Laman

Rabu, 14 Januari 2015

Teka-Teki Pak Joko




Ada sebuah kutipan satire dari Tere Liye berbunyi: “Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata.” Di negeri itu, ada berbagai media pers yang tak pernah kehabisan bahan baku berita setiap hari.
Media pers adalah institusi yang merefleksikan ide dan realitas dalam masyarakat, ujar Ashadi Siregar. Menurutnya, kerja profesional seorang wartawan adalah mengubah realitas yang berasal dari masyarakat menjadi informasi, hingga kemudian kembali lagi kepada masyarakat. Mestinya, saat media gusar berkoar soal perkara tertentu, ada kepekaan dari pihak pemerintah. Lebih baik lagi bertanya ada apa. Bukan malah tutup mata dan telinga.
Wacana terhangat yang sedang menguap di media adalah soal pencalonan Kapolri oleh Pak Joko yang penuh teka-teki. Disebut-sebut bahwa kandidat tunggal yang dipilih atas hak preogratif presiden itu merupakan incaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal menariknya adalah sikap Pak Joko yang membingunkan khalayak.
Pertama, sebagai presiden yang pernah dan sedang dianggap merefleksikan rakyatnya semasa kampanye Pilpres lalu, kenapa ia justru seolah mengabaikan “peringatan” dari masyarakat melalui media pers. Kedua, jika memang Pak Joko tidak bisa serta merta mengubris celoteh media, tidakkah ia melihat eksistensi KPK sebagai pihak yang nyaris selalu bisa membuktikan dugaannya. Ketiga, apa sebetulnya tujuan di balik pencalonan kandidat tunggal yang dicurigai bermasalah itu?
Melalui media, masyarakat mengetahui bahwa kandidat tunggal itu pernah punya hubungan dekat dengan ketua umum partai pengusung Pak Joko. Ya. Adakalanya sisipan informasi yang bernada miring seperti itu menjadi racun yang berbahaya terutama bagi mayarakat awam. Lantas menjadi penguat pertanyaan pertama tadi. Adakah kongkalikong yang tidak diketahui masyarakat. Hal semacam ini mau tidak mau pasti menjadi sebab masyarakat mendadak ragu benarkah pemimpin yang mereka pilih selama ini betul-betul berpendirian atau memang didikte pihak lain.
Keresahan berlanjut dengan mencuatnya berita bahwa kandidat yang kini namanya telah disebut dengan inisial itu merupakan incaran KPK, dan terang-terangan informasi ini disampaikan oleh KPK sendiri. Bila melihat dari prestasi KPK dalam memberantas para koruptor, adakah keraguan yang bisa ditudingkan pada lembaga itu. Sejauh ini rasanya tidak ada, dan semoga tidak akan pernah ada. Sampai pada titik ini, KPK merupakan primadona yang masih tetap dipercaya dan dibanggakan masyarakat. Lantas bagaimana presiden yang konon lahir dari rakyat itu justru tak sejalan dengan pikiran rakyatnya.
Paling menarik dari kedua persoalan tadi adalah pertanyaan terakhir. Benarkah Pak Joko sungguh tak punya tujuan lain dari aksi tutup mata-telinga soal isu yang mendera kandidat tunggalnya. Pertanyaan ini akan menjelma harapan jika berujung dengan jawaban “tidak”. Menjadi angin segar bagi para pendukung Pak Joko yang ingin melihat pemimpinnya itu tetap berpihak pada mereka.
Artinya, terbesit harapan bahwa kenekatan Pak Joko menggandeng lengan si kandidat tunggal di tengah riuhnya protes media pers adalah kesengajaan. Ia ingin masyarakat ikut memonitor “mangsa” KPK itu, mengenali wajahnya baik-baik. Lalu, pada saat yang tepat, ia tinggal melepaskan tembakan ke udara. Ledakan yang dihasilkan itu tak lain pengumuman dari KPK bahwa si kandidat berstatus tersangka dugaan korupsi. Betapa bodohnya kandidat itu.
 Harapan bahwa sebetulnya Pak Joko sudah membaca situasi atau bahkan menganlisis berbagai isu miring itu sebagai suatu fakta yang tertunda. Bila dugaan harapan ini benar adanya, berarti Pak Joko sungguh memahami keresahan rakyat. Sebab bukankah tindakan KPK menyelidiki kandidat tunggal itu pun berawal dari laporan masyarakat.
Tapi harapan itu pun masih di ambang teka-teki. Peluang terjadinya jawaban “ya” sama besarnya. Jika demikian, rakyat harus berlapang dada bahwa pemimpinnya telah ingkar janji. Apalagi salah satu media menuliskan bahwa Pak Joko memilih bungkam saat ditanya mengapa ia mengabaikan peringatan KPK. Ini menjadi kisah nyata yang kian menarik setiap hari.
   

Rabu, 10 Desember 2014

Mencicil Perubahan, Mengantisipasi Kekecewaan



Hidup ini penuh kejutan. Tapi tak semua kejutan bersifat positif seperti halnya kado ulang tahun. Ada kejutan yang nyata-nyata membuat tercengang hingga berakhir kecewa. Nah, agaknya efek buruk inilah yang telah diantisipasi oleh beberapa pihak terkait kebijakan umum yaitu dihapusnya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Akhir November lalu pemerintah secara resmi mengumumkan soal penghapusan subsidi BBM yang juga dimaknai sebagai penaikan harga bahan bakar tersebut. Alasan yang digadang-gadangkan adalah subsidi yang selama ini dikucurkan lewat BBM telah disalahgunakan. Sehingga, subsidi BBM akan dialihkan ke sektor lain supaya lebih tepat sasaran kepada masyarakat yang memang layak menerima. Sayangnya, manfaat dari pengalihan itu baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. Berbading terbalik dengan dampak negatif yang serta-merta menimpa masyarakat.

Hal ini tidak mengherankan karena BBM memang berkaitan dengan banyak aspek pada sektor ekonomi. Dengan sendirinya harga kebutuhan pokok berupa sandang-pangan, tarif angkutan umum, dan yang lain mengikuti seiring dengan meningkatnya harga BBM. Memang kenaikannya tidak banyak, hanya 20 persen saja. Pun, kebijakan serupa pernah dilakukan sebelumnya. Demonstrasi selalu terjadi di awal. Tapi kemudian berakhir dengan kepasrahan. Sebab waktu memang selalu bisa menyembuhkan kekecewaan.

Terkait waktu, sebetulnya dampak tak mengenakkan itu bisa diminimalisir jika ada pencicilan perubahan. Tak apa pemerintah pada akhirnya mengumumkan soal naiknya harga BBM. Toh, pada dasarnya masyarakat patuh bila memang alasan kebijakan itu berterima secara logika. Dan pencicilan perubahan itu bisa jadi penting dari segi psikologis.

Pencicilan perubahan merupakan suatu tindakan mengangsur dampak dari suatu kebijakan. Mungkin hanya segelintir orang yang menyadari bahwa ada pihak tertentu yang telah mengantisipasi dihapuskannya subsidi BBM sebelum pengumuman resmi yang bermula dari gosip itu akhirnya menjadi kenyataan.

Ingatkah bahwa tarif tol di Jabotabek telah lebih dulu dinaikkan padahal ketika itu kenaikan harga BBM baru sebatas isu belaka? Saat Presiden terpilih baru saja menikmati kursi kepresidenan sambil menerima kecaman serta ancaman bila BBM benar-benar naik. 

Selain tarif tol, jauh sebelum itu pihak ASDP Pelabuhan Merak-Bakauheni pun telah ambil start duluan dengan memberikan sosialisasi kenaikan tarif penyebrangan tanpa alasan, kepada masyarakat melalui beberapa banner yang dipasang di area pelabuhan. Barangkali benar bahwa gosip hanyalah fakta yang tertunda.

Pihak pengelola jalan tol dan ASDP sudah melakukan langkah tepat. Mereka tahu bahwa setiap hari masyarakat selalu berjibaku dengan jalan tol dan pelabuhan. Meskipun antisipasi itu tidak mengubah keputusan pemerintah, setidaknya beban batin yang dirasakan masyarakat jadi tak seberat bila kenaikan tarif keduanya itu diberlakukan pasca lenyapnya subsidi BBM.

Senin, 01 Desember 2014

Visualisasi vs Egoisme dalam Musik Video


Rasanya akan lebih mudah saat seseorang menyebutkan lagu-lagu kesukaan mereka, daripada bila harus menghitung seluruh lagu yang ada di dunia ini. Ada lagu yang ketika dipublikasikan terdengar kurang menarik bagi orang tertentu. Tapi ini hanya perkara personal. Ketertarikan atas lagu itu akan muncul secara perlahan karena sering mendengarnya secara tidak sengaja.  Ada pula yang langsung menyukainya karena faktor-faktor khusus, misalnya lagu diciptakan atau dinyanyikan oleh penyanyi favorit, lagu mengusung tema yang sedang sama persis dialami, atau  lagu punya karakter lirik dan melodi yang unik. 

Ketertarikan atas lagu-lagu berbahasa lokal lebih sering terjadi ketimbang lagu berbahasa asing. Bisa jadi karena saat mendengar lagu dengan bahasa sehari-hari, pendengar bisa sekaligus memahami makna dan pesan di dalamnya. Tapi lain soal bila lagu itu berbahasa asing. Biasanya ketertarikan pada lagu itu berawal hanya dari sekadar sering mendengar. Lagu yang easy listening akan makin nyaman di telinga dengan cara ini. Setelah alur melodinya melekat hingga kita secara spontan akan melakukan sing a long, hal yang kemudian dilakukan adalah mencari lirik utuh agar bisa memahami arti. Setelah itu barulah mengunjungi youtube untuk melihat musik videonya (mv).

Pada banyak penyanyi internasional yang suaranya terdengar lezat di telinga, seperti Rihanna (Unfaithful), Miley Cyrus (Wrecking Ball), Pink (Just Give Me a Reason) dan lain-lain, entah kenapa kadang lebih baik tak pernah menonton mv mereka. Sebab seringkali ada adegan mesum yang membuat mata “mual”. Padahal bila video itu dibuat tidak berlebihan dalam penonjolan aura seksnya, semua akan tetap baik-baik saja. Dari sinilah kita bicara mengenai tiga lagu berikut ini.

“Chandelier”, “Nobody’s Perfect”, dan “Somebody That I Used to Know” masing-masing dibawakan oleh Sia, Jessie J, dan Gotye Feat Kimbra. Sebagaimana dibicarakan sebelumnya, pada mulanya ketiga lagu ini menarik karena sering didengar serta berkarakter unik pada melodinya. Dari ketiga judul itu hanya satu yang tidak bisa langsung ditebak isi lagunya yaitu Chandelier. Namun, ketiganya punya kesamaan dalam hal tema yaitu kekecewaan. 

Musik video STIUK terbilang sederhana. Hanya ada dua orang laki-laki dan perempuan yang muncul berurutan tanpa banyak adegan di luar itu. Penonton hanya diarahkan untuk fokus pada tubuh bugil keduanya. Di sinilah keunikannya. Meski keduanya tampil tanpa busana sama sekali, tapi bisa ditangkap maksud bahwa bukan kesan penonjolan libido yang ingin ditampakan melainkan penekanan emosional. Muncul dan hilangnya satu demi satu mozaik warna pada tubuh mereka bisa mewakili perasaan kecewa saat menyadari bahwa seseorang yang sudah tak lagi kita miliki telah berubah. Kini mereka hanya sebatas orang yang dulu pernah kita kenal.

Hal serupa itu juga terdapat dalam mv “Chandelier” dan “Nobody’s Perfect”. Kedua sosok perempuan dalam masing-masing video ini mengenakan busana skinny. Tapi sekali lagi, bukan penonjolan bagian tubuh itu yang menjadi santapan mata. Meskipun Jessie J dan terutama perempuan dalam “Chandelier” itu bergerak meliuk-liuk sedemikian rupa, penonton lebih terfokus pada pesan moral dan kesan emosional yang melekat dalam koreografi tersebut.
Penekanannya, hal terbaik dari sebuah karya, dalam hal ini lagu adalah amanat dan khatarsis yang bisa diperoleh masing-masing orang. Tidak semua adegan-adegan kotor dalam mv lagu-lagu barat jadi hal utama yang perlu disuguhkan. Mv hanyalah visualisasi. Sayangnya, kadang itu justru dijadikan ajang pemenuhan ego dari pihak terkait.


Selasa, 04 November 2014

Bajaj oh Bajaj



Melihat eksistensi bajaj saat ini, rasanya perlu disalutkan ya. Kendaraan umum yang lekat sekali dengan negeri bollywood itu bisa bersaing dengan kompetitor lain. Padahal kalau dipikir-pikir, perlu berpikir beberapa kali lagi untuk menggunakan kendaraan yang berbahan bakar gas itu.

Pertama, bajaj memasang tarif yang cukup mahal meskipun jarak tujuannya dekat. Coba saja ukur berapa jarak antara Grand Indonesia dan Thamrin Residence. Sedekat itu saja penumpang dikenai tarif Rp 7rb melalui proses tawar-menawar. Kedua, suara bising mesin kendaraan. Anda yang belum pernah naik bajaj pun sepertinya tahu bahwa kendaraan itu menghasilkan polusi suara yang khas. Sudah sepatutnya diciptakan inovasi mesin bajaj yang lebih ramai lingkungan.

Selain polusi suara, menaiki bajaj juga sangat berisiko terkena polusi udara. Tentu semua tahu bawa bajaj tak punya kaca jendela. Debu dan asap kendaraan bisa bebas keluar-masuk tanpa hambatan. Jadi janagan pernah tanggalkan masker dari wajah saat berkendaraan bajaj.
Namun demikian, tahukah Anda bahwa ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh saat memilih bajaj ketimbang kendaraan lain. Apa saja?


1. Sensasi Khas. Pernahkah Anda naik becak? Nah, kurang lebih begitulah sensasi khas yang dirasakan saat naik bajaj. Posisi duduk penumpang yang menghadap ke depan, tepat di belakang pengemudi serta bentuk kaca depan yang demikian itu membuat penumpang bisa menikmati pemandangan jalan.

2. Udara segar. Ternyata selain berisiko polusi udara tinggi, Anda juga berpeluang untuk bisa menghirup udara segar dari atas bajaj. Tentunya ini hanya akan diperoleh saat  masih pagi. Kesempatan menghirup udara segar terbuka lebar.

3. Efisiensi waktu. Benar bahwa tarif bajaj relatif lebih mahal dibanding kendaraan lain. Tapi bajaj bisa mengantar Anda yang sedang terburu-buru. Dengan rute yang bisa melewati jalanan kecil dan pedestrian, bajaj adalah pilihan terbaik karena bisa menghindar dari hujan dan traffic light.

4. Penolong di Saat Hujan. Hal yang seringkali menyulitkan orang-orang di ibukota adalah jarak tanggung antara satu tempat ke tempat lain. Maksudnya, jika ditempuh dengan jalan kaki akan menyita waktu dan energi (berkeringat, padahal sudah dandan rapi). Tapi untuk naik mikrolet atau metromini jaraknya terlalu dekat, taksi pun tidak yakin akan pasang tarif awal berapa atau bahkan tak ada kendaraan umum roda empat yang beroperasi di sekitarnya. Nah, biasanya, di saat hujan, di lokasi-lokasi semacam itu terdapat bajaj, ojek motor, ojek payung, dan taksi. Percaya atau tidak, bajaj adalah pilihan terbaik, baik dari segi harga dan perlindungan.

Sabtu, 18 Oktober 2014

How to "Enjoy Jakarta"

Satu kata yang masih sangat relevan untuk menggambarkan Jakarta, Ibukota Indonesia yaitu macet. Bagaimana masyarakat memandang kemacetan di sebuah kota, tentu saja ini juga tergantung pada perspektif perorangan. Yang jelas kemacetan telah menjadi rutinitas warganya. Entah itu rutinitas masalah atau rutinitas proses kreatif.

Saat melihat kemacetan sebagai masalah, hal yang kemudian terpikirkan adalah solusi. Meskipun belum final, telah ada beberapa jalan keluar yang ditawarkan pada Jakarta baik oleh pemerintah maupun pihak ketiga (inisiatif masyarakat) di antaranya Bus Transjakarta, Kereta Commuterline, Sistem 3in1, Komunitas Nebengers, dan MRT (dalam proses). Semua itu sudah dijalankan dan hasilnya? Memang belum sempurna, tapi cukup membantu untuk sementara.

Kebelumfinalan itu dikarenakan solusi-solusi yang ada belum bisa sepenuhnya mencabut akar masalah. Orang awam tahu bahwa permasalahan utama kemacetan di Jakarta adalah tidak sebandingnya volume kendaraan dengan volume jalan. Dalam satu periode waktu banyak orang berjalan melalui rute bahkan menuju lokasi yang sama. Bila diperhatikan, beberapa solusi yang telah dan sedang dilakukan di atas tujuannya sama yaitu meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi dan menggantikannya dengan alat transportasi massal yang nyaman dan lebih ekonomis.

Ada beragam jenis kendaraan umum di jalanan Jakarta: bajaj, mikrolet, metromini, bus ¾, kopaja, kopami, bus Mayasari, APTB, transjakarta, commuterline. Sejenak terlintas dalam benak, sedemikian banyak jenis dan jumlah armada umum apakah semuanya “laku”? Jawabannya: ya! Itu karena tiap armada punya rute, spesifikasi, dan kualitas layanan yang berbeda. Diperlukan kejelian agar tak salah pilih angkutan. Biasanya, tingkat kenyamanan berbanding lurus dengan harga.

Kita ambil satu sampel di Terminal bayangan Bekasi Timur. Di antara berbagai jenis bus yang melintas di sana, ada salah satu angkutan umum yang tampilan fisiknya sangat kontras yaitu Bus 3 Prapat (3/4) dengan rute Pulogadung-Karawang-Cikarang-Cirebon. Selintas pandang bus ini mirip dengan metromini lantaran sama-sama berwarna oranye. Tapi ada ciri yang bisa diingat bahwa metromini memiliki nomor rute, sedangkan bus ¾ tidak pakai rute serta ukurannya sedikit lebih besar dari metromini.

Bus ¾ didominasi oleh sopir-sopir Batak. Ada kesan kumuh yang pasti membuat para calon penumpang gamang untuk naik. Jangan bayangkan suasana sejuk saat menaiki bus ini. Selain tanpa pendingin ruangan, pintu, jendela dan kursi justru berkarat di sana-sini. Sekilas memang seperti diskriminasi. Tapi saat kembali pada persoalan kualitas layanan, hal itu menjadi wajar. Keuntungan menaiki bus ini di antaranya harga yang murah yaitu Rp4000, dan hemat waktu karena di balik bahaya ugal-ugalan para sopirnya ada peluang besar untuk sampai di tujuan lebih cepat.

Lalu adakah kemacetan Jakarta sebagai rutinitas proses kreatif? Sangat ada. Coba dengarkan salah satu lagu Banda Neira berjudul Senja di Jakarta. Mendengarkan lagu ini, rasanya seperti sedang berusaha mengikhlaskan kemacetan dan justru menikmatinya sebagai rutinitas khas Jakarta. Tak ada penghakiman apalagi rasa kesal. Toh, Jakarta hanyalah objek. Apa yang kini terjadi pada Jakarta sangat bergantung pada apa yang dilakukan warganya.  Sekaligus ini juga menjadi sindiran atas tagline “Enjoy Jakarta”. Bagaimana sebetulnya makna dari ajakan “nikmati Jakarta”, Banda Neira membantu menjelaskan lewat lagu ini.

Berikut ini liriknya
Bersepeda di kala senja. Mengejar mentari tenggelam. Hangat jingga temani rasa. Nikmati Jakarta. Bersepeda keliling kota. Kanan kiri ramai jalanan. Arungi lautan kendaraan. Maafkan Jakarta. Nikmati jalan di Jakarta. Bersepeda sepulang kerja. Kenyang hirup asap kopaja. Klakson kanan kiri berbalasan. Senja di Jakarta.

Jumat, 12 September 2014

Where is Home?

Passion, obsesi, target, dan mimpi ibarat suatu jalinan yang nantinya menjadi sebuah jalan panjang bagi seseorang menemukan “rumah”. Percaya atau tidak, sebagian orang tidak lagi puas menerima pemaknaan rumah sebagaimana lumrahnya. Makna rumah telah bergeser menjadi lebih luas, tak sekadar tempat tinggal atau tempat berteduh dari panas dan hujan. Kenyataan semacam ini mudah ditemukan dalam berbagai ungkapan pada lagu bertemakan rumah. Satu yang akan lekas terbesit dalam pikiran adalah “Home” yang dibawakan Westlife, dan telah dinyanyikan dalam versi lain oleh Michael Buble.

Lebih jauh lagi, coba dengar dan resapi lagu “Temporary Home” yang dibawakan oleh Carrie Underwood. 
Little boys six years old. A little too used to being alone. Another new mom and dad. Another school, another house that will never be home. When people ask him how he likes this place. He looks up and says with a smile upon his face. This is my temporary home, it’s not where I belong. Windows and rooms that I’m passing through. This is just a stop on the way to where I’m going. I’m not afraid because I know this is my temporary home. 
Ini hanya gambaran kecil bahwa ternyata di dunia ini, seseorang tak pernah berhenti mengikuti hasrat diri, passion, mencari hingga menemukan tempat yang bisa disebut rumah, yang menyamankan hati, serta mendamaikan. Sebagaimana ungkapan yang cukup populer dan bisa ditemukan pada lagu Jennifer Chung berjudul “Common, Simple and Beautiful Life” bahwa “Home is where the heart is”.

Seseorang pernah bertanya pada saya, apa perbedaan antara “home” dengan “house”? Santai saya jawab bahwa perbedaannya ada pada penekanan makna. Di seberang benua sana ada sebuah bangunan bernama White House, di tepi jalan pun mudah bagi kita menemukan beragam tempat bernama Coffe House, Tea House, Boarding House, Pet House, dan lainnya. Itu menunjukkan bahwa house lebih menekankan pada bangunan yang lokasinya spesifik dan bisa dilihat.

Referensi dari berbagai lagu bertemakan “rumah” pun makin meyakinkan saya bahwa “home” memiliki makna yang teramat dalam mengenai “rumah”. Sesuatu yang tak harus berwujud bangunan, tetapi lebih pada zona nyaman yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Mereka yang berada di ‘rumah’ kadang merasa tak nyaman. Justru mereka bisa lebih leluasa mengungkapkan rasa sayang pada keluarga saat sedang berada di tempat yang jauh dari rumah. Bagian larik yang bercetak tebal di atas juga bisa menjadi jawaban, bahwa house tak akan pernah bisa menjadi home. Atau coba pikirkan, kenapa seorang sutradara memilih judul Home Alone dan bukan House Alone.

Saat kembali pada persoalan passion, rumah yang sedang saya tuju selalu mengarah pada hal terkait buku. Jadi tak heran, di manapun saya berada, saya akan merasa nyaman bila berada pada jalur tujuan. Tak peduli saya berada di tepi jalan menunggu bus lewat, saya sedang di kapal berlayar menyeberang pulau, saya sedang galau menanti jodoh *eh* asal saya bersama buku, saya merasa sedang berada di atau dalam perjualanan menuju rumah dan tak perlu mengkhawatirkan apapun. Bagi saya, home is where you can make love with your book, even there are people around, even you're on a trip

Saya punya mimpi besar bersama buku, salah satunya membangun semacam taman bacaan tapi punya fungsi lebih dari itu. Tentu proses yang tak bisa saya lewatkan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin buku, baik dalam bentuk cetak ataupun elektronik. Untuk buku yang masih bisa dijangkau dalam bentuk cetak, saya akan membelinya di toko buku. Sementara untuk buku yang mungkin sudah tidak cetak ulang, buku yang tidak dipasarkan di Indonesia, buku berbahasa asing, atau bahkan buku yang berharga miring, solusi yang saya ambil adalah dengan memburunya di toko buku online dalam versi pdf. 

Salah satu yang menurut saya recomended adalah electrabookstore. Bagi para pegiat buku yang makin lengket dengan gadget, saya pikir tak ada salahnya coba mengintip koleksi yang dimiliki toko buku elektrik ini. Seolah melek teknologi, ownernya hadir melalui beberapa akun media sosial yang tengah digandrungi masyarakat, di antaranya twitter:electrabooks_ , instagram/line:electrabookstore  dan BB: 29D3A51B. 

Percayalah, setiap orang telah diciptakan dengan suatu tujuan spesifik dari Tuhan. Maka berusahalah menemukan passion, untuk kemudian melanjutkan misi untuk pulang ke rumah sesungguhnya. Hati-hati di jalan ya :) 

Perjalanan saya berlayar dengan kapal Feri

Hidup adalah Keputusan

Jika ada yang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, maka sesungguhnya kalimat itu mengandung konsekuensi bahwa hidup adalah tentang bagaimana mengambil keputusan. Masalahnya, ada sebagian orang yang takut untuk mengambil keputusan hingga membiarkan sesuatu terjadi di luar kendalinya. Banyak tidaknya pilihan yang membuat galau, akhirnya berujung juga pada sebuah keputusan. Siap tidak siap, sadar atau belum sadar, waktu akan menunjukkan bahwa setiap orang telah mengambil keputusan atas pilihan yang ditawarkan oleh kehidupan.

Ada orang yang memutuskan untuk menjalani saja hidupnya seperti air mengalir,tanpa target, tanpa obsesi apalagi mimpi. Tetapi lupa bahwa filosofi air mengalir adalah selalu mencari celah sekecil apapun untuk bertahan melanjutkan hidup. Bukan sekadar pasrah sebelum berusaha. Terlebih lagi, pasrah tak sama dengan tawakal. Sebuah kisah tauladan berikut ini barangkali bisa menjadi gambaran mengenai perbedaan keduanya.
Suatu hari ada seseorang yang pergi ke masjid dengan membawa unta. Sesampainya di masjid, ia turun dari unta kemudian langsung masuk ke masjid. Orang itu masuk tanpa terlebih dahulu mengikat untanya. Ketika ditegur Rasulullah, orang itu lantas berkata, “Saya tawakal kepada Allah.” Mendengar jawaban itu lantas Rasulullah memberi tahu bahwa bukan seperti itu cara mengamalkan tawakal kepada Allah. Cara bertawakal adalah: ikat untamu, barulah engkau bisa tawakal (The Perfect Muslimah, Ahmad Rifai Rifan: 46). Dalam KBBI, antara pasrah dan tawakal pun dibedakan oleh ada dan tidaknya unsur ‘usaha’.
Di sisi lain, orang yang telah memutuskan untuk mewujudkan seabrek mimpi justru sibuk membuat berbagai celah atau peluang agar targetnya lekas tercapai. Hidupnya penuh dengan semangat dan kerja keras. Impian yang mereka gagas pun beragam, dari yang hanya untuk diri sendiri hingga impian yang ditujukan bagi orang banyak. Mereka tidak bisa bergeming menunggu takdir Tuhan menghampiri, justru berinisiatif untuk mendatangi takdir itu. Jika satu mimpi sudah direalisasikan, mereka bergegas menuju impian lain yang sudah masuk dalam daftar tunggu.