![]() |
http://expertelevation.com/wp-content/uploads/2014/07/lead-magnet-pic.jpg |
Jika diibaratkan sebuah benda, mungkin gambaran terbaik dari hal bernama bahagia adalah ‘magnet’. Pertama, magnet memiliki dua kutub
yang berbeda sifatnya, positif dan negatif. Kedua, perbedaan kutub itu
mengakibatkan satu kutub memiliki daya tarik, sedangkan satu kutub lainnya
justru harus ditarik agar menghasilkan pergerakan.
Ingat ga kapan terahir kali kamu merasa sangat bahagia
ketika melakukan sesuatu dari awal hingga akhir? Mungkin waktu lulus kuliah,
diterima bekerja, dilamar oleh kekasih, atau apapun itu. Yang jelas, inti dari
pertanyaan tadi adalah apa hal yang membuat kamu bahagia dari awal sampai
akhir. Bukan hanya bahagia di awal tapi sedih di akhir, ataupun sebaliknya. Sebab,
bahagia itu seperti magnet, tidak mungkin kedua ujungnya sama rasa. Atau lebih
tepatnya, jangan sampai sama rasanya.
Coba diingat-ingat, lebih bahagia mana saat kamu masuk SD
dan lulus SD? Ketika pertama kali masuk SD, pasti sudah lebih dulu merasakan
sedihnya kehilangan masa-masa bahagia di TK bukan? Hari-hari pertama di sekolah
baru juga kerap menjadi suatu kondisi yang hening bahkan angker. Penyebabnya beragam:
dari mulai belum punya kawan, bayangan guru kelas yang mungkin saja galak,
pelajaran-pelajaran baru yang bisa saja sulit untuk dimengerti, dsb. Kemudian hari
berangsur lunak. Tahun-demi tahun dilalui dengan berbagai rasa. Apalagi bila
sudah punya kawan akrab, rasanya setiap hari ingin selalu ada di sekolah untuk
bermain bersama.
Akhirnya tibalah masa kelulusan. Masihkah kamu ingat apa
perasaan yang dominan saat lulus dari Sekolah Dasar? Tentu jawabannya akan
beragam. Tapi mestinya, menurut teori magnet tadi, bila kamu cenderung tidak
bahagia saat masuk SD, maka kamu akan bahagia saat lulus. Karena ada orang yang
justru bahagia saat masuk SD, dan ia lulus dengan rasa sedih. Siklus itu akan
berlangsung, bahkan berulang sampai kapanpun. Jadi, akan menjadi sebuah
pertanyaan besar, bila ada seorang Mahasiswa Baru merasa begitu bahagia di
tahun-tahun awal kuliahnya, tapi ia juga bahagia saat lulus sebagai sarjana. Apakah
dia benar-benar bahagia, atau hanya berpura-pura?
Logikanya, kebahagiaan di awal kuliah, tentu dirangkai
dengan kebahagiaan saat menjalani masa-masa kuliah. Entah itu selalu mencapai
nilai sempurna pada perkuliahan, terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, atau
bisa menjadi asisten dosen. Klimaks dari kebahagiaan itu terletak saat dinyatakan
LULUS SKRIPSI oleh dosen pebimbing. Kemudian, kebahagian itu mau tak mau akan
menjadi sebuah antiklimaks ketika wisuda.
Sebaliknya, perasaan tertekan di awal kuliah (mungkin karena
salah jurusan, atau dipaksa untuk mengambil jurusan yang tidak sesuai minat),
akan menjadi sebuah bom waktu. Hari-hari di setiap perkuliahan menjadi beban
yang semakin hari semakin berat. Tapi di sisi lain tetap ada perjuangan. Sama,
klimaks dari perasaan tertekan itu ada saat dinyatakan LULUS SKRIPSI. Ujungnya,
saat wisuda timbulah perasaan lega. Bahagia.
Kedua perbedaan itu bisa juga menjadi ukuran seberapa sukses
kita mengerjakan sesuatu. Katakanlah kita merasa bahagia saat diterima bekerja.
Itu menjadika kita bekerja dengan totalitas dan loyalitas. Bertemu banyak orang
baru dengan berbagai watak dan latar belakang. Tentu akan menjadi sebuah
kesedihan jika kemudian kontrak kerja berakhir. Harus ada perpisahan. Harus ada
kesudahan. Padahal kita sangat mencintai pekerjaan itu. Begitupun sebaliknya. Bila
kita sudah tertekan di awal karir, pasti berakhirnya kontrak kerja ibarat
terbukanya sebuah penjara yang selama ini mengekang.
Poin pentingnya, hidup adalah pilihan: bahagia di awal atau di akhir. Bila pada satu magnet hanya punya satu sisi daya
tarik, artinya pada sisi yang lain kita harus menyiapkan diri untuk ditarik. Satu
saat kita membahagiakan orang lain, dan pada saat yang lain kita akan
dibahagiakan. Dengan catatan, saat membahagiakan berarti kita siap berjuang untuk
sesuatu, bergerak, penuh semangat. Sementara dibahagiakan adalah berarti rela
untuk diperjuangkan oleh sesuatu, pasrah, tak punya daya. Dan akhirnya kita
sadar bahwa untuk bahagia, kita harus bisa mempertemukam sebuah kutub magnet,
dengan kutub magnet yang lain agar terjadi tarik-menarik. Agar terjadi hubungan
sosial antara satu dengan yang lain.
So, are you happy, or pretend to be?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar