Laman

Sabtu, 28 Juli 2012

Tak


Tak ada yang tersisa dari setangkai jalanan yang terbelah menjadi dua helai ketiadaan
Saat pagi memang telah cukup renta untuk sekadar menuangkan embun dari matanya yang tuli tertutup dingin
Tak ada yang mampu memahami
Bahkan kita hanya saling membodohi diri dengan memetik akar yang menggantung di pucuk perjalanan
Kita lupa bagaimana cara menyirami kuncup yang tak juga mekar
Kita hanya tahu bahwa ada pisau yang kerap bertunas di setiap menjelang akhir malam
Tak ada kah yang mampu kita ingat?
Atau setidaknya berpura-pura mengingat.

Jepara, 28 Juli 2012

SOSIALISASI DISLEKSIA SEBAGAI LANGKAH AWAL MENGENALI GANGGUAN BACA PADA ANAK


Jepara—TIM II KKN-PPM Undip 2012 sambangi SDN 1 Slagi Kecamatan Pakisaji Jepara untuk menyosialisasikan beberapa program yang berkaitan dengan kesehatan. Kegiatan yang merupakan program minggu ke-2 tersebut dibagi menjadi beberapa program, yaitu sosialisasi program cuci tangan, sosialisasi disleksia, dan sosialisasi budaya makan ikan. Jika kebanyakan program yang dijalankan tersebut memiliki sasaran siswa SD, maka program sosialisasi disleksia justru ditujukan kepada para guru.


Disleksia merupakan suatu gangguan baca pada anak yang berupa kesulitan memahami kata-kata. Program tersebut dibuat dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para guru yang mungkin belum begitu memahami disleksia pada para siswa. “Saya ingin adik-adik bisa mendapatkan pendidikan dengan cara yang sesuai porsi mereka”, ujar Desta selaku pemateri sekaligus pemilik program.
Meskipun dilaksanakan di tengah kesibukan para guru yang memang sedang sibuk dengan persiapan akreditasi sekolah, program tersebut berjalan baik. Para guru tidak hanya disuguhkan materi-materi teoretis tetapi juga diajak menyaksikan sebuah film tentang disleksia berjudul “Every Child is Special”. Film tersebut dipilih karena isinya memiliki kesamaan dengan materi yang telah disiapkan sebagai bahan presentasi dalam sosialisasi. Sehingga, pemateri yang merupakan mahasiswa jurusan sastra Indonesia tersebut merasa terbantu.
Masih di hari yang sama, program sosialisasi cuci tangan dan budaya makan ikan juga berhasil dilaksanakan. Selain mempraktikkan langsung cara mencuci tangan yang baik, para siswa kelas 1 juga diajak menyanyikan jingle cuci tangan yang liriknya diciptakan sendiri oleh Ochi selaku pemilik program. Sementara program sosialisasi budaya makan ikan dilangsungkan selama 2 hari oleh Gunawan dengan membagikan dua buah kapsul berisi minyak ikan dan stiker kepada para siswa kelas 5.



Sabtu, 21 Juli 2012

POSYANDU LANSIA AL MA’RUF


Slagi, 18 Juli 2012 - Warga desa Slagi sangat memperhatikan kesehatan, terutama bagi para warga lansia. Mengingat lokasi desa Slagi yang cukup jauh dari kota serta masih kurangnya praktek dokter di desa, setiap satu bulan sekali warga Slagi mengadakan posyandu khusus bagi warga lansia. Berada di salah satu rumah warga, posyandu lansia Al Ma’ruf dijalankan demi meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya kesehatan. Dibantu oleh seorang bidan, para lansia bisa melakukan cek kesehatan mulai dari mengukur berat badan, tekanan darah, serta gula darah. Selain itu lansia-lansia tersebut juga bisa berkonsultasi mengenai permasalahan kesehatannya dan lebih mudah mendapatkan obat-obatan yang mereka butuhkan. Dengan adanya posyandu ini para lansia diajak untuk selalu peduli dengan kesehatannya. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan, para lansia dapat lebih terpantau asupan gizinya.

Safari Jumat Bupati Jepara ke TPQ An Nida I


Jumat, 20 Juli 2012. Bupati Jepara Bapak Ahmad Marzuki, S.E. melakukan safari jumat di desa Slagi Kecamatan Pakisaji, Jepara. Acara ini dilakukan oleh Bapak bupati setiap minggu ke desa-desa yang ada di kabupaten Jepara. Kunjungan bapak bupati kali ini bertepatan sehari sebelum bulan ramadhan. Kali ini bapak bupati berkunjung ke salah satu TPQ di Slagi yaitu TPQ An-Nida` 1 untuk memberikan donasi untuk TPQ ini sekaligus menjalin silaturahmi dengan masyarakat setempat. Dalam pidatonya bapak bupati mengajak orang tua dan para ustadzah untuk senantiasa memotivasi anak-anak untuk selalu bersemangat dalam membaca dan mempelajari Al-Qur`an karena pendidikan Al-Qur`an sangat penting dimulai sejak dini. Beruntungnya kunjungan kali ini bertepatan dengan kegiatan Tim II KKN-PPM UNDIP Semarang, sehingga Tim KKN ini bisa bertegur sapa dan berfoto bersama dengan beliau. Selanjutnya beliau menjalankan sholat Jumat di Masjid Al Jami` Nggranggan, Slagi yang merupakan masjid pertama yang didirikan di desa Slagi bersama dengan masyarakat.

Rabu, 20 Juni 2012

menghidupi masa lalu


Ada sesak yang perlahan nyaris menghentikan aliran udara di sekitar kita. Di ruangan yang hanya sebesar kotak telpon umum itu kita saling lupa pada setiap hal yang seharusnya diingat saat itu juga. Kita tak pernah tahu kapan hujan turun dan urung berhenti. Kapan kita tiba-tiba sudah berada di ruang sempit ini, hanya berdua. Yang kita tahu hanya, kita akan segera mati. Kita akan secepatnya meninggalkan semua yang ada di luar kotak ini.
Dingin. Saat diam-diam ada yang menyentuh telapak tangan kiriku, seketika perasaan itu menjalar di sekujur tubuh hingga ulu hati. Hati siapa? Kita ini sudah mati. Sudah mati dari masa depan masing-masing. Setiap hari kita hanyalah arwah yang berputar-putar di pelataran hari ini dan hari-hari kemarin sampai masa lalu. Mungkin itu yang mempertemukan kita. Dengan hujan yang menjadi kereta, kita bertemu untuk saling menyampaikan pesan-pesan pilu.
“Aku menyesal”, katamu sambil terus memegang tangan kiriku, tanpa melihat wajahku.
Aku hanya diam.
“Aku menyesal bertemu kamu”, katamu lagi.
“Aku menyesal harus merasakan dingin yang sebasah ini di sampingmu”, kau terus bicara.
“Bolehkah aku hidup kembali? Hidup di masa depan?” tanganmu kian erat. Ada rasa takut kehilangan yang sepertinya menjalar lewat nadi tangan kiriku ini.
Sejurus kemudian kau mulai kesulitan. Kau kesulitan menangkap udara yang terlalu tipis di kotak sempit ini. Dadamu tampak naik turun tanpa jeda. Perlahan, kulepas genggaman tanganmu. Aku tahu, meski kehabisan udara sekalipun, kau tak akan pernah mati dari masa lalu. Kau akan terus hidup hingga kehidupan di sana berakhir dan kau berhasil menghidupi masa depanmu lagi.

Rabu, 06 Juni 2012

mengantar jenazah

bunga dan merah tanah
menyatu atas debu
doa rabu
mengurapi udara

kusandang duka
diam-diam
ada yang pergi dalam
diam
ada yang lebih basah dari air mata

--acep zamzam noor--

di sebuah rabu, saya temukan sajak ini di halaman pertama buku kumpulan sajak acep zamzam noor yang saya pinjam sebentar dari seorang teman. entah kenapa, saya langsung ingin menjadikan sajak ini sebagai salah satu sajak paling duka --yang lebih perih dari luka--
saya hapal tiap larik sajak ini, hari ini juga.
untuk membuktikannya, biar saya ulang kembali menuliskannya tanpa mencontek.

mengantar jenazah
bunga dan merah tanah/ menyatu atas debu/ doa rabu/ mengurapi udara
kusandang duka/ diam-diam/ ada yang pergi dalam/ diam/ ada yang lebih basah dari air mata//
--acep zamzam noor--

rabu, 6/6/2012

kepada entah


aku benci ketika dalam pusaran hidup ini akhirnya tiba di suatu titik yang entah di mana, yang jelas ketika sampai di sana aku langsung merindukan seseorang yang entah siapa, atau sesuatu yang entah apa. aku benci pada remang yang entah bagaimana, pedih yang entah mengapa, jauh yang entah seberapa, dan segalanya yang tak berbetuk apa-apa.

aku tak pernah gagal untuk gagal mengingat dan merasakan apa yang disebut dengan ketaktahuan pada apapun yang tiba-tiba datang menyampaikan sebuah paket dari entah siapa, kotak air mata yang entah seberapa. aku gagal membuangnya kemudian nyaris mati berdiskusi dengan entah apa dan siapa di sudut ruangan.

aku memang bukan siapa-siapa. mungkin tak (lagi) memiliki apa-apa yang bisa diapa-apakan. aku hanyalah apa (?) apa yang terus menjadi tanda tanya dan terus bertanya-tanya tentang siapa dan apa.

Selasa, 22 Mei 2012

Memaknai Kemudian Mendefinisi-i

Ada yang coba saya ingat-ingat saat berpikir 'kenapa sih kelas penulisan kreatif dengan Triyanto Triwikromo selalu menyenangkan?' Ternyata, saat sekitar semester 3 yang lalu (sekarang saya semester 6) saya sudah membayangkan betapa akan menyenangkannya mengikuti perkuliahan dengan dosen pengampu seorang sastrawan sekaligus redaktur surat kabar terkemuka di Semarang (Suara Merdeka).

Ekspektasi saya tidak salah. selama hampir satu semester mengikuti kelas tiap minggunya, selalu ada hal-hal baru dan menyenangkan yang saya dapatkan. Meskipun materi yang disampaikan sangat sederhana, tetapi Pak Triyanto memiliki teknik pengajaran yang menurut saya selalu berusaha agar para mahasiswanya berpikir keras, mengeksplore imajinasi dan benar-benar berpikir secara kreatif. Banyak hal-hal tak terduga yang kerap muncul di setiap perkuliahan kami, misalnya hari ini.

Selasa pekan ini (22/5/2012) materi kami adalah tentang puisi. Saya memang datang terlambat sekitar 10 menit, tetapi masih sangat bisa mengikuti perkuliahan secara penuh. Salah satu hal yang menurut saya menjadi poin plus dalam kelas Pak Triyanto adalah 'santai' dan longgar. Mahasiswa yang terlambat tidak akan dikomentari, ia akan terus melanjutkan tuturannya saat mahasiswa yang terlambat tiba-tiba masuk kelas. selain itu beliau juga tidak pernah 'menyalahkan' setiap pendapat.

Materi kami pekan ini tentang puisi. Pak Triyanto meminta kami mendefinisikan puisi dengan cara kami masing-masing. Namun, sayaratnya definisi tersebut tidak boleh merujuk pada makna harfiah, misalnya puisi adalah untaian kata yang disusun berdasarkan rima, asonansi, aliterasi, dst...

Dan inilah hasil pendefinisian kami. Kebetulan saya mendapat giliran pertama. Menurut saya, definisi puisi (sajak) adalah malam yang kesepian, hujan yang kedinginan dan gelap yang teramat sungsang. Sesekali senyum dalam ketiadaan tapi selalu hidup dalam kematian.

Kemudian mahasiswa lain mendefinisikan puisi (sajak) adalah:
  • dewi nafisa prabawati: sajak adalah teknologi. Pak Triyanto mencoba memaknai definisi ini dengan menggambarkan bahwa sajak adalah kesatuan mesin yang di dalamnya ada skrup dll.
  • achmad dwi afriyadi: sajak adalah perselingkuhan. Ini dimaknai bahwa sajak lahir karena adanya perasaan was-was, karena pelaku perselingkuhan biasanya kerap dihinggapi perasaan was-was dan semacamnya.
  • imam muchdi: sajak adalah aturan. Meskipun Pak Triyanto memaknai definisi ini mengacu pada aturan seperti jumlah larik, rima akhir, asonansi, aliterasi dsb, menurut saya kata 'aturan' yang dicetuskan imam lebih mengacu pada suatu aturan yang lahir dari masing-masing penyair terhadap sajaknya. Jadi, ketika ia menulis sajak dengan berbagai diksi, tipografi, metafora dan kombinasi lainnya, itu semua mengacu pada aturan si penyair yang menuliskan sajaknya. Terlepas dari pemaknaan yang dilakukan orang lain, yang penting puisi tersebut dibangun oleh aturan-aturan (ego) penulisnya
  • galih wisnu pribadi: sajak adalah media curahan hati
  • sri debby marpaung: sajak adalah jeroan, gado-gado dan air beriak. Menurut Pak Triyanto definisi ini memandang sajak sebagai sesuatu yang tidak beraturan. Ada lompatan-lompatan yang terjadi di dalamnya.
  • moch. taher agus prasetyo: sajak adalah orang kulit hitam (negro) di pulau Albino.
  • zen marten nurullah: sajak adalah futsal. Berapa orang yang mati karena futsal? tanya Pak Triyanto menanggapi definisi ini. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa definisi ini mengarah pada suatu anggapan bahwa puisi adalah kematian.
  • diana novita sari: sajak adalah ruangan dan warna
  • tri sena surya anggara: sajak adalah lamunan kamar mandi yang membantu proses keluarnya tai. Definisi ini mengarah pada bahwa sajak adalah kesia-siaan. Tapi menurut saya, definisi ini mengarah pada suatu pemaknaan bahwa sajak adalah kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
  • anggun prestiani: sajak adalah nada-nada jiwa. Pak Triyanto coba menganalogikan bahwa melaui definisi ini ia membayangkan di dalam jiwa manusia ada semacam piano yang membunyikan nada-nada.
  • riko yulianto: sajak adalah 4 ekor hewan berbeda yang berduel
Setelah pendefinisan sajak tersebut, sesi diskusi pun berlangsung meskipun singkat. Satu pertanyaan yang saya lontarkan adalah bagaimana bapak menanggapi pembedahan puisi yang sepertinya adalah suatu keisa-siaan karena sebagaimanapun puisi dimaknai oleh sekian orang maka sekian makna akan diperoleh? Menanggapi ini dengan uraian yang cukup lebar, tetapi pada akhirnya Pak Triyanto menyampaikan bahwa dalam kesia-siaan pun ada penemuan yang didapatkan yang mengarah pada suatu eksistensialisme.

Selanjutnya, potongan sebuah puisi yang disampaikan Debby cukup membuat kami berpikir mengenai maknanya, sebab menurut Debby, ia mendapat beberapa hujatan dari bebebrapa pihak yang menilai puisinya sudah melewati batas kewajaran. Berikut ini potongan sajaknya:

dan tuhan tak urung tersenyum
melihat kami nyaris berkelamin

Untuk mencoba menyimpulkan beberapa pemaknaan yang kami buat, Pak Triyanto menutup kuliah hari ini dengan sebuah idiom yahudi yang berbunyi: "saat manusia berpikir, Tuhan tertawa"

Jumat, 18 Mei 2012

Rumah



Malam hampir menua
Wajahnya yang penuh kerutan kian pucat menelan angin yang mampir ke jendela
Di sebuah lubang, di balik sebatang kerinduan yang sungsang di halaman belakang
Di getirnya kesepian di ketiadaan
Aku tinggal jendela
Setiap malam kutelan diam-diam pesanmu yang sesenggukan menahan angin
Setiap diam kutikam jarak yang menjauhkanmu dari kenyataan
Semu. Semua yang kau kirimkan adalah kepura-puraan yang memaksa
Pakaianmu, makananmu, pekerjaanmu, pikiranmu...
Semu. Omong kosong
Tinggal aku jendela
Di pintu, pernah pesanmu meringkuk sendiri dilayati angin yang kedinginan
angin yang kepayahan
Pesanmu tak bisa sampai lewat pintu depan. Pintu yang sudah mati kehilangan kunci
Lalu kupungut. Kupungut lalu kumasukkan lewat jendela. Aku jendela
Tapi pesanmu tak bisa terbaca
Jendela tinggal aku
Tinggal aku yang sesekali sempoyongan menahan angin.
Aku tinggal. Tanpa pintu tanpa ruang tengah
Di jendela, pesanmu tak pernah sampai. Tak ada suara di ruang tengah
Pesanmu seharusnya sudah sampai di sana, dan kau baca:
Tak ada lagi rumah. Tak usah pulang.

Semarang, 18 Mei 2012

Kamis, 19 April 2012

kepada kartini. kartini yang telah mati...

sumber gambar: tumblr.com

Kepada Kartini. Kartini yang telah mati...
Kartini. Itu namamu kan? Aku tak ingat kapan pertama kalinya mengenal namamu. Ya, sekadar mengenal namamu. Mungkin saat aku masih duduk di SD. Aku lupa. Dan aku sangat tak peduli. Kau tahu tidak apa yang kupedulikan? Ah, aku yakin kau sama sekali tak tahu. Yang kau tahu pasti hanya mengenai para perempuan yang ada di barisanmu, yang berdiri sambil memegang bendera bertulis EMANSIPASI WANITA. Kau tak tahu apa-apa tentang aku, tentang kami, apalagi tentang bangsa ini, sekarang!

Apa yang kau pikirkan saat berkoar memperjuangkan emansipasi? Kau sedang memperjuangkan dirimu sendiri, bukan? Ah, terserahlah. Yang jelas, padamu ingin kukatakan bahwa emansipasi yang kau gadang-gadangkan di masa lalu telah menjadikan kaummu lupa diri.

Kenapa kau merasa begitu hebat hingga harus kami peringati? Ah, oke. Mungkin maksudku, kenapa kami, tepatnya kaummu--aku tidak--menganggap kau begitu berjasa? Apa jasamu? Coba saja kau tanyai mereka satu persatu, semoga bisa kau dapati mereka mengerti apa makna perjuanganmu. Mereka hanya melakukan selebrasi, tanpa makna tanpa apa-apa. Ya. Seperti selebrasi-selebrasi lainnya di negeri  ini. Sia-sia. Tak ada kesadaran yang timbul dari kedalaman hati. Sebatas mengenakan kebaya, apa maknanya? Kau menyukainya? Hei, jawab!

Maaf. Aku tak tahu harus mengeluh kepada siapa lagi di sini. Sejarah yang menceritakan perihal hidupmu di masa lalu, bukanlah alternatif untukku percaya. Sejarah di sini adalah manipulasi. Pemilik sejarah adalah penguasa di masa itu. Jadi, jika hari ini aku menjadi penguasa, aku berhak atas sejarah, aku berhak menuliskannya semauku.

Aku menyesalkan keberadaanmu di masa lalu. Jika memang kau pernah ada!
Aku, perempuan yang tak mampu mengenalimu itu.
Semarang, beberapa hari menjelang hari peringatanmu.