Laman

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Juli 2014

Memuseumkan Museumkah Kita?

Kecurigaan saya mencuat saat membaca pengakuan jujur Karina Lin mengenai pengetahuan minimnya atas kota kelahiran di kolom opini berjudul “Stagnasi Pariwisata Kota Kita”. Bagaimana jika ternyata hal serupa terjadi juga pada banyak warga Lampung yang lain. Lahir dan besar di sini, tapi mendadak ‘malu’ menjawab destinasi wisata apa saja yang cukup prestise disebutkan saat ada teman yang akan berkunjung ke Lampung.
Ada memang yang ketenarannya sudah sampai ke pulau Jawa sana. Sebutlah Teluk Kiluan yang bangga dengan Dolphinnya. Sayangnya, lokasinya jauh dari pusat kota dan akses yang memprihatinkan pula. Hal itu mungkin bisa menarik wisatawan untuk hadir. Tapi bisakah menjamin mereka tak menyesal dan menyimpan kesan buruk hingga tak lagi mau datang.
Tentu, pengetahuan memang sangat mungkin ditemukan bila dicari. Hanya saja, berlebihankah jika saya katakan bahwa promosi budaya dan wisata lokal oleh pemerintah terutama sektor pariwisata di kota ini terbilang minim? Ingatan saya melompat pada kunjungan bersama rombongan SDN 4 Pardasuka ke museum negeri Lampung beberapa hari lalu. Melihat kebahagiaan di wajah para siswa SD yang baru pertama kali masuk ke dalam museum membuat saya berharap semoga saja kunjungan itu hanya perkara “wrong timing”. Saat di mana pihak pengelola memang bukan sedang dalam agenda konservasi.
Memasuki gedung megah dua lantai yang bernama Museum Ruwa Jurai itu, pengunjung yang tak didampingi pemandu akan langsung tertarik untuk naik ke lantai dua melalui tangga yang ada. Di sayap kanan ini, sebuah blok berisi sampan atau perahu kecil dipajang di tengah ruangan. Ukurannya cukup besar untuk menarik perhatian. Di badannya ada beberapa gerabah keperluan hidup sehari-hari. Juga sebuah patung kecil menyerupai manusia yang sedang duduk melaut. Sangat disayangkan, ketika didekati lebih rekat, benda itu tampak berdebu dengan sawang yang kentara seolah merupakan garnis yang sengaja dipajang untuk juga dipamerkan. Posisinya yang tepat di tengah ruangan di mana pusat cahaya berada, menjadikan debu yang tak sekadar kesan itu bisa terlihat jelas.
Beranjak dari benda itu, saya berjalan melihat koleksi dinding beretalase yang antara lain berisi koleksi kain tenun dan pakaian pengantin khas Lampung. Rasa tak nyaman tadi saya coba lupakan dengan memperhatikan etalase dinding yang dipajang mengitari seluruh ruangan lantai dua. Tapi justru perasaan miris muncul saat mendapati kainkain tenun tak lagi berwarna cerah, atau memang dasarnya sudah berwarna kusam sejak awal?
Ketaknyamanan mata yang bermula dari perahu tadi makin menjadi saat kemudian saya turun melihat koleksi lain di ruang sebelah kiri lantai satu. Tak hanya debu dan sawang, kayu juga mulai tampak rapuh dengan bubuk yang bertabur di antara koleksi hewan-hewan awetan dalam ruang kaca. Tiga hal tadi membuat saya berpikir sedang ada di museum atau gudang. Saya membayangkan, jika kondisi seperti itu dibiarkan dalam 5-10 tahun ke depan, akankah museum ini masih punya koleksi yang sama.
Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (http://elib.unikom.ac.id/).
Apabila koleksi yang ada di museum hanya disimpan tanpa dirawat, bagaimana mungkin pemanfaatannya bisa dilakukan. Jika sudah seperti itu kondisinya, ke mana lagi harus menyimpan benda-benda lawas seperti misalnya naskah-naskah kuno yang baru dipulangkan dari Leiden misalnya. Jangan salahkan warga jika tak rela naskahnya diambil alih pemerintah.
Tentu dengan tidak menafikan hal positif yang telah diupayakan oleh pihak pengelola Museum Ruwa Jurai di antaranya membuat Katalog Topeng Lampung, serta mencetak dan membagikan hasil penelitian berupa transkrip dan transliterasi Buku Kulit Kayu. Saya yakin pihak pengelola museum jauh lebih tahu tindakan apa saja yang seharusnya mereka lakukan.


Sebagai masyarakat, saya hanya mengamati kemudian menyampaikan apa yang sekiranya janggal dan membahayakan peradaban budaya Lampung khususnya. Kecuali bila provinsi ini rela Museum Ruwa Jurai menjadi “benda museum” yang memang sudah langka dan berangsur hanya pantas sebagai pajangan di kota Bandar Lampung karena kondisi koleksi yang tak terawat secara maksimal.

Minggu, 22 Juni 2014

“Acuh” Tak Berarti “Abai”


Sebagian orang beranggapan bahwa mempelajari bahasa Indonesia itu mudah. Padahal bagi mereka yang memang menggeluti bidang bahasa, sebaliknya. Bahasa Indonesia menjadi rumit sebab ilmu ini selalu mengalami perkembangan sebagaimana umumnya ilmu-ilmu sosial. Beberapa bagian yang terkenai di antaranya adalah pengertian suatu istilah yang bergelut dengan ameliorasi (peningkatan nilai makna) dan peyorasi (penurunan nilai makna), masalah peluluhan dan sampai bertambahnya kosakata baru yang mengecoh para pengguna bahasa. Ironisnya, meskipun hampir tiap tahun ada perubahan pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), masih ada saja yang salah paham terhadap kata-kata umum yang sudah sering digunakan. Contoh sederhananya dapat diambil dari salah satu lagu yang cukup terkenal berjudul “Lumpuhkan Ingatanku”. Di dalamnya terdapat bagian lirik yang berbunyi berikut:  Di sini kucoba untuk bertahan ungkapkan semua yang kurasakan. Kau acuhkan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku.
Berdasarkan KBBI, kata “acuh” berarti peduli; mengindahkan. Singkatnya, kata ini mengandung nilai positif. Tapi jika diperhatikan, dalam untaian lirik lagu Geisha tersebut, kata “acuh” menjadi rancu disandingkan dengan kata “diam” dan “tinggal”. Kau acuhkan aku bermakna kau pedulikan aku. Disusul dengan kalimat Kau diamkan aku, Kau tinggalkan aku. Pun, bila memang kata “acuh” dalam lirik tersebut memang diniatkan untuk mengatakan suatu kepositifan agar makin terasa kepedihannya—setelah dipedulikan tiba-tiba didiamkan dan ditinggalkan—artinya bukan salah kaprah, maka ia merupakan satu-satunya kalimat positif di antara semua pernyataan negatif. Silakan perhatikan lirik lainnya. Jangan sembunyi. Kumohon padamu jangan sembunyi. Sembunyi dari apa yang terjadi. Tak seharusnya hatimu kau kunci. Bertanya, cobalah bertanya pada semua. Di sini kucoba untuk bertahan. Ungkapkan semua yang kurasakan. Kau acuhkan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku. Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia. Hapuskan memoriku tentangnya. Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia. Kuingin kulupakannya.
Secara terus-menerus pernyataan si “aku” lirik adalah sifatnya negatif, kecewa. Saya pikir akan lebih sinkron seandainya kata acuh diganti dengan kata “abai” yang sudah jelas-jelas menurut KBBI berarti “tidak peduli”. Sehingga akan menjadi seperti ini Kau abaikan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku. Lengkaplah duka itu. Tentu saja analisis ini diluar konteks licencia poetica yang membebaskan penulis melakukan hal apapun terhadap bahasa demi mencapai tujuan tertentu atas puisi atau liriknya.  Hal serupa juga terjadi pada salah satu lagu Syahrini bertajuk “Cinta tapi Gengsi” yang liriknya berbunyi demikian ini Kau di mana kau berada saat aku membutuhkan dirimu kamu acuhkan diriku. Jangan tanya oh mengapa oh kenapa kupergi tinggalkan dirimu dst.
Selain dua kata di atas yaitu abai dan acuh, satu lagi yang kerap mengganjal telinga saya adalah ketika mendengar kesalahkaprahan orang-orang menyebut kata “geming” atau “bergeming”. Bergeming yang kata dasarnya geming adalah suatu verba yang berarti tidak bergerak sedikit juga; diam saja. Contoh penggunaannya adalah Aku bergeming saat mendengar kalimat terakhirnya. Demi mengejar cita-citanya, ia harus melanjutkan pendidikan di luar negeri dan meninggalkanku sendiri. Entahlah, aku tak mampu bahkan untuk sekadar mengucapkan selamat jalan padanya. Di tengah geliat bahasa Indonesia yang kini mulai menjangkau kancah dunia, ada baiknya sebagai pewaris dan pengguna bisa lebih berupaya untuk berbahasa Indonesia secara serius. Bukalah kamus jika memang ragu mengenai makna suatu kata atau istilah. Jangan sampai karena terlalu acuh pada kemampuan berbahasa internasional, tanpa sadar terabaikanlah bahasa nasionalnya.

Minggu, 06 April 2014

Pertanyaan yang Entah Kepada Siapa

*Jrengjreeeng, Mbak Lin, tulisan ini rasanya kayak tonjokkan ke saya sendiri. Apalagi waktu itu di bagian akhir saya mengajukan pertanyaan yang sebetulnya saya pun gak tahu pertanyaan itu ditujukan ke siapa O:
Tapi, lagilagi opini Mbak memberi penjelasan tambahan pada opini saya sebelumnya: "Secara garis besar, saya setuju dengan semua pendapat para penulis. Kita memang memerlukan berdirinya suatu FIB di PTN Lampung karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dus, kita perlu juga memikirkan bagaimanakah blueprint FIB idaman kita ini. Mau yang bagaimana, apa-apa saja. Ya, semua itu patut dicetakbirukan dulu supaya apabila FIB sungguh terwujudkan—FIB tersebut mampu mengejawantahkan seluruh harapan yang telah kita tanamkan kepadanya."

Opini | Lampung Post, Sabtu, 5 April 2014

Menakar Peluang FIB di Unila
Karina Lin
Pengamat sosial-budaya, tinggal di Bandar Lampung

MENARIK dan seru! Itulah kesan yang saya tangkap ketika mencermati rubrik opini di surat kabar Lampung Post yang bertemakan wacana mendesak pendirian fakultas ilmu budaya (FIB) di Universitas Lampung (Unila). 

Dalam sebulan ini, tiga opini yang bertemakan mendesak pendirian FIB di Unila ditampilkan di Lampung Post. Artikel opini ini ditulis Hardi Hamzah (3/3), Dina Amalia Susamto (15/3), dan Destaayu Wulandari (20/3).

Secara garis besar, saya setuju dengan semua pendapat para penulis. Kita memang memerlukan berdirinya suatu FIB di PTN Lampung karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dus, kita perlu juga memikirkan bagaimanakah blueprint FIB idaman kita ini. Mau yang bagaimana, apa-apa saja. Ya, semua itu patut dicetakbirukan dulu supaya apabila FIB sungguh terwujudkan—FIB tersebut mampu mengejawantahkan seluruh harapan yang telah kita tanamkan kepadanya.

Satu hal lagi yang tak boleh luput, yakni mengenai peluang FIB tersebut sungguh-sungguh berdiri. Bagaimana dan seberapa besar peluang FIB berdiri di Unila? 

VdT sebagai Katalisator

Arman A.Z., seorang peminat sejarah kelampungan yang tinggal di sini, pernah menulis mengenai kamus bahasa Lampung karya Herman Neubronneer Van der Tuuk (Vdt). Kamus ini, kata Arman (Lampung Post, 19 Februari 2014), merupakan kamus bahasa Lampung pertama (tertua) untuk ukuran kebahasaan Lampung. Kamus ini selama satu setengah abad tersimpan baik di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan baru pada Februari 2014 lalulah kamus tersebut “dipulangkan.”

Jumat, 04 April 2014

Opini Tanggapan

Tulisan saya tempo hari yang bermula sebagai tanggapan atas opini seseorang sebelumnya, kini mendapat tanggapan dari orang lain.  Bang Andre Saputra, poin ini, saya suka dan ini sebetulnya yang ingin juga saya sampaikan dalam artikel sebelumnya. Walaupun masih jauh dari kata sempurna, senang rasanya mendapat tanggapan dan bahkan 'maksud'nya ditangkap dan diperjelas. Semoga apapa yang sudah dan akan lahir sebagai opini bisa makin mempermudah proses pelahirhadiran FIB di Lampung. Ini kalimatnya: "sehingga kebudayaan Lampung kelak di FIB menjadi kajian yang menarik bila dikomparasikan dengan budaya di luar Lampung

Opini | Lampung Post, Jumat, 4 April 2014

Harmonisasi Empiris dan Teoretis
Andre Saputra
Pengamat budaya, tinggal di Bandar Lampung

ANTISIPASI Destaayu Wulandari (Lampost, 20 Maret 2014) terhadap opini Hardi Hamzah, Urgensitas FIB di Unila (Lampost, 14 Maret 2014), sungguh menarik. Penulis menangkap, Hardi Hamzah lebih mendahulukan empiris, sedangkan Desta menekankan pada science. Keduanya tidak ada yang salah. Hardi tidak keliru karena ia melihat urgensitasnya, Desta lebih berhati-hati karena menginginkan epistemologi didahulukan, dan penulis anggap Desta lebih induktif pendekatannya.

Menurut hemat penulis, bila dosen yang diambil adalah mengutamakan empiris, ini semata karena Bung Hardi ingin FIB, berdiri sajalah dulu. Sementara Desta lebih melihatnya sebagai usaha membangun fondasi FIB, harus dengan kerangka dan sistem yang terencana dan teoretis. Penulis katakan keduanya tidak ada yang keliru, mengingat kalau merujuk ke Desta, bisa saja kita mendapatkan dosen terbang yang qualified.

Hardi ingin sesegera mungkin karena sulitnya mendapatkan dosen, walaupun hal ini sumir, penulis lebih ingin melihat adanya harmonisasi antara empiris dan epistemologi sains sosial. Artinya, kita mulai sajalah dulu, lalu formulanya akan terumus, dalam arti kalau sudah dimulai dengan dasar keberanian menafikan sarjana (baca S-1 empiris), kelak segala sesuatunya menyusul, seperti mendatangkan dosen tamu, dosen LB, dan lain lain yang keduanya bervisi sama, FIB segera saja dimulai.

Dalam konteks lain, secara substansial, penulis justru tertarik bila FIB didirikan, kelak FIB lebih memprioritaskan pada aspek antropologi budaya, meskipun tidak harus melupakan antropologi ragawi sebagai instrumen lampunologi. Toh, dulu pada dasawarsa 1980-an, UGM memasukkan Fakultas Antropologi di Fakultas Sastra. Ini artinya, sudut pandang atau subject matter-nya beresensi pada sosiologi perilaku, katakan demikian.

Tawaran antropologi budaya lebih diprioritaskan karena indikator budaya Lampung akan lebih impresif bila ada esensi pembuktian antropologi sehingga kebudayaan Lampung kelak di FIB menjadi kajian yang menarik bila dikomparasikan dengan budaya di luar Lampung.

Antropologi budaya juga simultan merespons usaha-usaha merekatkan antara, pencarian tentang fakta-fakta kelampungan, pun juga sebagai rujukan atau kompromi terhadap disparitas sosial Lampung yang multietnik. FIB kelak, menurut hemat penulis, mampu menjadi sentral kegiatan antarkebudayaan dan arkeolog dalam dimensi antropologi tadi.

Mengingat variabel budaya sebagai postulat ide cemerlang dan gagasan yang hidup serta kesejarahan yang bermakna perspektif. Oleh sebab itu, bila FIB menekankan pada antropologi sosial, selain tentu tidak menafikan ruh FIB yang mempunyai premis-premis dasar tersendiri.

Lebih lanjut, bila aksentuasi pada antropologi budaya, kelak kita akan sampai pada diskusi tentang, adakah peninggalan Lampung yang sophisticated, misalnya saja, misteri kerajaan Tulangbawang, tidak akan berhenti pada Megow Pak saja, tetapi FIB bisa menjadi penerang bagi pencarian nilai-nilai budaya dan kesejarahan.

Walaupun penulis memahami atau lebih tepatnya memaklumi, fakultas ilmu budaya adalah fakultas yang mengandung banyak variabel penting, baik secara teoretis, apalagi secara empiris. Harmonisasi antara teoretis dan empiris, seperti yang penulis ajukan di atas, semata-mata untuk mendorong kekuatan FIB dalam implementasinya karena tidak mungkin FIB Unila di tengah multietnik akan berada di ruang hampa.

Vacum space, hanya bisa terjadi bila, pertama, FIB hanya mengkristalkan teori. Kedua, bila dosennya merupakan dosen sisa, dalam arti FIB mendapatkan dosen S-2, tetapi energinya sudah terkuras di tempat lain, ini soal administratif tersendiri.

Namun, kalau FIB mau tidak mau akan mengalami hal di atas, tentu FIB membutuhkan stimulasi empiris dari staf pengajarnya. Emha, misalnya, budayawan yang hanya empat bulan di Fakultas Ekonomi UGM itu, mumpuni sekali untuk mengisi ruang hampa itu, selain yang telah disebut Hardi Hamzah pada opininya.

Ekslarasi berdirinya FIB, seyogianya tidak terjebak pada pemikiran birokrat atau menara gadingnya kampus, tetapi cobalah, semangatnya lebih praksis tanpa harus meninggalkan kaidah dan hakikat dasar berdirinya FIB. Ini ingin penulis tekankan, mengingat sering kita terperangkap dengan birokrasi, administrasi, dan yang lainnya sehingga FIB bisa saja sampai sepuluh tahun lagi tidak berdiri, ini tentu tidak kita harapkan.

Penulis menyadari, dua opini Hardi Hamzah dan Destaayu Wulandari merupakan respons positif, tetapi lebih patut disadari lagi mengaktualisasikan FIB setelah berdiri di dalamnya harus ada rajutan-rajutan pemikiran esensial, baik tentang kelampungan itu sendiri maupun kepiawaian dosennya untuk masuk ke suasana kebatinan multietnik, sehingga dinamika yang ada di FIB kelak mampu mengembangkan realitas sosial yang ada.

Minggu, 23 Maret 2014

FIB BERBASIS EMPIRISME?

Opini | Lampung Post, Kamis, 20 Maret 2014 | Halaman 12

FIB Berbasis Empirisme?
Destaayu Wulandari
Alumnus FIB Universitas Diponegoro

DAHI saya berkerut kala membaca opini Lampung Post, 13 Maret 2014 bertajuk Urgensi FIB di Unila. Setidaknya dua hal saya garis bawahi dari tulisan tersebut. Sekilas, kedua gagasan yang dimaksud bukan masalah dan bahkan menjadi pemantik tambahan yang tersampaikan kepada masyarakat—selain diskusi-diskusi terkait yang tidak terpublikasi—demi terwujudnya rencana besar untuk masa depan budaya di Lampung ini. Namun, setelah dikaji lagi, ada hal-hal implisit yang menurut saya perlu untuk diperhatikan.
Pertama, rencana pewujudan yang cenderung lebih mengutamakan nilai-nilai empiris melalui fakultas ilmu budaya (FIB) yang kelak akan didirikan di Universitas Lampung (Unila). Kedua, pengerucutan fungsi yang secara tidak langsung dapat memicu disintegrasi dengan FIB di universitas lain yang lebih dulu ada di Indonesia.

Pada poin pertama, dalam artikel itu peran FIB secara teoretis memang tetap disebut dengan cakupan tepat menyentuh kemasyarakatan dan kemultietnikan budaya setempat. Akan tetapi, setelahnya lebih ditonjolkan paparan yang menimbulkan kesan pengabaian terhadap latar belakang keilmuan bakal dosen yang nantinya mengajar di FIB. Secara jelas disampaikan staf pengajar tidak harus lulusan magister apalagi doktor.
Ada hal yang tendesius saat kemudian penulisnya menunjuk beberapa nama tokoh seniman dan budayawan Lampung yang dianggap mumpuni untuk menduduki posisi dosen. Pada bagian ini, tentu saya bukan menolak ide tersebut, melainkan bermaksud melengkapinya. Kualitas sosok yang direkomendasikan memang tidak perlu diragukan. Mereka telah memiliki prestasi dan pengalaman yang jarang dimiliki masyarakat Lampung, termasuk bila nanti dimunculkan tokoh lain yang serupa. Beberapa sosok yang kapasitasnya dianggap mumpuni itu perlu, utamanya untuk mata kuliah yang sifatnya praktikal.

Sebut saja, sebagai contoh, Penulisan Kreatif, Dramaturgi (teater), serta Transliterasi Naskah pada Subjek Filologi adalah beberapa mata kuliah di FIB yang perlu staf ahli lapangan. Kehadiran mereka tentu penting di satu bagian. Pula, jangan sampai lupa ada bagian lain, yaitu teori yang juga harus diampu oleh ahlinya.

Apalagi Lampung merupakan peserta dalam ajang sastra Rancage. Oleh sebab itu, dengan memahami teori kritik sastra, karya-karya sastra berbahasa Lampung yang telah ada akan bisa dikritisi oleh para mahasiswa yang menaruh minat pada sastra Lampung secara khusus atau sastra secara umum yang ditulis oleh orang Lampung atau bukan orang Lampung. Ke depan, perolehan penghargaan sastra dari yayasan yang diketuai oleh Ajip Rosidi itu tidak lagi minimal dengan adanya kritik yang membangun.

Penekanannya, isu kesulitan (jika memang benar sulit) memperoleh staf pengajar sebaiknya tidak lantas disederhanakan sedemikian itu. Jangan sampai kabar baik bagi pegiat sastra dan budaya di Lampung justru menjadi barang antik yang aksesibilitasnya terbatas.

Semangat empirisme yang diusung dalam artikel tersebut ada baiknya tidak ditelan apa adanya. Bukankah tidak buruk merekrut yang bukan masyarakat Lampung seandainya sungguh tidak ada sama sekali di provinsi ini. Sarjana, magister, dan doktor yang memiliki latar belakang ilmu sastra atau humaniora tetap merupakan hal fundamental bagi fakultas yang masih dalam rencana pendirian itu.

Link and Mach

Selain semangat empirisme, pada poin kedua dibubuhkan pula semangat disintegrasi. Sebagai pembanding, Unversitas Gadjah Mada (Yogyakarta) mendirikan FIB pada 1946, Universitas Diponegoro (Semarang) 1965, Universitas Andalas (Padang) 1982, dan Universitas Airlangga (Surabaya) 1998.

Ingin tampil beda dengan FIB lain, sudahkah terpikirkan risiko yang muncul kemudian. Misalnya, dengan hanya mengandalkan tenaga dari intelektual berbasis empiris, mampukah nantinya FIB di Lampung menjalin kerja sama dengan para pendahulunya itu, yang meskipun concern-nya pada kebudayaan daerah, yaitu Jawa, tetapi juga mengutamakan kematangan pendidikan para pengajarnya.

Link and match yang saya pahami sebagai upaya awal untuk menyerap dasar-dasar pendirian FIB, bisa sekaligus dimanfaatkan untuk menatar para calon dosen yang berpengetahuan umum menjadi berpengetahuan khusus mengenai kelampungan, misalnya, aksara kaganga. Terlebih, hal mengenai guru bahasa Lampung yang nyaris kehilangan posisi, agaknya bisa dijawab dengan tercetusnya ide pendirian FIB. Ditambah lagi, sebelumnya LPPM IAIN Raden Intan Lampung telah memulai workshop mengenai manuskrip Lampung.

Perlu diingat gagasan perlunya pendirian FIB di Lampung ini bermula dari dikembalikannya naskah-naskah kuno yang semula disimpan oleh pihak Belanda. Jadi, saya pikir semangat yang ditularkan oleh pihak Erasmus harus diteruskan selurus-lurusnya, dengan mengutamakan penelitian atas naskah yang ada agar peradaban masa lalu Kota Siger ini terungkap, serta ada kesatuan visi dari semua pihak terkait.
Akhirnya, saya ingin mempertanyakan ke arah mana FIB ini akan dibawa. Apakah FIB yang berbasis ilmu murni atau pendidikan. Jangan sampai nantinya terjadi tumpang tindih antara FIB yang umumnya di dalamnya termasuk program sastra dengan FKIP Bahasa Indonesia yang berbasis keguruan.

Perlu ada pemisahan yang jelas di antara keduanya. Bila hanya mengkerdilkan FIB dengan fungsi empiris, tidak perlu sampai membangun fakultas baru. Gabungkan saja ke fakultas yang sudah ada dalam subjek peminatan baru. Sebab, ada perbedaan antara budaya sebagai ilmu dan budaya sebagai warisan


Senin, 27 Januari 2014

Menulis (untuk) Memenangkan Sejarah

Lampung Tumbai edisi keempat di Koran Lampost akhirnya terbit. Sudah saya baca sekalian saya gunting bagian itu dengan maksud untuk dibuat klipping. Tapi agak berbeda, kali ini untuk pertama kalinya seorang kawan di fb yang tak lain wartawan dari koran yang bersangkutan, untuk pertama kalinya menandai saya diartikel yang sama tapi versi digital. Jadi, saat menerima notification, saya sempat membaca beberapa komentar di sana. Satu yang menarik perhatian saya begini bunyinya:

"Tulisan ini sangat subyektif. Fakta-faktanya masih banyak yang harus dikoreksi. Orientalis seperti ini banyak bermunculan pada abad-abad ke-19. Tujuannya sengaja mengaburkan sejarah dan pecah belah. Bagi saya tulisan ini tidak layak dijadikan acuan sejarah. Paling tidak hanya untuk data pembanding."

Pada intinya, saya sepakat dengan kritik tersebut. Bahwa benar, di edisi berjudul "Lingkaran Setan di Lampung" kali ini (saya tidak yakin dia telah membaca tiga artikel edisi sebelumnya), taste yang muncul cenderung lebih subjektif dibandingkan tiga edisi terdahulu. Dan bahwa tulisan atau artikel-artikel tersebut memang sebaiknya dijadikan bahan pembanding saja. Tapi persoalannya, kembali pada curhatan saya sebelum ini. Masih terlalu minim sumber rujukan tentang Lampung yang bisa ditemui. Maka ketika ada seseorang yang mengaku penyuka sejarah dan berada dekat dengan manuskrip-manuskrip, apa salahnya coba openmind terhadap pendapatnya.

Selain itu, di tempat lain saya pernah menuliskan: "Menulis untuk diam-diam memenangkan, sejarah." Kenapa saya berkata demikian, sebab memang sejak dulu, catatan sejarah adalah produk dari "pemenang sejarah" dan di balik tulisan-tulisan objektif, mustahil tak terkandung subjektivitas. Hanya saja kadarnya mungkin dikonsep sedemikian rupa agar yang menonjol adalah sisi objektifnya. Dengan menulis, setidaknya seseorang akan bisa memenangkan sejarah hidupnya sendiri. Ingat, "scripta manen verba voilant".

Jadi, apapun tujuan politis di belakang penerbitan artikel pekanan mengenai Lampung tempo dulu itu, saya tetap mengapresiasi usaha pihak-pihak terkait untuk menyodorkan kepada para pencari catatan sejarah untuk bisa memeroleh bahan-bahan pembanding. Sekali lagi, tak ada hal yang benar-benar objektif apalagi mutlak benar. Pembaca yang baik akan selalu berusaha menelusuri celah-celah yang memungkinkan dari suatu argumen. Dan artikel pekanan ini akan bermanfaat untuk menyusuri lebih jauh jejak sejarah Tano Lado yang sejauh ini jelas masih miskin data. Perkara si penulis "dibayar" atau punya niatan buruk terhadap sejarah Lampung, itu kembali lagi pada tiap-tiap orang adakah tindakan lanjutan, mungkin dengan membaca langsung buku-buku rujukannya. Apalagi baru-baru ini sebuah situs web mengabarkan bahwa Belanda telah mengembalikan (atas usaha seorang akademisi UI) sekitar 12.000 naskah Indonesia.


Rabu, 16 Oktober 2013

Seni untuk?

Dengan itulah, menurut Plekhanov, Pushkin merumuskan sikapnya yang menegaskan “seni [adalah] untuk seni.” Seni bukan untuk tujuan apapun selain sebagai nyanyi.
Bukan, bukan buat gairah dunia,
Bukan untuk kerakusan ataupun perjuangan,
Tapi untuk inspirasi, untuk doa
dan merdunya nyanyi, penyair datang 
Saya bukan penganut "Seni untuk seni" ataupun "seni untuk rakyat". Entah tindakan saya untuk tetap bersifat netral dari kedua kubu masa lalu itu tepat atau tidak, intinya di sini saya hanya ingin sedikit memberikan catatan bahwa sikap tegas Pushkin tersebut justru tidak tegas. Mungkin dia tidak sadar, atau ada konteks tersembunyi yang belum saya ketahui dari kontrasnya ketegasan itu. 
Bahwa seni bukan untuk tujuan apapun --> tapi untuk inspirasi, untuk doa, dan merdunya nyanyi...

Senin, 28 Januari 2013

"Koruptor" Menggugat

... tidak tepat jika kita dijadikan lambang koruptor. Ini pelecehan yang tak bisa terus-menerus kita biarkan. Harkat dan martabat kita sebagai makhluk Tuhan jelas lebih tinggi daripada koruptor.

Korupsi, tindak pidana yang satu ini memang tampak kian lekat dengan citra para pejabat negara khususnya Indonesia. Tentu bukan hal baru. Setidaknya aroma busuk ini terendus kuat pasca lengsernya rezim yang dikenal sebagai pemberedel media massa bertahun-tahun silam.

Lalu ingatkah sejak kapan para pelaku korupsi tersebut mulai mendapat julukan khusus yaitu  tikus? Bahkan, mantan penyanyi jalanan, Iwan Fals pernah membuat lagu “Tikus-tikus Kantor” bagi para pencuri berdasi itu. Pernahkah terpikir, di sisi lain para ‘tikus’ mengajukan protes atas kesewenang-wenangan penggunaan nama mereka untuk menjuluki tindakan kotor para koruptor?


Budi Maryono telah memikirkan hal itu. Di dalam kumpulan cerpen (kumcer) Semar Yes, Budi membuat anekdot melalui salah satu cerpen bertajuk “Lambang”. Diceritakan olehnya bagaimana para hewan pengerat--tikus, curut—mengadakan suatu pertemuan untuk menyusun rencana menuntut pembersihan nama baik bangsa mereka. Persis seperti ketika manusia mengadakan rapat untuk membahas suatu masalah bangsa. Namun tentu saja dari sudut pandang para tikus.

Meskipun tema cukup serius, namun kesederhanaan diksi dan dialog menjadikan “Lambang” begitu ringan untuk dibaca. Selain “Lambang” yang memaparkan sudut pandang tikus, Semar Yes juga menyuguhkan “Satria” yang menjadi pembuka istimewa dengan lagi-lagi memandang suatu hal dari sudut pandang berbeda mengenai seorang veteran.

Dilanjutkan dengan cerita tentang bagaimana seorang Bapak diprotes oleh seluruh anggota keluarganya lantaran menutup semua akses informasi hanya karena muak melihat komentar tentang berbagai hal di negaranya. Dalam cerpen “Mual”, Bapak tersebut secara sepihak menjual TV serta berhenti berlangganan koran dan majalah.

Semar Yes sebenarnya adalah judul dari cerpen penutup dalam kumcer yang berisi sepuluh cerpen yang hampir keseluruhannya mengajak pembaca menyimak suatu peristiwa dari sudut pandang berbeda. Dengan demikian, pembaca akan mampu untuk lebih bijaksana dan tidak terbawa arus pemikiran yang sebetulnya belum mutlak benar. Sebagaimana perilaku tokoh Semar dalam cerpen “Semar Yes”.  Tokoh yang selama ini dianggap sebagai penuntun itu justru dibuat tersenyum saat menyaksikan keadaan kacau-balau karena seorang dalang kebingungan mencari di mana keberadaanya.***

Sabtu, 22 Desember 2012

Ketika Melupakan Harus dengan Menemukan



Di suatu pemberhentian dalam jalan hidup manusia
Seorang laki-laki turun dari kereta. Ia kemudian bersandar di pagar pembatas menunggu kereta selanjutnya. Langit tampak kemerahan. Mata laki-laki itu memperhatikan sekitar. Ada orang lalu-lalang, pengamen membenahi gitar dan seorang perempuan berkaca mata di seberang. Keesokan harinya kejadian yang sama terulang. Bedanya, ia menemukan potongan kertas bertuliskan “Lupakan”.
Di hari yang lain, saat sedang menunggu kereta laki-laki itu melihat perempuan berkacamata tengah bertengkar dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah dirinya. Mereka berpisah berlawanan arah. Laki-laki itu memperhatikan perempuan berkaca mata yang bergegas pergi dengan kemarahan. Tampaknya pria itu tak menyadari bahwa perempuan lain justru sedang memperhatikan dirinya.
Bukanlah tanpa kesengajaan jika film pendek berdurasi sekitar limabelas menit ini dibuat tak berdialog sama sekali. Sebagai sutradara yang merangkap produser, editor sekaligus penulis naskah, Radian “Jawa” Kanugroho punya maksud tersendiri lewat film berjudul “Lupakan” ini.
Berlatar sebuah stasiun kereta, film ini hanya menyuguhkan potongan-potongan peristiwa yang dialami seorang laki-laki saat sedang menunggu kereta. Sepatah kata pun tak dimunculkan dari tiga orang yang ada. Hanya dengan ekspresi wajah dan gestur tubuh, penonton dibiarkan dan dipaksa untuk menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran para pemainnya.
Seni melupakan. Hal itulah yang mendominasi makna muatan dalam film ini. Banyak cara yang umumnya dilakukan orang untuk melupakan. Misalnya saat putus cinta, mereka akan membuang setiap benda bernilai kenangan. Selain itu bisa juga dengan pergi ke suatu tempat yang bisa menghindarkannya dari pertemuan-pertemuan tak sengaja dengan orang yang ingin dilupakan. Ada pula yang memaksakan diri agar tak memikirkan, tapi justru semakin teringat.
Seni melupakan yang ditawarkan Radian adalah dengan cara menemukan orang lain. Seperti yang dilakukan laki-laki penunggu kereta tersebut. Saat  menemukan orang lain yang siap untuk mengisi kekosongan hati, secara perlahan kenangan yang tersimpan dalam ingatan akan tersisih. Meskipun ingatan itu tidak benar-benar lenyap, tetapi ada proses laten yang terus mengikiskannya tanpa tekanan yang dipaksakan sebagaimana cara-cara umum melupakan sesuatu.
Banyak hal bisa dilupakan dengan cara ini. Saat kehilangan seseorang, kehilangan benda kesayangan, kehilangan kesempatan berharga, dan semacamnya. Yang jelas, melupakan bukanlah membuang atau melenyapkan sesuatu secara instan. Ada proses yang harus dijalani yaitu kesabaran. Sebab jika mau menyadari, kenangan—pahit atau manis—tercipta untuk hidup di dimensi tersendiri tanpa harus dipermasalahkan keberadaannya. ***

--Dibuat dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Penulisan Kolom.

Jumat, 23 Desember 2011

semarang kota dagang, bukan kota pelajar

2.48 wib
sejam yang lalu saya dibangunkan lagi. setelah melakukan beberapa hal penting, saya memutuskan untuk menunaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa. adalah hal biasa, jika dalam seminggu saya hanya punya waktu khusus untuk mengerjakan tugas hanya di akhir pekan, itupun kalau tidak ada agenda colongan (angcol: baca--> ancol). sebab hidup hanya sebaatas mengerjakan tugas kuliah sama dengan memulai kematian pelan-pelan. ini tidak berlebihan. mengapa? karena seusai kuliah saya sadar, bukan tugas-tugas semacam itu yang akan saya hadapi, melainkan bagaimana menjalin relasi dengan orang lain kemudian saling bersosialisasi melanjutkan kehidupan. yaa, itu sudah menjadi pilihan. jadi tidak masalah jika konsekuensinya saya harus sering kebut-kebutan di akhir pekan kejar-kejaran dengan deadline, antara tugas kuliah dan organisasi.


http://nasikucing.com/showthread.php?tid=4829
saya kuliah di semarang. sebuah kota yang pada awalnya saya pikir sama dengan kota Yogyakarta. maklum, sepanjang hidup saya habiskan di Lampung, sebuah propinsi di kawasan sumatra. saya tidak pernah tahu seperti apa semarang. yang saya tahu, semarang adalah kota besar di jawa tengah yang isinya adalah para mahasiswa yang belajar, KEREN, itu dugaan awal.


nyatanya, 2 tahun lebih saya menimba ilmu di kota ini, akhirnya saya sadar. semarang bukanlah kota pelajar seperti yang saya bayangkan. semarang adalah kota dagang. jadi wajar jika suasana semarang tak sekondusif yogya. bagi yang beberapa kali memasuki semarang-yogya, pasti bisa merasakan perbedaan iklim ini. ada yang bilang di yogya adalah gudang buku, segalanya ada di sana. 


namun demikian, tidak berarti kita tak bisa belajar di semarang. justru itu menjadi peluang besar bagi kita yang mampu membaca situasi. dosen sastra melayu tiong hoa saya, yang telah menyeleaikan studi s2nya di yogya  bilang: jadi, jika sedikit saja kita serius, kita akan menjadi yang paling menonjol di sini. maksudnya, kalau kita bisa mengambil peluang untuk serius belajar di kota dagang semacam ini, kita akan mudah dikenali, karena kita berbeda dari kebanyakan yang ada. 


bagi yang ingin melanjutkan kuliah di semarang, silahkan berpikir ulang. semarang-yogya hanya berjarak 3 jam, tapi suasana dua kota sejarah ini cukup signifikan perbedaannya. yogya memang sebuah kota yang akan langsung mampu menarik hati pengunjungnya, tidak seperti semarang yang sepertinya memang merintis diri untuk menjadi kota metropilitan semacam jakarta. yang saya maksud berpikir ulang adalah: jika kamu ingin serius (hanya) menuntut ilmu, sebaiknya pergilah ke yogya, di sana kamu akan menemukan surga pendidikan. tapi jika kamu termasuk orang yang menyukai tantangan, semarang adalah kota yang siap menjadi pembimbing!


tulisan ini hanyalah perspektif sempit dari saya yang memang pernah dan sedang merasakan dua kota di jawa tengah ini. terlepas dari adanya sebutan atau kota lain yang sekarang muncul mengusung tema yang sama. lain waktu jika sempat akan saya paparkan mengapa saya setuju bahawa semarang adalah kota dagang, setidaknya untuk informasi bagi yang belum mengetahui gambaran semarang

Sabtu, 11 Desember 2010

Kaliurang versi Semarang

sudah sejak beberapa hari lalu,suhu udara di Semarang tepatnya daerah Tembalang berubah drastis, dari yang biasanya diatas 30 derajat, turun dibawah 25 derajat dengan kisaran Suhu : 24 - 31 C
Kelembaban : 65 - 93 %. http://bmkg.go.id/hp/cuacan1.html

perubahan tersebut begitu terasa, apalagi hujan kerap turun jika sudah memasuki pukul 5 sore. Tembalang yang biasanya di setiap kamar kos selalu menyalakan kipas angin, hal ini tidak terjadi. bahkan gigi saya jadi kumat ngilu . weww :D. suasana Tembalang- Semarang, saat ini tidak ada bedanya dengan kawasan Kopeng dan Bandungan (Semarang) juga Kaliurang (Yogyakarta)

Minggu, 26 September 2010

------------------------- baling-baling puisi

Baling-baling Puisi

September 18, 2010 at 1:17am
 setiap orang punya caranya sendiri untuk menghibur dirinya, kalau saya, berpuisi, yaitu membaca (sekedar membaca; tanpa suara) dan menulis puisi .

tahu kenapa puisi bisa membantu saya menemukan titik titik ketenangan?
karena menurut saya, betapapun terkadang puisi nampak berlebihan dalam melemahlembutkan keadaan, (ada juga sih puisi yang diksinya malah lebih dari teriakan halilintar) pada hakikatnya, puisi lahir dari Hati, (dan tahukah kamu bahwa Allah kerap berbisik pada hati kita) walaupun terkadang ada pemilihan diksi yg kurang tepat, tetap saja itulah pilihan yang disetujui Hati u' kemudian dituliskan dalam larik.

oya .menilai puisi itu tidak bisa disamakan dg menilai narasi atau cerpen.
pada puisi ada baling-baling makna yang arahnya tak mungkin sanggup dihitung ketika ianya berhasil berputar dan menerbangkan imajinasi tiap pembaca .

pembuktian kecilnya,
pernahkah kamu membaca sebuah note, dan ketika sampai di bagian akhir kamu meng.klik LIKE, padahal tak sepenuhnya kamu memahami perdiksinya?
nah, itulah, sesuatu yg lahir dari hati insyaallah akan sampai pada hati juga.

jadi, tidaklah bijak jika memaknai puisi hanya dari satu sudut pandang, apalagi sampai menjudge, penulis ini itu atas tulisannya .

AKU KAMU DIA MEREKA, bahkan baru sebagian kecil dari subjek atau objek yang tersentil atas pemaknaanya, kenapa? karena benda mati pun bisa masuk kedalamnya.
puisi hanyalah representatif penulis atas apa yang ia lihat dan rasakan atas diri dan sekelilingnya ^^

Rabu, 25 Agustus 2010

================== twitter ala Indonesia



Ngomongin masalah situs jejaring sosial atau yang sering juga disebut social networking emang gak ada abisnya. Hampir setiap beberapa jangka waktu adaa aja yang baru. Mungkin sebagian besar orang-orang udah mengenal fesbuk, yang dulunya posisi ini didudukin sama  friendster (fs).
Menyusul keeksisan fesbuk, boominglah yang namanya twitter. Sebenernya bukan mana duluan yang dibuat, tapi mana duluan yang masuk dan mudah diakses sama penggunanyalah yang bikin suatu situs cepat berkembang di suatu komunitas.
Mungkin banyak yang gak menyangkalkan bahwa dibandingkan twitter, fesbuk memang lebih tren. Ini disebabkan kemudahan yang ditawarkan fesbuk serta banyaknya aplikasi-aplikasi tambahan yang dinilai bisa meningkatkan eksistensi seseorang, komunitas, pekerjaan, atau hanya sekedar games.
Belum lagi pudar eksistensi fesbuk, belakangan muncul satu produk baru dari Yahoo! Setelah sempat melucurkan berbagai produk seperti Y! messenger dan Y! Mail toh nyatanya keduanya dikalahkan sama fesbuk, akhirnya sebagian orang yang udah bosan sama fesbuk, akan cari suasana baru ke Y! Koprol.
Y! Koprol emang bener-bener unik. Penggunaaannya mudah. Pokoknya yang udah biasa sama fesbuk dan twitter bakal enjoy sama Y! koprol. Kenapa aku bilangnya Y! koprol adalah twitter ala Indonesia, soalnya beberapa fitur mirip sama di twitter. Di sana ada:
Follow dan mention. Tapi sebagai orang yang biasa-biasa aja, aku berani bilang bahwa ngoprol lebih fun daripada ngetwit, why? It’s some reasons:
Y! Koprol
Ø  Lebih banyak pilihan tempat, kita bisa pindah dari suatu komunitas ke komunitas lain, namanya check-in.
Ø  Kita gak perlu berteman sama seseorang untuk bisa komen, yang penting satu komunitas (misalnya sama-sama di Semarang atau Jakarta atau Jogja dsb) asalkan di pengaturannya kamu buat publik
Ø  Kesenjangan sosial gak terlalu kelihatan
Ø  Kalo dibanding sama twitter (yang katanya situs punya artis, secara ada follow”an trus kalo udah di follow gak mau folbek udah gitu di dashbor nya diliatin banget following dan follower nya, hadeeh) Y! koprol lebih bersahabat.
Ø  That’s why. Aku jarang ngetwit
Ø  Dan bahagia biasa kenal Y! Koprol. Disini aku bisa melarikan diri dari rutinitas fesbuk yang ituitu aja dan akhirnya kenal sama orang-orang gokil. (jujur, aku gak mau ketemu sama temen-temen fesbuk di koprol. Hhe piiis :)


Minggu, 22 Agustus 2010

========= ==== ===Salah kaprah dalam penggunaan kata

http://www.google.com/ huruf


Sebagian orang beranggapana bahwa mempelajari bahasa Indonesia tidak berbeda jauh dengan menggoreng tempe, padahal bagi mereka yang memang menggeluti bidang bahasa, sebaliknya. Bahasa Indonesia menjadi rumit sebab ilmu ini selalu mengalami perkembangan. Mulai dari pengertian suatu istilah, masalah imbuhan, peluluhan dan banyak lagi sampai bertambahnya kosakata baru.


Ironisnya, meskipun hampir tiap tahun ada perubahan pada KBBI (Kamus besar bahasa Indonesia), masih banyak sekali yang belum mengerti atau sekedar tahu makna dari suatu kata umum, padahal kata-kata itu sangat sering digunakan, ini sering dinamakan dengan salah kaprah.

Beberapa kata yang sering disalahgunakan adalah:
Acuh
Berdasarkan KBBI, kata acuh berarti peduli; mengindahkan
—tak – tidak menaruh perhatian; tidak mau tahu
Mengacuhkan memedulikan, men gindahkan
Acuhan hal yang diindahkan

Gamang merasa takut ( ngeri serta khawatir) ketika melihat sesuatu dsb
–air— tidak basah bila terkena air
Tergamang merasa kesunyian (lengang)


Bergeming ge•ming Jk, ber•ge•ming v tidak bergerak sedikit juga; diam saja;
ter•ge•ming v terdiam ( sumber : http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Minggu, 04 April 2010

======================= Kajian QS asy-syu’ara [26]: 221-227)

“Maukah Aku beritahukan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa

Mereka meyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang pendusta

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang sesat
Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah*

Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang dzalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.”
(QS asy-syu’ara [26]: 221-227)

*yang dimaksud dengan ayat ini ialah bahwa sebagian penyair itu suka mempermainkan kata-kata, tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak mempunyai pendirian
===================================================================================

Assalamualaikum, saudaraku sesama muslim, kawanku, kawanan senjaku, kawan berbagi sajakku, dan tentu saja “kawan berbagi kesederhanaan”ku, kali ini aku meyapa kalian dengan beberapa potong sajak Tuhan. Jangan dulu bergumul dengan kotak kefanatikan, tapi kumohon, letakkan sejenak “pandangan” itu di hati dan kerendahan serta ketawadu’an kepada-Nya, Pengampu K A T A yang selama ini kita jarang K A T A K A T A itu di perapian sajak (semaumaunya) agar masak dan kemudian kita santap sebagai menu sarapan, makan siang atau makan malam (terkadang menjelang pagi).

Sajak ini kutemukan beberapa waktu lalu, tepatnya ketika kutuliskan “Tuhan,aku ingin ketemu” dan sajak ini terus berkutat dibelakangku, di setiap akan ku ramu K A T A K A T A itu di panci sajak.

Saudaraku, kawanku, tidakkah potongan sajak di atas membuat gatal kepala, apalagi ada lirik yang bicara penyair dan puisi? Yang ingin kujarang dengan kalian adalah soal:

Yang pertama adalah penyair, jika ada suatu pengakuan dalam hati bahwa penyair adalah sesuatu yang melekat dalam diri (kita) tuliskanlah sesuatu untuk meluruskan semuanya, setidaknya dari posisi kita, semampunya (karena pada dasarnya kita lemah).

Kedua, setelah ada pengakuan itu, kita lanjutkan dengan baris sajak yang berbunyi … lembah* dengan catatan kaki dibawahnya : *yang dimaksud dengan ayat ini ialah bahwa sebagian penyair itu suka mempermainkan kata-kata, tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak mempunyai pendirian

Kemudian baris ini: Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

Dan yang terakhir : (karena menjawab puisi-puisi orang kafir)

Saudaraku, kawanku, aku percaya bahwa kita adalah umat beragama yang ‘lah terlanjur beternak K A T A di kebun belakang, ternak itu ‘lah semakin membesar dengan K A T A K A T A yang kian waktu semakin berkembangbiak (meskipun ‘lah kita jadikan menu sarapan).

Aku hanya ingin berbagi, tidak lebih. Dan jangan biarkan beberapa potong sajak ini hanya menjadi arang di perapian sajak kita. Terutama empat hal yang ingin ku jarang bersama kalian, karena kepalaku terasa gatal terusterusan. Terima kasih saudaraku, kawanku.

Wassalamualaikum.

Selasa, 23 Maret 2010

======================Antara sastra dan perantaranya

Di era modern seperti sekarang ini, hampir semua aspek nya berkaitan dengan teknologi. Aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, agama, pendidikan dan lainnya, tidak mungkin melepaskan diri dari tuntutan teknologi.  Pada hakikatnya teknologi adalah suatu cara yang digunakan baik oleh instansi atau perorangan untuk mendapatkan nilai guna lebih atas apa yang dimilikinya, dengan kata lain teknologi adalah alat untuk berinovasi. Teknologi pun banyak macam dan manfaatnya, tergantung kebutuhan.
Salah satu cabang teknologi yang paling popular adalah teknologi informasi. Dan diantara sekian banyak penggunanya, sastra menjadi pihak yang tak terlewatkan dari daftar. Dunia sastra terbagi atas beberapa bagian yang kesemuanya tidak mungkin bernilai tanpa adanya peran dari teknologi informasi.
Misalnya saja karya sastra berupa novel, antologi puisi dan cerpen, karya sastra ini hanya akan menjadi tulisan tak bernyawa jika tidak menemukan pembacanya. Sedangkan untuk mempertemukan karya sastra dan pembacanya, dibutuhkan peran serta teknologi informasi.
Cara yang digunakan TI pun sekarang sudah sangat beragam. Mulai dari pamflet, baliho, siaran radio, televisi, media internet dan banyak lagi yang lainnya. 

Rabu, 17 Maret 2010

==================dan Akku menang telak, atas mitos itu.. hhaaa


Hayoo ngaku, siapa yang belum pernah ke ParIs?
HHE, padahal deket lho, ga perlu pake passport (bener ga ya tulisannya gini? Hhe)
Karena yang Akku maksud ParIs di sini adalah Parang Tritis, atau Pantai Laut Selatan, atau pantai legendaris tentang Nyi roro Kidul, pernah? Pernah ga pernah ga masalah…
Dulu, ketika Akku masih di Lampung, pingin banget bisa keliling tempat-tempat wisata dan tempat bersejarah yang ada di Indonesia, Monas, TMII, kebun teh di bandung, Lawang Sewu, dan banyak lagi.
Dan keinginan Akku mulai terwujud satu persatu, karena sekarang Akku lagi kuliah di Semarang, alhasil beberapa tempat yang berhasil Kku jejaki antara lain: Lawang Sewu, MAJT, candi Borobudur, candi Prambanan, Malioboro, dan… dan … dan baru segitu, hhe .
Oya, Akku inget, ternyata Akku juga pernah ke ParIs A.K.A Parang Tritis di Jawa Tengah. Kalian tahu ga, bahwa di ParIs ada suatu mitos yang berkembang bahwa : Dilarang pakek baju Ijo ketika kita memasuki kawasan PariS. Alasannya, katanya sih, mitosnya, Nyi Roro Kidul itu, suka banget warna ijo, jadinya kalo kita kesana pake baju ijo, ntar kita diculik dan dibawa ke Istana-nya, yang konon, pintu gerbangnya ada di sebuah batu di antara karang-karang besar yang terjajar di sudut pantai laut selatan.
Kemarin, waktu Akku dan teman-teman Sastra Indonesia Undip 2009 liburan bareng dengan tema : “Sasindo Goes To Jogja”, Akku baru sadar di tengah perjalanan bahwa kami sedang menuju Pantai Parang Tritis, tempat di mana baju ijo dilarang masuk, ceritanya gini.
“Wi” ujar Kku pada Dewi, teman duduk Kku, “kamu tahu ‘ga sih, kenapa ada pantai di namain Parang Tritis?”
Sebelum Dewi menjawab, Akku berargumen dulu. Akku, yang notabenenya adalah oranh Jawa namun dari lahir sudah tinggal dikawasan Sumatera, Lampung, tahu sedikit tenttang bahasa Jawa, dan lebih sedikit lagi tentang bahasa Lampung, karena di rumah orang tua Kku berbahasa dengan bahasa Indonesia. (Akku adalah korban transmigrasi yang berakibat: hilangnya identitas kesukuan, jadinya Akku ini orang jawa atau Lampung? Ctctctc)  
“Parang itu kan artinya golok, atau sabit kan? Terus Tritis itu kan dari bahasa Jawa yang artinya tritisan, atau teras, ya to?” ujar Kku,
“berarti kan, pantai itu berbahaya, tapi kenapa di jadikan tempat wisata ya?”
Dewi menanggapi argument Akku,
“Iya, apa yang kamu bilang tentang makna parang tritis itu emang bener. Dan kalo masalah kenapa di jadikan tempat wisata, menurutku karena itu kan tempat bersejarah, legendaris malah”
“Oya?” Akku berekspresi penuh
“Loh, emangnya kamu ga tau ya, itu lho, cerita tentang nyai Roro Kidul, ratu pantai selatan”
“Iya Aku tahu, so?”
Dewi melengos, “Desta, ya udah jelas dong. Tempat itu punya suatu daya tarik, sehingga di jadikan tempat wisata”
“Egh, ntar dulu, tadi kamu bilang pantai laut selatan, emang hubungannya dengan Parang Tritis…” kalimat Akku terpotong otomatis, diam sejenak
“Jadi, kita mau ke pantai laut selatan yang ada legenda Roro Kidulnya itu ya? kok kamu ga bilang? Ehh liat dong” Akku menunjuk kea rah bajunya sendiri,
“Hhe, iya. Tadi Akku sebenarnya mau bilang, kenapa kamu pakek baju warna ijo, tapi ga jadi” Dewi senyum getir
Akku yang tadi duduk bersila di atas jok, ke arah Dewi, mengubah posisinya kearah depan, memandangi jalan yang semakin dekat kea rah tujuan.
Akku jadi ingat sesuatu, dulu, ketika kecil Akku sempat berangan-angan. Kalo suatu saat Akku sampai di Parang Tritis, Akku bakal pake baju ijo, Akku akan mematahkan teori klasik mitos Green shirt Baned.
Dan Akku BERHASIL!
It’s the facts:

Selasa, 16 Maret 2010

==========================Diponegoro…


Berkali Akku mengatakan bahwa perasaan sayang terhadap suatu hal itulah yang menjadikan diri kita bertahan atas apa yang kita pertahankan. Dan Akku tak ‘kan bosan mengatakan bahwa Akku menyayangi kampus Kku dengan sangat.

Beberapa waktu lalu, saat kelas MKI (masyarakat kesenian sastra) kalo ga salah juga, dosen kami cerita tentang apa ya, Akku lupa, yang Akku ingat Cuma satu: setelah kuliah ini Akku ingin menuliskan sesuatu, sesuatu untuk kampus Akku, Undip.

Kalian, ingat ga tentang berbagai macam perang yang telah terjadi di Negara kita bertahun-tahun yang lalu? Perang Aceh, Perang Babad, Perang … perang… huhh! Ngakunya anak IPS, nama-nama perang ajaa, Cuma namanya, gak hapal. Berlebihan tau! HHE
*
Tapi whatever! Yang Akku mau ingat dan ceritakan di sini Cuma satu, yaitu Perang Diponegoro. Perang Diponogoro adalah perang yang terjadi pada tahun 1825-1830, ya lima tahun perang itu berlangsung, dan hasilnya, kita semua yang sempet belajar sejarah di SMA pasti inget, bahwa Perang Diponegoro berhasil menguras kas Negara kepunyaan BELANDA! It’s amazing, right? Ofcourse!

Sejarah tentang Perang Diponegoro yang secara ga langsung juga mengisahkan tentang tokoh utama yaitu Pangeran Diponegoro, menarik pikiran Akku untuk bertanya, “adakah ini merupakan salah satu alasan kenapa kampus tercinta Akku dinamakan Universitas Dionegoro?”

Akku ga perlu jawaban, Karena sebuah kesimpulan telah teraklamasi.
Walaupun Akku ga menyaksikan gimana perang itu berlangsung, setidaknya Aku bisa membayangkan betapa Pangeran Diponegoro adalah orang yang luar biasa, berhasil membuat Belanda kalang kabut kehabisan biaya untuk perang (walaupun sebenarnya ini menimbulkan dampak lebih negative lagi, yaitu munculnya cultur stelsel yang merugika rakyat Indonesia pada masa itu). Pasti Pangeran Diponegoro adalah orang yang memiliki kecerdasan luar biasa, dan Akku pikir, ini menjadi salah satu point reason pertanyaan Akku tadi.
Ini pendapat, dari seoang Akku.

Selasa, 09 Maret 2010

======================= negeriku, cafe senja

Pernah ga, kalian tiba-tiba merasa suka dengan suatu istilah, ungkapan, perumpamaan, pengandaian dan hal semacamnya?

Akku mau cerita, beberapa tahun yang lalu (wedjyan, padahal baru dua tahun yang lalu, hhe) tepatnya waktu akku kelas dua es em a. akku menemukan sebuah novel, mungkin ini novel pertama yang akku baca, akku menyimpulkan ini ya baru beberapa waktu kemarin, kira-kira enam bulan lalu, karena akku baru tahu, apa sih yang di maksud dengan novel.

Novel ini menjadi satu-satunya novel Indonesia paling inspiratif yang pernah ku baca, selain karena tema nya yang gak cinta-cintaan, novel ini sungguh mengajak imajinasikku berlarian kealam bebas, membayangkan gimana setting yang di gambarkan penulisnya. Judul novelnya “Negeri Senja” karangan Seno Gumirah Ajidarma, akku jatuh cinta dengan novel ini.

Tapi, akku sempat –tertawa kecil—mendengar keterangan dari dosen pengampu Pengantar pengkajian Sastra, semester satu kemarin, ceritanya gini:
Waktu itu kami lagi membahas tentang Hakikat dan fungsi karya sastra,
Jadi, hakikat karya sastra adalah kreatif dan imajinatif, kreatif maksudnya bahwa karya sastra merupakan suatu hasil ciptaan, imajinatif berarti khayalan. Ada sebuah rumus dalam mata kuliah kajian sastra : X+Y=Z, dimana X= kenyataan, Y=imajinasi, khayalan, kebohongan, dan Z=karya sastra. Jadi, dapat di ambil kesimpulan bahwa karya sastra hanya akan tercipta jika di dalamnya ada unsur nyata dan dusta, loh? Bukan, akku hanya terlalu berlebihan mengungkapkannya, bukan dusta, tapi kebohongan, bahasa halusnya khayalan.

Ehh, akku baru ingat, ternyata waktu itu kami bukan sedang membahas tentang hakikat karya sastra melainkan perbedaan novel serius dan popular ( hhe, berarti akku sekarang membuat karya sastra ya, kan di dalamnya ada unsur khayalan=kebohongan, hha)

Di tengah perkuliahan, akhirnya terjadi diskusi, dan dosen kami itu, yang lebih suka jika dipanggil mbak daripada ibu, meminta kami untuk menyebutkan judul novel serius yang pernah kami baca, dengan semangat yang di atas 37 derajat celcius, akku mengacung jari, dengan bangganya berujar : “NEGERI SENJA, mbak”
“Karangan?” celetuknya.

“Emm, emm…” ahh, udah keren bisa nyebutin judul novel, malah ga tau siapa nama pengarangnya, bisa-bisa satu kelas menyangkakku sedang membuat karya sastra lagi , hhe.

Beruntung, dosen kku itu tak ( ... )

bersambung dulu yyya ....
hhe..

============================ PARIS VAN JAVA II

Pasti pernah denger dum, paris van java?
Hmm, bukan. Bukan opera van java!
Tapi paris van java, kita semua pasti tahu, itu nama lain dari kota kembang, BANDUNG.

Ada yang bilang, alasan pemberian nama itu ke salah satu kota di Indonesia adalah karena suasananya yang mirip beud sama Parisnya Perancis. Whatever! Walaupun belum pernah datang ke kota mode itu, setidaknya ada suatu kebanggaan tersendiri jikaa salah satu kota kita di bilang mirip, itu menambah nilai rasa dari Negara kita ini. Hhi..

Omong-omong soal kota Bandung yang dinamain Paris Van Java, sebenarnya ada suatu kesimpulan yang bisa kita ambil. Bahwa Indonesia punya hobi memberi nama kotanya dengan nama tempat-tempat terkenal di dunia. Misalnya, selain Bandung yang jadi Paris van Java, kita punya Lenteng Agung yang punya nama keren LA.

Istilah Paris Van Java II, mungkin udah ada yang pernah mengatakan, tapi kemungkinan besar baru di blog inilah teman-teman dengar. Paris Van Java II yang bisa juga disingkat menjadi PVJ II adalah nama lain dari pantai laut selatan yang ada di Jawa Tengah. Ya… boleh deh kalo yang muncul di kepala ketika mendengar pantai laut selatan adalah sang legendaries Nyi Roro Kidul, dan untuk meyakinkan, mari sama-sama kita ucapkan : Pantai Parang Tritis.

Ga perlu di jelaskan teman-teman pasti sudah bisa menyimpulkan, kenapa pantai ini di beri nama Paris Van Java II. Tempatnya memang sama sekali ‘ga mirip dengan Paris-nya Perancis, pemberian nama ini hanyalah sebuah singkatan untuk mempermudah atau mengefisienkan suku kata: Parang Tritis = ParIs, selain itu, karena lokasinya yang terletak di pulau Jawa.

Agak berbeda dengan kebanyakan wisata pantai di tempat lain, di Lampung misalnya, wisata pantai parang tritis tidaklah sebagus …. Bersambung, tapi ga tau kapan ngelanjutinnya. hhe