Laman

Jumat, 12 September 2014

Where is Home?

Passion, obsesi, target, dan mimpi ibarat suatu jalinan yang nantinya menjadi sebuah jalan panjang bagi seseorang menemukan “rumah”. Percaya atau tidak, sebagian orang tidak lagi puas menerima pemaknaan rumah sebagaimana lumrahnya. Makna rumah telah bergeser menjadi lebih luas, tak sekadar tempat tinggal atau tempat berteduh dari panas dan hujan. Kenyataan semacam ini mudah ditemukan dalam berbagai ungkapan pada lagu bertemakan rumah. Satu yang akan lekas terbesit dalam pikiran adalah “Home” yang dibawakan Westlife, dan telah dinyanyikan dalam versi lain oleh Michael Buble.

Lebih jauh lagi, coba dengar dan resapi lagu “Temporary Home” yang dibawakan oleh Carrie Underwood. 
Little boys six years old. A little too used to being alone. Another new mom and dad. Another school, another house that will never be home. When people ask him how he likes this place. He looks up and says with a smile upon his face. This is my temporary home, it’s not where I belong. Windows and rooms that I’m passing through. This is just a stop on the way to where I’m going. I’m not afraid because I know this is my temporary home. 
Ini hanya gambaran kecil bahwa ternyata di dunia ini, seseorang tak pernah berhenti mengikuti hasrat diri, passion, mencari hingga menemukan tempat yang bisa disebut rumah, yang menyamankan hati, serta mendamaikan. Sebagaimana ungkapan yang cukup populer dan bisa ditemukan pada lagu Jennifer Chung berjudul “Common, Simple and Beautiful Life” bahwa “Home is where the heart is”.

Seseorang pernah bertanya pada saya, apa perbedaan antara “home” dengan “house”? Santai saya jawab bahwa perbedaannya ada pada penekanan makna. Di seberang benua sana ada sebuah bangunan bernama White House, di tepi jalan pun mudah bagi kita menemukan beragam tempat bernama Coffe House, Tea House, Boarding House, Pet House, dan lainnya. Itu menunjukkan bahwa house lebih menekankan pada bangunan yang lokasinya spesifik dan bisa dilihat.

Referensi dari berbagai lagu bertemakan “rumah” pun makin meyakinkan saya bahwa “home” memiliki makna yang teramat dalam mengenai “rumah”. Sesuatu yang tak harus berwujud bangunan, tetapi lebih pada zona nyaman yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Mereka yang berada di ‘rumah’ kadang merasa tak nyaman. Justru mereka bisa lebih leluasa mengungkapkan rasa sayang pada keluarga saat sedang berada di tempat yang jauh dari rumah. Bagian larik yang bercetak tebal di atas juga bisa menjadi jawaban, bahwa house tak akan pernah bisa menjadi home. Atau coba pikirkan, kenapa seorang sutradara memilih judul Home Alone dan bukan House Alone.

Saat kembali pada persoalan passion, rumah yang sedang saya tuju selalu mengarah pada hal terkait buku. Jadi tak heran, di manapun saya berada, saya akan merasa nyaman bila berada pada jalur tujuan. Tak peduli saya berada di tepi jalan menunggu bus lewat, saya sedang di kapal berlayar menyeberang pulau, saya sedang galau menanti jodoh *eh* asal saya bersama buku, saya merasa sedang berada di atau dalam perjualanan menuju rumah dan tak perlu mengkhawatirkan apapun. Bagi saya, home is where you can make love with your book, even there are people around, even you're on a trip

Saya punya mimpi besar bersama buku, salah satunya membangun semacam taman bacaan tapi punya fungsi lebih dari itu. Tentu proses yang tak bisa saya lewatkan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin buku, baik dalam bentuk cetak ataupun elektronik. Untuk buku yang masih bisa dijangkau dalam bentuk cetak, saya akan membelinya di toko buku. Sementara untuk buku yang mungkin sudah tidak cetak ulang, buku yang tidak dipasarkan di Indonesia, buku berbahasa asing, atau bahkan buku yang berharga miring, solusi yang saya ambil adalah dengan memburunya di toko buku online dalam versi pdf. 

Salah satu yang menurut saya recomended adalah electrabookstore. Bagi para pegiat buku yang makin lengket dengan gadget, saya pikir tak ada salahnya coba mengintip koleksi yang dimiliki toko buku elektrik ini. Seolah melek teknologi, ownernya hadir melalui beberapa akun media sosial yang tengah digandrungi masyarakat, di antaranya twitter:electrabooks_ , instagram/line:electrabookstore  dan BB: 29D3A51B

Percayalah, setiap orang telah diciptakan dengan suatu tujuan spesifik dari Tuhan. Maka berusahalah menemukan passion, untuk kemudian melanjutkan misi untuk pulang ke rumah sesungguhnya. Hati-hati di jalan ya :) 

Perjalanan saya berlayar dengan kapal Feri

Hidup adalah Keputusan

Jika ada yang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, maka sesungguhnya kalimat itu mengandung konsekuensi bahwa hidup adalah tentang bagaimana mengambil keputusan. Masalahnya, ada sebagian orang yang takut untuk mengambil keputusan hingga membiarkan sesuatu terjadi di luar kendalinya. Banyak tidaknya pilihan yang membuat galau, akhirnya berujung juga pada sebuah keputusan. Siap tidak siap, sadar atau belum sadar, waktu akan menunjukkan bahwa setiap orang telah mengambil keputusan atas pilihan yang ditawarkan oleh kehidupan.

Ada orang yang memutuskan untuk menjalani saja hidupnya seperti air mengalir,tanpa target, tanpa obsesi apalagi mimpi. Tetapi lupa bahwa filosofi air mengalir adalah selalu mencari celah sekecil apapun untuk bertahan melanjutkan hidup. Bukan sekadar pasrah sebelum berusaha. Terlebih lagi, pasrah tak sama dengan tawakal. Sebuah kisah tauladan berikut ini barangkali bisa menjadi gambaran mengenai perbedaan keduanya.
Suatu hari ada seseorang yang pergi ke masjid dengan membawa unta. Sesampainya di masjid, ia turun dari unta kemudian langsung masuk ke masjid. Orang itu masuk tanpa terlebih dahulu mengikat untanya. Ketika ditegur Rasulullah, orang itu lantas berkata, “Saya tawakal kepada Allah.” Mendengar jawaban itu lantas Rasulullah memberi tahu bahwa bukan seperti itu cara mengamalkan tawakal kepada Allah. Cara bertawakal adalah: ikat untamu, barulah engkau bisa tawakal (The Perfect Muslimah, Ahmad Rifai Rifan: 46). Dalam KBBI, antara pasrah dan tawakal pun dibedakan oleh ada dan tidaknya unsur ‘usaha’.
Di sisi lain, orang yang telah memutuskan untuk mewujudkan seabrek mimpi justru sibuk membuat berbagai celah atau peluang agar targetnya lekas tercapai. Hidupnya penuh dengan semangat dan kerja keras. Impian yang mereka gagas pun beragam, dari yang hanya untuk diri sendiri hingga impian yang ditujukan bagi orang banyak. Mereka tidak bisa bergeming menunggu takdir Tuhan menghampiri, justru berinisiatif untuk mendatangi takdir itu. Jika satu mimpi sudah direalisasikan, mereka bergegas menuju impian lain yang sudah masuk dalam daftar tunggu.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Menuju Halte Bus Jakarta City Tour dari Bekasi

Bus Jakarta City Tour (JCT)  memiliki beberapa halte yang lokasinya bersebelahan dengan halte busway. Salah satu halte JCT ada di dekat Halte Sarinah, yang berada di dekat Bundaran HI. Bagi yang berniat berkunjung dari Bekasi Timur, cukup pilih bus APTB jurusan BEKASI-BUNDARAN HI. Meskipun bus rute ini tidak bisa sampai ke Bundaran HI. Tidak perlu khawatir, kita tetap bisa turun terakhir yaitu di Halte Tosari. Nah, dari Halte Tosari turunlah dari jembatan penyebrangan melalui lift sebelah kiri. Kemudian berjalan kaki menuju Halte Sarinah (dekat Plaza Indonesia). Tepat di bawah jembatan MRT yang sedang dibangun, di sanalah Halte Bus JCT berada.

Bus JCT yang berangkat dari Halte Bundaran HI-Pasar Baru ini akan berkeliling kota Jakarta dengan melewati beberapa objek wisata yaitu antara lain: Museum Nasional, Masjid Istiqlal-Gereja Katedral, Monas dan Balai Kota. Kita boleh turun di halte dan objek wisata manapun asalkan pemandu memberi arahan. Selain itu, bus JCT masih akan terus GRATIS sepanjang tahun 2014. Jadi, kita bebas untuk seberapa lamapun berada di dalamnya (meskipun bus telah berkeliling satu putaran dari Halte Bundaran HI ke Bundaran HI lagi) tanpa diprotes siapapun. Tapi memang pemandu akan mengingatkan bagi yang telah melewati satu putaran agar mau bergantian denga penumpang lain yang sudah lama mengantre di halte.

Alternatif lain adalah berangkat dengan Kereta Commuterline, turun di Stasiun Juanda. Dari stasiun, berjalanlah ke Halte bus yang berada tepat di depan Halte Transjakarta Juanda. Di situ akan ada sebuah papan petunjuk pemberhentian Bus City Tour.

Bus JCT berjalan dengan kecepatan sangat rendah, dikemudikan oleh sopir perempuan, ada seorang polisi di tiap bus, serta hanya berkapasitas 60 orang. Artinya saat ada yang di suatu halte menunggu secara berombongan, tapi seluruh kursi telah penuh, hanya sebagiannya yang boleh ikut karena penumpang dilarang berdiri. Atau memilih untuk tidak jadi naik dan menunggu bus selanjutnya yang kosong.

Jumat, 22 Agustus 2014

LINK "TERSEMBUNYI" FORM REGISTRASI CPNS 2014

Apakah kamu termasuk orang yang menunggu dibukanya pendaftaran CPNS 2014? Kalau ya, bersabarlah. Entah kamu serius ingin menjadi PNS, hanya iseng, atau sekadar berusaha membahagiakan keluarga, yang jelas pendaftaran yang diisukan berlangsung mulai tanggal 20 Agustus itu memang hanya isu alias diundur tanpa ada kepastian. Masyarakat dibuat waswas, setiap hari harus mengecek situs yang kalau dibuka isinya berupa informasi MAAF PENDAFTARAN BELUM DIBUKA. Tapi setidaknya, itu bisa menjadi alasan agar para calon pendaftar sebelum pendaftaran resmi dibuka, punya kesempatan untuk menemukan informasi awal mengenai formasi CPNS sebagai gambaran. Baik itu resmi dari situs pemerintah ataupun tak resmi dari personal web, facebook, bbm, WA, dll.

Dua situs yang harus didatangi para calon pendaftar CPNS adalah web https://panselnas.menpan.go.id dan http://sscn.bkn.go.id. Berdasarkan informasi yang ada, di situs panselnas, calon pendaftar harus melakukan registrasi awal sesuai formasi yang diinginkan, kemudian melanjutkannya ke situs SSCN dengan username dan password yang telah diperoleh dari situs pertama. Hari ini, 22 Agustus saya menemukan sebuah obrolan di personal blog yang intinya adalah kasakkusuk seputar tidak ditemukannya link registrasi atau pendftaran CPNS 2014. Sehingga muncul pertanyaan: Pada situs Panselnas, ada di sebelah mana link pendaftaran atau registrasi CPNS? Bisa dicek di sini. Dari sana saya menemukan informasi mengenai link yang seolah tersembunyi itu.

Intinya, buka situs web Panselnas, ikuti tahap demi tahap yaitu HALAMAN MUKA, TAHAP PENDAFTARAN, DAN SELANJUTNYA FORMASI CPNS 2014. DI FORMASI CPNS 2014 inilah akan muncul kotak berisi beberapa link. Jangan diabaikan, tapi pilihlah salah satu link berwarna biru itu. Kemudian pilih lagi, misal ANRI ada di LINK PEMERINTAH NON KEMENTERIAN. Kemudian, klik formasi yang dimaksud yaitu ANRI, nanti pada bagian bawah, muncullah link pendaftaran. tapi jangan kaget karena sampai sore ini informasi yang ada di link itu mengecewakan. Ya tapi setidaknya bisa mengobati rasa penasaran sekaligus keheranan mengenai letak link registrasi lol.



Minggu, 10 Agustus 2014

Jujur, Aib, dan Karya

Setelah sekian lama gak baca blognya Bang Nuril...
Dia masih tetap demikian itu, jujur dan gak tahu malu, tapi saya juga masih tetap begini: menyukai kejujuran seseorang, meskipun itu aib. Apalagi, cerita-cerita dia kadang bikin saya tertohok. Sebelum cerita tentang Marshed yang katanya "sakit" part 2 itu terblowup di media, tentang 'keberanian' dia jujur dia medsos, Bang Nuril sudah mengawali. Ada pula Ariel yang pernah menciptakan lagu "Sally", Anang yang berduet dengan Syahrini pasca bercerai dengan KD, dan masih banyak contoh lain. Dari mereka saya belajar untuk menghargai sisi gelap itu sebagai hal yang manusiawi.

Manusia butuh tempat untuk 'jujur' tanpa harus dihakimi. Ada yang merasa cukup dengan bercerita pada Tuhan, keluarga, kekasih, teman, diri sendiri, karya cipta, tulisan-tulisan implisit dan atau yang blak-blakan pada semua orang melalui internet. So, it's just about which is place we choose.
Hal terpenting adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah kelam the honester itu.

Bagian terindah dari kejujuran adalah ketika seseorang tetap bisa dihargai. Misal: saya tetap menghargai Bang Nuril sebagai seorang penulis, meskipun saya tahu sekelumit keburukannya. Sebab memang saya tak mungkin berlepas dari prinsip bahwa Karya sastra memiliki satu karakter yaitu otonom. Atau kelak, sebagaimana pula yang pernah terjadi, Masrhed tetap bisa berkarya, tetap dihargai, tetap "laku" sebagai artis meskipun sisi buruk hidupnya telah diketahui khalayak. Di sisi lain ada yang menyebut: cuma cari sensasi. What ever. Tapi memang orang yang berani terbuka harusnya bertemu dengan orang yang juga opendminded, bukan menjustifikasi.

Agak khusus, bagi sekelompok orang yang mengekspresikan perasaan sedihnya lewat karya seni, saya menganggap itulah proses kreatif. Memang, banyak orang yang dalam keadaan tertekan justru makin lancar dalam dirinya inspirasi mengalir. Inilah kompensasi. "Smart insecurer", para pegalau atau perisau yang cerdas, akan menjadikan tiap "momen emas" mereka sebagai ladang berkarya. Jadi, ada kompensasi atas kejujurannya.

A Ganjar Sudibyo mengatakan, "menulislah, biar resahmu terasuh." Saya pikir karya-karya yang telah dihasilkan oleh Bang Nuril pun lahir dari kerisauan-kerisauan dalam hidupnya. Marshed melakukan hal yang sama, ia tidak menulis buku tetapi membuat video klip yang bisa dinikmati sebagai karya, lebih jauh lagi menjadi khatarsis bagi penikmatnya. Tentu akan lain cerita jika yang berpendapat adalah para haters. Saya bukan fans Marshed, tapi saya suka caranya kali ini. Harus diakui bahwa dia lebih anggun dan "dewasa" ketimbang apa yang dia lakukan sebelumnya dalam jejaring sosial youtube. Ini terlepas dari statusnya sebagai istri, ibu dan anak perempuan, serta keputusannya menanggalkan jilbab. Saya percaya, setiap hal selalu punya nilai. Tergantung pada situasi dan perspektifnya.

Tell is a need, write is a life. Jujur itu butuh keberanian dan kekuatan. Jujur itu melegakan. Jujur mengungkapkan perasaan sedih dan gembira itu penting, sebagaimana pentingnya kita membersihkan keranjang sampah. 

Minggu, 27 Juli 2014

Memuseumkan Museumkah Kita?

Kecurigaan saya mencuat saat membaca pengakuan jujur Karina Lin mengenai pengetahuan minimnya atas kota kelahiran di kolom opini berjudul “Stagnasi Pariwisata Kota Kita”. Bagaimana jika ternyata hal serupa terjadi juga pada banyak warga Lampung yang lain. Lahir dan besar di sini, tapi mendadak ‘malu’ menjawab destinasi wisata apa saja yang cukup prestise disebutkan saat ada teman yang akan berkunjung ke Lampung.
Ada memang yang ketenarannya sudah sampai ke pulau Jawa sana. Sebutlah Teluk Kiluan yang bangga dengan Dolphinnya. Sayangnya, lokasinya jauh dari pusat kota dan akses yang memprihatinkan pula. Hal itu mungkin bisa menarik wisatawan untuk hadir. Tapi bisakah menjamin mereka tak menyesal dan menyimpan kesan buruk hingga tak lagi mau datang.
Tentu, pengetahuan memang sangat mungkin ditemukan bila dicari. Hanya saja, berlebihankah jika saya katakan bahwa promosi budaya dan wisata lokal oleh pemerintah terutama sektor pariwisata di kota ini terbilang minim? Ingatan saya melompat pada kunjungan bersama rombongan SDN 4 Pardasuka ke museum negeri Lampung beberapa hari lalu. Melihat kebahagiaan di wajah para siswa SD yang baru pertama kali masuk ke dalam museum membuat saya berharap semoga saja kunjungan itu hanya perkara “wrong timing”. Saat di mana pihak pengelola memang bukan sedang dalam agenda konservasi.
Memasuki gedung megah dua lantai yang bernama Museum Ruwa Jurai itu, pengunjung yang tak didampingi pemandu akan langsung tertarik untuk naik ke lantai dua melalui tangga yang ada. Di sayap kanan ini, sebuah blok berisi sampan atau perahu kecil dipajang di tengah ruangan. Ukurannya cukup besar untuk menarik perhatian. Di badannya ada beberapa gerabah keperluan hidup sehari-hari. Juga sebuah patung kecil menyerupai manusia yang sedang duduk melaut. Sangat disayangkan, ketika didekati lebih rekat, benda itu tampak berdebu dengan sawang yang kentara seolah merupakan garnis yang sengaja dipajang untuk juga dipamerkan. Posisinya yang tepat di tengah ruangan di mana pusat cahaya berada, menjadikan debu yang tak sekadar kesan itu bisa terlihat jelas.
Beranjak dari benda itu, saya berjalan melihat koleksi dinding beretalase yang antara lain berisi koleksi kain tenun dan pakaian pengantin khas Lampung. Rasa tak nyaman tadi saya coba lupakan dengan memperhatikan etalase dinding yang dipajang mengitari seluruh ruangan lantai dua. Tapi justru perasaan miris muncul saat mendapati kainkain tenun tak lagi berwarna cerah, atau memang dasarnya sudah berwarna kusam sejak awal?
Ketaknyamanan mata yang bermula dari perahu tadi makin menjadi saat kemudian saya turun melihat koleksi lain di ruang sebelah kiri lantai satu. Tak hanya debu dan sawang, kayu juga mulai tampak rapuh dengan bubuk yang bertabur di antara koleksi hewan-hewan awetan dalam ruang kaca. Tiga hal tadi membuat saya berpikir sedang ada di museum atau gudang. Saya membayangkan, jika kondisi seperti itu dibiarkan dalam 5-10 tahun ke depan, akankah museum ini masih punya koleksi yang sama.
Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (http://elib.unikom.ac.id/).
Apabila koleksi yang ada di museum hanya disimpan tanpa dirawat, bagaimana mungkin pemanfaatannya bisa dilakukan. Jika sudah seperti itu kondisinya, ke mana lagi harus menyimpan benda-benda lawas seperti misalnya naskah-naskah kuno yang baru dipulangkan dari Leiden misalnya. Jangan salahkan warga jika tak rela naskahnya diambil alih pemerintah.
Tentu dengan tidak menafikan hal positif yang telah diupayakan oleh pihak pengelola Museum Ruwa Jurai di antaranya membuat Katalog Topeng Lampung, serta mencetak dan membagikan hasil penelitian berupa transkrip dan transliterasi Buku Kulit Kayu. Saya yakin pihak pengelola museum jauh lebih tahu tindakan apa saja yang seharusnya mereka lakukan.


Sebagai masyarakat, saya hanya mengamati kemudian menyampaikan apa yang sekiranya janggal dan membahayakan peradaban budaya Lampung khususnya. Kecuali bila provinsi ini rela Museum Ruwa Jurai menjadi “benda museum” yang memang sudah langka dan berangsur hanya pantas sebagai pajangan di kota Bandar Lampung karena kondisi koleksi yang tak terawat secara maksimal.

Selasa, 24 Juni 2014

Merindukan Kemeriahan "Mading" Angkot Bandar Lampung

Rabu pagi 11 Juni 2014, saya cari baterai hp Nokia yang bocor karena dimakan usia. Setelah mendapatkan baterai, sambil jalan saya berpikir akan pulang atau main dulu sebentar. Waktu masih sekitar pukul 10 pagi. Akhirnya saya memutuskan untuk terus melaju menuju pusat kota Bandar Lampung dengan misi: berburu "mading" angkot.


Saya penasaran karena sempat membaca berita di koran bahwa Pemkot Bandar Lampung telah mengeluarkan peraturan tentang penghapusan segala bentuk tulisan di kaca belakang angkot dengan alasan estetika. Hal tersebut sudah saya ketahui lama, tapi belum pernah melihat kenyataan di lapangan. Saat itu juga saya hanya sedang libur kuliah jadi ga punya waktu untuk mencari tahu.

Jadi, dengan mengendarai motor, saya bermaksud akan menguntit tiap angkot yang nantinya saya temui untuk kemudian memotret bagian belakangnya. Tapi sayang, sepanjang saya berjalan dari Kecamatan Panjang sampai Jalan Radin Intan, tak satupun saya temukan apa yang saya cari. Kalaupun ada, hanya satu dua angkot dengan tulisan "normal". Agak tertegun juga mengetahui masyarakat, khususnya para sopir dan pengusaha angkot ternyata patuh ada peraturan tersebut. Dan yang lebih saya sesalkan, kenapa itu terjadi sebelum saya sempat mengabadikannya. 

Ini satusatunya catatan yang pernah saya buat sebagai kenangan. Saya tulis sekitar Agustus 2013 untuk keperluan partisipasi penulisan puisi dwi bahasa LampungIndonesia

Sejujurnya saya kecewa. Sebab sejak masa SMA, saya selalu menikmati dan kadang terhibur dengan kreativitas para sopir angkot. Ada dua yang kalau saya tak salah ingat:

  • Lo gak papa kan Bro? dan
  • Katanya anak gaul, masa digauli nangis? (oke, yang ini saru, tapi sarkastis, cukup untuk menjadi sindiran sosial kan)  

Bahkan saya pernah berpikir, jika dibina dengan baik, mereka itu bisa jadi pengusaha di bidang copy writer untuk iklaniklan televisi *semoga gak dibilang berlebihan*. Selain "mading" itu, hal yang juga saya senangi dari angkot Bandar Lampung adalah sensasi musik lagulagu bajakan yang nonstop diputar sepanjang perjalanan. Hal semacam itu belum pernah saya temui di Kota Lain, Semarang misalnya. Kenapa Semarang karena saya sempat berkuliah 4 tahun di sana. Bagaimana dengan kota lain, samakah? Oya, satu lagi yang khas dari angkot Bandar Lampung adalah usia sopir dan kernetnya yang terbilang muda. Apakah ini gambaran banyaknya usia muda di Bandar Lampung yang tidak bersekolah? Entahlah. Yang jelas, semangat yang kerap melekat dari para kaum muda menjadikan angkot Bandar Lampung jadi hal menyenangkan buat saya. Kalau buruburu, bisa ngebuuuuuut :D

Minggu, 22 Juni 2014

“Acuh” Tak Berarti “Abai”


Sebagian orang beranggapan bahwa mempelajari bahasa Indonesia itu mudah. Padahal bagi mereka yang memang menggeluti bidang bahasa, sebaliknya. Bahasa Indonesia menjadi rumit sebab ilmu ini selalu mengalami perkembangan sebagaimana umumnya ilmu-ilmu sosial. Beberapa bagian yang terkenai di antaranya adalah pengertian suatu istilah yang bergelut dengan ameliorasi (peningkatan nilai makna) dan peyorasi (penurunan nilai makna), masalah peluluhan dan sampai bertambahnya kosakata baru yang mengecoh para pengguna bahasa. Ironisnya, meskipun hampir tiap tahun ada perubahan pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), masih ada saja yang salah paham terhadap kata-kata umum yang sudah sering digunakan. Contoh sederhananya dapat diambil dari salah satu lagu yang cukup terkenal berjudul “Lumpuhkan Ingatanku”. Di dalamnya terdapat bagian lirik yang berbunyi berikut:  Di sini kucoba untuk bertahan ungkapkan semua yang kurasakan. Kau acuhkan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku.
Berdasarkan KBBI, kata “acuh” berarti peduli; mengindahkan. Singkatnya, kata ini mengandung nilai positif. Tapi jika diperhatikan, dalam untaian lirik lagu Geisha tersebut, kata “acuh” menjadi rancu disandingkan dengan kata “diam” dan “tinggal”. Kau acuhkan aku bermakna kau pedulikan aku. Disusul dengan kalimat Kau diamkan aku, Kau tinggalkan aku. Pun, bila memang kata “acuh” dalam lirik tersebut memang diniatkan untuk mengatakan suatu kepositifan agar makin terasa kepedihannya—setelah dipedulikan tiba-tiba didiamkan dan ditinggalkan—artinya bukan salah kaprah, maka ia merupakan satu-satunya kalimat positif di antara semua pernyataan negatif. Silakan perhatikan lirik lainnya. Jangan sembunyi. Kumohon padamu jangan sembunyi. Sembunyi dari apa yang terjadi. Tak seharusnya hatimu kau kunci. Bertanya, cobalah bertanya pada semua. Di sini kucoba untuk bertahan. Ungkapkan semua yang kurasakan. Kau acuhkan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku. Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia. Hapuskan memoriku tentangnya. Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia. Kuingin kulupakannya.
Secara terus-menerus pernyataan si “aku” lirik adalah sifatnya negatif, kecewa. Saya pikir akan lebih sinkron seandainya kata acuh diganti dengan kata “abai” yang sudah jelas-jelas menurut KBBI berarti “tidak peduli”. Sehingga akan menjadi seperti ini Kau abaikan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku. Lengkaplah duka itu. Tentu saja analisis ini diluar konteks licencia poetica yang membebaskan penulis melakukan hal apapun terhadap bahasa demi mencapai tujuan tertentu atas puisi atau liriknya.  Hal serupa juga terjadi pada salah satu lagu Syahrini bertajuk “Cinta tapi Gengsi” yang liriknya berbunyi demikian ini Kau di mana kau berada saat aku membutuhkan dirimu kamu acuhkan diriku. Jangan tanya oh mengapa oh kenapa kupergi tinggalkan dirimu dst.
Selain dua kata di atas yaitu abai dan acuh, satu lagi yang kerap mengganjal telinga saya adalah ketika mendengar kesalahkaprahan orang-orang menyebut kata “geming” atau “bergeming”. Bergeming yang kata dasarnya geming adalah suatu verba yang berarti tidak bergerak sedikit juga; diam saja. Contoh penggunaannya adalah Aku bergeming saat mendengar kalimat terakhirnya. Demi mengejar cita-citanya, ia harus melanjutkan pendidikan di luar negeri dan meninggalkanku sendiri. Entahlah, aku tak mampu bahkan untuk sekadar mengucapkan selamat jalan padanya. Di tengah geliat bahasa Indonesia yang kini mulai menjangkau kancah dunia, ada baiknya sebagai pewaris dan pengguna bisa lebih berupaya untuk berbahasa Indonesia secara serius. Bukalah kamus jika memang ragu mengenai makna suatu kata atau istilah. Jangan sampai karena terlalu acuh pada kemampuan berbahasa internasional, tanpa sadar terabaikanlah bahasa nasionalnya.

Sabtu, 10 Mei 2014

Rasa

Membayangkan sebuah scene romantis, laki-laki seperempat abad itu duduk di tepi danau yang dikelilingi rerumputan. Ia tersenyum mendapati seseorang akhirnya menghampiri tepat sesuai waktu yang telah dijanjikan berdua. Saling pandang sebentar, kemudian berpaling bersamaan.  Ada senyum yang berlompatan seperti percik air di hadapan mereka. Langit cerah. Suasana yang takarannya pas tanpa kurang sedikitpun bagi yang sedang dirundung suka cita berdua.

“Lapar banget, lapar aja, gak lapar tapi pengin nyemil, atau kenyang?”

Senyum laki-laki itu mengembang lagi. Ia pilih yang ketiga, “Nyemil kayaknya enak nih.”

Perempuan itu merogoh tas kecilnya. Ia bertanya, melanjutkan. Tangannya masih terhenti di dalam sana.

“Pedas, manis, asin, atau yang 'rasahmbayar'?” pertanyaannya lebih seperti pedagang yang menjajakan barang di terminal. Tapi laki-laki itu tertarik pada tawaran terakhir.

“Rasa apa tadi yang terakhir?”

Perempuan di sampingnya tergelak, tapi malu-malu.

“Di sebelah mana yang lucu?” sama sekali ia tak paham. Tapi agar perempuan kesayangannya itu tak kecewa, ia tertawa, tergelak yang dibuat-buat.

“Nih. Lucunya di sebelah sini.” Sebuah kotak kecil berisi beberapa potong brownish disodorkan padanya yang masih tergelak pura-pura.

“Waah, makasi ya. Kamu yang buat sendiri?” kejutan itu membuatnya benar-benar bahagia. Bukan pura-pura. Dijumput sepotong brownish, buru-buru ia ingin merasakan. Sambil mengunyah ia bilang,

“Manis. Katamu tadi rasambaya... rasa apa sih?” sepotong brownish yang lain mengantri di depan mulutnya.

"Udah, rasain aja." Pipinya kini merona. 

Perempuan itu, entah bagaimana caranya ia tak tahu mengungkapkannya. Yang jelas ia terus tersenyum. Membuat laki-laki di sampingnya gemas ingin menyentuh dan mencubit bagian yang kemerahan tersebut.

Ia mengernyit tak bisa menghindar. Jelas ia menolak. Dan tangan laki-laki itu tertahan di udara. Perempuan itu telah lenyap.

Hanya manis yang tersisa.***



Jumat, 09 Mei 2014

Tuhan Mengizinkan

Setiap hal yang terjadi dalam hidup, baik atau buruk tentulah sebuah keputusan yang tak mungkin dilepaskan dari Tuhan. Hari ini kita berbaik hati, barangkali karena penyesalan atas kesalahan di masa lalu, atau persiapan amal untuk masa depan. Faktanya, manusia selalu berada dalam lingkaran rencana Tuhan.

'T, tak ada hal yang tak menimbulkan efek tertentu. Dalam KBBI "karma" berarti perbuatan manusia di dunia dan atau hukum sebab akibat. Sementara dalam ketentuan Tuhan, karma diatur dalam QS Al Zalzalah:7-8 'Siapa yang melakukan kebaikan sekalipun seberat Dzarah, niscaya dia akan mendapat balasannya dan Siapa yang mengerjakan kejahatan sekalipun sebesar biji dzarah, niscaya dia akan melihat balasannya juga'. 

Jika kita harus menjadi korban, bisa jadi itu menyebabkan di sudut dunia yang entah di mana ada seseorang yang justru terselamatkan. Altera pars, setiap orang merupakan bagian dari suatu keutuhan. Dan manusia ibarat petani, yang tak hentihentinya bercocok tanam ilmu dan pengetahuan di ladang kehidupan. Anggaplah bahwa hari ini merupakan hari terakhir kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Niscaya tak perlu berpikir ulang untuk menjadi bermanfaat.

Risau, gelisah, kesedihan dan kadang kebahagiaan adalah jalan bagi Tuhan untuk datang. Dalam kekalutan, kepekaan akan sangat bisa jadi mediator pesanpesan yang Tuhan bisikkan. Kemudian terciptalah orangorang yang seolah mampu memproduksi katakata bijak dari dirinya sendiri. T, mungkin ini serupa dengan yang dialami Syekh Siti Djenar saat mengungkapkan pemikirannya tentang manunggaling kawulo gusti.