Laman

Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2016

Are You Happy, or Pretend to be?


http://expertelevation.com/wp-content/uploads/2014/07/lead-magnet-pic.jpg
Jika diibaratkan sebuah benda, mungkin gambaran terbaik dari hal bernama bahagia adalah ‘magnet’. Pertama, magnet memiliki dua kutub yang berbeda sifatnya, positif dan negatif. Kedua, perbedaan kutub itu mengakibatkan satu kutub memiliki daya tarik, sedangkan satu kutub lainnya justru harus ditarik agar menghasilkan pergerakan.

Ingat ga kapan terahir kali kamu merasa sangat bahagia ketika melakukan sesuatu dari awal hingga akhir? Mungkin waktu lulus kuliah, diterima bekerja, dilamar oleh kekasih, atau apapun itu. Yang jelas, inti dari pertanyaan tadi adalah apa hal yang membuat kamu bahagia dari awal sampai akhir. Bukan hanya bahagia di awal tapi sedih di akhir, ataupun sebaliknya. Sebab, bahagia itu seperti magnet, tidak mungkin kedua ujungnya sama rasa. Atau lebih tepatnya, jangan sampai sama rasanya.

Coba diingat-ingat, lebih bahagia mana saat kamu masuk SD dan lulus SD? Ketika pertama kali masuk SD, pasti sudah lebih dulu merasakan sedihnya kehilangan masa-masa bahagia di TK bukan? Hari-hari pertama di sekolah baru juga kerap menjadi suatu kondisi yang hening bahkan angker. Penyebabnya beragam: dari mulai belum punya kawan, bayangan guru kelas yang mungkin saja galak, pelajaran-pelajaran baru yang bisa saja sulit untuk dimengerti, dsb. Kemudian hari berangsur lunak. Tahun-demi tahun dilalui dengan berbagai rasa. Apalagi bila sudah punya kawan akrab, rasanya setiap hari ingin selalu ada di sekolah untuk bermain bersama.

Akhirnya tibalah masa kelulusan. Masihkah kamu ingat apa perasaan yang dominan saat lulus dari Sekolah Dasar? Tentu jawabannya akan beragam. Tapi mestinya, menurut teori magnet tadi, bila kamu cenderung tidak bahagia saat masuk SD, maka kamu akan bahagia saat lulus. Karena ada orang yang justru bahagia saat masuk SD, dan ia lulus dengan rasa sedih. Siklus itu akan berlangsung, bahkan berulang sampai kapanpun. Jadi, akan menjadi sebuah pertanyaan besar, bila ada seorang Mahasiswa Baru merasa begitu bahagia di tahun-tahun awal kuliahnya, tapi ia juga bahagia saat lulus sebagai sarjana. Apakah dia benar-benar bahagia, atau hanya berpura-pura?

Logikanya, kebahagiaan di awal kuliah, tentu dirangkai dengan kebahagiaan saat menjalani masa-masa kuliah. Entah itu selalu mencapai nilai sempurna pada perkuliahan, terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, atau bisa menjadi asisten dosen. Klimaks dari kebahagiaan itu terletak saat dinyatakan LULUS SKRIPSI oleh dosen pebimbing. Kemudian, kebahagian itu mau tak mau akan menjadi sebuah antiklimaks ketika wisuda.

Sebaliknya, perasaan tertekan di awal kuliah (mungkin karena salah jurusan, atau dipaksa untuk mengambil jurusan yang tidak sesuai minat), akan menjadi sebuah bom waktu. Hari-hari di setiap perkuliahan menjadi beban yang semakin hari semakin berat. Tapi di sisi lain tetap ada perjuangan. Sama, klimaks dari perasaan tertekan itu ada saat dinyatakan LULUS SKRIPSI. Ujungnya, saat wisuda timbulah perasaan lega. Bahagia.

Kedua perbedaan itu bisa juga menjadi ukuran seberapa sukses kita mengerjakan sesuatu. Katakanlah kita merasa bahagia saat diterima bekerja. Itu menjadika kita bekerja dengan totalitas dan loyalitas. Bertemu banyak orang baru dengan berbagai watak dan latar belakang. Tentu akan menjadi sebuah kesedihan jika kemudian kontrak kerja berakhir. Harus ada perpisahan. Harus ada kesudahan. Padahal kita sangat mencintai pekerjaan itu. Begitupun sebaliknya. Bila kita sudah tertekan di awal karir, pasti berakhirnya kontrak kerja ibarat terbukanya sebuah penjara yang selama ini mengekang.

Poin pentingnya, hidup adalah pilihan: bahagia di awal atau di akhir. Bila pada satu magnet hanya punya satu sisi daya tarik, artinya pada sisi yang lain kita harus menyiapkan diri untuk ditarik. Satu saat kita membahagiakan orang lain, dan pada saat yang lain kita akan dibahagiakan. Dengan catatan, saat  membahagiakan berarti kita siap berjuang untuk sesuatu, bergerak, penuh semangat. Sementara dibahagiakan adalah berarti rela untuk diperjuangkan oleh sesuatu, pasrah, tak punya daya. Dan akhirnya kita sadar bahwa untuk bahagia, kita harus bisa mempertemukam sebuah kutub magnet, dengan kutub magnet yang lain agar terjadi tarik-menarik. Agar terjadi hubungan sosial antara satu dengan yang lain.

So, are you happy, or pretend to be?


Jumat, 12 September 2014

Hidup adalah Keputusan

Jika ada yang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, maka sesungguhnya kalimat itu mengandung konsekuensi bahwa hidup adalah tentang bagaimana mengambil keputusan. Masalahnya, ada sebagian orang yang takut untuk mengambil keputusan hingga membiarkan sesuatu terjadi di luar kendalinya. Banyak tidaknya pilihan yang membuat galau, akhirnya berujung juga pada sebuah keputusan. Siap tidak siap, sadar atau belum sadar, waktu akan menunjukkan bahwa setiap orang telah mengambil keputusan atas pilihan yang ditawarkan oleh kehidupan.

Ada orang yang memutuskan untuk menjalani saja hidupnya seperti air mengalir,tanpa target, tanpa obsesi apalagi mimpi. Tetapi lupa bahwa filosofi air mengalir adalah selalu mencari celah sekecil apapun untuk bertahan melanjutkan hidup. Bukan sekadar pasrah sebelum berusaha. Terlebih lagi, pasrah tak sama dengan tawakal. Sebuah kisah tauladan berikut ini barangkali bisa menjadi gambaran mengenai perbedaan keduanya.
Suatu hari ada seseorang yang pergi ke masjid dengan membawa unta. Sesampainya di masjid, ia turun dari unta kemudian langsung masuk ke masjid. Orang itu masuk tanpa terlebih dahulu mengikat untanya. Ketika ditegur Rasulullah, orang itu lantas berkata, “Saya tawakal kepada Allah.” Mendengar jawaban itu lantas Rasulullah memberi tahu bahwa bukan seperti itu cara mengamalkan tawakal kepada Allah. Cara bertawakal adalah: ikat untamu, barulah engkau bisa tawakal (The Perfect Muslimah, Ahmad Rifai Rifan: 46). Dalam KBBI, antara pasrah dan tawakal pun dibedakan oleh ada dan tidaknya unsur ‘usaha’.
Di sisi lain, orang yang telah memutuskan untuk mewujudkan seabrek mimpi justru sibuk membuat berbagai celah atau peluang agar targetnya lekas tercapai. Hidupnya penuh dengan semangat dan kerja keras. Impian yang mereka gagas pun beragam, dari yang hanya untuk diri sendiri hingga impian yang ditujukan bagi orang banyak. Mereka tidak bisa bergeming menunggu takdir Tuhan menghampiri, justru berinisiatif untuk mendatangi takdir itu. Jika satu mimpi sudah direalisasikan, mereka bergegas menuju impian lain yang sudah masuk dalam daftar tunggu.

Jumat, 09 Mei 2014

Tuhan Mengizinkan

Setiap hal yang terjadi dalam hidup, baik atau buruk tentulah sebuah keputusan yang tak mungkin dilepaskan dari Tuhan. Hari ini kita berbaik hati, barangkali karena penyesalan atas kesalahan di masa lalu, atau persiapan amal untuk masa depan. Faktanya, manusia selalu berada dalam lingkaran rencana Tuhan.

'T, tak ada hal yang tak menimbulkan efek tertentu. Dalam KBBI "karma" berarti perbuatan manusia di dunia dan atau hukum sebab akibat. Sementara dalam ketentuan Tuhan, karma diatur dalam QS Al Zalzalah:7-8 'Siapa yang melakukan kebaikan sekalipun seberat Dzarah, niscaya dia akan mendapat balasannya dan Siapa yang mengerjakan kejahatan sekalipun sebesar biji dzarah, niscaya dia akan melihat balasannya juga'. 

Jika kita harus menjadi korban, bisa jadi itu menyebabkan di sudut dunia yang entah di mana ada seseorang yang justru terselamatkan. Altera pars, setiap orang merupakan bagian dari suatu keutuhan. Dan manusia ibarat petani, yang tak hentihentinya bercocok tanam ilmu dan pengetahuan di ladang kehidupan. Anggaplah bahwa hari ini merupakan hari terakhir kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Niscaya tak perlu berpikir ulang untuk menjadi bermanfaat.

Risau, gelisah, kesedihan dan kadang kebahagiaan adalah jalan bagi Tuhan untuk datang. Dalam kekalutan, kepekaan akan sangat bisa jadi mediator pesanpesan yang Tuhan bisikkan. Kemudian terciptalah orangorang yang seolah mampu memproduksi katakata bijak dari dirinya sendiri. T, mungkin ini serupa dengan yang dialami Syekh Siti Djenar saat mengungkapkan pemikirannya tentang manunggaling kawulo gusti.

Senin, 05 Mei 2014

Kenapa Anak Ayam itu Kecil?

Di sebuah selokan yang kering karena tak kunjung hujan, seekor induk mengajak anak ayamnya yang hanya seekor dan berwarna hitam berjalanjalan mencari makan. Pas saya dan Adfa melintas.

Saya: Dek, kok anak ayam itu kecil ya *iseng
Adfa: Iya, soalnya dia belum makan
Saya: Mbak sudah makan banyak tapi gak gede gede O:
Adfa: Ya karena Mbak belum kenyang. Makanya Mbak harus kenyang.

Minggu, 06 April 2014

RELAwan?

Prolog: Saya sedang mencari pekerjaan? Salah! Saya mencari Kesibukan yang Resmi #KR itu baru betul. 

Suatu hari seseorang menawari apakah saya mau menjadi salah satu relawan Pemilu tanggal sembilan April 2014. Sontak saya bilang, "Mau sih. Tapi kemungkinan tanggal segitu aku gak di rumah. Barusan dikabari salah satu perusahaan tentang sinyal positif. Kalau aku tetap daftar tapi nanti gak jadi ikut, bermasalah ga?"

Dia jawab," Ya daftar aja dulu. Nanti ada upahnya Rp 100.000." katanya sambil menyodorkan formulir pendaftaran dan pergi. 

Kalau boleh jujur, saya merasa terhina dengan informasi mengenai upah itu. Tapi sudahlah, memikirkan halhal yang sifatnya "pemanis tambahan" sering jadi awal buruk dalam pewujudan niat baik. Formulir saya lengkapi dan saya serahkan langsung ke ybs.

Waktu bergulir dan sinyal positif itu belum juga jadi kenyataan sampai waktu menjelang masa pencoblosan. Saya pun bertanya, sebab tak ada pula gaung lanjutan dari hal relawan itu.

"Relawannya gimana?"

"Gak jadi. Gaada duitnya. Dibatalin semua." Jawaban itu muncul dalam ekspresi datar yang cenderung kecewa. Saya hanya ber"oh".

Di hari yang lain, seseorang yang punya kewenangan lebih mengenai birokrasi desa menanyakan sesuatu.
"Kemarin daftar jadi relawan pemilu ya?"
"Iya. Tapi katanya gak jadi kan..."
"Ya gimana. Namanya relawan kan tetap butuh uang transport."

Sejenak saya terdiam menghentikan aktivitas saya. Kalau saja dia tak berusia sepantaran orangtua saya, pasti sudah saya sembur dia dengan kejengkelan. Tapi saya akhirnya justru mengatakan,

"Mungkin terlalu banyak yang daftar sebagai relawan. Lagi pula, yang namanya R E L A wan itu ya mestinya kan nyatanyata rela melakukan sesuatu untuk oranglain secara ikhlas tanpa pamrih."

Satu yang saya ingin tanyakan, apakah fenomena "RELAWAN" macam ini hanya terjadi di Indonesia atau negara lain juga? Sebagaimana kasus "Kampanye Uang" yang marak terjadi jelang Pemilu, saya percaya bahwa masyarakat bukanlah inisiator dari kebusukan ini. Adanya kondisi dan situasi di bawah ratarata secara finansial menjadikan mereka yang punya kepentingan dan kekuasaan telah mendidik orang awam untuk selalu jadi seperti lemari soft drink yang baru akan terbuka saat dijejali koin. 

Ada perubahan raut wajah dari orang itu setelah mendengar pernyataan saya. Agar suasana tak jadi rusak, dia menambahkan,

"Bisa jadi. Sebetulnya ya gak batal. Hanya dikurangi. Semula direncanakan ada relawan di tiap Tempat Pemungutan Suara #TPS jadi hanya terbatas dua orang tiap desa."

Sabtu, 29 Maret 2014

Di Atas Tuhan

Tuhan memang telah memberikan kepada manusia satu keistimewaan yang dari dulu sampai sekarang terus disebutsebut itulah yang membedakannya dari makhluk lain. Otak membuat manusia bisa berpikir, menciptakan banyak inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup baik bagi dirinya atau orang lain.

Saya pernah berpikir. Berdasarkan agama yang saya yakini, di akhirat nanti manusia akan menyaksikan seluruh amalannya selama di dunia terpampang dalam sebuah layar besar. Sedikit banyak saya bisa membayangkannya. Yang muncul dalam imajinasi saya adalah seperti Wall Street di US sana. Serba digital! Ya, seperti itu. Saya yakin, bahkan sangat yakin, segala digitalisasi di era modern ini hanya bagian terkecil dari teknologi Tuhan yang akan dimunculkan di akhir kehidupan nanti, saat manusia sedang samasama menunggu dimulainya kehidupan setelah mati.

Dari hal itu saya coba memahami, bahwa manusia punya tanggung jawab untuk memaksimalkan fungsi otak. Banyak pemikir-pemikir seperti filsuf, ilmuan, pakar teori, pendiri bisnis, motivator, dll muncul barangkali sebagai perwujudan hal tadi.  Dan merujuk pada pendapat seseorang, ini termasuk pemikir juga, mengatakan bahwa “Sebagai manusia, nilai yang saya anut bisa jadi salah, tapi nilai yang diajarkan Islam sudah pasti benarnya”. Sehebat apapun pemikiran seseorang, ide dan pemikiran Tuhanlah yang mutlak benarnya. Orang-orang seperti dia, seperti saya, sangat beryakin pada semua katakata dari Tuhan sekalipun belum semuanya mampu untuk dimengerti tapi selalu mencicil pemahanan.

Sabtu, 22 Februari 2014

Diari Anas Urbaningrum dalam Rutan (?)

Saya baru saja menemukan sebuah tautan di facebook, karena penasaran saya pun membacanya sampai habis. Kebenarannya jujur masih sangat saya ragukan. Entah itu hanya ilustrasi dari pihak2 tertentu yang pro Anas atau justru sindiran dari pihak yang kontra pada dia. Apalagi tulisan tersebut dimuat hanya di sebuah web blog. Yang jelas itu saya cukupkan sebagai pengetahuan umum. Dan di bagian akhir, ada yang menarik perhatian saya. Begini bunyinya:
"Sabar saja, Pak Anas. Nasib kita sama," begitu nasihatnya.Dia menjelaskan, maksudnya sama-sama sepi, tak ada hiburan, tak ada tontonan. Bedanya, dia menjaga, saya dijaga. Sebagaimana petugas yang lain, jatah jam jaga adalah setengah hari alias 12 jam. Tugas Amir hari ini akan berakhir pagi nanti jam tujuh.

Saya sabar mendengarkan dia bercerita tentang sejarah politik dan kerajaan zaman dulu. Dengan fasih, dia menjelaskan naik-turunnya kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak Tumapel, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Datang dan perginya raja-raja Jawa itu dia jelaskan dengan terperinci mirip guru sejarah. Menarik karena wawasan sejarahnya cukup bagus. Saya hanya khusyuk mendengarkan sembari kasih komentar tambahan sedikit-sedikit.

Inti dari sejarah politik kerajaan-kerajaan Jawa dulu adalah politik “bumi hangus”. Setiap pemenang selalu menghancurkan yang dikalahkan. Kerajaan diluluhlantakkan dan yang dianggap berharga dibawa pergi oleh pemenang perang. Pusat kerajaan yang kalah diratakan dengan tanah sehingga yang tersisa tinggal kenangan. Jikapun ada, hanya bekas-bekas reruntuhan atau situs yang tak lagi utuh. Politik bumi hangus dan dendam tak berkesudahan hamper menjadi model politik sampai Indonesia memasuki zaman modern.
>> Tautan Diari Anas Urbaningrum dalam Rutan (?)

Rabu, 05 Februari 2014

Solilokui Roh dalam Lagu "Resah" oleh Payung Teduh

Ada yang belum pernah mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh? Sayang sekali, padahal band ini merupakan teman tidur dan teman merenung yang seru lho. Dari beberapa yang ada, saya paling suka dengan yang judulnya “Resah” dan “Tidurlah”. Selama ini sudah berapa kali memutar lagu berjudul “Resah?” bagi yang suka banget, barangkali gak terhitung ya. Saya pun gak pernah berniat melakukannya. Seperti malam ini, sama sekali saya gak ada rencana untuk menuliskan hal ini. Bahwa yang sudah-sudah, apa yang saya tangkap dari lagu ini ya hanya sekadar lagu galau. Namun, di putaran kedua, setelah seperti biasa saya terlena dengan lagu yang meresahkan—yang sebetulnya hanya memiliki enam larik dasar (enam baris lirik)—ini, saya dapatkan fakta baru yang gak terpikir sebelumnya.

Begini, di empat larik awal sejak 

“Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap” 
sampai ke 
“tapi aku hanya melihat keresahanmu”, 
ini sekilas memang tampak normal dan biasa saja, sebuah keresahan yang sekilas seperti ditujukan kepada kekasih, seseorang yang dicinta. Tapi ketika masuk ke larik selanjutnya yaitu dua larik terakhir

Aku/menunggu/dengan/sabar/di atas/sini/melayang-layang
Tergoyang/angin/menantikan/tubuh itu

Coba resapi lebih dalam, terutama kata-kata yang bercetak tebal.
Apa yang sekarang terasakan dari lagu ini, masihkah ada kesan “romantis”nya?
Baiklah, sejenak coba kita kembali ke larik-larik awal.

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Singkatnya, saya menyimpulkan bahwa lagu ini merupakan suatu senandika/solilokui/monolog. Bukanlah lagu cinta untuk kekasih melainkan betul-betul sebuah lagu tentang keresahan, tetapi yang ditujukan oleh sebentuk ‘roh’ atau ‘arwah’ atau ‘jiwa’ kepada dirinya sendiri. Bahwa ada seseorang yang seperti telah kehilangan dirinya sendiri. Bisa berarti seseorang itu sudah meninggal, berpisah jiwa dan raganya. Juga dapat pula dimaknai secara konotasi bahwa seseorang telah kehilangan semangat hidupnya. Kehilangan jati dirinya. Bahkan untuk sekadar berdiskusi dengan dirinya sendiri, menikmati kesendirian di malam gelap, di antara daun gugur, menyendiri pun sudah tak bisa. Aku hanya bisa melihat keresahanmu.

Resah-Payung Teduh

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang
Tergoyang angin menantikan tubuh itu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu

Senin, 27 Januari 2014

Menulis (untuk) Memenangkan Sejarah

Lampung Tumbai edisi keempat di Koran Lampost akhirnya terbit. Sudah saya baca sekalian saya gunting bagian itu dengan maksud untuk dibuat klipping. Tapi agak berbeda, kali ini untuk pertama kalinya seorang kawan di fb yang tak lain wartawan dari koran yang bersangkutan, untuk pertama kalinya menandai saya diartikel yang sama tapi versi digital. Jadi, saat menerima notification, saya sempat membaca beberapa komentar di sana. Satu yang menarik perhatian saya begini bunyinya:

"Tulisan ini sangat subyektif. Fakta-faktanya masih banyak yang harus dikoreksi. Orientalis seperti ini banyak bermunculan pada abad-abad ke-19. Tujuannya sengaja mengaburkan sejarah dan pecah belah. Bagi saya tulisan ini tidak layak dijadikan acuan sejarah. Paling tidak hanya untuk data pembanding."

Pada intinya, saya sepakat dengan kritik tersebut. Bahwa benar, di edisi berjudul "Lingkaran Setan di Lampung" kali ini (saya tidak yakin dia telah membaca tiga artikel edisi sebelumnya), taste yang muncul cenderung lebih subjektif dibandingkan tiga edisi terdahulu. Dan bahwa tulisan atau artikel-artikel tersebut memang sebaiknya dijadikan bahan pembanding saja. Tapi persoalannya, kembali pada curhatan saya sebelum ini. Masih terlalu minim sumber rujukan tentang Lampung yang bisa ditemui. Maka ketika ada seseorang yang mengaku penyuka sejarah dan berada dekat dengan manuskrip-manuskrip, apa salahnya coba openmind terhadap pendapatnya.

Selain itu, di tempat lain saya pernah menuliskan: "Menulis untuk diam-diam memenangkan, sejarah." Kenapa saya berkata demikian, sebab memang sejak dulu, catatan sejarah adalah produk dari "pemenang sejarah" dan di balik tulisan-tulisan objektif, mustahil tak terkandung subjektivitas. Hanya saja kadarnya mungkin dikonsep sedemikian rupa agar yang menonjol adalah sisi objektifnya. Dengan menulis, setidaknya seseorang akan bisa memenangkan sejarah hidupnya sendiri. Ingat, "scripta manen verba voilant".

Jadi, apapun tujuan politis di belakang penerbitan artikel pekanan mengenai Lampung tempo dulu itu, saya tetap mengapresiasi usaha pihak-pihak terkait untuk menyodorkan kepada para pencari catatan sejarah untuk bisa memeroleh bahan-bahan pembanding. Sekali lagi, tak ada hal yang benar-benar objektif apalagi mutlak benar. Pembaca yang baik akan selalu berusaha menelusuri celah-celah yang memungkinkan dari suatu argumen. Dan artikel pekanan ini akan bermanfaat untuk menyusuri lebih jauh jejak sejarah Tano Lado yang sejauh ini jelas masih miskin data. Perkara si penulis "dibayar" atau punya niatan buruk terhadap sejarah Lampung, itu kembali lagi pada tiap-tiap orang adakah tindakan lanjutan, mungkin dengan membaca langsung buku-buku rujukannya. Apalagi baru-baru ini sebuah situs web mengabarkan bahwa Belanda telah mengembalikan (atas usaha seorang akademisi UI) sekitar 12.000 naskah Indonesia.


Minggu, 05 Januari 2014

Lampung Tumbai*


Beberapa waktu lalu ketika saya menjenguk nenek yang sedang dirawat di RS Urip Sumoharjo. Sebagai pengait, rumah sakit ini menggunakan nama-nama pahlawan Indonesia sebagai nama kamar di kelas VIP. Ketika itu saya berada di kamar Martha Christina Tiahahu. Entahlah, nenek (adik nenek saya) satu ini bisa dibilang sering (mungkin malah hobi) keluar-masuk rumah sakit karena menurutnya lebih enak dirawat ketimbang sakit di rumah. Di sana kami ngobrol-ngobrol. Salah satu topiknya adalah membahas mengenai Radin Inten, pahlawan nasional Lampung yang namanya baru, baru-baru ini dijadikan nama bandara (awalnya bernama Bandara Branti). Miris ya, padahal kota-kota lain telah menggunakan nama pahlawan jauh lebih lama. Nenek saya bertanya, mungkin juga sekadar basa-basi mengetes pengetahuan saya sebagai yang katanya sarjana Humaniora dari Fakultas Ilmu Budaya,
Berarti, sebagai pahlawan, Radin Inten masuk ya dalam sejarah Indonesia?
Ke-soktahuan-saya pun terusik.  Saya bilang padanya, selama mempelajari sejarah (nasional Indonesia), sejak SD hingga kuliah, saya tidak pernah mendengar nama Lampung dihebohkan. Untungnya, ini agak berkaitan dengan kutipan yang muncul beberapa waktu setelahnya berikut ini,
Walapun tulisan dan dokumentasi mengenai seluruh wilayah nusantara--bahkan sampai pulau dan dusun yang  terkecil--tersedia, dari dahulu kala dan bahkan sampai sekarang perhatian sebagian besar peneliti, penulis dan pengamat budaya mancanegara lebih banyak dicurahkan pada masyarakat dan kebudayaan di Pulau Jawa dan Bali (Lampung Post, 5 Januari 2014)
Waktu itu sebetulnya saya merasa tak yakin, hanya sebatas menduga bahwa memang Lampung tak menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya.

Sebagaimana saya yang dulu justru memilih sastra Indonesia dan bukannya sastra daerah. Baru kemudian di masa-masa akhir kuliah sempat galau kenapa saya malah tak peduli. Tapi apa daya, pilihan sudah ditentukan dan saya hanya bisa menonton, saya tidak menyesal karena sastra Indonesia memang juga passion saya. Hanya saja sedikit sedih kenapa sepertinya saya telah menutup sendiri jalan lain untuk menuju tempat lain. 

Hari ini Lampost sedikit menghibur saya. Bahwa menurut Frieda Amran, antropolog UI yang bermukim di Belanda dan didaulat menjadi pengisi rubrik pekanan tersebut, ada sekitar 1534 tulisan mengenai Lampung dalam bentuk buku, majalah, dan naskah di Perpustakaan KITLV (Koninklijk Intituut Taal-, Land -en Volkenkunde) Leiden, Belanda. Buku tertua mengenai Lampung di sana ditulis oleh Johan Diederik Krusenman tahun 1817.Ternyata benar bahwa Leiden juga menyimpan naskah Tano
Lado. Rasanya seperti dayung bersambut. Saya berharap, resah yang selama ini saya rasakan memang bukan satu-satunya. Semoga memang ada banyak masyarakat Lampung atau yang peduli pada Lampung mengalami hal serupa, keresahan yang mengawali sebuah kejadian. Saya masih berharap bisa jadi bagian dalam -apa ya menyebut hal ini- urusan ini. Terima kasih Lampung Post. Semoga "hal ini" bisa difollowup secara matang dan hasilnya bisa bermanfaat untuk khalayak.

*Tumbai=tempo dulu

Selasa, 19 November 2013

Aroma Nepotisme Orang-orang Dalam

Lulus dan menjadi sarjana memang menjadi klimaks bagi para mahasiswa yang sudah sampai di batas akhir masa studinya. Tapi kalau mau jeli, ketuntasan itu justru menjadi awal perjuangan selanjutnya. Jika belum mengalami sendiri, maka tak perlu buru-buru percaya bahwa menjadi sarjana bukan hal sederhana. Cukuplah dengan serius menjalani kewajiban sebagai mahasiswa dengan tak mengabaikan pentingnya berorganisasi. Nanti, setelah gelar itu betul-betul telah disandang, percaya atau tidak pada kenyataan tersebut tetap sebuah pilihan yang tak bisa dipaksakan.

Hampir tiga bulan menjadi Sarjana Humaniora ternyata membosankan juga. Bayangan indah mendapatkan pekerjaan impian pasca wisuda masih menjadi sekadar impian. Bukan tanpa usaha tentu saja. Padahal jika agak mundur ke belakang, rasanya tawaran-tawaran menggiurkan di masa-masa akhir studi bisa dibilang cukup. Lantas kenapa kenyataannya justru sepahit ini ya. Sekian banyak cv dan surat lamaran pekerjaan telah sampai ke kotak surat elektronik berbagai HRD perusahaan yang dianggap layak. Nyatanya, beberapa panggilan interview tak cukup memuaskan. Siasanya, lebih mengecewakan. Memaksa diri untuk bersabar dan terus saja berusaha. Memupuk keyakinan, optimisme kesuksesan pada pekerjaan impian.

Bertahan dua bulan di kota rantau akhirnya berujung juga. Bujukan baik secara langsung atau diam-diam dari orangtua tak bisa lagi dielakkan. Sudah dua minggu ini saya kembali ke kapung halaman. Hal serupa sudah dilakukan. Memasukkan lagi cv dan surat-surat lamaran pekerjaan itu ke beberapa perusahaan yang lagi-lagi saya anggap paling mendekati keinginan pribadi. Masih nihil. Sejenak saya merenungkan apa yang salah? Atau apa yang kurang? Adakah yang bisa membantu saya memperbaiki kekurangan? Sebab berada di rumah saat masih berstatus mahasiswa itu tak sama dengan saat sudah berstatus sarjana. Memang, orangtua tak secara langsung menunjukkan perbedaan sikap. Tapi sebagai anak—dengan tetap yakin bahwa orangtua tak mungkin bersikap tak menyenangkan secara terang-terangan—tentulah kecanggungan itu pasti ada.

Empat tahun saya tinggalkan, katakanlah kecamatan tempat saya tinggal saja, sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Banyak pabrik-pabrik bermunculan. Dari perusahaan minyak makan sampai besi bekas sekarang berdiri angkuh di sepanjang jalan lintas sumatera. Satu yang menarik hati saya adalah perusahaan susu dan kopi instan. ADA pula sebuah perusahaan agribisnis. Selain karena keduanya sudah punya nama, kedua berada di lokasi tepi pantai, bersentuhan langsung dengan pantai. Saya ingin bekerja di tepi pantai tanpa harus jadi nelayan. Tapi sekali lagi, bukan hal mudah untuk bisa bergabung di perusahaan itu. Bahkan saya ragu, apakah label kampus dan almamater saya itu akan berfungsi jika aroma nepotisme begitu terasa di perusahaan-perusahaan yang saya inginkan? Haruskah saya hanyut juga dalam arus demikian. Saya makin geram dan ingin membuat perusahaan sendiri jadinya.

Memang, untuk bisa melenggang mendirikan perusahaan di suatu kawasan, seringkali ada persyaratan yang mengharuskan perusahaan tersebut memperkerjakan warga sekitar. Jika calon tenaga kerja tersebut memiliki standar kelayakan (pendidikan dan soft skill) tentu bukan perkara. Celakanya, kawasan pedesaan didominasi oleh warga yang tingkat pendidikannya di bawah standar. Demikianlah akhirnya perusahaan tetap berjalan. Seiring waktu, warga yang telah lama direkrut menjadi pekerja itu ada yang punya posisi elit. Umumnya, mereka dipanggil dengan nama “orang dalam”. Pihak yang seringkali mengacaukan pengumuman adanya lowongan pekerjaan di perusahaan tempatnya bekerja.


Senin, 28 Oktober 2013

Kisah Hikmah: Bakti Istri kepada Suami

Suatu hari di zaman Rasulullah saw, seorang suami pamit pada istrinya untuk berjihad. Suami itu berpesan agar istrinya tidak keluar rumah sebelum ia kembali. Setelah kepergian suami itu, keesokan harinya datanglah seseorang yang merupakan utusan dari Ayah perempuan yang ditinggal berjihad oleh suaminya tersebut.
"Saya diutus oleh Ayahmu untuk mengabarkan bahwa beliau sedang sakit keras. Beliau meminta saya untuk menjemputmu." ucap si utusan.
"Maaf, suami saya sedang berjihad. Saya tidak boleh keluar rumah sampai ia kembali."
Utusan itu akhirnya pulang.
Hari berikutnya utusan itu kembali. Kali ini dengan kabar bahwa sakit Ayahnya semakin parah. Ia sangat ingin dikunjungi oleh putrinya. Namun, perempuan itu tetap menolak dengan baik, dengan alasan yang sama seperti sebelumnya.
Hari ketiga, utusan itu mengabarkan bahwa Ayah si perempuan sedang menghadapi sakaratul maut. Meskipun sebentar, kehadiran perempuan itu akan sangat bermakna. Tetapi si perempuan tak berubah pikiran.
Sampai akhirnya hari keempat utusan itu memberitahu bahwa Ayahnya telah meninggal. Jika memang mau, perempuan itu ditunggu kehadirannya di pemakaman. Tapi hal itu tak pernah terjadi. Atas rasa kesalnya, utusan itu mengadu kepada Rasulullah SAW. Menurutnya, perempuan itu sudah keterlaluan karena tak mau menjenguk Ayahnya yang sakit parah bahkan ketika meninggal pun tidak hadir ke pemakamannya.
Rasulullah SAW menjawab:
"Ayah dari si perempuan itu diampuni seluruh kesalahan dan dosanya oleh Allah SWT karena memiliki anak perempuan yang berbakti kepada suaminya."
Sumber: catatan pribadi kajian islami

Rabu, 16 Oktober 2013

Seni untuk?

Dengan itulah, menurut Plekhanov, Pushkin merumuskan sikapnya yang menegaskan “seni [adalah] untuk seni.” Seni bukan untuk tujuan apapun selain sebagai nyanyi.
Bukan, bukan buat gairah dunia,
Bukan untuk kerakusan ataupun perjuangan,
Tapi untuk inspirasi, untuk doa
dan merdunya nyanyi, penyair datang 
Saya bukan penganut "Seni untuk seni" ataupun "seni untuk rakyat". Entah tindakan saya untuk tetap bersifat netral dari kedua kubu masa lalu itu tepat atau tidak, intinya di sini saya hanya ingin sedikit memberikan catatan bahwa sikap tegas Pushkin tersebut justru tidak tegas. Mungkin dia tidak sadar, atau ada konteks tersembunyi yang belum saya ketahui dari kontrasnya ketegasan itu. 
Bahwa seni bukan untuk tujuan apapun --> tapi untuk inspirasi, untuk doa, dan merdunya nyanyi...

Sastra dan Sebuah Kewajiban

Sejak memasuki semester akhir di bangku kuliah dan akhirnya sekarang lulus, rasanya terlalu lama saya tak mengkaji apalagi menuliskan hal-hal terkait sastra. Sore ini saya mampir ke web Caping Goenawan Mohammad. Di sana saya serasa bernostalgia, seolah saya disadarkan dengan sebuah pertanyaan: "Sudahkah kamu lakukan kewajiban sebagai Sarjana Humaniora?"

Saya menyadari bahwa saya belum mengerahkan potensi yang saya punya untuk negeri ini. Baiklah, intinya dalam salah satu catatan itu saya mendengar kembali istilah "Realisme Sosialis" dan L'art pour l'art. Istilah yang pertama adalah masa lalu, kenangan buat saya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengkaji novel milik Nuril Basri berjudul Halo, Aku dalam Novel dengan kajian Psikologi Sastra (abnormal), sebetulnya saya mengawali konsep dengan sebuah novel milik Seno Gumira Ajidarma berjudul Negeri Senja.

Sebelum membaca HADN, lebih dulu saya membaca NS. Sebagai anak SMA, saya akhirnya memaklumi ketakpahaman saya pada novel SGA tersebut. Pemikiran saya belum sampai ke arah sana. Sebab ketika awal duduk di bangku kuliah, barulah dosen saya memberitakan bahwa Negeri Senja bukanlah novel romantis, melainkan politik. Lebih tepatnya ada realisme sosialis di sana. Istilah realisme sosialis saya dapatkan dari hasil pencarian ke berbagai sumber saat saya mencetuskan ide untuk meneliti novel SGA tersebut sebagai skripsi. Sama sekali NS tak bisa sekadar dibaca dari sampul atau endorsment. Secara garis besar, novel ini adalah perumpamaan dari sebuah negara (yang pernah) bertirani.

Sayangnya usaha saya tersebut terhenti. Terbatasnya sumber rujukan dan (terutama) kegigihan saya untuk mendapatkannya, menyebabkan rencana tersebut hanya menjadi sekadar niat baik. Saya beralih pada novel psikologi yang juga sudah saya baca di awal-awal kuliah. Tak masalah, toh sepertinya pun jika saya tetap mengkaji novel SGA saya akan kepayahan.

Minggu, 29 September 2013

Rangkaian Dies Natalis Undip ke-56 "BERKARYA DENGAN EMPATI"


3 impressive things in Undip Dies Natalis 56th tonight. Emha Ainun Najib "Kiai Kanjeng", tradition snack, and that cute lil girl who actived copycat the performer :) with Umi – View on Path.
Cak Nun suatu hari membayangkan Universitas Pangeran Diponegoro menjadi universitas international. Menjadi laboratorium ilmu pengetahuan dan budaya Indonesia dan dunia. Tak sekadar orang-orang asing kuliah di Undip melainkan betul-betul "orang-orang barat" belajar pada orang timur.

Islam adalah rahmatan lilalamin. Artinya, ketika ada seorang muslim, maka apapun yang ada di sekitarnya (manusia) akan terlindungi dalam 3 hal: nyawa, martabat dan hartanya.
Orang barat perlu penjelasan panjang lebar untuk memahami sebuah fakta. Misalnya fakta “rice” yang dalam bahasa Jawa bisa bermakna pari, gabah, beras, dan nasi. 

Menurut Cak Nun, sejarahwan modern tidak mengakui simbah-simbahnya (nenek moyangnya) sebab mereka tidak mengakui babad. Sejarah Indonesia adalah berdasarkan pengakuan sejarah barat. Apa yang tidak tercatat di Leiden maka tidak dianggap sebagai sejarah Indonesia. Maka semoga suatu saat Undip/Indonesia bisa menjadi pusat penyadaran budaya.

Diponegoro dan Gajahmada adalah dua sosok sejarah yang berjuang bukan hanya atas nama Jawa melainkan nusantara. Mereka sebetulnya bisa saja menjadi raja, tetapi mereka tidak mempermasalahkan. Gajahmada merupakan Muslim yang taat. Ia merelakan anaknya, Hayamwuruk menjadi raja (meskipun tidak ada yang tahu bahwa Hawe adalah anaknya).

Lagu jawa gelarno kloso. Eh pagere ambruk eh mergo tak tubruk. Itu adalah gambaran Indonesia yang bukannya menyelesaikan sebuah masalah justru membuat masalah berbiak. Masyarakat berharap dari kampus muncul solusi-solusi. Mahasiswa seharusnya BERKARYA DENGAN EMPATI TERHADAP PERMASALAHAN NEGARA.

Selasa, 17 September 2013

Memaknai Pendakian (Puncak Lawu 3265 mdpl)



Mendaki gunung ialah bentuk lain dari memaknai hidup. Jika biasanya di daratan kita dihadapkan pada beragam masalah yang begitu memberatkan “pundak” namun kita tidak bisa langsung “melihat” seperti apa wujud beban itu, maka dalam pendakian, kita bisa langsung melihat wujud beban yang tak hanya memberatkan bahkan membuat perih kedua bahu, termasuk juga kedua kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya.
Tidak sedikit orang yang berkata “siap” untuk melewati jalur pendakian. Juga tidak sedikit mereka yang telah berada di jalur pendakian kemudian merasa nyaris putus asa karena tak kunjung sampai ke puncaknya. Ini sama persis dengan sikap sebagian orang (termasuk saya) saat menghadapi permasalahan hidup. Ada yang terus berjuang hingga selesai, pun yang menjalaninya dengan sisa-sisa kesabaran yang ada. Ada yang mau tak mau harus menitipkan beban pada orang lain, ada pula yang dengan senang hati membawakan beban orang lain.
Bagi mereka yang sering mengeluh atas permasalahan hidup, memang ada baiknya melakukan pendakian. Tak harus ke Mahameru atau Lawu, cukup ke Ungaran. Tapi lakukan pendakian dengan niat untuk semakin menguatkan fisik dan mental. Bahwa hidup memang adalah sebuah pendakian untuk menuju Tuhan. Dalam pendakian, jalur tidaklah terus menerus naik, ada jalur-jalur datar yang kami menyebutnya “bonus”. Saya maknai, mereka yang senang berlama-lama di jalur datar ini ialah mereka yang salah paham atas kehidupan. Mereka harus sadar bahwa jalur sesungguhnya memanglah mendaki, jalur yang lebih banyak harus mereka lalui.
Untuk mencapai puncak Lawu via Cemoro Kandang, estimasi waktu standarnya sekitar 12 jam. Ini sudah termasuk jeda istirahat. Tapi untuk turun, hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 jam via Cemoro Sewu. Uniknya dua jalur ini yaitu Cemoro Kandang masih berada di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah sedangan Cemoro Sewu merupakan kawasan wisata di Kabupaten Magetan Jawa Timur. Jarak dua kawasan perbatasan ini tak sampai 1km berjalan kaki. Perbedaan estimasi jalur naik dan turun ini dipengaruhi oleh tingkat keekstreman. Meskipun lebih cepat 3 kali lipat, tapi jalur turun Cemoro Sewu lebih ‘gila’ dibanding jalur pendakian.

Minggu, 21 Juli 2013

La Tahzan, sebab Tuhan Tak Ingin Kita Bersedih

Kesedihan umumnya disebabkan oleh ketakmampuan mengatasi suatu permasalahan. Padahal, permasalahan atau ujian dalam hidup manusia adalah hal lumrah. Sebab hidup adalah proses. Dalam proses, kita melewati fase-fase tertentu. Jika kita gagal melewati sebuah fase atau gagal menyelesaikan suatu permasalahan, maka kita akan menjadi manusia yang stagnan. Hanya berkutat pada masalah yang itu-itu saja. Sedangkan proses menuntut kita untuk senantiasa lanjut ke fase berikutnya.

Sakit hati adalah salah satu bentuk ujian yang harus kita selesaikan pada suatu fase. Ada orang yang bukannya menyelesaikan masalah melainkan justru hanya melakukan pelarian.
Banyak hal bisa dilakukan untuk melarikan diri dari masalah. Cara positif misalnya dengan membaca quran, mendekatkan diri pada Tuhan. Atau dengan cara negatif misalnya minum alkohol. Hal semacam itu bisa memberikan ketenangan pada seseorang. Sehingga masalah tidak diselesaikan tetapi hanya dianggap selesai.

Ada kalanya menyelesaikan suatu permasalahan dengan hanya menganggapnya selesai adalah cara terakhir yang mampu dilakukan seseorang. Apalagi jika itu adalah masalah yang terlalu pelik. Ini semacam pengingkaran agar beban sejenak berkurang.

Sayangnya, menganggap selesai suatu permasalahan tanpa  benar-benar menyelesaikannya adalah sama dengan hanya mengendapkan hal tersebut. Tidak heran bila di kemudian hari, endapan masalah tersebut justru menjadi masalah yang makin serius. Sebab hanya menganggapnya selesai tanpa mengikhlaskannya adalah kesia-siaan.
Terhadap suatu permasalahan, kita harus menyadari masalah tersebut, merasakan dengan penuh kesadaran. Meluapkannya. Jika marah katakan marah. Lepaskan emosi itu. Baru kemudian berusaha melupakan. Hal ini sama dengan ketika kita berusaha untuk merasakan denyutan di seluruh tubuh.

Denyut pada tubuh adalah bukti kasih sayang Allah. Sesungguhnya denyutan ada di seluruh bagian tubuh kita dari kepala sampai kaki. Tapi kita jarang mampu menyadarinya.
Cobalah rasakan denyut nadi di genggaman tangan, langsung terasakah? Jika belum, pejamkan mata dan rasakan. Tidak mampu meraskan denyut di tangan adalah indikator bahwa kita belum bisa merasakan dan menyadari emosi diri. Merasakan apakah kita sudah betul-betul mengikhlasakan sesuatu atau hanya mengendapkannya.
Dalam QS 7: 42-43, Allah SWT berfirman: 
"Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan kami mencabut dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai."

Dari ayat tersebut kita bisa berhikmah bahwa cara menghapus rasa dendam atau sakit hati atau mengikhlaskan suatu masalah adalah dengan berbuat baik, kebajikan. Kalau kita masih sedih ketika mengingat sesuatu (permasalahan di masa lalu yang kita anggap sudah selesai) berarti kita belum ikhlas. Berarti Allah belum mencabut masalah itu dari hati kita.

Pentingnya mengikhlaskan suatu permasalahan sakit hati adalah agar kita tidak larut dalam kesedihan. Kita tidak boleh bersedih. Dalam quran dikatakan "la tahzan" (jangan bersedih). Sebab orang bersedih pertanda jauh dari rahmat Allah. Kesedihan pun bisa membuka peluang bagi setan untuk menjerumuskan kita.

Banyak hal menjadi serba salah ketika kita bersedih. Menyebabkan kita tidak bisa beraktivitas dengan baik. Salah satu contohnya adalah perilaku galau yang belakang seolah menjadi gaya hidup, menjadi bagian yang tak bisa terlewatkan. Padahal jelas bahwa menggalau ialah memanjakan kesedihan diri sendiri.

Disusun dan dikembangkan berdasarkan dari Spiritual Coaching bersama Ustazah Meidian, 21 Juli 2013 di Masjid Kampus Undip Tembalang.


Jumat, 16 September 2011

Jeli Sebelum Berkompetisi

Di setiap perlombaan tentu ada kompetisi di dalamnya. Trus, kompetisi macam apa yang seharusnya kita ikuti? gak semua kompetisi harus dimenangkan tho?


Entahlah, sejak resmi dinyatakan sebagai mahasiswa sastra Indonesia rasanya semangat kompetisi dalam lomba-lomba penulisan cerpen dan puisi menurun banget (belum drastis). Bukan sombong atau gimana-gimana, tapi rasanya ga semangat aja. Apalagi kalau lombanya dilakukan oleh instansi-instansi di luar ke-sastra-an. Beberapa hal yang bisanya kucari tahu adalah:
a) siapa sih jurinya? dia kompeten ga di bidang sastra?
b) berapa kontribusinya? sebab beberapa pengalaman mengajarkan bahwa lomba-lomba yang memasang biaya pendaftaran cuma mau mencari keuntungan, apalagi kalo lombanya dibuat nasional.


Sekarang gini deh, kamu anak sastra Indonesia, setiap hari kuliah dengan materi yang pastinya gak jauh dengan kesusatraan. Tiba-tiba ada fakultas lain yang ngadain lomba, trus kamu ikut. Kasarannya, kalo jurinya cuma orang lokal fakultas itu, ndak jadinya lucu? bukan sombong sekali lagi. Bisa aja sih mereka punya orang yang jago dibidang penulisan, tapi kalau balik lagi ke pendapat yang pernah dibilang sama dosen: "puisi itu kan dibuat dengan emosi penulisnya, tiba-tiba dilombakan dan dinilai oleh orang lain yang mungkin ga memiliki emosi yang sama, apa iya karya itu bisa menang?"


Ada lagi satu pengalaman yang ngenesin banget. waktu itu Lpm Hayamwuruk (Hawe) ngikutin satu kompetisi sampul majalah, jurinya oke berbagai orang dari berbagai surat kabar ternama di Indonesia, kotribusinya lima puluh ribu. waktu itu Hawe mendapatkan Bronze Winner majalah Jawa. Tahu ga? Hawe cuma dapet sertifikat yang dibingkai kayu, itu doang. helllo, itu kontribusi lima puluh ribu dikali berapa Lpm seIndonesia apa iya ga nyukup untuk beli amplop trus  diisi duit? parah.


Maaf kalo kesannya materialistis banget. Sebagai mahasiswa, muna deh kalau dalam kompetisi cuma mau dapet pengakuan. kalo ada yang bisa dapet pengakuan sekaligus menghasilkan uang kenapa enggak? Daripada uang pendaftarannya terbuang sia-sia, mending cari lowongan lomba lain yang jauh lebih prestise. misalnya:

a) lomba yang diadakan oleh instansi penulisan semacam fakultas kamu sendiri, balai bahasa, majalah atau koran nasional dll. Walaupun di sini ga menang, tapi gregetnya lebih berasa. Kalaupun cuma jadi juara harapan, itu jauh lebih prestise dan memacu semangat karena kita yakin dengan penilai karyanya. Oke oke, walaupun yang ngadain bukan instansi kesastraan, sekali lagi pastiin siapa jurinya, kompeten atau enggak itu aja.

b) cari lowongan lomba yang ga memungut biaya pendaftaran. walaupun hadiahnya ga seberapa -biasanya kalo yang ngadain adalah suatu penerbitan, hadiahnya paket buku- ini jauh lebih baik, kita ga keluar biaya malah dapet paket buku


Kejelian semacam ini penting banget, kalau enggak kita bakal rugi sendiri. Jangan sampai karya-karya yang kita buat dengan kesungguhan malah tersia-siakan. Apalagi biasanya dalam beberapa ajang perlombaan dituliskan syarat bahwa karya yang diikutkan belum pernah diikutkan dalam lomba.

Selasa, 13 September 2011

Rendang(an) dari Malaysia

agoebanget.blogspot.com
Berapa sih jumlah penduduk Indonesia di Malaysia?
Inilah pertanyaan yang mendadak muncul dalam benak saya ketika membaca sebuah artikel yang lagi-lagi membuat otak saya malas berpikir. Malaysia, telah beberapa kali negara dekat Indonesia ini melakukan lelucon yang seperti perlakuan antara dua teman yang sedang saling jengkel. Batik, reog ponorogo, keris, beberapa pulau, setidaknya itulah 'harta' Indonesia yang sempat diklaim Malaysia sebagai milik mereka.

Terlepas dari hal itu, sebenarnya tindakan lelucon malaysia tersebut saya anggap sebagai suatu tindakan penyadaran kepada negara tercinta saya ini agar bisa lebih menghargai dan merasa memiliki apa-apa yang memang telah menjadi milik pribadi bangsa.

Kemarin, di kantor redaksi LPM Hayamwuruk, ada obrolan kecil antara kami para staf. Yaitu sebuah wacana yang menyatakan bahwa "Malaysia mengkalim rendang sebagai makanan yang berasal dari sana", untuk orang Indonesia apalagi Melayu (Minang) tentu ini adalah lelucon yang bahkan tak mampu lagi ditertawai, tapi bagi orang luar, tentu ini lebih tidak lucu lagi. Rendang telah mendunia dengan warung khasnya yang membentuk atap rumah gadang, sebagai makanan yang berasal dari Indonesia.

Tapi tunggu dulu, dibagian akhir artikel yang akhirnya saya telusuri tersebut dituliskan bahwa: “Jadi, wajar bila Malaysia mengklaim rendang sebagai masakan mereka karena orang Minang di sana juga melakukan hal yang sama (marandang). Yang mengkaim itu kan keturunan Minang yang ada di sana.” (VIVANEWS)

Hal inilah yangsempat saya pikirkan beberapa waktu lalu saat heboh pengklaiman Reog Ponorogo oleh Malaysia. Tidakkah sebuah fakta bahwa tidak sedikit warga Indonesia yang berada di Malaysia entah untuk berniaga atau tinggal? bahkan beberapa artis Indonesia pun memiliki kekerabatan erat dengan warga Malaysia. Mungkin memang wajar jika Malaysia terkadang iseng melakukan guyonan semacam itu. Apalagi, pernah saya membaca di sebuah buku (saya lupa buku apa) bahwa pada masanya dulu Malaysia dan Indonesia adalah satu "negara" yang akhirnya berpisah. Sebagai satu negara (ibarat satu tubuh) bukankah kita sempat memiliki organ yang satu dan sama? itulah (mungkin) yang membuat Malaysia terkadang tak mampu menyadari bahwa kita adalah negara yang sudah berpisah menjadi dua bagian berbeda.

Ahh, tapi tetap saja. Saya masih ingat betul bagaimana buku sejarah menjelaskan bahwa Malaysia memang telah sejak dulu senang membuat masalah hingga membuat Indonesia menyatakan diri keluar dari PBB.


Sabtu, 03 September 2011

masa-masa biru: absurd dan konyol

mengenang masa-masa biru tetap jauh lebih menggembirakan dibanding putih abu-abu
mungkin ini cuma sebuah pendapat, sebab berkesan-enggaknya sebuah masa lalu tergantung apa dan gimana aja kejadian yang ada di dalamnya. semakin banyak kejadian (aneh/konyol) di dalamnya, maka sebuah masa lalu akan semakin berkualitas. maka jangan pernah ragu untuk membangun masa lalu yang baik.

hari ini kita anak-anak kelas 3a yang jadi alumni smp 1 katibungtahun 2006 bikin acara lagi. sebagai koordinator absurd adalah devia dan desi. kenapa kubilang absurd? karena pas hari ha mereka ga dateng.
berdasarkan sms yang kuterima dari muji, kita disediain tempat jam 10 pagi hari sabtu (3/9) di rumah salah satu personil boyband, bihaqi (LOL). selalu, peserta pertama yang hadir di sebuah acara reuni adalah DESTA aka AYU. "yasudah, nanti saya jemput", kata muji di smsnya. jam 10 lebih dikit kami berdua sampe di -yang kalo kata adin eco- rumah bihaqi. sebenernya sebelum sampe aku sempet mikir, ada gunanya juga ya dulu kalian suka kongekan nama bapak pas di kelas. muji yang dari sd temenan sama bihaqi ternyata gak tahu rumah bihaqi, cuma tahu lokasi sekitarnya aja, akhirnya ada inisiatif untuk tanya ke dua bocah yang ada di teras rumah;

muji: dek, tahu rumah bihaqi ga?
bocah: (mikir trus geleng)
muji: bang kiky?
bocah: enggak tau
muji: pak leman (sulaiman)?
bocah: oh, di belakang (nunjukin arah)
muji & aku: (ketawa)

sampe di depan senuah rumah kita ga langsung masuk, muji cuma menduga-duga kalo itulah rumah yang kita cari, ternyata bener. bihaqi keluar dengan wajah cap bantal, bangun tidur.
sampe jam sebelas (adin) eco dateng, kami berempat cuma ngobrol garing sambil negbahas satu topik yang agaknya adalah topik hangat untuk mereka yang stay dii lampung: "EPI tuh sombong ya"
dan gak lama datanglah yesi, epi, faisal, dan aldi.

dulu, epi -personil teletubbies: aku, epi, indah, dan iis- adalah anak yang terkenal cerewet dan suka gupek, anehnya pas kumpul hari ini dia berubah 170 derajat, gaada epi yang rame, dia cuma diem sambil sesekali senyum, "ya guanya bingung mau ngomong apa", celetuk epi waktu diledekin bihaqi, "bingung nyusun abjad ya kamo?", seloroh bihaqi dengan logat lampungnya.

ngobrol ngalorngidul bersembilan rasanya butuh waktu yang jauh lebih banyak. walaupun gak serame lebaran tahun lalu, rasanya kumpul tahun ini jauh lebih hangat dan quality time banget. ngeladenin kicauannya faisal, aldi, dan eco rasanya pingin terus-terusan tanpa berhenti, adaa aja omongan yang mereka bahasa dengan mixing bahasa ndonesia-lampung. nih 20 menit kicauan absurd mereka (video)

jam 2 akhirnya kami kelaparan. kalo tahun lalu aku siap jadi tuan rumah yang menjamu mereka makan siang, kali ini faisal - pencetus ide makan siang dari tahun lalu- bilang gamau ngerepotin bihaqi, apalagi di rumahnya cuma ada dia dan adeknya yan cewe dan diskusi absurd pun kejadian lagi. ngomong muter-muter: mau makan apa, makan di mana, kalo makan di luar motor ga nyukup, kalo makan di sini ngerepotin tuan rumah. "KALO MAKAN DI LUAR ITU NNATI KITA PASTI BUBAR, ITU KALO GUA, UDALAH MAKAN DI SINI AJA DIBUNGKUS, kata eco dengan begitu khawatornya. bettuuuull (pake logat lampung) yaudalah makan bakso aja, ASIKK. cuss kita berangkat ke tanjung ratu untuk makan bakso bareng.

ternyata kekhawatiran yang eco bilang ga kejadian, mungkin kita semua ngerasa masih butuh ngobrol bareng entah ngapain. setelah nganter epi yang gelisah mulu pingin pulang, kami serbu rumah fika atas kesedian fika sendiri. sampe sana jam setengah lima dan ngerusuhin pohon rambutan yang lagi berbuah. beberapa sholat ashar dan lainnya asik nongkrong di gardu sambil makan rambutan. pas aku kelar sholat kita foto-foto (lagi). ohya, si aldi ternyata punya bakat motret, dengan kamera pocket dia bisa ambil fokus yang baik. "tuh, keg gini ni. ambil gambar objeknya aja, belakangnya biar blawur", kata aldi bangga.

jam setengah 6 akhirnya kita bubar, padahal masih mau lanjut lagi makan duren. tapi yaudalah, kayanya ga memungkinkan. dai riumah fika kita pamit, karena rumahku dan fika emang cuma berjarak beberapa rumah, kita langsung pamtan di situ. aldi, eco, faisal dan yesi pamt lewat jalan by pass, dan aku bareng muji lewat "dalem".

seneng banget rasanya bisa ngumpul sama mereka. masuk dalam masa lalu smp jauh lebih seru dibanding sma. kita bener-bener bisa 'lepas' jadi anak smp dengan segala kemasabodohan dan kekonyolan yang ada.
terkadang kita memang butuh kembali ada suatu ruang yang bisa membebaskan jiwa tanpa ada ikatan nilai-nilai sosial, dan itu hanya ada di masa-masa biru, bukan abu-abu yang didomonasi kelabilan total. smp adalah masa labil yang konyol, tanpa tekanan.

dan kemudian kami kembali memasuki kehidupan nyata sebagai bukan abg lagi. terlalu banyak kejadian yang ga mampu kutuliskan tentang masa-masa smp, dan itu semua akan selalu hidup sebagai hiburan di masa depan, aku ga pedui masa sma yang terlalu 'abu-abu', absurd dan gak berwarna, basii, garing!