangnya, ia baru bisa sampai ke Ujung Dunia setelah 40 hari mengayuh sepeda. Dan setelah 10 tahun, barulah surat berisi senja itu sampai pada Alina di sebuah tempat di bukit kapur. Tak kalah menarik dari Abimana, Butet Kertaredjasa yang memang sudah mumpuni dalam dunia teater, berhasil membawa penonton memasuki dunia senja di dalam amplop.

Sukab memang malang, dan sangat malang. Alina, yang tak pernah mencintainya, dalam kurun waktu sepuluh tahun tentu saja sudah menikah dengan orang lain. Dan Tukang Pos itu bercerita bahwa selama sepuluh tahun itu, ia terjebak di dunia senja dalam amplop yang Sukab kirimkan. Lantaran amplop berisi seja itu terbuka sedikit, sehingga pancaran cahaya dari celah amplop membuatnya penasaran. Tukang Pos itu tersedot masuk ke dalam amplop. Dan hal terparah dari tindakan Sukab yang tak pakai otak telah membuat cakrawala berlubang karena senjanya dipotong menggunakan pisau Swiss adalah bencana.

Saat Alina membuka amplop itu, senja dan segala yang melekat padanya: pasir, air laut, mega-mega, tumpah dan berbenturan dengan apa yang ada di luar amplop. Akibatnya, seluruh dunia tenggelam.  Ketika Alina menjawab surat dari Sukab, ia adalah manusia terakhir, bersama perahu terakhir, dan sebungkus mi instan terakhir yang berada di puncak tertinggi Himalaya. Kini, senja tinggal sendiri tanpa seorang pun manusia yang menikmatinya. Seusai menulis surat, Alina akan mendayung dengan perahu kecil, sampai teler. Sayangnya, Dian Sastro tampil tak sesempurna dua rekannya. Tampaknya ia kurang persiapan terutama dalam pemilihan karakter suara. Padahal, hanya suara Alina saja yang ia pentaskan.

Entah bagaimana, saat mendengar pembacaan trilogi Alina, penonton dipaksa untuk percaya bahwa senja yang selama ini ada bukanlah senja yang asli. Sebab saat Sukab memotong senja seukuran kartu pos, lalu menyimpannya di saku baju untuk kemudian dikirimkan pada Alina, ia dikejar oleh polisi. Dalam pengejaran itu ia berhasil sembunyi di sebuah gorong-gorong. 

Ternyata di dalam gorong-gorong itu ada sebuah pantai lengkap dengan senja yang indah. Karena berpikir bahwa senja itu sia-sia di sana tanpa ada yang melihatnya, Sukab pun memotong senja lagi, seperti yang dilakukan sebelumnya. Segera setelah itu ia keluar dari gorong-gorong untuk menutup lubang cakrawala dengan senja yang baru ia dapatkan dari pantai di gorong-gorong. Kelak, menurut Sukab, orang-orang akan bercerita kepada para keturunannya, sebuah dongeng mengenai kenapa gorong-gorong selalu gelap.

Jika senja yang sekarang ini saja sudah indah, lalu bagaimana lagi kita harus membayangkan keindahan senja yang sudah diberikan pada Alina?

Sabtu, 30 Januari 2016

Mengenal Beasiswa LPDP


Sebagian orang bisa jadi sudah tahu apa itu beasiswa LPDP. Tapi barangkali tidak sedikit yang belum memahami bagaimana prosedur untuk mendapatkan privilege tersebut. Yang jelas, LPDP adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang menurut informasi pihak terkait, pada tahun 2016 ini memiliki kuota 5000 calon penerima beasiswa dalam dan luar negeri.

Langkah paling awal untuk mencari tahu soal beasiswa LPDP tentu saja membuka situs webnya. Di sana informasi yang diberikan terbilang lengkap, termasuk prosedur dan syarat pendaftaran. Semua proses pendaftaran dilakukan secara online. Pada tahap yang disebut seleksi administrasi ini akan dilakukan seleksi berkas di mana yang menjadi point penting adalah dua yaitu: IPK di atas 3 (tiga) dan TOEFL minimal 500-550/IELTS 6-6,5. Memang, ada banyak persyaratan lain, tetapi yang prioritas adalah kedua hal tadi.

Jika seleksi berkas telah selesai dan calon peserta dinyatakan lolos, maka tahap selanjutnya adalah seleksi substansi. Para calon akan diundang wawancara untuk mengetahui lebih jauh motivasi dan kesungguhan dalam pemilihan studi yang telah dipilih. Perlu diperhatikan bahwa ada banyak jurusan yang dibuka oleh LPDP, tetapi beberapa tema lebih diprioritaskan sebagai kebutuhan pembangunan Negara. Jadi harus jeli dan cerdas dalam menetukan pilihan. Jika tahap wawancara ini berhasil, maka ada tahap penulisan essay on the spot berbahasa Inggris.

Informasi di atas sebetulnya sudah dijelaskan secara tersirat pada situs web, tetapi memang perlu penjelasan secara langsung baik dari pihak LPDP selaku peyelenggara maupun dari para penerima beasiswa, yang sudah berpengalaman melewati segala tahapan. Maka, langkah selanjutnya setelah memelajari situs web LPDP adalah menghadiri LPDP Edufair yang biasanya dihelat tiap tahun. Informasi mengenai LPDP Edufair umumnya tersebar melalui akun-akun media social milik LPDP, atau dari broadcast message suatu komunitas.

Hal penting yang perlu dilakukan saat mengikut LPDP Edufair adalah aktif bertanya. Dikarenakan acara tersebut memiliki konsep seperti pameran, misalnya pameran buku, pameran otomotif, pameran pernikahan. Tidak akan ada gunanya datang ke LPDP Edufair jika hanya berkeliling dan melihat sekadaranya. Perkaranya adalah, ada banyak pilihan jurusan dan universitas dalam dan luar negeri yang ditwarakan LPDP. Sehingga kita harus benar-benar yakin atas pilihan yang kita ambil karena itu akan sangat berpengaruh pada sesi wawancara.

Berkeliling tentu jadi tahap awal mengikuti LPDP Edufair. Setelah mendapatkan beberapa kecenderungan piihan jurusan dan universitas, lalu galilah informasi sebanyak-banyaknya dari masing-masing wakil universitas pada booth yang kita senangi. Misalnya, kita menyukai studi budaya, maka mampirlah ke booth kampus-kampus Belanda.

Selain menggali informasi di booth kampus, kita wajib mengunjungi booth LPDP. Di sana akan kita temui banyak relawan yang umumnya adalah para penerima beasiswa yang siap menjawab segala pertanyaan seputar LPDP. Tanyakan apa saja, dan jangan hanya pada satu orang. Bila ada yang sedang bertanya jawab, dengarkan juga barangkali akan berguna.

Langkah terakhr sebagai pelengkap, datangilah lembaga-lembaga resmi pengelola tes TOEFL  atau IELTS. Selain membantu perbaikan bahasa Inggris, lembaga-lembaga resmi itu juga bisa membantu mengarahkan sekaligus berbagi informasi mengenai studi dan Negara tujuan. Dengan demikian, akan semakin banyak informasi yang kita peroleh, dan lebih mudah kita menjalan berbagai tahapan seleksinya.

Semoga sukses!  

Senin, 14 Desember 2015

Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.

--Banda Neira--
Keterpilihan, Keberuntungan, Kesabaran, dan Keindahan. Begitulah saya memaknai Banda Neira. Apa sebab? Musik Indie telah dikenal sebagai suatu aliran alternatif. Tentu, peminatnya tak mungkin sebanyak penikmat aliran musik mainstream. Saya juga tidak mengatakan bahwa penikmat musik indie tak suka (sama sekali) pada musik di luar indie, tapi mungkin hanya sedang jenuh.
Begitulah cara saya menemukan Banda Neira (seperti juga Payung Teduh dan Frau sebelumnya). Pada kondisi sedang tak tahu harus melakukan apa, seorang kawan baik, Mbak Dian, mengajak saya datang ke sebuah festival di SMA AL-AZHAR Jakarta. Katanya, ada Banda Neira di sana. Maaf?
Maafkan saya. Jangankan mendengar nama sebagai DUO, saya bahkan tidak tahu bahwa Banda Neira, menurut cerita Mbak Dian, adalah sebuah tempat yang sangat indah, di mana dulu Bung Hatta pernah diasingkan. Entahlah, tapi, dari semua lagu yang diciptakan oleh Banda Neira, izinkan saya untuk sok tahu bahwa Banda Neira sangat mungkin merupakan tempat yang indah sekali. Pada bagian inilah saya merasa menjadi orang yang terpilih untuk berkesempatan hadir ke festival itu, dan mengeja satu persatu lagu yang dibawakan oleh Banda Neira.
Sebagai orang yang terpilih, saya merasa mendapatkan sebuah keberuntungan. Sebab, meskipun baru pertama kali mendengarkan musik mereka, secara live, saya bisa langsung jatuh cinta, cinta sekali. Banda Neira sangat bisa menghadirkan musik dengan lirik yang soft, meskipun sarkastis. Misalnya saat dia bilang: Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu anugerah (”Hujan di Mimpi”). Dan pada lagu "Senja di Jakarta". Di mana mereka bisa dengan anggun memaklumi Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya.
Bukan hal mudah, dan memang jarang sekali orang mau bersabar menunggu munculnya kata pertama dari sebuah lagu, bila preludenya terlalu panjang. Hei, kita tahu kan bagaimana Frau dan Payung Teduh memaksa pendengar untuk mengambiil posisi hening, dan melupakan dahulu segala hal sebelum mulai mendengarkan musik mereka.

Begitupun dengan Banda Neira. Pada lagu “Sampai Jadi Debu”, bila kita kurang bersabar, pasti akan mengira ini hanyalah lagu instrument seperti sema yang diciptakan oleh Depapepe. Bagaimana tidak, selama hampir 2 menit pertama, lagu hanya berisi instrument piano, disusul kemudian gumaman, dan baru di 1 menit (dari total 6 menit) kemudian suara lirik dimunculkan. 
Dan di sanalah seni serta keindahan lagu-lagu yang lahir sebagai musik alternatif, termasuk Banda Neira ini. Saya tak tahan untuk tak menuliskan ini setelah beberapa menit yang lalu mendengarkan lagu-lagu dari album kedua mereka. Di antaranya “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang berganti”, “Sampai jadi Debu”, “Sebagai Kawan”, dan “Pelukis Langit.”