Laman

Minggu, 22 Juni 2014

“Acuh” Tak Berarti “Abai”


Sebagian orang beranggapan bahwa mempelajari bahasa Indonesia itu mudah. Padahal bagi mereka yang memang menggeluti bidang bahasa, sebaliknya. Bahasa Indonesia menjadi rumit sebab ilmu ini selalu mengalami perkembangan sebagaimana umumnya ilmu-ilmu sosial. Beberapa bagian yang terkenai di antaranya adalah pengertian suatu istilah yang bergelut dengan ameliorasi (peningkatan nilai makna) dan peyorasi (penurunan nilai makna), masalah peluluhan dan sampai bertambahnya kosakata baru yang mengecoh para pengguna bahasa. Ironisnya, meskipun hampir tiap tahun ada perubahan pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), masih ada saja yang salah paham terhadap kata-kata umum yang sudah sering digunakan. Contoh sederhananya dapat diambil dari salah satu lagu yang cukup terkenal berjudul “Lumpuhkan Ingatanku”. Di dalamnya terdapat bagian lirik yang berbunyi berikut:  Di sini kucoba untuk bertahan ungkapkan semua yang kurasakan. Kau acuhkan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku.
Berdasarkan KBBI, kata “acuh” berarti peduli; mengindahkan. Singkatnya, kata ini mengandung nilai positif. Tapi jika diperhatikan, dalam untaian lirik lagu Geisha tersebut, kata “acuh” menjadi rancu disandingkan dengan kata “diam” dan “tinggal”. Kau acuhkan aku bermakna kau pedulikan aku. Disusul dengan kalimat Kau diamkan aku, Kau tinggalkan aku. Pun, bila memang kata “acuh” dalam lirik tersebut memang diniatkan untuk mengatakan suatu kepositifan agar makin terasa kepedihannya—setelah dipedulikan tiba-tiba didiamkan dan ditinggalkan—artinya bukan salah kaprah, maka ia merupakan satu-satunya kalimat positif di antara semua pernyataan negatif. Silakan perhatikan lirik lainnya. Jangan sembunyi. Kumohon padamu jangan sembunyi. Sembunyi dari apa yang terjadi. Tak seharusnya hatimu kau kunci. Bertanya, cobalah bertanya pada semua. Di sini kucoba untuk bertahan. Ungkapkan semua yang kurasakan. Kau acuhkan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku. Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia. Hapuskan memoriku tentangnya. Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia. Kuingin kulupakannya.
Secara terus-menerus pernyataan si “aku” lirik adalah sifatnya negatif, kecewa. Saya pikir akan lebih sinkron seandainya kata acuh diganti dengan kata “abai” yang sudah jelas-jelas menurut KBBI berarti “tidak peduli”. Sehingga akan menjadi seperti ini Kau abaikan aku. Kau diamkan aku. Kau tinggalkan aku. Lengkaplah duka itu. Tentu saja analisis ini diluar konteks licencia poetica yang membebaskan penulis melakukan hal apapun terhadap bahasa demi mencapai tujuan tertentu atas puisi atau liriknya.  Hal serupa juga terjadi pada salah satu lagu Syahrini bertajuk “Cinta tapi Gengsi” yang liriknya berbunyi demikian ini Kau di mana kau berada saat aku membutuhkan dirimu kamu acuhkan diriku. Jangan tanya oh mengapa oh kenapa kupergi tinggalkan dirimu dst.
Selain dua kata di atas yaitu abai dan acuh, satu lagi yang kerap mengganjal telinga saya adalah ketika mendengar kesalahkaprahan orang-orang menyebut kata “geming” atau “bergeming”. Bergeming yang kata dasarnya geming adalah suatu verba yang berarti tidak bergerak sedikit juga; diam saja. Contoh penggunaannya adalah Aku bergeming saat mendengar kalimat terakhirnya. Demi mengejar cita-citanya, ia harus melanjutkan pendidikan di luar negeri dan meninggalkanku sendiri. Entahlah, aku tak mampu bahkan untuk sekadar mengucapkan selamat jalan padanya. Di tengah geliat bahasa Indonesia yang kini mulai menjangkau kancah dunia, ada baiknya sebagai pewaris dan pengguna bisa lebih berupaya untuk berbahasa Indonesia secara serius. Bukalah kamus jika memang ragu mengenai makna suatu kata atau istilah. Jangan sampai karena terlalu acuh pada kemampuan berbahasa internasional, tanpa sadar terabaikanlah bahasa nasionalnya.

Sabtu, 10 Mei 2014

Rasa

Membayangkan sebuah scene romantis, laki-laki seperempat abad itu duduk di tepi danau yang dikelilingi rerumputan. Ia tersenyum mendapati seseorang akhirnya menghampiri tepat sesuai waktu yang telah dijanjikan berdua. Saling pandang sebentar, kemudian berpaling bersamaan.  Ada senyum yang berlompatan seperti percik air di hadapan mereka. Langit cerah. Suasana yang takarannya pas tanpa kurang sedikitpun bagi yang sedang dirundung suka cita berdua.

“Lapar banget, lapar aja, gak lapar tapi pengin nyemil, atau kenyang?”

Senyum laki-laki itu mengembang lagi. Ia pilih yang ketiga, “Nyemil kayaknya enak nih.”

Perempuan itu merogoh tas kecilnya. Ia bertanya, melanjutkan. Tangannya masih terhenti di dalam sana.

“Pedas, manis, asin, atau yang 'rasahmbayar'?” pertanyaannya lebih seperti pedagang yang menjajakan barang di terminal. Tapi laki-laki itu tertarik pada tawaran terakhir.

“Rasa apa tadi yang terakhir?”

Perempuan di sampingnya tergelak, tapi malu-malu.

“Di sebelah mana yang lucu?” sama sekali ia tak paham. Tapi agar perempuan kesayangannya itu tak kecewa, ia tertawa, tergelak yang dibuat-buat.

“Nih. Lucunya di sebelah sini.” Sebuah kotak kecil berisi beberapa potong brownish disodorkan padanya yang masih tergelak pura-pura.

“Waah, makasi ya. Kamu yang buat sendiri?” kejutan itu membuatnya benar-benar bahagia. Bukan pura-pura. Dijumput sepotong brownish, buru-buru ia ingin merasakan. Sambil mengunyah ia bilang,

“Manis. Katamu tadi rasambaya... rasa apa sih?” sepotong brownish yang lain mengantri di depan mulutnya.

"Udah, rasain aja." Pipinya kini merona. 

Perempuan itu, entah bagaimana caranya ia tak tahu mengungkapkannya. Yang jelas ia terus tersenyum. Membuat laki-laki di sampingnya gemas ingin menyentuh dan mencubit bagian yang kemerahan tersebut.

Ia mengernyit tak bisa menghindar. Jelas ia menolak. Dan tangan laki-laki itu tertahan di udara. Perempuan itu telah lenyap.

Hanya manis yang tersisa.***



Jumat, 09 Mei 2014

Tuhan Mengizinkan

Setiap hal yang terjadi dalam hidup, baik atau buruk tentulah sebuah keputusan yang tak mungkin dilepaskan dari Tuhan. Hari ini kita berbaik hati, barangkali karena penyesalan atas kesalahan di masa lalu, atau persiapan amal untuk masa depan. Faktanya, manusia selalu berada dalam lingkaran rencana Tuhan.

'T, tak ada hal yang tak menimbulkan efek tertentu. Dalam KBBI "karma" berarti perbuatan manusia di dunia dan atau hukum sebab akibat. Sementara dalam ketentuan Tuhan, karma diatur dalam QS Al Zalzalah:7-8 'Siapa yang melakukan kebaikan sekalipun seberat Dzarah, niscaya dia akan mendapat balasannya dan Siapa yang mengerjakan kejahatan sekalipun sebesar biji dzarah, niscaya dia akan melihat balasannya juga'. 

Jika kita harus menjadi korban, bisa jadi itu menyebabkan di sudut dunia yang entah di mana ada seseorang yang justru terselamatkan. Altera pars, setiap orang merupakan bagian dari suatu keutuhan. Dan manusia ibarat petani, yang tak hentihentinya bercocok tanam ilmu dan pengetahuan di ladang kehidupan. Anggaplah bahwa hari ini merupakan hari terakhir kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Niscaya tak perlu berpikir ulang untuk menjadi bermanfaat.

Risau, gelisah, kesedihan dan kadang kebahagiaan adalah jalan bagi Tuhan untuk datang. Dalam kekalutan, kepekaan akan sangat bisa jadi mediator pesanpesan yang Tuhan bisikkan. Kemudian terciptalah orangorang yang seolah mampu memproduksi katakata bijak dari dirinya sendiri. T, mungkin ini serupa dengan yang dialami Syekh Siti Djenar saat mengungkapkan pemikirannya tentang manunggaling kawulo gusti.

Senin, 05 Mei 2014

Kenapa Anak Ayam itu Kecil?

Di sebuah selokan yang kering karena tak kunjung hujan, seekor induk mengajak anak ayamnya yang hanya seekor dan berwarna hitam berjalanjalan mencari makan. Pas saya dan Adfa melintas.

Saya: Dek, kok anak ayam itu kecil ya *iseng
Adfa: Iya, soalnya dia belum makan
Saya: Mbak sudah makan banyak tapi gak gede gede O:
Adfa: Ya karena Mbak belum kenyang. Makanya Mbak harus kenyang.

Selasa, 29 April 2014

Saat mengendarai sebuah sepeda yang remnya tak berfungsi, apakah kepanikan dan teriakan yang kita lakukan sepanjang sepeda menggelinding di jalanan yang menurun bisa membuat roda berhenti? Tenanglah, dan jangan bayangkan apa yang belum terjadi selama sepeda terus melaju. Kita hanya perlu tenang dengan sesegera mungkin membelokkan sepeda ke arah tanjakan.

Lemari

Pagi masih terlalu dini. Beberapa angin bahkan baru keluar dari pepatnya. Tak ada yang mampu bersuara selain sunyi, hati. Di balik kekemrungsungan yang terinjak-injak oleh waktu, setiap apa yang muncul di kepala, semuanya menjadi batu.

"Apa yang kau pikirkan?", diremahnya ingatan itu.

Waktu adalah tiran, itu yang ia dengar dari seseorang. Terkadang ia ingin berlari melompati satu dari sekian fase yang rasanya menyakitkan. Ada hal-hal yang rasanya begitu memuakkan sampai-sampai menjalaninya adalah pesakitan.

"Berhentilah berdatangan!", matanya mulai membelalak di depan cermin sebuah lemari. Ia benci mengingat. apalagi mengingat kepedihan. Baginya penyesalan adalah jamban. Tempat membuang segalanya yang tak indah. Secara otomatis ia menyadari bahwa apa yang ia masukkan ke dalam sana akan bermanfaat pada tahap lain yang ia tak perlu tahu.

"Tapi kamu tak butuh jamban!"

"DIAM!" sergahnya kemudian.

Tiba-tiba ponselnya berdering samar. Fokusnya pecah. Ia mencari-cari sumber suara yang sebenarnya telah lama dinantikan. 

KREEK. suara pintu lemari terbuka, ponselnya tergeletak di sana.

Di dalam lemari, tak ada lagi suara, dan segalanya mulai meyusun kematian sendiri-sendiri



Desember 2011

Minggu, 20 April 2014

Walk In Interview, Apa ini?

Apa perbedaan antara interview dan walk in interview? Bedanya, interview selalu diawali dengan proses agak lama sejak penyerahan berkas lamaran. Hanya kandidat terplilih dari seleksi berkas yang akan menjalani interview. Sementara walk in interview tidak disertai proses yang bisa makan waktu berharihari bahkan bermingguminggu tersebut. Dalam walk in interview, peserta datang membawa cv dan langsung hari itu juga diinterview. Jadi, walk in interview bisa menyita waktu seharian. Berikut ini ada beberapa saran bagi yang akan menjalani interview walk in.

  1. Datanglah minimal 1 jam sebelum jadwal dimulai supaya bisa dapat nomor antrean yang pangkal. Kecuali bisa dapat teman ngobrol dan sedang gak ada agenda lain, berada di antrean belakang itu betulbetul buang waktu. 
  2. Bawa air minum dan cemilan secukupnya. Bawa juga alat sholat sendiri supaya gak masuk dalam antrean lain di mushola kalau pas dapat giliran interview siang.
  3. Gunakan outfit formal sederhana, tampilan yang "berlebihan" kadang hanya akan mengundang cibiran. Ingatlah bahwa sebelum keluar dari ruang interview, semua peserta berstatus sama.
  4. Khusus perempuan, hindari high heels karena hanya akan menyiksa diri sendiri. 
  5. Ambil peluang untuk menyapa, minimal senyum duluan ke orang lain. Percayalah, gak ada satu pun 'orang' yang siasia dalam hidup kita, meski oranggila sekalipun. Mereka pasti messenger dari Tuhan yang akan memberi kita pelajaran baik sekarang atau di masa depan. Dapatkan sebanyakbanyak teman baru, dan jangan lupa, minta kontak personnya.
  6. Jaga sikap, jangan ngomong seenak jidat terutama di area yang rentan petugas/karyawan setempat.
  7. PERCAYA DIRI tapi jangan sampai tinggi hati.

Minggu, 06 April 2014

RELAwan?

Prolog: Saya sedang mencari pekerjaan? Salah! Saya mencari Kesibukan yang Resmi #KR itu baru betul. 

Suatu hari seseorang menawari apakah saya mau menjadi salah satu relawan Pemilu tanggal sembilan April 2014. Sontak saya bilang, "Mau sih. Tapi kemungkinan tanggal segitu aku gak di rumah. Barusan dikabari salah satu perusahaan tentang sinyal positif. Kalau aku tetap daftar tapi nanti gak jadi ikut, bermasalah ga?"

Dia jawab," Ya daftar aja dulu. Nanti ada upahnya Rp 100.000." katanya sambil menyodorkan formulir pendaftaran dan pergi. 

Kalau boleh jujur, saya merasa terhina dengan informasi mengenai upah itu. Tapi sudahlah, memikirkan halhal yang sifatnya "pemanis tambahan" sering jadi awal buruk dalam pewujudan niat baik. Formulir saya lengkapi dan saya serahkan langsung ke ybs.

Waktu bergulir dan sinyal positif itu belum juga jadi kenyataan sampai waktu menjelang masa pencoblosan. Saya pun bertanya, sebab tak ada pula gaung lanjutan dari hal relawan itu.

"Relawannya gimana?"

"Gak jadi. Gaada duitnya. Dibatalin semua." Jawaban itu muncul dalam ekspresi datar yang cenderung kecewa. Saya hanya ber"oh".

Di hari yang lain, seseorang yang punya kewenangan lebih mengenai birokrasi desa menanyakan sesuatu.
"Kemarin daftar jadi relawan pemilu ya?"
"Iya. Tapi katanya gak jadi kan..."
"Ya gimana. Namanya relawan kan tetap butuh uang transport."

Sejenak saya terdiam menghentikan aktivitas saya. Kalau saja dia tak berusia sepantaran orangtua saya, pasti sudah saya sembur dia dengan kejengkelan. Tapi saya akhirnya justru mengatakan,

"Mungkin terlalu banyak yang daftar sebagai relawan. Lagi pula, yang namanya R E L A wan itu ya mestinya kan nyatanyata rela melakukan sesuatu untuk oranglain secara ikhlas tanpa pamrih."

Satu yang saya ingin tanyakan, apakah fenomena "RELAWAN" macam ini hanya terjadi di Indonesia atau negara lain juga? Sebagaimana kasus "Kampanye Uang" yang marak terjadi jelang Pemilu, saya percaya bahwa masyarakat bukanlah inisiator dari kebusukan ini. Adanya kondisi dan situasi di bawah ratarata secara finansial menjadikan mereka yang punya kepentingan dan kekuasaan telah mendidik orang awam untuk selalu jadi seperti lemari soft drink yang baru akan terbuka saat dijejali koin. 

Ada perubahan raut wajah dari orang itu setelah mendengar pernyataan saya. Agar suasana tak jadi rusak, dia menambahkan,

"Bisa jadi. Sebetulnya ya gak batal. Hanya dikurangi. Semula direncanakan ada relawan di tiap Tempat Pemungutan Suara #TPS jadi hanya terbatas dua orang tiap desa."

Pertanyaan yang Entah Kepada Siapa

*Jrengjreeeng, Mbak Lin, tulisan ini rasanya kayak tonjokkan ke saya sendiri. Apalagi waktu itu di bagian akhir saya mengajukan pertanyaan yang sebetulnya saya pun gak tahu pertanyaan itu ditujukan ke siapa O:
Tapi, lagilagi opini Mbak memberi penjelasan tambahan pada opini saya sebelumnya: "Secara garis besar, saya setuju dengan semua pendapat para penulis. Kita memang memerlukan berdirinya suatu FIB di PTN Lampung karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dus, kita perlu juga memikirkan bagaimanakah blueprint FIB idaman kita ini. Mau yang bagaimana, apa-apa saja. Ya, semua itu patut dicetakbirukan dulu supaya apabila FIB sungguh terwujudkan—FIB tersebut mampu mengejawantahkan seluruh harapan yang telah kita tanamkan kepadanya."

Opini | Lampung Post, Sabtu, 5 April 2014

Menakar Peluang FIB di Unila
Karina Lin
Pengamat sosial-budaya, tinggal di Bandar Lampung

MENARIK dan seru! Itulah kesan yang saya tangkap ketika mencermati rubrik opini di surat kabar Lampung Post yang bertemakan wacana mendesak pendirian fakultas ilmu budaya (FIB) di Universitas Lampung (Unila). 

Dalam sebulan ini, tiga opini yang bertemakan mendesak pendirian FIB di Unila ditampilkan di Lampung Post. Artikel opini ini ditulis Hardi Hamzah (3/3), Dina Amalia Susamto (15/3), dan Destaayu Wulandari (20/3).

Secara garis besar, saya setuju dengan semua pendapat para penulis. Kita memang memerlukan berdirinya suatu FIB di PTN Lampung karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dus, kita perlu juga memikirkan bagaimanakah blueprint FIB idaman kita ini. Mau yang bagaimana, apa-apa saja. Ya, semua itu patut dicetakbirukan dulu supaya apabila FIB sungguh terwujudkan—FIB tersebut mampu mengejawantahkan seluruh harapan yang telah kita tanamkan kepadanya.

Satu hal lagi yang tak boleh luput, yakni mengenai peluang FIB tersebut sungguh-sungguh berdiri. Bagaimana dan seberapa besar peluang FIB berdiri di Unila? 

VdT sebagai Katalisator

Arman A.Z., seorang peminat sejarah kelampungan yang tinggal di sini, pernah menulis mengenai kamus bahasa Lampung karya Herman Neubronneer Van der Tuuk (Vdt). Kamus ini, kata Arman (Lampung Post, 19 Februari 2014), merupakan kamus bahasa Lampung pertama (tertua) untuk ukuran kebahasaan Lampung. Kamus ini selama satu setengah abad tersimpan baik di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan baru pada Februari 2014 lalulah kamus tersebut “dipulangkan.”

Jumat, 04 April 2014

Opini Tanggapan

Tulisan saya tempo hari yang bermula sebagai tanggapan atas opini seseorang sebelumnya, kini mendapat tanggapan dari orang lain.  Bang Andre Saputra, poin ini, saya suka dan ini sebetulnya yang ingin juga saya sampaikan dalam artikel sebelumnya. Walaupun masih jauh dari kata sempurna, senang rasanya mendapat tanggapan dan bahkan 'maksud'nya ditangkap dan diperjelas. Semoga apapa yang sudah dan akan lahir sebagai opini bisa makin mempermudah proses pelahirhadiran FIB di Lampung. Ini kalimatnya: "sehingga kebudayaan Lampung kelak di FIB menjadi kajian yang menarik bila dikomparasikan dengan budaya di luar Lampung

Opini | Lampung Post, Jumat, 4 April 2014

Harmonisasi Empiris dan Teoretis
Andre Saputra
Pengamat budaya, tinggal di Bandar Lampung

ANTISIPASI Destaayu Wulandari (Lampost, 20 Maret 2014) terhadap opini Hardi Hamzah, Urgensitas FIB di Unila (Lampost, 14 Maret 2014), sungguh menarik. Penulis menangkap, Hardi Hamzah lebih mendahulukan empiris, sedangkan Desta menekankan pada science. Keduanya tidak ada yang salah. Hardi tidak keliru karena ia melihat urgensitasnya, Desta lebih berhati-hati karena menginginkan epistemologi didahulukan, dan penulis anggap Desta lebih induktif pendekatannya.

Menurut hemat penulis, bila dosen yang diambil adalah mengutamakan empiris, ini semata karena Bung Hardi ingin FIB, berdiri sajalah dulu. Sementara Desta lebih melihatnya sebagai usaha membangun fondasi FIB, harus dengan kerangka dan sistem yang terencana dan teoretis. Penulis katakan keduanya tidak ada yang keliru, mengingat kalau merujuk ke Desta, bisa saja kita mendapatkan dosen terbang yang qualified.

Hardi ingin sesegera mungkin karena sulitnya mendapatkan dosen, walaupun hal ini sumir, penulis lebih ingin melihat adanya harmonisasi antara empiris dan epistemologi sains sosial. Artinya, kita mulai sajalah dulu, lalu formulanya akan terumus, dalam arti kalau sudah dimulai dengan dasar keberanian menafikan sarjana (baca S-1 empiris), kelak segala sesuatunya menyusul, seperti mendatangkan dosen tamu, dosen LB, dan lain lain yang keduanya bervisi sama, FIB segera saja dimulai.

Dalam konteks lain, secara substansial, penulis justru tertarik bila FIB didirikan, kelak FIB lebih memprioritaskan pada aspek antropologi budaya, meskipun tidak harus melupakan antropologi ragawi sebagai instrumen lampunologi. Toh, dulu pada dasawarsa 1980-an, UGM memasukkan Fakultas Antropologi di Fakultas Sastra. Ini artinya, sudut pandang atau subject matter-nya beresensi pada sosiologi perilaku, katakan demikian.

Tawaran antropologi budaya lebih diprioritaskan karena indikator budaya Lampung akan lebih impresif bila ada esensi pembuktian antropologi sehingga kebudayaan Lampung kelak di FIB menjadi kajian yang menarik bila dikomparasikan dengan budaya di luar Lampung.

Antropologi budaya juga simultan merespons usaha-usaha merekatkan antara, pencarian tentang fakta-fakta kelampungan, pun juga sebagai rujukan atau kompromi terhadap disparitas sosial Lampung yang multietnik. FIB kelak, menurut hemat penulis, mampu menjadi sentral kegiatan antarkebudayaan dan arkeolog dalam dimensi antropologi tadi.

Mengingat variabel budaya sebagai postulat ide cemerlang dan gagasan yang hidup serta kesejarahan yang bermakna perspektif. Oleh sebab itu, bila FIB menekankan pada antropologi sosial, selain tentu tidak menafikan ruh FIB yang mempunyai premis-premis dasar tersendiri.

Lebih lanjut, bila aksentuasi pada antropologi budaya, kelak kita akan sampai pada diskusi tentang, adakah peninggalan Lampung yang sophisticated, misalnya saja, misteri kerajaan Tulangbawang, tidak akan berhenti pada Megow Pak saja, tetapi FIB bisa menjadi penerang bagi pencarian nilai-nilai budaya dan kesejarahan.

Walaupun penulis memahami atau lebih tepatnya memaklumi, fakultas ilmu budaya adalah fakultas yang mengandung banyak variabel penting, baik secara teoretis, apalagi secara empiris. Harmonisasi antara teoretis dan empiris, seperti yang penulis ajukan di atas, semata-mata untuk mendorong kekuatan FIB dalam implementasinya karena tidak mungkin FIB Unila di tengah multietnik akan berada di ruang hampa.

Vacum space, hanya bisa terjadi bila, pertama, FIB hanya mengkristalkan teori. Kedua, bila dosennya merupakan dosen sisa, dalam arti FIB mendapatkan dosen S-2, tetapi energinya sudah terkuras di tempat lain, ini soal administratif tersendiri.

Namun, kalau FIB mau tidak mau akan mengalami hal di atas, tentu FIB membutuhkan stimulasi empiris dari staf pengajarnya. Emha, misalnya, budayawan yang hanya empat bulan di Fakultas Ekonomi UGM itu, mumpuni sekali untuk mengisi ruang hampa itu, selain yang telah disebut Hardi Hamzah pada opininya.

Ekslarasi berdirinya FIB, seyogianya tidak terjebak pada pemikiran birokrat atau menara gadingnya kampus, tetapi cobalah, semangatnya lebih praksis tanpa harus meninggalkan kaidah dan hakikat dasar berdirinya FIB. Ini ingin penulis tekankan, mengingat sering kita terperangkap dengan birokrasi, administrasi, dan yang lainnya sehingga FIB bisa saja sampai sepuluh tahun lagi tidak berdiri, ini tentu tidak kita harapkan.

Penulis menyadari, dua opini Hardi Hamzah dan Destaayu Wulandari merupakan respons positif, tetapi lebih patut disadari lagi mengaktualisasikan FIB setelah berdiri di dalamnya harus ada rajutan-rajutan pemikiran esensial, baik tentang kelampungan itu sendiri maupun kepiawaian dosennya untuk masuk ke suasana kebatinan multietnik, sehingga dinamika yang ada di FIB kelak mampu mengembangkan realitas sosial yang ada.