Laman

Tampilkan postingan dengan label cerpen-dagelan-anekdot-puisi-drama-sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen-dagelan-anekdot-puisi-drama-sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Sepasang Sayap yang Tak Lagi Punya Angin



Di sebuah petang yang lengang kudapati samar-samar jejak yang tak habis tersapu angin
Tak jauh dari kerangka bangku taman yang nyaris runtuh, sepasang sayap tergeletak
Sekadar mencari dan menemukan yang tak lagi dianggap ada, sayap itu setengah bicara
Kirinya menangis. Ada ratap yang tak sempat diterbangkan
Kanannya hanya diam. Ia lupa bagaimana cara mengepakkan pesan
Sayap yang bisu, nyaris mati.
Ke mana harus dibawanya risau yang pelan-pelan mengiris setiap ingatan
Ke mana perginya tubuh yang menopang?
Ia tak lagi tahu harus menyampaikan apa
Angin tak lagi mengenali sosok yang cukup tua untuk ditinggalkan
Bahkan mungkin, langit telah menemukan sepasang sayap lain yang lebih kokoh yang tahu ke mana harus membawa pesan bagi hidup
Bahwa hidup memang tak pernah menjadi sama
Cinta bisa berbelok sesuka angin
Dan sayap, tak punya kuasa jika tak ada yang lagi menginginkannya
Diam-diam kusempurnakan penghapusan jejak yang semula samar sambil menguburkan sayap yang tak lagi punya angin.

Semarang, 26 September 2012

Sabtu, 25 Agustus 2012

Sketsa Petang --2

***
Sambil mengantarkan gerimis pulang, kususuri jalan setapak itu. Setelah sebelumnya meyakinkanmu bahwa akan baik-baik saja membiarkanku kembali ke kontrakan sendiri. Sebenarnya memang jarak antara galeri dan kontrakanku tidaklah jauh, hanya sekitar 1km. Petang itu, aku sedang berusaha mengingat peristiwa apa yang mengawali kebatuan kita tiga tahun belakangan. 

Aku tahu, ada sesuatu yang mengganjal dalam benakmu ketika mendengar ucapan terakhirku tadi. Saat kugunakan kata “juga” di depan kata “rindu”. Ya, kau memang tak mengatakannya, tapi aku bisa mendengar. Aku tak peduli kauterima atau tidak. Justru menurutku kau seharusnya berterima kasih karena aku telah membantumu mengungkapkan yang tak mampu kausampaikan.

“Aku tak peduli pada apa yang kau rasakan. Tapi, ya, aku juga tak bisa berbuat apa-apa jika ternyata selama ini kau menganggap setiap ajakanku adalah sesuatu yang spesial, misalnya sekadar ngopi di kafe.”
Tepat beberapa meter di depan sebuah kafe yang terakhir kali kita datangi, kalimat itu muncul di kepalaku. Ya, kau memang pernah mengatakannya padaku. Sejak saat itu memang aku semakin yakin bahwa kebersamaan kita adalah kesia-siaan. Adalah benar bahwa seharusnya memang aku menunggu saja seseorang yang tak juga kutemukan hingga sekarang. Dan menghindarimu adalah satu-satunya jalan, aku tak punya pilihan.

Gerimis yang tak sempat menjadi hujan telah benar-benar hilang. Petang pun telah berhasil mengantarkan senja tanpa diketahui siapa-siapa. Hanya saja aku bisa merasakan. Seperti getar ringan saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Pesan darimu. Aku tak mau berpikir apapun tentang apapun yang kau lakukan padaku, termasuk isi pesanmu yang menanyakan apakah aku sudah tiba di kontrakan atau belum. 

“Kau tak pernah konsisten.” Kataku waktu itu. Dan sepertinya itu akan terus berlaku sampai sekarang. Tak ada yang perlu diseriuskan dari setiap kata dan tindakanmu.

Belum. Di depan pintu kubalas pesanmu.

Tepat dugaanku. Hanya selang beberapa detik kau menelponku, sekadar bertanya kenapa aku belum tiba. Karena menurut perhitunganmu, seharusnya aku sudah sampai.

“Kau baik-baik saja kan?”
Entah itu hanya perasaanku atau tidak, aku bisa merasakan nada khawatir dari pertanyaanmu.
“Ya.”
“Hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai ya.”

Tak perlu kutanggapi kalimat terakhirmu. Langsung kuputuskan hubungan telpon saat kubuka kunci pintu. Aku tak pernah lagi ingin peduli padamu.
Jarak. Hanya itu yang kuinginkan saat ini. Kita tak harus membicarakan apapun, apalagi tentang masa lalu.

Setelah kutemukan penyebab kebatuan kita, kini aku justru mencoba mengingat kenapa kita bisa saling bicara lagi? Meskipun terkadang akupun menginginkannya, tapi ketakinginan itu lebih besar. Hanya ketika rindu saja aku menginginkan pesan-pesan singkatmu, atau mendengar suaramu dari saluran bicara di ponsel. Selebihnya, aku muak padamu.
(Bersambung)

Jumat, 24 Agustus 2012

Sketsa Petang



Sudah cukup lama rasanya, kubiarkan malam tak pulang dan pagi selalu saja tersesat karena lupa ke mana harus berbelok saat tiba di persimpangan. Padahal, di teras rumah itu aku tak pernah tak ada selepas petang. Senja yang kini lebih memilih untuk sakit berkepanjangan telah menitipkan rindunya yang kerap bertunas saat kemarau bahkan berjuang habis-habisan agar setidaknya ada titik gerimis yang menemukan debu di jalanan.
Di teras itu, aku terus melanjutkan sketsa siang yang urung selesai. Ada sebuah warna yang sampai sekarang tak juga kudapatkan. Telah kucari ke sekian banyak toko cat, tetap saja warna itu tak ada.

“Jika nanti sketsa itu telah selesai, berilah warna pada setiap tepi kanvasnya.” Aku kerap mengingat permintaan yang lebih seperti pesan terakhir sebelum ketiadaan menggantikanmu di bingkai itu. Memang, hanya satu warna yang harus kuusapkan ke kanvas yang kian usang itu. Namun, akhirnya kuberpikir bahwa satu-satunya warna yang tak juga kutemukan itu seolah memang tak mau muncul sekarang.
***

“Kapan kau berhenti berpikir bahwa sebuah ujung jalan akan mengantarmu pada tujuan?”

Di sela gerimis siang itu, kau tiba-tiba bertanya. Sebuah pertanyaan yang menjadi awal pembicaraan setelah bertahun lamanya kita seperti dua tikungan di persimpangan. Kita selalu bertemu, tapi tak pernah bisa menyapa. 

“Sampai aku tak lagi punya tujuan.” Sambil terus melanjutkan sketsa itu, kujawab kau sekenanya. Ah, kapan kuselesaikan sketasa busuk ini. Prak! Sebentar kau menoleh ke arahku. Mungkin kau heran kenapa kuas yang semula kupegang kini telah tergeletak di lantai, di bawah bingkai.

Gerimis yang masih berlanjut di luar jendela diam-diam merayap ke dinding pipiku. Terjadi lagi. Setiap kali ingatanku sampai pada ketiadaan, kuas itu memang selalu terlempar. Setiap itu pula, bertahun-tahun lalu kau selalu mengatakan bahwa aku tak akan pernah mungkin bisa berhasil menyelesaikan sketsa itu. Dengan sedikit sunggingan di bibirmu, kau mendekapku. Dan hingga kini, aku tak pernah bisa merasakan dekapanmu.
“Kau terlalu toleran pada mimpi. Sebuah mimpi yang lebih menyerupai obsesi berkepanjangan. Aku lelah melihatmu seperti ini...”

Aku muak mendengar ucapan semacam itu darimu. Tapi coba kutahan perasaan itu, mengingat ini adalah hari pertama sejak kita tak saling bicara sama sekali. Hanya sekadar kugigit bibirku sendiri. Ada getar tangisan yang perlahan menderas. 

“Pulanglah” katamu lagi. Dekapanmu kian mengendur. Kedua tanganmu yang sejak tadi mengusap bahu dan kepalaku, menarik mundur kepalaku. Kini, mata kita saling beradu. Butir-butir air mata yang terus bergulir kauusap dengan jari telunjuk. Kau memang tak mengatakan apa-apa. Tapi percayalah, aku baru saja mendengar ucapan dari matamu.
“Aku juga rindu, tapi sebaiknya lupakan saja. Sebentar lagi petang akan tiba."
***
 (bersambung)

Rabu, 06 Juni 2012

mengantar jenazah

bunga dan merah tanah
menyatu atas debu
doa rabu
mengurapi udara

kusandang duka
diam-diam
ada yang pergi dalam
diam
ada yang lebih basah dari air mata

--acep zamzam noor--

di sebuah rabu, saya temukan sajak ini di halaman pertama buku kumpulan sajak acep zamzam noor yang saya pinjam sebentar dari seorang teman. entah kenapa, saya langsung ingin menjadikan sajak ini sebagai salah satu sajak paling duka --yang lebih perih dari luka--
saya hapal tiap larik sajak ini, hari ini juga.
untuk membuktikannya, biar saya ulang kembali menuliskannya tanpa mencontek.

mengantar jenazah
bunga dan merah tanah/ menyatu atas debu/ doa rabu/ mengurapi udara
kusandang duka/ diam-diam/ ada yang pergi dalam/ diam/ ada yang lebih basah dari air mata//
--acep zamzam noor--

rabu, 6/6/2012

Jumat, 18 Mei 2012

Rumah



Malam hampir menua
Wajahnya yang penuh kerutan kian pucat menelan angin yang mampir ke jendela
Di sebuah lubang, di balik sebatang kerinduan yang sungsang di halaman belakang
Di getirnya kesepian di ketiadaan
Aku tinggal jendela
Setiap malam kutelan diam-diam pesanmu yang sesenggukan menahan angin
Setiap diam kutikam jarak yang menjauhkanmu dari kenyataan
Semu. Semua yang kau kirimkan adalah kepura-puraan yang memaksa
Pakaianmu, makananmu, pekerjaanmu, pikiranmu...
Semu. Omong kosong
Tinggal aku jendela
Di pintu, pernah pesanmu meringkuk sendiri dilayati angin yang kedinginan
angin yang kepayahan
Pesanmu tak bisa sampai lewat pintu depan. Pintu yang sudah mati kehilangan kunci
Lalu kupungut. Kupungut lalu kumasukkan lewat jendela. Aku jendela
Tapi pesanmu tak bisa terbaca
Jendela tinggal aku
Tinggal aku yang sesekali sempoyongan menahan angin.
Aku tinggal. Tanpa pintu tanpa ruang tengah
Di jendela, pesanmu tak pernah sampai. Tak ada suara di ruang tengah
Pesanmu seharusnya sudah sampai di sana, dan kau baca:
Tak ada lagi rumah. Tak usah pulang.

Semarang, 18 Mei 2012

Kamis, 19 April 2012

kepada kartini. kartini yang telah mati...

sumber gambar: tumblr.com

Kepada Kartini. Kartini yang telah mati...
Kartini. Itu namamu kan? Aku tak ingat kapan pertama kalinya mengenal namamu. Ya, sekadar mengenal namamu. Mungkin saat aku masih duduk di SD. Aku lupa. Dan aku sangat tak peduli. Kau tahu tidak apa yang kupedulikan? Ah, aku yakin kau sama sekali tak tahu. Yang kau tahu pasti hanya mengenai para perempuan yang ada di barisanmu, yang berdiri sambil memegang bendera bertulis EMANSIPASI WANITA. Kau tak tahu apa-apa tentang aku, tentang kami, apalagi tentang bangsa ini, sekarang!

Apa yang kau pikirkan saat berkoar memperjuangkan emansipasi? Kau sedang memperjuangkan dirimu sendiri, bukan? Ah, terserahlah. Yang jelas, padamu ingin kukatakan bahwa emansipasi yang kau gadang-gadangkan di masa lalu telah menjadikan kaummu lupa diri.

Kenapa kau merasa begitu hebat hingga harus kami peringati? Ah, oke. Mungkin maksudku, kenapa kami, tepatnya kaummu--aku tidak--menganggap kau begitu berjasa? Apa jasamu? Coba saja kau tanyai mereka satu persatu, semoga bisa kau dapati mereka mengerti apa makna perjuanganmu. Mereka hanya melakukan selebrasi, tanpa makna tanpa apa-apa. Ya. Seperti selebrasi-selebrasi lainnya di negeri  ini. Sia-sia. Tak ada kesadaran yang timbul dari kedalaman hati. Sebatas mengenakan kebaya, apa maknanya? Kau menyukainya? Hei, jawab!

Maaf. Aku tak tahu harus mengeluh kepada siapa lagi di sini. Sejarah yang menceritakan perihal hidupmu di masa lalu, bukanlah alternatif untukku percaya. Sejarah di sini adalah manipulasi. Pemilik sejarah adalah penguasa di masa itu. Jadi, jika hari ini aku menjadi penguasa, aku berhak atas sejarah, aku berhak menuliskannya semauku.

Aku menyesalkan keberadaanmu di masa lalu. Jika memang kau pernah ada!
Aku, perempuan yang tak mampu mengenalimu itu.
Semarang, beberapa hari menjelang hari peringatanmu.

Minggu, 25 Maret 2012

Musim

“Lalu apakah disebut kesalahan jika aku ingin tinggal di suatu tempat yang memiliki 4 musim, bersamamu?”
Tak ada jawaban yang meluncur dari bibirku, hanya kelu. Kulihat seketika hening menghampiri matamu yang biasanya teduh. Ini bukan pertama kalinya kau membuatku larut dalam kebingungan yang tak bisa kulerai.

Kemarau. Kita baru saja sampai di pintu depannya. Dari jendela kita sama-sama mencoba menuliskan apa-apa yang tak sempat kita wujudkan selama musim hujan kemarin.

“Kenapa tempat kita tinggal sekarang ini, hanya punya 2 musim ya...”
Itu pertanyaan pertamamu saat kita tiba 3 jam yang lalu, saat pelayan membawakan menu yang semuanya hanya kopi dan teh. Beberapa saat kemudian kau sedikit kecewa karena tak menemukan ice cream dalam daftar menu, dan akhirnya memesan ice tea.

Di kemarau semacam ini, harus kuakui bahwa pilihanmu memang jauh lebih tepat dibanding pilihanku. Secangkir vanila coffe yang kupesan bahkan kini merenung tanpa asap yang awalnya mengepul. Kau sempat protes kenapa aku tak memilih seperti yang kau pesan. Tapi kau akhirnya diam juga saat kukatakan bahwa aku tak peduli pada musim yang sedang berlangsung, yang kutahu, aku lelah merasakan kepayahan sepanjang musim hujan kemarin. Aku ingin sejenak lelap dalam ketaktahuan dan kemasabodohan. Tapi aku sadar bahwa itu adalah wujud dari keegoisan. Maka aku harus bertahan dari rasa kantuk yang tak henti menyerang, bahkan hingga detik ini.

Hampir setahun lalu, aku ingat bagaimana pertama kalinya kutemukanmu sedang khusyuk memainkan hujan sendirian. Tak ada duka atau luka memang, itulah mengapa aku memberanikan diri untuk duduk dan memerhatikanmu dari dekat. Kau memang tak lantas menyambutku. Aku harus rutin mengunjungimu yang tengah bermain hujan, tanpa ada sepatahpun ucapan, atau skeedar sambutan untuk orang yang belum kau kenal.

Kini hujan telah selesai, di musim pancaroba aku, sepertinya, berhasil meyakinkanmu bahwa keberadaanku didekatmu bukanlah kesia-siaan. Hingga menjelang musim kemarau, aku benar-benar kau izinkan untuk berada didekatmu, dengan obrolan-obrolan ringan, terkadang penuh makna juga romantika sederhana.
Namun, ada yang sampai saat ini tetap tak mampu kumengerti.

“Musim hujan telah selesai, apakah kau akan mencintai kemarau seperti mencintai hujan?”
Jujur saja, itulah akumulasi dari kerisauan yang selama ini kutahankan. Jika diminta menggambarkan bagaimana kecintaanmu terhadap hujan, maka jawabanku singkat saja. Hujan adalah cairan yang selalu lekat di dua bola matamu. Hujan memang bukanlah simbol kepedihan, setidaknya dalam hidupmu. Kau memerlakukan hujan dengan begitu indah, dengan penuh keceriaan dan kebersyukuran. Yang kutahu, itu adalah sebuah anomali.

Sendiri, aku terus berpikir. Jika itu perlakuan yang diterima hujan, lalu bagaimana nasib kemarau? Entahlah. Terkadang aku beku dan tersesat dalam pikiranku sendiri. Aku terlalu takut kau memerlakukan kemarau justru speerti orang-orang memerlakukan hujan.

“Entahlah.” Jawabmu singkat, dan meragukan.

Setelah itu kau mulai bercerita seandainya suatu saat 2 musim yang selama ini ada, berbiak menjadi 4 seperti di tempat lain. Kau bilang, mungkin akan bahagia menikmati salju atau daun-daun gugur dari pepohonan di halaman rumahmu yang begitu luas.

Hingga saat ini, aku masih kesulitan untuk memahami jalan pikiranmu. Di jendela, kulihat satu dari sekian harapan yang kau tuliskan, dan aku tak tahu harus bersikap seperti apa.


Aku ingin merasakan musim di mana kau tak lahir pada musim itu. Aku hanya ingin, kita, hidup di musim lain yang sama sekali tak kita kenal. Agar tak ada yang bisa teringat pada kehidupan pada musim sebelumnya, seperti yang kualami sepanjang musim kemarin, hingga saat ini.
Semarang, 25 Maret 2012  

Senin, 12 Maret 2012

Di Kotak Mimpi



Kemarin malam aku menemukan sekotak mimpi
Di dalamnya kutemukan sketsa-sketsa wajahmu yang memang kukenal
Dari gurat senyum hingga letih yang menyemakin
Tapi, kenapa kita tak saling kenal?
Seolah kau lupa siapa aku dan akupun kesulitan menerjemahkan kelakuanmu
Masih di kotak yang sama, malam yang telah berubah siang
Aku kian kehilangan
Kau pergi tak hanya sebatas raga
Ayah, lekas keluar dari sana
Ada rindu yang rasanya ingin kuretakkan hingga pecah tak berbilang
Ini hanya mimpi, dan aku percaya

Semarang, 12 Maret 2012

Minggu, 11 Maret 2012

Perpisahan




Mulai hari ini kita akan menanam rindu di halaman waktu tak berbatas
Dengan hujan yang tersendat-sendat kita siap menanti tunas pertama
Entah kapan
Sambil menunggu, kau mengambil kanvas dan aku mulai menggambar sketsa
Tapi mengapa titik-titik gerimis justru menghapusnya?
Dalam jarak, kita saling mencipta ketiadaan

Semarang, 11 Maret 2012, 23.54

Hujan dan jarak




Ingatkah kita pernah menuang hujan bersama
Malam itu bahkan dingin seolah selimut yang mendekap kita
Meneguk satu, lalu dua, dan seterusnya
Di gelasmu ada rindu yang tak bisa tumpah
Di bibirku jarak menjadi gelegar yang bisu
Lalu kita mengeja meja
Hujan kini menggerimis
Kita masih dengan gelas masing-masing
Tak bisa berbagi.

11 Maret 2012

Minggu, 12 Februari 2012

hujan pertama

banyak yang mengatakan bahwa wajahku selalu seperti hujan yang baru reda, ada sisa-sisa gerimis yang seolah tak mau pergi. mencintai jendela dan kesunyian. apakah aku makluk asing yang berbeda, yang tak berhak diperlakukan sama? aku sudah bosan menanyakn ini pada tuhan. tiap kali bertanya, aku hanya diberi jawaban dengan guyuran hujan yang menyisakan gerimis. mungkin tuhan tak suka aku bertanya seperti itu. dan akhirnya sejak itu aku hanya berkawan dengan jendela yang selalu lembab karena hujan dan gerimis.

setiap hari ibuku akan masuk ke kamar, sekedar memeriksa keadaanku, apakah sedang tidur atau melakukan hal lainnya. hal yang tak lupa dilakukannya adalah menyediakan makan untukku. sesekali jika dikiranya aku sedang mood bicara, ia akan menanyakan hal yang sama setahun belakangan ini
kapan kamu mau balik ke kampus lagi? hari ini si anu nelpon ibu, si anu dateng bawain kamu ini, si anu, dan seterusnya dan seterusnya. seringnya pertanyaan itu tak pernah kujawab, atau sekedar aku sedikit bergerak menggeser kursi di depan jendela.

***

tok tok tok
pintu kamarku diketuk,
"rara, adit datang nak. kamu mau nemuin ga?"
"iya bu, sebentar aku ke sana"

hari ini cerah. adit memang telah sejak seminggu lalu mengajakku untuk keluar menghabiskan hari minggu bersama. dan hari ini rasanya begitu bersahabat karena tak ada hujan yang turun bahkan sekedar gerimis.
kucek sekali lagi wajahku di cermin, sudah pas. kusambar tas kecil hasil buruan di yogya . sebelum keluar kamar kuhampiri jendela, dari sana matahari begitu ceria. yes!

"untung ya hari ini ga hujan", adit membuka obrolan di jalan.
jilbab abu-abu yang kukenakan bergoyang-goyang terbawa angin.
"iya dit, kita beruntung", dengan suara yang kukerasan karena tertahan helm.
hari ini kami akan pergi ke pantai, sesuai permintaanku yang memang telah merindukan suasananya.
adit sengaja tak membawa honda jazz kakaknya, ia hanya membawa honda beat miliknya agar kami lebih bisa menikmati angin jalanan.

hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di tempat tujuan. setelah kubayar tiket masuk, adit memarkirkan motornya. berhasil merasakan udara pantai membuatku sejenak menghela napas dengan kebersyukuran yang sungguh. kupejamkan mata sambil terus berjalan perlahan. adit memperhatikanku dengan seksama, tatpannya begitu lembut.
"kenapa?"
"kamu bahagia banget keliatannya?" adit mengucapkan tersenyum
aku hanya balas senyum.

kami masih hanya berjalan-jalan di pinggir pantai, belum ada spot  yang kami temukan untuk duduk di atas pasir. kurogoh saku jaketku karena mulai merasakan kencangya angin. sementara adit terus mencari-cari tempat yang nyaman untuk kami singgah. jarinya menunjuk ke suatu titik. sesampainya di sana, suasanya begitu klik. aku berlari kecil menuju joglo kecil di atas pasir. adit tersenyum dan tetap berjalan santai.
"ayo buruan", kataku saat telah sampai dan duduk di joglo. ia mengangguk lembut.

dari joglo kini kami berdua memandangi hamparan laut yang begitu luas. pantulan biru langit menjadikannya semakin cantik dipandagi dari bibir pntai. lapis-lapis warna air memunculkan satu pertanyaan,
"dit, lucu kali ya kalo tiba-tiba hujan deress banget"
adit menoleh ke arahku sebentar, lalu menatap langit.
"kalo mendadak ujan deres, kamu pingin ngapain?" tanya adit yakin
"semoga kita sempet lari ke parkiran untuk pulang, dan hujan-hujanan di jalan"
HA HA HA
tawa kami menyatu dengan debur ombak yang menabrak karang. perlahan kupeluk dua lututku sambil berpikir lagi,
"kalo kamu, pingin apa dit?"
desau angin menyusup di antara duduk kami. adit masih diam memikirkan jawaban, ah tepatnya memikirkan apakah akan mengatatakan sesuatu yang sepertinya telah lama ia persiapkan.
"aku malah gak pingin..."
"kenapa?" kutabrak kalimatnya
"aku gak pingin hujannya reda. supaya kita bisa lama-lama di sini"

mendengar jawaban adit seperti ada yang membuatku tersedak dan ingin tertawa, namun tatapan adit yang menahanku untuk menghindari tatapannya justru membuatku hanya diam. aku salah tingkah.
tiba-tiba hujan turun begitu deras. kami saling pandang, kemudian tertawa.
"katanya mau ke parkiran?" ledeknya
aku hanya tersenyum. aku benar-benar salah tingkah.
siang itu kami hanya duduk terpaku tanpa satu katapun yang terlontar. kami menunggu hujan reda tanpa melakukan apapun.

***

gerimis sudah tiba sejak subuh. malam tadi petir menyambar di tengah derasnya hujan. aku diam di balik selimut. dalam gelap membayangkan bagaimana dua orang yang sedang menyusuri jalanan di tengah hujan. mereka baru pulang dari pantai. entah apa yang terjadi ketika itu pria yang mengendarai honda beat terpelanting dan melepaskan setir. wanita yang melihat sendiri kejadian itu tak bisa melakukan apapun. ia hanya terbawa sisa tarikan gas. ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. matanya terus menoleh ke belakang melihat pria yang tumbang ke tepi jalanan aspal, sementara ia jatuh ke semak.

"ra, dari siang kamu belum makan. ayo buka pintunya"

*** selesai***

Rabu, 08 Februari 2012

dua penunggu di kereta


ada yang tertinggal di kereta kita menyusuri ingatan
kau, dengan diam yang kian terbata-bata seolah ingin katakan
bahwa perjalanan tak lebih dari penungguan yang bernyawa
diam-diam kita menyusun cerita di jendela yang basah oleh sisa hujan kemarin sore
"tak perlu berhenti menunggu, teruslah berjalan dengan rindu-rindu yang selalu tunas pasca jarak yang menua"
kulihat bibirmu terbakar oleh kemarau yang tiba-tiba menyusup lewat jendela


kita akan terus menunggu
hingga waktu benar-benar mati
hingga apa yang menghidupi kita habis oleh kemarau yang tak pernah sampai ke matamu itu

sebab di perjalanan ini, kita adalah 2 penunggu yang tersesat di gerbong yang sama
saling menulis cerita di jendela
aku dengan rindu retak di saku
kau dengan kemarau yang terbawa-bawa

hujan kembali tiba di luar jendela
membawa kita pada kemarin yang begitu rapuh
kita hanya bertemu dalam penungguan tak bertuju
di kereta kita saling menunggu masa lalu kita sendiri-sendiri

lampung selatan, 8 februari 2012

Kamis, 02 Februari 2012

Waktu, Ketika yang Kutunggu Hanyalah Saat yang Tepat untuk Mengatakannya.

00.01
             Malam baru saja mendekaplelapkan senja dalam peraduannya. Biasanya akan ditandai dengan warna-warni lampu jalan, berjejer pedagang kaki lima di sepanjang teras pertokoan, kafe mulai menyediakan layanan, pedagang jagung bakar dengan tikar yang sengaja digelar meremang, dan… seseorang.
            Ini adalah kisah yang kutuliskan untuk mengenang perjuangan seseorang, teman. Temanku tepatnya. Malam ini, selepas tadarus singkat ia memutuskan untuk segera naik ke perahu malam, dipan ukuran nomor 3 milik ibu kosnya. Ini bukanlah hal yang biasa. Malam-malam sebelumnya, setelah berniat akan menunaikan isya pada waktu lail, ia memilih sibuk dengan laptopnya. Entah menulis, menonton film , mengerjakan tugas, merapikan folder atau hanya sekedar mendengarkan lagu yang baru di donlod.
Malam ini, ketika senja sudah tak lagi bisa dinikmati pesonanya, seorang gadis, temanku, rebah di peraduannya
***
“Ada yang mau aku bicarain sama kamu, ada waktu?”
“Ada. Kapan?”
“Nanti, kelar kuliah”
Kuliah berakhir. Mereka berdua bergegas keluar untuk mendapatkan bis terakhir. Sejak menunggu bis yang memakan waktu sekitar 15 menit hingga berhasil naik, tak ada obrolan, mereka hanya diam. Ah, sungguh malang. Adalah suatu keberuntungan jika di bis terakhir bisa mendapatkan tempat duduk yang nyaman, atau bahkan sekedar berdiri dengan kondisi lapang.
Mereka masih dalam diam. Diam-diam langit pucat, mungkin menahan kesal pada mereka. Apa salahnya sih membuka obrolan? Ketika gerimis mulai berjatuhan, sebuah pesan masuk ke gsm temanku,
Hujan, mungkin lain kali aja kita omonginnya
Setelah membaca, sejenak ditengoknya sisi luar jendela. Cuma gerimis kok, pikirnya.
Belum hujan Bay, palingan pas nnt smp dpn gang gerimisny brnti. Gpp, lanjutin aja, nnt ak trun di dpn gang kos km, udah lama gak lewat sana J
Jgn Nda. Uda gausah, kpnkpn aja, masih ada wktu laen kok. Bayu segera membalas. Tapi bukan Winda jika tak sedikit keras kepala.
Ydh, tp ak ttp mau trun dpn gang kos km. titik.
Bis akhirnya berhenti. Winda yang ketika naik tadi melalui pintu belakang, turun melalui pintu yang sama, begitu pun Bayu, melalui pintu depan. Winda selalu ingin mencairkan suasana ketika keadaan sedang menyudutkan dirinya dan Bayu. Sepotong senyum jatuh ke mata laki-laki berambut keriting itu, raut di wajahnya sangat kusut.
“Kamu mau ngomongin apa, Bay?”
Sejenak Bayu diam. Ketika itu gerimis kelihatan semakin serius, membuat mereka berdua harus mempercepat langkah.
“Intinya, aku cuma mau tanya. Menurut kamu, yang seperti ini masih perlu atau enggak!” kalimat itu terdengar datar, pelan, tapi lebih tidak seperti pertanyaan, melainkan seruan atas suatu kekesalan. Mendengar itu Winda tersenyum lagi. Mereka masih terus berjalan dengan kecepatan yang kian meningkat, seperti degup jantung Bayu yang harap-harap cemas menantikan jawaban Winda.
Sampai akhirnya ketika mereka berdua sampai pada tikungan, Winda berhenti diikuti Bayu. “Aku butuh ruang lisan untuk menjelaskan ini, Bay” Winda bisa melihat wajah Bayu yang kian suram.
Dengan perasaan kecewa yang tak mampu disembunyikan, Bayu menyetujuinya. Sungguh, sekedar sepotong senyum pun tak mereka hadirkan untuk menyudahi obrolan itu. Gerimis telah berganti hujan. Mereka berdua memiliki harapan yang sama, semoga hujan tetap jatuh dari langit, tidak dari mata.
***
Malam semakin menua, guratannya kian pekat di langit-langit kamar. Tinggal sunyi mengusik sepi ‘tuk terjaga dalam ruang hampa, hati.
Baik Winda maupun Bayu, keduanya sama-sama terjebak pada malam yang terlanjur datang bertamu. Mereka sama-sama tak mampu memejamkan mata, terlebih setelah kejadian sore tadi.
Biasanya Bayu akan mengirimkan sepotong pesan singkat pengantar tidur,

Langit-langit kamarku melukis wajahmu
kini sampai pada lekuk indah di kedua sudut bibirmu
O, malam
Bergegaslah menjemput pagi

Namun, malam ini Winda hanya mungkin sebatas membaca ulang di kotak masuk.
*** 
(bersambung)

Kamis, 12 Januari 2012

seperti apakah wajah akhir?

Aku selalu kepayahan. Entah apa yang membuatnya menjadi payah untuk kutuliskan. Setiap kali ingatan tentangmu, kita, muncul di layar mata, aku seperti lupa. Dimana letak akhir yang sepertinya kita sepakati sebulan lalu?

Anggaplah aku yang memang payah.

Di jendela, aku coba mengingat kita yang pernah duduk berdua tanpa apa-apa dan tanpa siapa-siapa. Di atas bangunan 3 lantai yang bahkan sampai sekarang urung selesai, kita pernah mencoba manjadi bodoh, menghitung bintang. Dan akhirnya kau kalah. Kau kalah dan menyerah dengan mengatakan bahwa sebanyak apapun bintang di atas sana, tetap tak akan pernah mampu mengalahkan kekuatan sinar di kedua mataku, tepatnya mata sebelah kanan. Dan aku akan tersenyum mendengar kata-katamu.

Entahlah, di setiap kita menghabiskan waktu seusai hari, mejelang kematiannya, aku memang selalu memilih duduk di sebelah kirimu, tanpa alasan. “Setiap hari harus kita habiskan, sebelum ia mati dan melupakan apa-apa yang ingin kita ingat,” kalimat itu yang sampai saat ini masih juga belum bisa kupahami. “Kalau setiap hari memang akan menemui kematian, berarti usia sebuah kenangan juga Cuma sehari dong?,” tanyaku sambil bersandar di bahumu. Dari situ aku sangat bisa merasakan aroma tubuhmu yang sudah tercemari oleh asap rokok. “Jangan pernah memikirkan nasib waktu, apalagi kenangan. Sebab mereka telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri, tanpa harus kita jaga, kita pelihara”.

Matamu terus mengarah ke langit, entah apa yang kau cari di sana. Sedang dari tadi aku memandangi wajamu dari sisi kanan, sambil terus bersandar di bahumu. Ada angin yang selalu sembunyi-sembunyi menguntit kita. Kadang ia berbisik sangat pelan, membujukku untuk berbisik kepadamu, “Aku takut kehilangan, sebab setiap kali kita menyelesaikan hari, aku selalu ingin menghilang darimu. Tak ada yang ingin kuingat, sama sekali.” Sayang, kalimat itu selalu hanya bisa berhenti dalam benakku, dan setelah selesai kuucapkan, kau akan berhenti memandangi langit kemudian mendapatiku tengah memandangimu dari sebelah sini. Sebentar kau membenarkan posisi duduk, membuatku melepaskan sandaran di kepala.

“Sebenernya apa sih yang kamu lihat dari sebelah sini?” kau memegang sebentar alis kananku. Aku melengos, memandang jauh ke depan, ke arah gelap. Pukul 10 malam, kita masih di atas bangunan yang sepertinya memang tak akan pernah diselesaikan. “Aku juga gak tau. Cuma, setiap lagi ngobrol gini sama kamu, ada satu hal yang sebenernya dari dulu pingin aku bilang, ke kamu” aku diam, biasanya ini kalimat yang akan mengakhiri setiap malam yang kita nikmati. Kau ikut terdiam, tepatnya tak mau mengatakan apapun agar tak ada yang berakhir, termasuk waktu. Benar. Sejurus kemudian aku berdiri, mengibaskan bagian belakang rok yang sejak tadi kududukkan di atas batu, di tepian bangunan lantai 3 ini. Kau hanya menengadahkan pandangan ke arahku, tak ingin beranjak.

***

Mungkin malam ini akan turun hujan. Alasan itu kusampaikan untuk menolak ajakanmu mengahbiskan hari di atas bangunan lantai 3 itu. Aku tahu, kau tak akan pernah memaksakan apa yang memang tak kuinginkan. Dan sore itu, kita berpisah di halaman kampus.

Malamnya, sekitar pukul 8 aku sengaja keluar dari kosan menuju bangunan tempat kita biasa berdua membodohi diri. Prediksiku memang salah, tak ada hujan, justru cuaca begitu panas, bahkan aku tak membawa jaket ke sana.

Sunyi, itulah yang hendak kutemui di sana. Tanpa apapun, tanpa siapapun. Sialnya, ketika sampai di anak tangga terakhir, ekspektasiku melebur terbawa angin yang selalu menjadikan bangunan ini dingin. Kudapat kau tengah duduk sendiri, di tepi bangunan lantai 3 ini. Akupun menghentikan langkah, hendak pulang.
“Aku sengaja nunggu kamu di sini” ujarmu tiba-tiba. Rasanya seperti anak-anak tangga itu runtuh, mebuatku tak bisa memilih kecuali berjalan ke arahmu. Memang, selalu ada rindu yang tak bisa kutanggalkan saat berada sedekat ini denganmu. “Kamu aneh beberapa hari ini,” katamu datar, dan dingin. Aku butuh lebih dari jaket untuk mempertahankan diri dari dinginnya angin malam dan ucapanmu itu. Dan saat itu juga kau melepaskan jaket untuk kau berikan padaku, aku tak menolak.

Hening. Aku belum mengucapkan apapun sejak tadi. Kita hanya saling memandangi langit yang sama sekali tak berbintang. Tapi aku yakin ada satu bintang yang tak terlihat, dan sekali saja kita bisa melihatnya,kemudian mengucapkan jumlahnya, seketika bintang itu akan bertambah dan bertambah.

“Bukannya aku memang aneh dari awal ya”

“Iya, aku tahu. Tapi anehmu yang ini beda”

Helaan napasku terdengar begitu jelas di kesunyian semacam ini.
“Aku merasa ada yang salah, dan aku harus segera meyuahi kesalahan ini”
Kau menatapku dari sebelah kiri, mencoba menemukan bola mataku sebelah kanan. Tapi aku memandangi langit sebelah kiri.

Dalam perjalanan yang tak lebih dari 5 bulan ini, aku memang merencanakan sebuah kesalahan. Maka ketika waktunya telah tiba, aku harus jujur dan mengatakan semuanya. Aku tidak pernah berencana untuk mencintaimu sampai selesai, sebab aku akan menyelesaikannya dengan orang lain.

***

Setelah malam itu, jika ada rindu yang menyerang, aku selalu berdiri di depan jendela sambil mebayangkan kita berdua di atas bangunan berlantai 3 di seberang sana.
***
Selesai.
23.08, januari 2012.

Sabtu, 07 Januari 2012

bakal antologi

10.58 pm. jam segitu saya dan 3 orang pria masih bertahan di kampus, tepatnya tangga lantai 2 depan pintu ruang teater fib undip. kami baru saja menyaksikan "lentera senja" oleh sasindo 2010. sebuah pentas drama yang merupakan puncak penilaian dalam mata kuliah pengkajian drama indonesia di semester 3. ada ulasan khusus untuk pentas kalian malam ini.

jadi, awalnya di tangga itu cuma ada saya, achmad, dan mas erwin. tidak ada obrolan khusus di antara kami sampai akhirnya mas pandu keluar dari ruang teater. "mas pandu", sapa saya. dia balik menyapa sambil kami tersenyum. tapi sontak ekspresi senyumnya berubah menjadi tawa antara geli dan kaget ketika mas erwin menyapanya. hha, mereka ini sesepuh kami yang sedang ada di penghujung masa aktif kuliah. sebentar mereka saling sapa dan meledek. "pokoknya kamu harus kejar lulus, win", kata mas pandu. saya hanya tertawa dalam hati. bagaimana tidak, ia menasihati orang yang sedang mengalami nasib yang sama dengan dirinya. jadi kata-kata itu lebih sebagai guyonan saja di telinga saya.

bagi saya, tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan pada mereka yang telah ada di penghujung usia kemahasiswaan. mengurus skripsi atau tidak, lulus atau tidak, itu urusan masing-masing, karena setiap orang telah memiliki jalan hidup masing-masing. jika memang mereka telah menemukan kehidupan (yang ternyata mengganggu kuliah), justru itu baik. mas erwin juga bilang bahwa orang yang telah menemukan kehidupannya, dalam hal ini ia mencontohkan mas pandu yang telah nyaman dengan kepenyairannya (dan iapun nampak total menjalani ini), justru lebih baik dari yang hanya mengiris skripsi dan belum tahu akan melakukan apa setelahnya. tapi, jika kembali pada hakikat skripsi yang hanya berupa tulisan, rasanya 'sayang' jika sampai skripsi tidak diurus. menulis skripsi itu sebentar, yang lama adalah mengumpulkan bahan. dan dari beberapa orang yang saya temukan, kendala yang mereka hadapi adalah bukan karena tidak tau akan menulis apa, tetapi karena terlalu banyaknya referensi di kepala yang akhirnya membuat mereka sulit untuk memilah mana yang akan dituangkan dalam tulisan.

mas pandu, mahasiswa senior di fakultas ilmu budaya undip yang kepenyairannya sudah sampai di mana-mana, antologinya sudah beberapa, tiba-tiba membuka topik mengenai bakal antologi puisi yang beberapa bulan lalu saya titipkan untuk diberik kritik (komentar). tetapi karena saya sempat juga menyebutkan kata endorsment, dia mengira saya akan menerbitkan antologi tersebut. memang, saya ada rencana untuk menerbitkan puisi yang saya kumpulkan selama 2009-2011 itu, tapi sepertinya tidak untuk waktu dekat.

alasan saya hanya satu, saya belum yakin dengan apa yang saya tulis. kenapa saya menitipkan draft antologi itu ke beberapa orang seperti Pak Hermintoyo, Galih Pandu Adi, Adi Hariadi, Guri Ridola dan Yori Kayama, itu sebenarnya bukan untuk meminta endorsment (kalo mas pandu bilang, endorsment adalah pengesahan). jujur, niat awal saya adalah meminta kritik, komentar dari serbagai sisi yang nantinya bisa saya gunakan sebagai pertimbangan apakah bakal antologi tersebut akan saya terbitkan atau tidak. sementara setiap kali  bertemu mas pandu selalu bertanya, "kapan akan diterbitkan?", begitu juga achmad. saya hanya tersenyum menjawabnya.

menerbitkan sebuah buku bukanlah perkara sulit, sepertinya. apalagi hanya sebuah antologi puisi. asalkan mempunyai modal untuk biaya cetak dan launching, selesai. sebab antologi puisi tidak bisa disamakan dengan buku-buku yang dijual di toko. seperti yang juga dikatakan mas pandu, antologi puisi itu gak laku di toko buku. jadi, cetak sendiri jual sendiri. untuk modal, kalau memang sudah ada tekad, menabung beberapa bulan rasanya sudah bisa untyk mengatasi masalah biaya. tetapi, masalah saya adalah, saya ulangi, saya belum begitu percaya diri dengan karya-karya tersebut. jadi, kritik dan komentar yang saya pesan dari beberapa nama tadi menjadi penting bagi saya. karena saya bukan penyair, saya hanya menulis. tell is a need, write is alife. so never ending ur live with do nothing
tapi tetep, terima kasih banyak untuk semua pertanyaan dan semangatnya, hhe. semogalah bisa segera terbit, amin.

Kamis, 22 Desember 2011

ibu dan jejak-jejak sungai

"kau punya ibu?"
pertanyaan itu sontak membuatnya lupa. ia lupa segala kejadian beberapa detik setalah mendengar kata itu.
"kau punya ibu?" pertanyaan yang belum sempat dijawab itu justru ia tanyakan balik pada yang bertanya.
"kau?", suara lain timbul entah dari mana "mana ibumu?", lanjutnya.
"ibumu mana?", lagi-lagi muncul suara.

***
hujan belum juga tiba. padahal sudah sejak setahun lalu ia merelakan diri duduk di tepi sungai yang kering karena kemarau yang nyaris mematikan kehidupan. ia tak pernah beranjak dari duduknya. hanya pikiran-pikiran tak berujung yang berhamburan di kepala.
"ibu mana?"
kekagetan membuat lamunannya pecah, ada yang tumpah dari sana.
setetes, dua tetes, tiga, empat, dan seterusnya.
"ibu?", matanya telah basah. di antara dua kubu di kelopaknya, ada aliran yang membentuk jalan. ia mulai menapaki jalan itu, mengingat sampai di mana tadi ia berpikir.
"ibu?"
di setiap jejak yang ia tinggalkan, suara itu menggambar diri. sementara ia terus berjalan memandu alitran menuju sungai.
ibu
    ibu
          ibu
sejenak ia berhenti, itu membuat aliran terpaksa mendahului langkahnya.
ia berbalik ke belakang, matanya berhamburan mencari sesuatu.
"ada banyak sekali yang kutinggalkan"
aliran telah sampai di sungai, sementara ia masih juga diam. di antara dua kubu di kelopaknya, ada sungai yang kini telah kembali. di sana ada jejak-jejak yang menggambar diri.

kafe senja, 22 desember 2011
"selamat hari ibu, mak. jejak dan sungai adalah hidup yang akan mematikan jika mereka tak kau bingkaikan untukku"

lemari

pagi masih terlalu dini. beberapa angin bahkan baru keluar dari pepatnya. tak ada yang mempu bersuara selain sunyi, hati. di balik kekemrungsungan yang terinjak-injak oleh waktu, setiap apa yang muncul di kepala, semuanya menjadi batu.
"apa yang kau pikirkan?", diremahnya ingatan itu.
waktu adalah tiran, itu yang ia dengar dari seseorang. terkadang ia ingin berlari melompati satu dari sekian fase yang rasanya menyakitkan. ada hal-hal yang rasanya begitu memuakkan sampai-sampai menjalaninya adalah pesakitan.
"berhentilah berdatangan!", matanya mulai membelalak di depan cermin sebuah lemari.
ia benci mengingat. apalagi mengingat kepedihan.
baginya penyesalan adalah jamban. tempat membuang segalanya yang tak indah. secara otomatis ia menyadari bahwa apa yang ia masukkan ke dalam sana akan bermanfaat pada tahap lain yang ia tak perlu tahu.
"tapi kamu tak butuh jamban!"
"DIAM!" sergahnya kemudian.
tiba-tiba ponselnya berdering samar. fokusnya pecah. ia mencari-cari dsumber suara yang sebenarnya telah lama dinantikan.
KREEK. suara pintu lemari terbuka, ponselnya tergeletak di sana.

di dalam lemari, tak ada lagi suara, dan segalanya mulai meyusun kematian sendiri-sendiri



kafe senja, desember 2011



Rabu, 21 Desember 2011

prolog sebuah epilog

tak ada yang lebih menyiksa
dari pagi yang kehilangan bulan tba-tiba
kehilangan cahaya
dari 2 kedalaman mata
keteduhan telah buyar, tertelan mendung yang kesepian
mari kini nantikan saja hujan
yang pelan-pelan akan hapuskan pagi
tenpa jejak tapi ingatan
yang melukai
kemudian sembunyi ke dalam lemari

kafe senja, desember 2011

epilog pagi

lama
cukup bahkan terlalu lama bulan di pekarngan pucat
tak bicara apalagi bulat
ia pecah menyambut  pagi
matamu yang selalu basah oleh rindu
dan petang terlalu cepat kembali
semogalah malam tak pernah datang
agar pagi tetap bertahan di sini

kafe senja, desember 2011

Jumat, 16 Desember 2011

sunyi, kau

pagi dan keteduhan matamu
adalah malam yang kini selalu luruh
dalam sekat-sekat ingatan
menggambar diri mengulas senyum sendiri
sunyi, kerap menjadi jendela yang membukakan bulan
bulan di bingkai wajahmu
ketika malam tiba dan mengetuk jendela kamar
mungkin ini rindu
di ketiadaan yang kini justru berbalik menjadi ada
kau memang sunyi yang kini selalu memaksaku hening
pada sketsa kita yang baru dimulai

kafe senja, desember 2011