Laman

Minggu, 21 Juli 2013

La Tahzan, sebab Tuhan Tak Ingin Kita Bersedih

Kesedihan umumnya disebabkan oleh ketakmampuan mengatasi suatu permasalahan. Padahal, permasalahan atau ujian dalam hidup manusia adalah hal lumrah. Sebab hidup adalah proses. Dalam proses, kita melewati fase-fase tertentu. Jika kita gagal melewati sebuah fase atau gagal menyelesaikan suatu permasalahan, maka kita akan menjadi manusia yang stagnan. Hanya berkutat pada masalah yang itu-itu saja. Sedangkan proses menuntut kita untuk senantiasa lanjut ke fase berikutnya.

Sakit hati adalah salah satu bentuk ujian yang harus kita selesaikan pada suatu fase. Ada orang yang bukannya menyelesaikan masalah melainkan justru hanya melakukan pelarian.
Banyak hal bisa dilakukan untuk melarikan diri dari masalah. Cara positif misalnya dengan membaca quran, mendekatkan diri pada Tuhan. Atau dengan cara negatif misalnya minum alkohol. Hal semacam itu bisa memberikan ketenangan pada seseorang. Sehingga masalah tidak diselesaikan tetapi hanya dianggap selesai.

Ada kalanya menyelesaikan suatu permasalahan dengan hanya menganggapnya selesai adalah cara terakhir yang mampu dilakukan seseorang. Apalagi jika itu adalah masalah yang terlalu pelik. Ini semacam pengingkaran agar beban sejenak berkurang.

Sayangnya, menganggap selesai suatu permasalahan tanpa  benar-benar menyelesaikannya adalah sama dengan hanya mengendapkan hal tersebut. Tidak heran bila di kemudian hari, endapan masalah tersebut justru menjadi masalah yang makin serius. Sebab hanya menganggapnya selesai tanpa mengikhlaskannya adalah kesia-siaan.
Terhadap suatu permasalahan, kita harus menyadari masalah tersebut, merasakan dengan penuh kesadaran. Meluapkannya. Jika marah katakan marah. Lepaskan emosi itu. Baru kemudian berusaha melupakan. Hal ini sama dengan ketika kita berusaha untuk merasakan denyutan di seluruh tubuh.

Denyut pada tubuh adalah bukti kasih sayang Allah. Sesungguhnya denyutan ada di seluruh bagian tubuh kita dari kepala sampai kaki. Tapi kita jarang mampu menyadarinya.
Cobalah rasakan denyut nadi di genggaman tangan, langsung terasakah? Jika belum, pejamkan mata dan rasakan. Tidak mampu meraskan denyut di tangan adalah indikator bahwa kita belum bisa merasakan dan menyadari emosi diri. Merasakan apakah kita sudah betul-betul mengikhlasakan sesuatu atau hanya mengendapkannya.
Dalam QS 7: 42-43, Allah SWT berfirman: 
"Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan kami mencabut dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai."

Dari ayat tersebut kita bisa berhikmah bahwa cara menghapus rasa dendam atau sakit hati atau mengikhlaskan suatu masalah adalah dengan berbuat baik, kebajikan. Kalau kita masih sedih ketika mengingat sesuatu (permasalahan di masa lalu yang kita anggap sudah selesai) berarti kita belum ikhlas. Berarti Allah belum mencabut masalah itu dari hati kita.

Pentingnya mengikhlaskan suatu permasalahan sakit hati adalah agar kita tidak larut dalam kesedihan. Kita tidak boleh bersedih. Dalam quran dikatakan "la tahzan" (jangan bersedih). Sebab orang bersedih pertanda jauh dari rahmat Allah. Kesedihan pun bisa membuka peluang bagi setan untuk menjerumuskan kita.

Banyak hal menjadi serba salah ketika kita bersedih. Menyebabkan kita tidak bisa beraktivitas dengan baik. Salah satu contohnya adalah perilaku galau yang belakang seolah menjadi gaya hidup, menjadi bagian yang tak bisa terlewatkan. Padahal jelas bahwa menggalau ialah memanjakan kesedihan diri sendiri.

Disusun dan dikembangkan berdasarkan dari Spiritual Coaching bersama Ustazah Meidian, 21 Juli 2013 di Masjid Kampus Undip Tembalang.


Rabu, 05 Juni 2013

Indonesiaku Atlantisku


Mengenai adanya dugaan bahwa Indonesia adalah benua yang hilang yaitu Antartika, sepertinya saya setuju. Semua hal yang saya butuhkan atau yang akan saya butuhkan, ada di sini. Sejak dilahirkan dan bertahan hidup di negeri ini selama 21 tahun lebih saya memang merasa beruntung menjadi Warga Negara Indonesia. Sebelum dan setelah saya tahu mengenai adanya negara-negara lain di seluruh dunia, meskipun ada keinginan untuk mengunjungi beberapa negara lain, saya tetap mencintai tanah air ini begitu dalam. Tidak ada alasan yang bisa menjelaskan secara pasti kenapa saya begitu mencintai Indonesia. Yang jelas, dalam tubuh saya terkandung begitu banyak unsur tanah dan air Indonesia.

Indonesia adalah negeri yang sangat bahkan terlalu potensial untuk semua hal. Baik dari segi SDM, SDA, dan hal lain yang suatu saat nanti dibutuhkan oleh dunia. Saya setuju dengan ucapan Mr. Fahmi yang mengatakan bahwa meskipun bangsa Indonesia pernah dijajah oleh beberapa bangsa dunia sejak masa lampau hingga sekarang (hanya berbeda teknik penjajahan), Indonesia tetaplah negeri yang survive. Di negeri yang secara serampangan dianggap memiliki tanah subur—karena beberapa tanaman bisa tumbuh tanpa perlu ditanam cukup dengan melempar biji buahnya saja—ini selalu lahir dan tumbuh bibit-bibit baru baik SDM maupun SDA. Indonesia tidak pernah kehabisan orang-orang kreatif yang bisa mengolah apapun menajdi hal bermakna bagi hidup mereka masing-masing.

Menjadi negeri yang adidaya seperti Amerika, Cina atau Jepang mungkin bukan hal diambisiuskan bangsa ini. Tapi saya percaya bahwa Indonesia mumpuni untuk sekadar menjadi negara super power. Ini hanya masalah ada tidaknya kemauan dan tekad yang kuat (ambisiusitas). Menurut pendapat saya, Indonesia tidak begitu ambisius untuk hal tersebut. Tapi yang terpenting bagi bangsa negeri ini adalah selalu bisa mengikuti setiap trend dunia. Indonesia tak perlu menjadi yang nomor satu di dunia tapi dunia akan selalu mengingat negeri ini. Itulah poin penting yang saya peroleh dari pengamatan.  

Sebagai negara kepulauan, Indonesia adalah negara besar yang berani untuk mempertahankan puluhan provinsi untuk tetap menjadi bagian dari NKRI. Tidak seperti negara lain di dunia yang membentuknya menjadi negara bagian (united state). Dikarenakan kemajemukan tersebut, Indonesia memiliki keanekaragaman dalam banyak hal: agama, budaya, tradisi, bahasa dll. Jelas bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya. Bisa jadi karena kekayaan itulah Indonesia lalai untuk merawat apa yang merupakan miliknya. Wajar jika beberapa “harta” yang dimiliki telah dengan mudah diakui sebagai hak milik oleh bangsa lain. Tapi tetap saja, meskipun demikian Indonesia tidak begitu khawatir kehilangan. Adanya tanah subur yang senantiasa menumbuhkan berbagai keperluan hidup membuat bangsa Indonesia tetap tenang, stay woles dan malas. Apalagi sudah banyak bangsa Indonesia yang cenderung melupakan budaya lokal-nasional dan tertarik pada budaya bangsa lain. Mereka lebih suka ikut-ikutan budaya lain. Misalnya budaya barat dan yang sekarang sedang booming adalah budaya Kpop.


Namun demikian, di postingan sebelumnya saya sudah pernah sampaikan bahwa budaya homoseksual yang dianggap berasal dari budaya barat sebetulnya adalah pendapat yang salah. menurut Kang Putu isu lesbian—yang belakangan kerap menjadi topik di buku-buku sastra—ikut mewarnai buku ini. meskipun kang putu menambahkan bahwa isu lesbian sebenarnya telah ada di indonesia sejak dulu. menurutnya, para warok di jawa timur umumnya memiliki simpanan pria tampan sebagai semacam “sarat” profesi. jadi, menurut kang putu lagi, kita tidak perlu mengucapkan kulonuwon pada budaya barat mengenai isu tersebut. Sebagai bukti tambahan bahwa Indonesia sudah lebih dulu memiliki ‘sesuatu’ yang mungkin dianggap baru bahkan dianggap sebgai budaya dari negara lain. Saya sampaikan pula di sini pendapat Mr. Fahmi mengenai budaya rapper yang dianggap kepunyaan American Black. Rapper asli Indonesia adalah dalang. Mereka bicara secara spontan dengan iringan instrumen musik sebagaimana para rapper. Apa yang dilakukan para rapper sebetulnya hanyalah membaca dengan diiringi beat music. 

Senin, 13 Mei 2013

Arusutama (Mainstream)



Selama ini yang terlintas di kepala saat mendengar istilah melawan arus adalah sesuatu yang jauh lebih keren (ekstrem) dari sekadar ikut arus (ikut mainstream). Tapi pernahkah terpikir filisofi arus?
Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, begitulah takdirnya. Saat seseorang melawan arus, sudahkah tergambar arah mana yang akan ia tuju? Kembali kah ke masa lalu? Atau sekadar berbelok? Sebab jika ia masih menjadi air, tak akan mungkin mengalir ke atas. Sedangkan laut akan selamanya menjadi muara, di bagian terendah.

Jadi, saya simpulkan bahwa istilah melawan arus yang selama ini saya pahami adalah kesalahkaprahan. Lalu, tidakperlukah kita menjadi pelawan arus? Jika pertanyaan ini mengacu pada maksud ‘tidak perlukah kita menjadi pribadi yang unik?’ maka jawabannya:  melawan arus berarti melawan kodrat. Jika ingin menjadi pribadi yang berbeda dari yang lain, cukup lakukan dengan cara memilih jalur yang tidak umum. Tetapi tetap meyakini bahwa air akan senantiasa termuarakan pada laut.

Senin, 06 Mei 2013

Mengukur Kedalaman Pram, Sebuah Resensi


MENGUKUR KEDALAMAN PRAM
Judul buku : Pram dari Dalam (2013)
Penulis     : Soesilo Toer
Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri
Harga : Rp 65. 000 ; 286 hlm.

Melalui Pram dari Dalam, meskipun berkali-kali menyatakan bahwa dirinya merupakan orang yang paling berhasil untuk gagal, Soesilo Toer justru telah benar-benar berhasil menceritakan ‘dari dalam’ tentang sosok kakak tertuanya, Pramoedya Ananta Toer. Dengan gaya bahasa yang kasar dan dhleyo, ia memegang totalitas itu tanpa harus tercoreng wajahnya dengan ungkapan tak tahu diri. Dalam hal ini, Soes berhasil menjadi narator dengan kolaborasi isudut pandang orang pertama dan orang ketiga serba tahu, seandainya buku ini dianggap sebagai karya sastra. Dengan membaca Pram dari Dalam, akan diperoleh begitu banyak informasi tidak hanya mengenai Pram, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan pengarang yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam,puluhan bahasa dunia tersebut, yang bisa jadi tidak akan pernah diungkapkan orang selain Soesilo Toer.

Beberapa hal yang disampaikan Soesilo Toer adalah mengenai sejarah orangtua Pram bersaudara yang masih ternyata merupakan keturunan ningrat—ayahnya telah menghapus nama depannya yang semula Mastoer menjadi hanya Toer saja karena alasan nasionalisme. Ada pula cerita mengenai Pram yang—menurut Soes—lebih gagal dibandingkan dirinya dalam mebina rumah tangga. Dalam buku ini juga Soes memaparkan bahwa betapa pun Pram bersikap keras terhadap adik-adiknya, ia tetaplah kakak tertua yang harus dihormati. Pram berpesan sesulit apa pun hidup, berusahalah untuk tidak meminta kepada orang lain. Soes bisa menceritakan potongan-potongan kisah hidup Pram karena ia pernah tinggal bersama kakaknya itu ketika di usia sekolah. Sehingga ia pun bisa menginformasikan bahwa seseorang yang paling berjasa dalam hidup Pram adalah Jan van Resink. Ia merupakan seorang Belanda yang ahli bahasa Jawa. Resinklah yang dikabarkan telah menyelundupkan naskah milik Pram yang saat itu sedang ditahan di Penjara Bukitduri Jatinegara. Naskah tersebut diselundupkan pada sebuah lomba—yang sebenarnya pun telah ditutup—yang diadakan H.B Jasin. Menurut Soes itu merupakan tonggak sejarah dunia kepengarangan Pram.
  
Historia vitae vagistra, demikianlah Soes menyebutkan bahwa sejarah akan selalu membuat manusia menjadi lebih bijak. Barangkali tindakan Soes mempublikasikan “aib” keluarga Toer dianggap kecerobohan. Namun, pandanglah dari perspektif lain, bahwa Pram adalah bagian dari sejarah. Sebagaimana visi hidup Pram bahwa menulis adalah tugas nasional, maka Soes justru telah memperbesar kuantitas informasi mengenai sejarah Pram, bagian dari sejarah Indonesia. Kalau pun saat ini belum diterima secara utuh, kelak, Pram dengan segala kisah hidupnya akan benar-benar menjadi bagian dari sejarah Indonesia seutuhnya, terutama sejarah dunia kepengarangan. Sebab sejarah selalu berkembang.

Pram telah tiada, dan buku ini menjadi serupa album kenangan yang bisa dijadikan sumber inspirasi. Sebab Soes tak sekadar memaparkan Pram dari kedalaman yang begitu dalam, tetapi juga membagikan pengalamannya—sumber ilmu pengetahuan—yang begitu bernilai. Bahwa di balik sosoknya yang sederhana bahkan cenderung ndleyo, ia telah menginspirasi. Ini memperkuat pula kata-kata Nuril Basri yang diutulis dalam blog pribadinya bahwa untuk menghargai oang lain tidak sekadar dilihat dari tampilan luar, tetapi  juga dari dalamnya. Sebab bisa jadi orang yang dari luar tampak tidak berharga, justru memiliki kehebatan yang tidak kita miliki—yang merasa lebih bernilai dari orang tersebut. Dan di balik keterlalusederhanaannya tersebut, Soesilo Toer merupakan doktor lulusan Institut Plekhanov Rusia. Saat ini ia menjalani hari tuanya dengan didampingi istrinya. Bersama rekan-rekan lain mengelola Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) Blora.

Satu-satunya kekurangan yang justru semakin menambah kelebihan buku ini adalah kerap Soes tidak fokus membicarakan sebuah pokok bahasan dalam satu bab. Bercampurnya berbagai informasi dalam sebuah bab membuat pembaca menjadi kewalahan untuk menampung informasi-informasi berharga yang diabadikan dalam buku ini.

Rabu, 01 Mei 2013

Ketika Topeng menjadi Tuntutan


Judul novel : Topeng (2002)
Penulis : Wing Kardjo
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia; 158 hlm.

Pen, seorang laki-laki berusia 49 tahun. Selain menjadi dosen di Jepang ia juga penyair. Sampai di usia yang terlampau lanjut ia tetap melajang. Sebagai seorang dosen, kegilaan yang dilakukan Pen adalah bercinta dengan mahasiswinya yang bernama Ayuko. Bercinta dalam arti terdalam yaitu tidak sekadar menjalin kisah cinta tetapi juga berhubungan intim—tanpa pernikahan. Tentu saja hubungan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebab bukan hanya perkara usia yang mereka langkahi, melainkan juga adat istiadat.

Dalam kisah ini sebentulnya yang menjadi sumber permasalahan adalah Ayuko. Perempuan berusia 20 tahun itu diduga mengidap electra complex yaitu kebalikan dari oedipus complex. Sebagai perempuan—sengaja tidak disebut gadis karena tidak bisa dibuktikan apakah Ayuko masih perawan atau tidak sebelum berhubungan dengan Pen—berusia belia, Ayuko tampak begitu biasa menjalin kisah cinta dengan laki-laki yang lebih tua dari ayahnya sendiri. Bahkan, beberapa kali Pen menjelaskan hal tersebut, Ayuko justru meyakinkan bahwa baginya tidak ada masalah. Ia mencintai dosennya itu tanpa alasan, parce que. Meskipun pada akhirnya hubungan mereka harus berakhir begitu saja setelah Ayuko diduga terkena virus HIV Aids. Sebelum memutuskan untuk berpisah, Ayuko telah lebih dulu menyampaikan maksudnya itu secara implisit, lewat sebuah puisi. Puisi tersebut dimaknai oleh Pen sebagai suatu permintaan maaf. Mungkin memang Ayuko adalah gadis “nakal”. Namun, Pen pun tidak lebih baik darinya. Mereka seimbang sebagai pemakai “topeng”.

Merasa keputusan Ayuko tersebut berbanding terbalik dengan sikapnya selama ini, Pen berusaha untuk bisa bertemu hanya untuk menjelaskan duduk perkara. Sayangnya, Ayuko tetap tidak mau menjelaskan apa pun. Di sanalah kesadaran Pen muncul. Ia merasa menjadi manusia tidak tahu diri karena telah menjalin hubungan gelap dengan perempuan belia. Ia khawatir kebiasaannya mengunjungi shoapland menjadikannya sebagai penular virus terhadap Ayuko. Sejak saat itu, ia bertekad untuk memasang kembali topengnya. Menjalani peran sebagai dosen yang notabenenya bijaksana dan beritikad baik.

Penyair Ronggowarsito dikenal dengan ramalannya mengenai “zaman edan”. Sementara Akira Kurosawa melalui Soesilo Toer pernah menyatakan bahwa di dunia gila, hanya si gila yang waras. Lalu kapankah zaman tersebut mulai terjadi? Sekiranya ramalan Ronggowarsito telah benar-benar terjadi pada kurun tahun 2000, bisa jadi Pen (mungkin benar-benar memang Wing Kardjo sendiri) telah mengambil peran sebagai si gila yang hidup di zaman edan. Ia ingin tetap tampak waras dengan membawa-bawa topeng supaya rahasia mengenai kegilaannya tetap tertutupi.

Topeng merupakan salah satu karya tahun 2000-an yang terbilang vulgar. Sejak awal kisah, pembaca sudah langsung disuguhi peristiwa berbau ranjang. Selanjutnya peristiwa demi peristiwa dijalin dengan aroma seksualitas. Selain itu, kekurangan novel ini adalah kelatahan narator yang cenderung ikut campur dalam penceritaan. Sehingga hal tersebut menyebabkan pembaca menjadi curiga bahwa narator adalah penulisnya sendiri yaitu Wing Kardjo. Meskipun bagian semacam itu hanya beberapa kali, tetap saja menjadi hal fatal yang secara implisit menunjukkan kepada pembaca bahwa  novel ini adalah sebuah catatan harian yang diprosakan.

Meskipun demikian, novel ini tetap mengandung nilai-nilai positif. Melalui novel ini disampaikan informasi mengenai beberapa budaya masyarakat Jepang. Di antaranya adalah mengenai kebiasaan mereka untuk disiplin waktu. Jika masyarakat Indonesia cenderung mengulur waktu dalam mengerjakan suatu hal sehingga terburu-buru di penghujung, maka tidak dengan masyarakat Jepang. Lembur akan mereka lakukan saat dibutuhkan, tetapi segera istirahat setelah menyelesaikannya secara maksimal. Satu lagi hal yang sekiranya mengejutkan adalah mengenai budaya masyarakat Jepang yang tidak ingin berutang budi dan senang memberikan hadiah dengan bungkusan-bungkusan yang indah. Hal tersebut juga yang menjadi motivasi bagi Ayuko untuk menghadiahkan tubuhnya yang terbungkus kimono.

Kamis, 25 April 2013

Mendung Berkabut

Tuhan terlampau biasa untuk sekadar memahami.
Di pundakmu, ada risau-risau yang pasi.
Ke mana hendak kau bawa pergi bercak-bercak rindu yang tak merupa?
Tuhan terlanjur biasa dalam memberi.
Kadang, kau terlalu khusyuk untuk meyakini jalan yang tertimpa langit.
Kabut. Di matamu terberai kabut yang bahkan tak sempat mengantarkan mendung.
Hujan. Di pekaranganmu menderas ianya yang tak tahu ke mana harus pulang.
Tuhan berkabut.
Sementara kau sendirian menelan mendung, sampai habis.

Semarang, 24 April 2013

Rabu, 17 April 2013

Diskusi dan Bedah Buku 'Pram dari Dalam'



Bersama Soesilo Toer di Diskusi dan Bedah Buku ‘Pram dari Dalam’. FBS Unnes, April 2013.

Sumringah. Itulah satu kata yang agaknya menggambarkan perasaan saya sepanjang berada di FBS Unnes. Saya sudah sempat melewatkan beberapa kesempatan sampai akhirnya bisa bertatap muka dengan “adik kesayangan” Pramoedya Ananta Toer ini. Well, saya sebutkan saja poin-poin penting dari acara ini ya.

1. Pak Soes memperkenalkan keluarganya. Ia membawa istri dan anak semata wayangnya, Benee Santoso. Menurutnya, seorang Bapak memang harus kalah dari anak dalam beberapa hal. Sebab ia merasa bangga karena anaknya memiliki tinggi 180an, 20 cm lebih darinya.

2. Dulunya Pak Soes cadel. Mengilangkan cadel dengan cincin emas yang telah dububuhi kotoran manusia atas saran guru bahasa Inggris di tamsis Jakarta.

3. Pak Soes protes sebab di backdrop namanya ditulis tidak dengan "oe" tetapi "u". Ia tidak mau demikian sebab ia lahir sebelum orba. Mengacu pada prolog yg disampaikan saya jadi penasaran, benarkah, rasa jengkel karena dimusuhi oleh orba masih mengakar atau bahkan diturunkan sampai generasi sekarang? Dan kalau benar masih, kenapa? Tidakkah melihat bahwa masyarakat nonorba sepertinya biasa saja. Saya sebagai anak bangsa yg lahir pasca orba cenderung bersikap netral. Sebab sejauh ini referensi saya mengenai perseteruan PKI-orba masih seadanya. Tapi beliau menjelaskan: "Saya tidak pernah merasa benci dan memusuhi bangsa Indonesia. Saya hanya kecewa kenapa kami dimusuhi tanpa pernah tahu kesalahan kami." Sambil tersenyum ia menyampaikan rasa bangganya bisa berdiri di depan para audien.

4. Untuk menghasilkan suatu karya maka perkayalah fakta dan pengalaman diri. Berkaitan dengan karya-karya Pram yang cenderung "arus balik", menurutnya, Roman sejarah merupakan shock teraphy bagi masyarakat. Tergantung bagaimana mereka menyikapinya. Apakah akan tetap percaya pada sejarah yang ada atau berontak.

5. Dari awal Soes menyebut-nyebut istilah "pemulung" secara implisit dan eksplisit untuk menyebut profesinya. Padahal, di bbalik tampilannya yang terlalu sederhana itu beliau merupakan doktor lulusan Rusia. Beliau juga pendiri Perpustakaan Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA) di rumah warisan keluarga Toer di Blora.

6. Saat diminta menggambarkan seorang PAT dalam satu kata, Soes menyebut kata "antikritik". Sebab PAT adalah orang yang tidak mau dikritik meskipun suka mengkritik orang lain.

7. Saya bertemu dengan 2 alumni Hawe, seperti biasa Duo Budi Maryono dan Kang Putu. Beliau pelaku kongsi penerbitan Gigih Pustaka Mandiri yang dalam hal ini adalah penerbit buku PDD (padahal keduanya pun penulis, dan dosen :D) Dan belakangan saya baru tahu bahwa sketsa PAT di buku PDD adalah karya Toni Malakian, juga mantan pengelola Hawe. Wow

Minggu, 07 April 2013

Sinopsis Film Silver Linings Playbook


Silver Linings Playbook (2013) merupakan film psikologi. Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang mantan pasien terapi kejiwaan. Pat, setelah dinyatakan boleh kembali ke rumah, ia begitu bersemangat untuk bisa kembali pada (mantan) istrinya Nikke. Padahal, Nikke lah yang menjadi sebab Pat harus dirawat di Baltimore.

Dalam misi “balikan” itu, Pat tidak sengaja bertemu Tiffany, perempuan yang juga pernah menjalani terapi karena depresi setelah suaminya tewas dalam kebakaran. Tiffany berhubungan seks dengan 11 rekan kerjanya di kantor sehingga ia dipecat.

Tiffany yang memunyai akses untuk menemui Nikke berjanji akan membantu Pat menyampaikan surat kepada Nikke. Syaratnya Pat harus mau menjadi partner Tiffany dalam kompetisi walts dance (tewasnya suami membuat Tiffany kehilangan partner). Awalnya Pat menolak karena rasa cintanya pada Nikke. Namun, permasalahan keluarga membuat Pat akhirnya mau. Selain itu, Tiffany dan keluarga Pat telah membuat kesepakatan berbohong kepada Pat bahwa dalam kompetisi itu Nikke akan datang.

Jumat, 15 Maret 2013

Pembaharuan Kosa Kata


Saya tidak bermimpi menjadi pegawai negeri. Tetapi jika kesempatan membawa saya pada kemungkinan, saya ingin mengajukan sebuah program kerja yaitu publikasi pembaharuan kosa kata secara umum melalui media massa dan media elektronik.

Selama ini, penyebaran informasi hanya terbatas pada kalangan tertentu. Padahal, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat yang “buta bahasa” tidaklah sedikit. Sehingga, pembaharuan yang sudah ada tidak menyebar secara maksimal dan efektif. Akibatnya, kesalahkaprahan terus terjadi.

Memang, cara ini tetap mengandung unsur negatif, sebab masyarakat akan semakin jauh dari Balai Bahasa—selaku pihak berwenang—dan tidak bersentuhan langsung dalam akses kebahasaan. Tapi saya pikir cara ini akan lebih baik terutama dalam rangka memperbaiki kualitas masyarakat dalam berbahasa Indonesia.

Sabtu, 23 Februari 2013

Rasionalitas yang Hilang



Resepsi Cerpen “Dengan Dua Cent Jadi Kaya” Karya Thio Tjin Boen


Membaca karya sastra Melayu Tionghoa (SMT) berarti membaca sejarah. Sebagai barang klasik, tidak bisa dipungkiri bahwa SMT pernah hidup di masa lampau dan masih bisa ditemukan sampai saat ini. Tentu hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari kerja keras seorang peneliti Perancis, Claudine Salmon.

Claudine Salmon mungkin punya tujuan tersendiri atas kerja kerasnya mengumpulkan SMT yang tersebar di nusantara. Namun, terlepas dari hal itu ia telah berjasa dalam menunjukkan eksistensi SMT kepada masyarakat sastra—diterima atau tidak. Sampai saat ini kumpulan SMT masih terus diperbaharui. Penerbit Gramedia telah berhasil menerbitkan sekian jilid yang masing-masing ketebalannya bisa mencapai 500 halaman.

Hal apa sebenarnya yang menjadikan SMT tetap dipertahankan? Bisa jadi karena kebudayaan Tionghoa kaya akan nilai-nilai luhur dari ajaran konfusiusnya. Misalnya saja dalam sebuah cerpen berjudul “Dengan Dua Cent Jadi Kaya” (DDCJK) karya Thio Tjin Boen.

Secara singkat cerpen DDCJK menceritakan tentang bagaimana sikap seorang Tionghoa terhadap kekuatan para leluhur mereka (dewa) yang disebut Toapekong. Rasionalitas tidak lagi menjadi tolak ukur ketika suatu keyakinan atas perintah dewa telah hinggap dalam diri mereka. Hal tersebut bisa dilihat dari sikap tokoh utamanya, Nyonya Hong Lan.

Dikisahkan bahwa Nyonya Hong Lan sengaja datang dari Kudus ke Semarang untuk mendapatkan semacam wangsit mengenai jodoh putri sulungnya. Di sebuah klenteng, sesaat setelah ia menyampaikan maksud tersebut di depan patung Sin Beng, ternyata patung tersebut dapat bicara. “Hujin punya anak, jodonya ada di Semarang”.

Meskipun awalnya ia kaget dan takut, akhirnya ia meyakinkan diri bahwa niat awalnya adalah mencarikan jodoh atas putrinya dengan bertanya kepada Sin Beng. Jadi, apapun yang dikatakan oleh dewa yang diyakininya tersebut, ia harus percaya dan patuh. Sesegera mungkin ia mencari cara untuk bisa bertemu dengan seorang pemuda miskin yang tinggal di sebuah kampung di Semarang. Berkat bantuan koleganya, Nyonya Hong Lan berhasil bertemu dengan pemuda sekaligus keluarganya yang ternyata penjual barang antik (bekas).

Sebagai orang kalangan bawah, tentu keluarga pemuda yang bernama Sie Tiong itu merasa khawatir barangkali Nyonya Hong Lan salah orang. Tetapi perempuan itu meyakinkan bahwa apa yang ia dengar dari patung Sin Beng adalah benar. Ia sudah tak peduli pada kenyataan bila harus berbesanan dengan orang miskin sekalipun. Setelah beberapa proses dilakukan, pesta pernikahan pun digelar.

Keluarga Hong Lan akhirnya berbesanan dengan keluarga Ong Boen Tek. Pasca pernikahan itu, Sie Tong tinggal di Kudus sementara Ong Boen Tek dan istirnya kembali ke Semarang. Suatu ketika Ong Boen Tek sedang duduk santai di rumahnya, seorang tetangga pun datang bertamu.
Tamu inilah yang akhirnya membuka rahasia yang sebelumnya sempat membuat ia dan istrinya ragu mengenai pernikahan putranya dengan putri keluarga Hong Lan. Tamu ini mengaku bahwa ialah yang bersembunyi di balik patung menyamar menjadi Dewa Sin Beng dengan mengatakan bahwa jodoh dari putri Nyonya Hong Lan adalah seorang pemuda miskin di Semarang.

Meskipun kisah in terksesan mengada-ada, intinya pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca adalah perihal kepatuhan pada leluhur (dewa). Di dalam cerpen ini sebenarnya tidak hanya menceritakan satu hal. Namun, semuanya berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa pada Toapekong. Salah satu cerita lainnya adalah kisah perampok yang batal merampok karena ketika masuk ke dalam rumah seorang warga, ia dihadang oleh sosok raksasa. Orang-orang percaya bahwa itu adalah dewa Toapekong. Setelah kejadian itu, pemilik rumah disegani warga karena dianggap sakti.

Membaca kisah yang ditulis oleh  Thio Tjin Boen ini memunculkan suatu anggapan bahwa ada keterkaitan antara falsafah Jawa dan Tionghoa mengenai kepercayaan pada leluhur. Siapa mempengaruhi siapa, dalam hal ini menjadi rancu. Secara subjektif tentu orang Jawa akan berkeras bahwa budaya Jawa adalah tuan rumah di Indonesia, sedangkan orang Tionghoa hanya warga pendatang yang kehilangan identitas budaya.

Namun, siapa yang berani menjamin bahwa justru orang-orang Tionghoa inilah yang justru membawa sisa-sisa peradaban mereka ke nusantara dan lambat laun menyebar lantaran hidup berdampingan dengan warga pribumi. Yang jelas, dua suku ini sama-sama masih percaya pada kekuatan gaib sebagaimana masyarakat primitif lainnya di dunia ini.

Sedikit beranjak dari pembahasan cerpen DDCJK, marak anggapan bahwa SMT telah berkontribusi dalam perusakan kosa kata bahasa Indonesia lantaran menggunakan bahasa gado-gado. Benarkah? Sebaiknya pernyataan ini dikaji lebih lanjut secara objektif. Benar bahwa—dalam DDCJK misalnya—penulis cerpen SMT memang tampak sembarangan dalam pemilihan kosakata. Seperti dalam petikan berikut ini:
Dari apa yang telah saya tuturken dalem serie kesatu, sebetulnya ada satu perkara langkah, tapi toch dengen sasungguhnya sudah terjadi pada diri saya sendiri, terlebi lagi perkara begitu, memang bisa terjadi pada diri sesuwatu orang yang kurang perdata dalem penghidupannya (DDCJK, hlm. 224).

Kata bercetak miring dalam kutipan tersebut memang tidak tepat, bila ukurannya adalah masa sekarang. Bayangkan, cerpen ini pertama kali terbit tahun 1920 di Weltevrden. Sedangkan Sumpah Pemuda baru diikrarkan tahun 1928. Bukankah hal ini berrati bahwa justru para penulis SMT telah lebih maju dengan menulis cerpen padahal kosakata bahasa Indonesia masih terbatas?

Kurang bijak rasanya bila anggapan tersebut masih dipertahankan. Pemikiran objektif tentu akan lebih bermanfaat ketimbang subjektivitas yang tidak menghasilkan apa-apa selain kecurigaan. Salah satu cara mengambil manfaat dari karya sastra Melayu Tionghoa adalah mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.***