Laman

Rabu, 01 Mei 2013

Ketika Topeng menjadi Tuntutan


Judul novel : Topeng (2002)
Penulis : Wing Kardjo
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia; 158 hlm.

Pen, seorang laki-laki berusia 49 tahun. Selain menjadi dosen di Jepang ia juga penyair. Sampai di usia yang terlampau lanjut ia tetap melajang. Sebagai seorang dosen, kegilaan yang dilakukan Pen adalah bercinta dengan mahasiswinya yang bernama Ayuko. Bercinta dalam arti terdalam yaitu tidak sekadar menjalin kisah cinta tetapi juga berhubungan intim—tanpa pernikahan. Tentu saja hubungan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebab bukan hanya perkara usia yang mereka langkahi, melainkan juga adat istiadat.

Dalam kisah ini sebentulnya yang menjadi sumber permasalahan adalah Ayuko. Perempuan berusia 20 tahun itu diduga mengidap electra complex yaitu kebalikan dari oedipus complex. Sebagai perempuan—sengaja tidak disebut gadis karena tidak bisa dibuktikan apakah Ayuko masih perawan atau tidak sebelum berhubungan dengan Pen—berusia belia, Ayuko tampak begitu biasa menjalin kisah cinta dengan laki-laki yang lebih tua dari ayahnya sendiri. Bahkan, beberapa kali Pen menjelaskan hal tersebut, Ayuko justru meyakinkan bahwa baginya tidak ada masalah. Ia mencintai dosennya itu tanpa alasan, parce que. Meskipun pada akhirnya hubungan mereka harus berakhir begitu saja setelah Ayuko diduga terkena virus HIV Aids. Sebelum memutuskan untuk berpisah, Ayuko telah lebih dulu menyampaikan maksudnya itu secara implisit, lewat sebuah puisi. Puisi tersebut dimaknai oleh Pen sebagai suatu permintaan maaf. Mungkin memang Ayuko adalah gadis “nakal”. Namun, Pen pun tidak lebih baik darinya. Mereka seimbang sebagai pemakai “topeng”.

Merasa keputusan Ayuko tersebut berbanding terbalik dengan sikapnya selama ini, Pen berusaha untuk bisa bertemu hanya untuk menjelaskan duduk perkara. Sayangnya, Ayuko tetap tidak mau menjelaskan apa pun. Di sanalah kesadaran Pen muncul. Ia merasa menjadi manusia tidak tahu diri karena telah menjalin hubungan gelap dengan perempuan belia. Ia khawatir kebiasaannya mengunjungi shoapland menjadikannya sebagai penular virus terhadap Ayuko. Sejak saat itu, ia bertekad untuk memasang kembali topengnya. Menjalani peran sebagai dosen yang notabenenya bijaksana dan beritikad baik.

Penyair Ronggowarsito dikenal dengan ramalannya mengenai “zaman edan”. Sementara Akira Kurosawa melalui Soesilo Toer pernah menyatakan bahwa di dunia gila, hanya si gila yang waras. Lalu kapankah zaman tersebut mulai terjadi? Sekiranya ramalan Ronggowarsito telah benar-benar terjadi pada kurun tahun 2000, bisa jadi Pen (mungkin benar-benar memang Wing Kardjo sendiri) telah mengambil peran sebagai si gila yang hidup di zaman edan. Ia ingin tetap tampak waras dengan membawa-bawa topeng supaya rahasia mengenai kegilaannya tetap tertutupi.

Topeng merupakan salah satu karya tahun 2000-an yang terbilang vulgar. Sejak awal kisah, pembaca sudah langsung disuguhi peristiwa berbau ranjang. Selanjutnya peristiwa demi peristiwa dijalin dengan aroma seksualitas. Selain itu, kekurangan novel ini adalah kelatahan narator yang cenderung ikut campur dalam penceritaan. Sehingga hal tersebut menyebabkan pembaca menjadi curiga bahwa narator adalah penulisnya sendiri yaitu Wing Kardjo. Meskipun bagian semacam itu hanya beberapa kali, tetap saja menjadi hal fatal yang secara implisit menunjukkan kepada pembaca bahwa  novel ini adalah sebuah catatan harian yang diprosakan.

Meskipun demikian, novel ini tetap mengandung nilai-nilai positif. Melalui novel ini disampaikan informasi mengenai beberapa budaya masyarakat Jepang. Di antaranya adalah mengenai kebiasaan mereka untuk disiplin waktu. Jika masyarakat Indonesia cenderung mengulur waktu dalam mengerjakan suatu hal sehingga terburu-buru di penghujung, maka tidak dengan masyarakat Jepang. Lembur akan mereka lakukan saat dibutuhkan, tetapi segera istirahat setelah menyelesaikannya secara maksimal. Satu lagi hal yang sekiranya mengejutkan adalah mengenai budaya masyarakat Jepang yang tidak ingin berutang budi dan senang memberikan hadiah dengan bungkusan-bungkusan yang indah. Hal tersebut juga yang menjadi motivasi bagi Ayuko untuk menghadiahkan tubuhnya yang terbungkus kimono.

Kamis, 25 April 2013

Mendung Berkabut

Tuhan terlampau biasa untuk sekadar memahami.
Di pundakmu, ada risau-risau yang pasi.
Ke mana hendak kau bawa pergi bercak-bercak rindu yang tak merupa?
Tuhan terlanjur biasa dalam memberi.
Kadang, kau terlalu khusyuk untuk meyakini jalan yang tertimpa langit.
Kabut. Di matamu terberai kabut yang bahkan tak sempat mengantarkan mendung.
Hujan. Di pekaranganmu menderas ianya yang tak tahu ke mana harus pulang.
Tuhan berkabut.
Sementara kau sendirian menelan mendung, sampai habis.

Semarang, 24 April 2013

Rabu, 17 April 2013

Diskusi dan Bedah Buku 'Pram dari Dalam'



Bersama Soesilo Toer di Diskusi dan Bedah Buku ‘Pram dari Dalam’. FBS Unnes, April 2013.

Sumringah. Itulah satu kata yang agaknya menggambarkan perasaan saya sepanjang berada di FBS Unnes. Saya sudah sempat melewatkan beberapa kesempatan sampai akhirnya bisa bertatap muka dengan “adik kesayangan” Pramoedya Ananta Toer ini. Well, saya sebutkan saja poin-poin penting dari acara ini ya.

1. Pak Soes memperkenalkan keluarganya. Ia membawa istri dan anak semata wayangnya, Benee Santoso. Menurutnya, seorang Bapak memang harus kalah dari anak dalam beberapa hal. Sebab ia merasa bangga karena anaknya memiliki tinggi 180an, 20 cm lebih darinya.

2. Dulunya Pak Soes cadel. Mengilangkan cadel dengan cincin emas yang telah dububuhi kotoran manusia atas saran guru bahasa Inggris di tamsis Jakarta.

3. Pak Soes protes sebab di backdrop namanya ditulis tidak dengan "oe" tetapi "u". Ia tidak mau demikian sebab ia lahir sebelum orba. Mengacu pada prolog yg disampaikan saya jadi penasaran, benarkah, rasa jengkel karena dimusuhi oleh orba masih mengakar atau bahkan diturunkan sampai generasi sekarang? Dan kalau benar masih, kenapa? Tidakkah melihat bahwa masyarakat nonorba sepertinya biasa saja. Saya sebagai anak bangsa yg lahir pasca orba cenderung bersikap netral. Sebab sejauh ini referensi saya mengenai perseteruan PKI-orba masih seadanya. Tapi beliau menjelaskan: "Saya tidak pernah merasa benci dan memusuhi bangsa Indonesia. Saya hanya kecewa kenapa kami dimusuhi tanpa pernah tahu kesalahan kami." Sambil tersenyum ia menyampaikan rasa bangganya bisa berdiri di depan para audien.

4. Untuk menghasilkan suatu karya maka perkayalah fakta dan pengalaman diri. Berkaitan dengan karya-karya Pram yang cenderung "arus balik", menurutnya, Roman sejarah merupakan shock teraphy bagi masyarakat. Tergantung bagaimana mereka menyikapinya. Apakah akan tetap percaya pada sejarah yang ada atau berontak.

5. Dari awal Soes menyebut-nyebut istilah "pemulung" secara implisit dan eksplisit untuk menyebut profesinya. Padahal, di bbalik tampilannya yang terlalu sederhana itu beliau merupakan doktor lulusan Rusia. Beliau juga pendiri Perpustakaan Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA) di rumah warisan keluarga Toer di Blora.

6. Saat diminta menggambarkan seorang PAT dalam satu kata, Soes menyebut kata "antikritik". Sebab PAT adalah orang yang tidak mau dikritik meskipun suka mengkritik orang lain.

7. Saya bertemu dengan 2 alumni Hawe, seperti biasa Duo Budi Maryono dan Kang Putu. Beliau pelaku kongsi penerbitan Gigih Pustaka Mandiri yang dalam hal ini adalah penerbit buku PDD (padahal keduanya pun penulis, dan dosen :D) Dan belakangan saya baru tahu bahwa sketsa PAT di buku PDD adalah karya Toni Malakian, juga mantan pengelola Hawe. Wow

Minggu, 07 April 2013

Sinopsis Film Silver Linings Playbook


Silver Linings Playbook (2013) merupakan film psikologi. Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang mantan pasien terapi kejiwaan. Pat, setelah dinyatakan boleh kembali ke rumah, ia begitu bersemangat untuk bisa kembali pada (mantan) istrinya Nikke. Padahal, Nikke lah yang menjadi sebab Pat harus dirawat di Baltimore.

Dalam misi “balikan” itu, Pat tidak sengaja bertemu Tiffany, perempuan yang juga pernah menjalani terapi karena depresi setelah suaminya tewas dalam kebakaran. Tiffany berhubungan seks dengan 11 rekan kerjanya di kantor sehingga ia dipecat.

Tiffany yang memunyai akses untuk menemui Nikke berjanji akan membantu Pat menyampaikan surat kepada Nikke. Syaratnya Pat harus mau menjadi partner Tiffany dalam kompetisi walts dance (tewasnya suami membuat Tiffany kehilangan partner). Awalnya Pat menolak karena rasa cintanya pada Nikke. Namun, permasalahan keluarga membuat Pat akhirnya mau. Selain itu, Tiffany dan keluarga Pat telah membuat kesepakatan berbohong kepada Pat bahwa dalam kompetisi itu Nikke akan datang.

Jumat, 15 Maret 2013

Pembaharuan Kosa Kata


Saya tidak bermimpi menjadi pegawai negeri. Tetapi jika kesempatan membawa saya pada kemungkinan, saya ingin mengajukan sebuah program kerja yaitu publikasi pembaharuan kosa kata secara umum melalui media massa dan media elektronik.

Selama ini, penyebaran informasi hanya terbatas pada kalangan tertentu. Padahal, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat yang “buta bahasa” tidaklah sedikit. Sehingga, pembaharuan yang sudah ada tidak menyebar secara maksimal dan efektif. Akibatnya, kesalahkaprahan terus terjadi.

Memang, cara ini tetap mengandung unsur negatif, sebab masyarakat akan semakin jauh dari Balai Bahasa—selaku pihak berwenang—dan tidak bersentuhan langsung dalam akses kebahasaan. Tapi saya pikir cara ini akan lebih baik terutama dalam rangka memperbaiki kualitas masyarakat dalam berbahasa Indonesia.

Sabtu, 23 Februari 2013

Rasionalitas yang Hilang



Resepsi Cerpen “Dengan Dua Cent Jadi Kaya” Karya Thio Tjin Boen


Membaca karya sastra Melayu Tionghoa (SMT) berarti membaca sejarah. Sebagai barang klasik, tidak bisa dipungkiri bahwa SMT pernah hidup di masa lampau dan masih bisa ditemukan sampai saat ini. Tentu hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari kerja keras seorang peneliti Perancis, Claudine Salmon.

Claudine Salmon mungkin punya tujuan tersendiri atas kerja kerasnya mengumpulkan SMT yang tersebar di nusantara. Namun, terlepas dari hal itu ia telah berjasa dalam menunjukkan eksistensi SMT kepada masyarakat sastra—diterima atau tidak. Sampai saat ini kumpulan SMT masih terus diperbaharui. Penerbit Gramedia telah berhasil menerbitkan sekian jilid yang masing-masing ketebalannya bisa mencapai 500 halaman.

Hal apa sebenarnya yang menjadikan SMT tetap dipertahankan? Bisa jadi karena kebudayaan Tionghoa kaya akan nilai-nilai luhur dari ajaran konfusiusnya. Misalnya saja dalam sebuah cerpen berjudul “Dengan Dua Cent Jadi Kaya” (DDCJK) karya Thio Tjin Boen.

Secara singkat cerpen DDCJK menceritakan tentang bagaimana sikap seorang Tionghoa terhadap kekuatan para leluhur mereka (dewa) yang disebut Toapekong. Rasionalitas tidak lagi menjadi tolak ukur ketika suatu keyakinan atas perintah dewa telah hinggap dalam diri mereka. Hal tersebut bisa dilihat dari sikap tokoh utamanya, Nyonya Hong Lan.

Dikisahkan bahwa Nyonya Hong Lan sengaja datang dari Kudus ke Semarang untuk mendapatkan semacam wangsit mengenai jodoh putri sulungnya. Di sebuah klenteng, sesaat setelah ia menyampaikan maksud tersebut di depan patung Sin Beng, ternyata patung tersebut dapat bicara. “Hujin punya anak, jodonya ada di Semarang”.

Meskipun awalnya ia kaget dan takut, akhirnya ia meyakinkan diri bahwa niat awalnya adalah mencarikan jodoh atas putrinya dengan bertanya kepada Sin Beng. Jadi, apapun yang dikatakan oleh dewa yang diyakininya tersebut, ia harus percaya dan patuh. Sesegera mungkin ia mencari cara untuk bisa bertemu dengan seorang pemuda miskin yang tinggal di sebuah kampung di Semarang. Berkat bantuan koleganya, Nyonya Hong Lan berhasil bertemu dengan pemuda sekaligus keluarganya yang ternyata penjual barang antik (bekas).

Sebagai orang kalangan bawah, tentu keluarga pemuda yang bernama Sie Tiong itu merasa khawatir barangkali Nyonya Hong Lan salah orang. Tetapi perempuan itu meyakinkan bahwa apa yang ia dengar dari patung Sin Beng adalah benar. Ia sudah tak peduli pada kenyataan bila harus berbesanan dengan orang miskin sekalipun. Setelah beberapa proses dilakukan, pesta pernikahan pun digelar.

Keluarga Hong Lan akhirnya berbesanan dengan keluarga Ong Boen Tek. Pasca pernikahan itu, Sie Tong tinggal di Kudus sementara Ong Boen Tek dan istirnya kembali ke Semarang. Suatu ketika Ong Boen Tek sedang duduk santai di rumahnya, seorang tetangga pun datang bertamu.
Tamu inilah yang akhirnya membuka rahasia yang sebelumnya sempat membuat ia dan istrinya ragu mengenai pernikahan putranya dengan putri keluarga Hong Lan. Tamu ini mengaku bahwa ialah yang bersembunyi di balik patung menyamar menjadi Dewa Sin Beng dengan mengatakan bahwa jodoh dari putri Nyonya Hong Lan adalah seorang pemuda miskin di Semarang.

Meskipun kisah in terksesan mengada-ada, intinya pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca adalah perihal kepatuhan pada leluhur (dewa). Di dalam cerpen ini sebenarnya tidak hanya menceritakan satu hal. Namun, semuanya berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa pada Toapekong. Salah satu cerita lainnya adalah kisah perampok yang batal merampok karena ketika masuk ke dalam rumah seorang warga, ia dihadang oleh sosok raksasa. Orang-orang percaya bahwa itu adalah dewa Toapekong. Setelah kejadian itu, pemilik rumah disegani warga karena dianggap sakti.

Membaca kisah yang ditulis oleh  Thio Tjin Boen ini memunculkan suatu anggapan bahwa ada keterkaitan antara falsafah Jawa dan Tionghoa mengenai kepercayaan pada leluhur. Siapa mempengaruhi siapa, dalam hal ini menjadi rancu. Secara subjektif tentu orang Jawa akan berkeras bahwa budaya Jawa adalah tuan rumah di Indonesia, sedangkan orang Tionghoa hanya warga pendatang yang kehilangan identitas budaya.

Namun, siapa yang berani menjamin bahwa justru orang-orang Tionghoa inilah yang justru membawa sisa-sisa peradaban mereka ke nusantara dan lambat laun menyebar lantaran hidup berdampingan dengan warga pribumi. Yang jelas, dua suku ini sama-sama masih percaya pada kekuatan gaib sebagaimana masyarakat primitif lainnya di dunia ini.

Sedikit beranjak dari pembahasan cerpen DDCJK, marak anggapan bahwa SMT telah berkontribusi dalam perusakan kosa kata bahasa Indonesia lantaran menggunakan bahasa gado-gado. Benarkah? Sebaiknya pernyataan ini dikaji lebih lanjut secara objektif. Benar bahwa—dalam DDCJK misalnya—penulis cerpen SMT memang tampak sembarangan dalam pemilihan kosakata. Seperti dalam petikan berikut ini:
Dari apa yang telah saya tuturken dalem serie kesatu, sebetulnya ada satu perkara langkah, tapi toch dengen sasungguhnya sudah terjadi pada diri saya sendiri, terlebi lagi perkara begitu, memang bisa terjadi pada diri sesuwatu orang yang kurang perdata dalem penghidupannya (DDCJK, hlm. 224).

Kata bercetak miring dalam kutipan tersebut memang tidak tepat, bila ukurannya adalah masa sekarang. Bayangkan, cerpen ini pertama kali terbit tahun 1920 di Weltevrden. Sedangkan Sumpah Pemuda baru diikrarkan tahun 1928. Bukankah hal ini berrati bahwa justru para penulis SMT telah lebih maju dengan menulis cerpen padahal kosakata bahasa Indonesia masih terbatas?

Kurang bijak rasanya bila anggapan tersebut masih dipertahankan. Pemikiran objektif tentu akan lebih bermanfaat ketimbang subjektivitas yang tidak menghasilkan apa-apa selain kecurigaan. Salah satu cara mengambil manfaat dari karya sastra Melayu Tionghoa adalah mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.***

Jumat, 08 Februari 2013

Wajah Sebuah Akhir (2)


Pernahkah kamu mengingat kapan pertama kali kita bertemu? Atau tepatnya dipertemukan? Pernah kutanyakan hal ini padamu, dan kau hanya menjawab sekenanya.

“Penting?”

Memang, bukan hal yang penting buatmu. Tapi bagiku, merunut sejarah hubungan ini akan membantuku untuk setidaknya mencoba sedikit memahami kenapa sampai saat ini aku tak juga berhenti mengingatmu.

Malam ini, seperti biasa aku termangu di jendela kamar sambil terus memandangi bangunan berlantai tiga di sana. Empat hari yang lalu kau berpamitan lewat sms. Dan sampai detik ini, sms itu urung kubalas. Memang ada masanya kita kehilangan kemampuan untuk menjelaskan maksud dan tindakan kita. Apalagi jika tindakan itu kita lakukan dengan sadar dan menyalahi kesepakatan. Celakanya, di manapun, diam selalu bermakna ganda. Setiap orang sah menerjemahkannya sesuai suasana hati dan jangkauan pikiran.* Bagiku, pamit yang kau ucapkan secara langsung di kafe seminggu sebelumnya sudah cukup. Tapi kenapa, kau selalu mendadak inferior? Tentu saja inferioritas yang justru merendahkan orang lain.
***

Menjadi seorang introvert mungkin bukan pilihan. Sebab tak mungkin pula semua orang di dunia ini harus ekstrovert. Tapi satu hal yang seharusnya kau pahami, bagaimana mungkin seorang laki-laki mampu menjaga kekasihnya, jika terhadap dirinya sendiri pun ia tak mampu mengatasi kritik dari orang lain.

“Masih bolehkah aku menunggumu?”

Bersama gerimis yang sejak sore urung berhenti, kau tampak menunggu sebuah jawaban. Hal yang seharusnya sudah kau tahu kemustahilannya. Beberapa pertanyaan berulang kau tanyakan, dan selalu tak kujawab.

“Maaf ya kalau aku menanyakan hal itu lagi. Aku janji ini yang terakhir.”

Lantas kau menyelipkan sebatang kretek ke bibirmu yang kini terkatup. Sebentar saja asap tipis mengepul menyelubungi wajahmu yang telah berubah raut.

Aku masih bergeming. Pelan-pelan dinginnya udara malam itu menyeruak ke wajahmu kemudian menyambar lemon tea di gelasku. Tentu kau sangat tahu ketaksukaanku melihat asap rokok ikut campur dalam pembicaraan kita.

“Minggu depan aku pulang. Sengaja sore ini aku rela kehujanan menunggu kamu datang. Ya, sekadar pengin ngobrol panjang sebelum berpisah.”

“Urusanmu di sini udah kelar semua?” coba kuseriusi pernyataanmu.

“Kuanggap kelar.”

Otot wajahku mengendur. Jawaban semacam itulah yang kerap membuatku malas melanjutkan perbincangan. Gelas ditangan hanya kugenggam. Meski kutahu sudah tak adalagi kehangatan di sana. Sepertimu.

Kubiarkan hening menjadi satu-satunya pendengar gusar hati kita masing-masing. Sesekali kuselami wajahmu yang kadang masih juga mampu menelurkan rindu diam-diam. Kulihat kau menunduk mencari sesuatu dari tas slempangmu. Sebuah buku.

“Buatmu. Sebagaimana janjiku.”
Dahiku berkerut.

“Kapan kamu janji?”

“Waktu itu. Tapi ya terserah kalau kamu lupa.”

Kuusahakan sebuah senyum tulus, disusul ucapan terima kasih. Aku tak ingat kapan kau menjanjikan buku itu. Tapi memang kau pernah menjanjikan sesuatu, yang lain. Tenanglah, tak akan kuutarakan hal itu. Karena mungkin saja kau sudah lupa. Sebab kau kerap mengingat apa-apa yang sudah kulupakan dan melupakan apa yang seharusnya kau ingat.

Kuanggap buku itu sebuah kenang-kenangan. Walaupun sebenarnya aku ingat bahwa kau pernah mengatakan tak ingin meninggalkan satu kenanganpun pada orang lain yang bisa mengingatkannya pada dirimu. Seorang teman pernah mengatakan bahwa jika waktunya tiba, kau ingin menghilang dari semua orang, kecuali orangtuamu.

“Kamu mau kenang-kenangan apa dariku?” tanyaku saat asap telah berhenti mengepul dari mulutmu. Kau juga sudah tampak lebih rileks.

“Antologi puisimu.”

Kuhela napas tanda pasrah. Sebenarnya pertanyaanku barusan hanya basa-basi. Sebab memberikan sesuatu padamu sepertinya suatu kesia-siaan.

“Tapi bukannya kamu gak begitu tertarik dengan benda pemberian ya? Kupikir kamu lebih suka mendapatkan sesuatu atas usahamu sendiri, mencuri buku misalnya.”

Sebentuk senyum merekah di wajahmu.

“Satu-satunya dosa yang bermanfaat adalah mencuri ilmu...” katamu. Dan sebelum selesai kalimatmu, kulanjutkan sendiri karena sudah terlalu hapal,

“... jadi mencuri buku bisa dibenarkan.”

Ha ha. Seketika tawamu pecah, meski tak sepecah petir di atas sana.

Hujan mulai menderas. Sesekali tempias membuat kita harus mengusap lengan dan wajah. Tapi kita tetap bertahan di luar.

“Permisi Kak, di dalam masih ada kursi yang bisa dipakai.”
Seorang pelayan yang mungkin heran melihat kita betah berada di luar akhirnya menghampiri. Tapi kita menolaknya. Jadilah kita sesekali tontonan pengunjung yang semuanya telah berada di dalam. Dan kita tak peduli.
***

Musim penghujan telah berakhir beberapa hari yang lalu, kurasa. Malam ini, saat pikiranku berlarian dalam insomnia, sesuatu muncul di kepala. Aku ingat sesuatu, yang menjadikan kita akhirnya terjebak dalam hubungan tak berbentuk.***

*Dikutip dari cerpen “Mual” dalam kumcer Semar Yes karya Budi Maryono

Jumat, 01 Februari 2013

Baling-baling Puisi



Setiap orang tentu pernah terluka. Bagi yang pernah merasakan luka setidaknya bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya. Bahkan Sutradji Choulsum Bachri (SCB) pernah membuat sebuah puisi berjudul “Luka”. Entah luka seperti apa yang ia rasakan, yang jelas dalam puisi tersebut hanya berisi sebuah larik yaitu ha ha.

Sekilas memang tampak kontradiksi dalam puisi tersebut. Sebab sudah menjadi hal umum bahwa ha ha merupakan dua suku kata yang dijadikan sebagai ekspresi tawa—bahagia. Lalu salahkah bila ekspresi tawa tersebut berada dalam sebuah puisi berjudul “Luka”? belum tentu.

Dalam apresiasi puisi ada suatu penafsiran yang dikenal dengan istilah interpretasi. Jika sebuah puisi diibaratkan sebuah pesawat, maka ia memiliki baling-baling yang ketika berputar akan menghasilkan putaran. Ketika putaran itu dislowmotion akan tampak betapa banyak “jarum-jarum” putaran yang menuju ke arahnya masing-masing—bayangkan putaran itu berhenti bergerak namun tetap dalam formasi berputar. Arah itulah yang dinamakan interpretasi.

Mengapresiasi puisi tidak bisa disamakan dengan mengapresiasi narasi atau cerpen. Sebab pada puisi ada baling-baling makna yang tidak bisa dideteksi dengan sekali baca—dikarenakan terbatasnya jumlah diksi. Berbeda dengan narasi yang tampil dengan ratusan bahkan ribuan kata.

Diksi pada puisi biasanya akan mempersempit kata yang menyebabkan meluasnya makna. Adanya diksi menjadikan puisi menjelma “kotak hitam” yang jika tidak dibuka maka pembaca tidak akan tahu persis apa isi di dalamnya. Dalam hal ini, interpretasi dijadikan sebagai alat pembukanya.

Maka banyaknya jumlah serta jauhnya arah interpretasi terhadap puisi akan tergantung pada latar belakang dan perspektif pembacanya masing-masing.
Lantas apakah makna yang sebenarnya ingin dinyatakan SCB melalui “Luka”? bisa jadi karena terlalu dalam ‘luka’ yang dirasakan “aku puisi”, atau terlalu sering ‘terluka’, menjadikan luka tidak lagi sebagai suatu rasa sakit. Perihnya luka dalam telah membentuk semacam imun. Akhirnya, dekonstruksi rasa memunculkan pentertawaan atas luka yang ada.

Ketika puisi telah sampai kepada pembaca, ia menjadi otonom sebagaimana dikatakan oleh Abrams. Jadi, tidaklah bijak jika menghakimi seorang penulis atas puisi yang diciptakan.  Apalagi sampai memaknai puisi hanya dari satu sudut pandang, tanpa mempertimbangkan interpretasi dari perspektif orang lain. Apresiator atau kritikus semestinya sudah memahami bahwa puisi hanyalah representasi penulis atas apa yang ia lihat dan rasakan atas diri dan sekelilingnya. ***

Senin, 28 Januari 2013

"Koruptor" Menggugat

... tidak tepat jika kita dijadikan lambang koruptor. Ini pelecehan yang tak bisa terus-menerus kita biarkan. Harkat dan martabat kita sebagai makhluk Tuhan jelas lebih tinggi daripada koruptor.

Korupsi, tindak pidana yang satu ini memang tampak kian lekat dengan citra para pejabat negara khususnya Indonesia. Tentu bukan hal baru. Setidaknya aroma busuk ini terendus kuat pasca lengsernya rezim yang dikenal sebagai pemberedel media massa bertahun-tahun silam.

Lalu ingatkah sejak kapan para pelaku korupsi tersebut mulai mendapat julukan khusus yaitu  tikus? Bahkan, mantan penyanyi jalanan, Iwan Fals pernah membuat lagu “Tikus-tikus Kantor” bagi para pencuri berdasi itu. Pernahkah terpikir, di sisi lain para ‘tikus’ mengajukan protes atas kesewenang-wenangan penggunaan nama mereka untuk menjuluki tindakan kotor para koruptor?


Budi Maryono telah memikirkan hal itu. Di dalam kumpulan cerpen (kumcer) Semar Yes, Budi membuat anekdot melalui salah satu cerpen bertajuk “Lambang”. Diceritakan olehnya bagaimana para hewan pengerat--tikus, curut—mengadakan suatu pertemuan untuk menyusun rencana menuntut pembersihan nama baik bangsa mereka. Persis seperti ketika manusia mengadakan rapat untuk membahas suatu masalah bangsa. Namun tentu saja dari sudut pandang para tikus.

Meskipun tema cukup serius, namun kesederhanaan diksi dan dialog menjadikan “Lambang” begitu ringan untuk dibaca. Selain “Lambang” yang memaparkan sudut pandang tikus, Semar Yes juga menyuguhkan “Satria” yang menjadi pembuka istimewa dengan lagi-lagi memandang suatu hal dari sudut pandang berbeda mengenai seorang veteran.

Dilanjutkan dengan cerita tentang bagaimana seorang Bapak diprotes oleh seluruh anggota keluarganya lantaran menutup semua akses informasi hanya karena muak melihat komentar tentang berbagai hal di negaranya. Dalam cerpen “Mual”, Bapak tersebut secara sepihak menjual TV serta berhenti berlangganan koran dan majalah.

Semar Yes sebenarnya adalah judul dari cerpen penutup dalam kumcer yang berisi sepuluh cerpen yang hampir keseluruhannya mengajak pembaca menyimak suatu peristiwa dari sudut pandang berbeda. Dengan demikian, pembaca akan mampu untuk lebih bijaksana dan tidak terbawa arus pemikiran yang sebetulnya belum mutlak benar. Sebagaimana perilaku tokoh Semar dalam cerpen “Semar Yes”.  Tokoh yang selama ini dianggap sebagai penuntun itu justru dibuat tersenyum saat menyaksikan keadaan kacau-balau karena seorang dalang kebingungan mencari di mana keberadaanya.***

Rabu, 09 Januari 2013

Kenapa Yahudi

Musim gugur telah berakhir. Seorang pria berpakaian lusuh akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya selama beberapa tahun. Wajahnya telah ditumbuhi jenggot lebat. Itu menjadikan identitasnya makin tampak selain hidung yang begitu tirus.
Mungkin ialah satu-satunya manusia yang masih bertahan di kota itu. Di antara puing-puing bangunan yang hancur, ia terseok membawa-bawa perut yang teramat nyeri karena kelaparan.

Barangkali masih ada sesuatu yang bisa mengganjal perut, pria itu masuk ke sebuah rumah melalui lubang dinding. Di dalamnya ia menyisir lemari, tong penyimpan makanan sampai kaleng-kaleng yang telah berkarat. Rupanya, Tuhan masih berkasihan padanya. Di antara kaleng-kaleng kosong akhirnya ia menemukan sebuah yang masih tertutup rapat.
Bergegas ia membawa "harta karun" itu ke ruangan lain, loteng rumah. Susan payah ia berusaha membuka kaleng yang bisa jadi makanan di dalamnya sudah kadaluarsa. Prang! Kaleng itu meggelinding dan terhenti tepat di dekat kaki seseorang. Polisi!

Pria itu mematung. Bertahun-tahun ia sembunyi, haruskah tertangkap dengan cara seperti ini?
"Kamu tinggal di sini?"
"Kamu sedang sembunyi?"
"Kamu seorang yahudi?"
"Apa yang kamu lakukan dalam hidupmu?"
"Aku seorang pianis"
Jawaban sederhana itulah yang menyelamatkan nyawanya. Polisi itu kemudian memintanya untuk memainkan melodi dari piano yang ada di rumah. Setelah mengetahui bahwa si  pria memang benar seorang pianis, ia justru menolongnya. Setiap hari ia berkunjung untuk sekadar mengetahui keadaan dan memberi makanan. Hingga waktu bergulir, pianis itu telah kembali pada kehidupan normal dan kembali bekerja di radio.

Berlatar pemerintahan Hitler, "The Pianist" merupakan film berdurasi dua setengah jam tentang penyiksaan yang dialami bangsa Yahudi. Banyak kejadian-kejadian sadis yang ditampilkan untuk menunjukkan betapa tak manusiawinya Hitler terhadap bangsa yang disebut-sebut paling cerdas di dunia itu. Bagi yang cukup awam mengenai tragedi pembantaian tersebut tapi ingin mengetahui lebih jauh, film ini bisa menjadi alternatif.

Peristiwa-peristiwa penuh kekejaman di antaranya adalah seorang kakek lumpuh yang dilempar begitu saja bersama kursi rodanya karena tak mau berdiri. Ia tewas setelah terjun dari lantai 2 sebuah rusun. Selain adegan penembakan yang selalu dilakukan secara jelas ke arah kepala, badan dan kaki, penonton juga bisa melihat bagaimana orang-orang dilindas mobil setelah sebelumnya dipaksa berlari kemudian ditembaki.

Pianis tersebut bertahan. Seluruh keluarga dan warga selingkungannya telah dilenyapkan baik dengan cara dibunuh maupun diasingkan entah ke mana. Ia menjadi saksi hidup atas kejamnya pembantaian terhadap bangsanya. Pembantaian yang hingga kini masih merupakan misteri. Sebuah buku berjudul Kisah Diktator-Diktator Psikopat menuliskan bahwa salah satu sebab dugaan adalah karena gagalnya seorang dokter Yahudi mengobati ibunya. Bahkan Erich Fromn berpendapat bahwa Hitler mengidap necrophilia yaitu mencintai mayat dan hal-hal yang berbau kematian.