Laman

Selasa, 10 Februari 2015

Menjadi Tangguh dengan Terbiasa Kehilangan


T, tak selamanya hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Kadang ia begitu halus, tak jarang ia berubah garang. Ia bisa memberikan banyak hal yang kita impikan, pun seketika bisa merenggut yang kita dekap. Benar apa yang dikatakan oleh orang-orang itu. Apalah artinya memiliki jika bahkan diri ini pun bukan milik kita.

Lalu kita tersadar, bahwa hidup hanyalah sekumpulan episode yang berujung pada rasa kehilangan. Itu hanya sebuah rasa, artinya kita tak benar-benar kehilangan. Kita tak memiliki apapun, kecuali rasa syukur. Itupun hanya bisa kita dapatkan jika diupayakan. Maka, bisa kau bayangkan betapa banyak orang yang sesungguhnya menjalani ilusi. Mereka merasa memiliki sesuatu yang tak bisa mereka kuasai. Mereka menguasai hal-hal yang tak pernah bisa mereka miliki.

Hidup ini semu. Ibarat terkurung dalam rumah kaca, saat hujan embun menyelubungi mata, dan ketika panas kita tersilaukan oleh cahaya. Kita ini buta, bila tak dikaruniai hati. Kita ini bodoh, jika tanpa ilmu. Kita sulit menerima hal-hal yang di luar nalar. Seringkali hidup membolak-balikkan kenyataan. Lantas kita pun bertanya, mana yang benar mana yang salah?

Saat hidup sedang tak berpihak, kita menghujat. Siapa yang sesungguhnya kita hujat? T, hidup adalah sebuah ruang tak bersekat, tak pula bertiang penyangga. Kita berdiri di antara langit dan bumi. Kita butuh pegangan. Maka sebaik-baik pegangan adalah rasa percaya kepada Tuhan.

Al-'Anfāl:70. "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu".

Entah sesuatu itu baik atau buruk,  setidaknya kita meyakini bahwa Tuhan itu Maha Baik. Tuhan adalah titik pusat segala kebaikan dan kebenaran. Tuhan itu benar, Tuhan itu baik. Dari titik itu kita bisa melihat, membandingkan, dan memutuskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar