Laman

Minggu, 06 April 2014

RELAwan?

Prolog: Saya sedang mencari pekerjaan? Salah! Saya mencari Kesibukan yang Resmi #KR itu baru betul. 

Suatu hari seseorang menawari apakah saya mau menjadi salah satu relawan Pemilu tanggal sembilan April 2014. Sontak saya bilang, "Mau sih. Tapi kemungkinan tanggal segitu aku gak di rumah. Barusan dikabari salah satu perusahaan tentang sinyal positif. Kalau aku tetap daftar tapi nanti gak jadi ikut, bermasalah ga?"

Dia jawab," Ya daftar aja dulu. Nanti ada upahnya Rp 100.000." katanya sambil menyodorkan formulir pendaftaran dan pergi. 

Kalau boleh jujur, saya merasa terhina dengan informasi mengenai upah itu. Tapi sudahlah, memikirkan halhal yang sifatnya "pemanis tambahan" sering jadi awal buruk dalam pewujudan niat baik. Formulir saya lengkapi dan saya serahkan langsung ke ybs.

Waktu bergulir dan sinyal positif itu belum juga jadi kenyataan sampai waktu menjelang masa pencoblosan. Saya pun bertanya, sebab tak ada pula gaung lanjutan dari hal relawan itu.

"Relawannya gimana?"

"Gak jadi. Gaada duitnya. Dibatalin semua." Jawaban itu muncul dalam ekspresi datar yang cenderung kecewa. Saya hanya ber"oh".

Di hari yang lain, seseorang yang punya kewenangan lebih mengenai birokrasi desa menanyakan sesuatu.
"Kemarin daftar jadi relawan pemilu ya?"
"Iya. Tapi katanya gak jadi kan..."
"Ya gimana. Namanya relawan kan tetap butuh uang transport."

Sejenak saya terdiam menghentikan aktivitas saya. Kalau saja dia tak berusia sepantaran orangtua saya, pasti sudah saya sembur dia dengan kejengkelan. Tapi saya akhirnya justru mengatakan,

"Mungkin terlalu banyak yang daftar sebagai relawan. Lagi pula, yang namanya R E L A wan itu ya mestinya kan nyatanyata rela melakukan sesuatu untuk oranglain secara ikhlas tanpa pamrih."

Satu yang saya ingin tanyakan, apakah fenomena "RELAWAN" macam ini hanya terjadi di Indonesia atau negara lain juga? Sebagaimana kasus "Kampanye Uang" yang marak terjadi jelang Pemilu, saya percaya bahwa masyarakat bukanlah inisiator dari kebusukan ini. Adanya kondisi dan situasi di bawah ratarata secara finansial menjadikan mereka yang punya kepentingan dan kekuasaan telah mendidik orang awam untuk selalu jadi seperti lemari soft drink yang baru akan terbuka saat dijejali koin. 

Ada perubahan raut wajah dari orang itu setelah mendengar pernyataan saya. Agar suasana tak jadi rusak, dia menambahkan,

"Bisa jadi. Sebetulnya ya gak batal. Hanya dikurangi. Semula direncanakan ada relawan di tiap Tempat Pemungutan Suara #TPS jadi hanya terbatas dua orang tiap desa."

Pertanyaan yang Entah Kepada Siapa

*Jrengjreeeng, Mbak Lin, tulisan ini rasanya kayak tonjokkan ke saya sendiri. Apalagi waktu itu di bagian akhir saya mengajukan pertanyaan yang sebetulnya saya pun gak tahu pertanyaan itu ditujukan ke siapa O:
Tapi, lagilagi opini Mbak memberi penjelasan tambahan pada opini saya sebelumnya: "Secara garis besar, saya setuju dengan semua pendapat para penulis. Kita memang memerlukan berdirinya suatu FIB di PTN Lampung karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dus, kita perlu juga memikirkan bagaimanakah blueprint FIB idaman kita ini. Mau yang bagaimana, apa-apa saja. Ya, semua itu patut dicetakbirukan dulu supaya apabila FIB sungguh terwujudkan—FIB tersebut mampu mengejawantahkan seluruh harapan yang telah kita tanamkan kepadanya."

Opini | Lampung Post, Sabtu, 5 April 2014

Menakar Peluang FIB di Unila
Karina Lin
Pengamat sosial-budaya, tinggal di Bandar Lampung

MENARIK dan seru! Itulah kesan yang saya tangkap ketika mencermati rubrik opini di surat kabar Lampung Post yang bertemakan wacana mendesak pendirian fakultas ilmu budaya (FIB) di Universitas Lampung (Unila). 

Dalam sebulan ini, tiga opini yang bertemakan mendesak pendirian FIB di Unila ditampilkan di Lampung Post. Artikel opini ini ditulis Hardi Hamzah (3/3), Dina Amalia Susamto (15/3), dan Destaayu Wulandari (20/3).

Secara garis besar, saya setuju dengan semua pendapat para penulis. Kita memang memerlukan berdirinya suatu FIB di PTN Lampung karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dus, kita perlu juga memikirkan bagaimanakah blueprint FIB idaman kita ini. Mau yang bagaimana, apa-apa saja. Ya, semua itu patut dicetakbirukan dulu supaya apabila FIB sungguh terwujudkan—FIB tersebut mampu mengejawantahkan seluruh harapan yang telah kita tanamkan kepadanya.

Satu hal lagi yang tak boleh luput, yakni mengenai peluang FIB tersebut sungguh-sungguh berdiri. Bagaimana dan seberapa besar peluang FIB berdiri di Unila? 

VdT sebagai Katalisator

Arman A.Z., seorang peminat sejarah kelampungan yang tinggal di sini, pernah menulis mengenai kamus bahasa Lampung karya Herman Neubronneer Van der Tuuk (Vdt). Kamus ini, kata Arman (Lampung Post, 19 Februari 2014), merupakan kamus bahasa Lampung pertama (tertua) untuk ukuran kebahasaan Lampung. Kamus ini selama satu setengah abad tersimpan baik di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan baru pada Februari 2014 lalulah kamus tersebut “dipulangkan.”

Jumat, 04 April 2014

Opini Tanggapan

Tulisan saya tempo hari yang bermula sebagai tanggapan atas opini seseorang sebelumnya, kini mendapat tanggapan dari orang lain.  Bang Andre Saputra, poin ini, saya suka dan ini sebetulnya yang ingin juga saya sampaikan dalam artikel sebelumnya. Walaupun masih jauh dari kata sempurna, senang rasanya mendapat tanggapan dan bahkan 'maksud'nya ditangkap dan diperjelas. Semoga apapa yang sudah dan akan lahir sebagai opini bisa makin mempermudah proses pelahirhadiran FIB di Lampung. Ini kalimatnya: "sehingga kebudayaan Lampung kelak di FIB menjadi kajian yang menarik bila dikomparasikan dengan budaya di luar Lampung

Opini | Lampung Post, Jumat, 4 April 2014

Harmonisasi Empiris dan Teoretis
Andre Saputra
Pengamat budaya, tinggal di Bandar Lampung

ANTISIPASI Destaayu Wulandari (Lampost, 20 Maret 2014) terhadap opini Hardi Hamzah, Urgensitas FIB di Unila (Lampost, 14 Maret 2014), sungguh menarik. Penulis menangkap, Hardi Hamzah lebih mendahulukan empiris, sedangkan Desta menekankan pada science. Keduanya tidak ada yang salah. Hardi tidak keliru karena ia melihat urgensitasnya, Desta lebih berhati-hati karena menginginkan epistemologi didahulukan, dan penulis anggap Desta lebih induktif pendekatannya.

Menurut hemat penulis, bila dosen yang diambil adalah mengutamakan empiris, ini semata karena Bung Hardi ingin FIB, berdiri sajalah dulu. Sementara Desta lebih melihatnya sebagai usaha membangun fondasi FIB, harus dengan kerangka dan sistem yang terencana dan teoretis. Penulis katakan keduanya tidak ada yang keliru, mengingat kalau merujuk ke Desta, bisa saja kita mendapatkan dosen terbang yang qualified.

Hardi ingin sesegera mungkin karena sulitnya mendapatkan dosen, walaupun hal ini sumir, penulis lebih ingin melihat adanya harmonisasi antara empiris dan epistemologi sains sosial. Artinya, kita mulai sajalah dulu, lalu formulanya akan terumus, dalam arti kalau sudah dimulai dengan dasar keberanian menafikan sarjana (baca S-1 empiris), kelak segala sesuatunya menyusul, seperti mendatangkan dosen tamu, dosen LB, dan lain lain yang keduanya bervisi sama, FIB segera saja dimulai.

Dalam konteks lain, secara substansial, penulis justru tertarik bila FIB didirikan, kelak FIB lebih memprioritaskan pada aspek antropologi budaya, meskipun tidak harus melupakan antropologi ragawi sebagai instrumen lampunologi. Toh, dulu pada dasawarsa 1980-an, UGM memasukkan Fakultas Antropologi di Fakultas Sastra. Ini artinya, sudut pandang atau subject matter-nya beresensi pada sosiologi perilaku, katakan demikian.

Tawaran antropologi budaya lebih diprioritaskan karena indikator budaya Lampung akan lebih impresif bila ada esensi pembuktian antropologi sehingga kebudayaan Lampung kelak di FIB menjadi kajian yang menarik bila dikomparasikan dengan budaya di luar Lampung.

Antropologi budaya juga simultan merespons usaha-usaha merekatkan antara, pencarian tentang fakta-fakta kelampungan, pun juga sebagai rujukan atau kompromi terhadap disparitas sosial Lampung yang multietnik. FIB kelak, menurut hemat penulis, mampu menjadi sentral kegiatan antarkebudayaan dan arkeolog dalam dimensi antropologi tadi.

Mengingat variabel budaya sebagai postulat ide cemerlang dan gagasan yang hidup serta kesejarahan yang bermakna perspektif. Oleh sebab itu, bila FIB menekankan pada antropologi sosial, selain tentu tidak menafikan ruh FIB yang mempunyai premis-premis dasar tersendiri.

Lebih lanjut, bila aksentuasi pada antropologi budaya, kelak kita akan sampai pada diskusi tentang, adakah peninggalan Lampung yang sophisticated, misalnya saja, misteri kerajaan Tulangbawang, tidak akan berhenti pada Megow Pak saja, tetapi FIB bisa menjadi penerang bagi pencarian nilai-nilai budaya dan kesejarahan.

Walaupun penulis memahami atau lebih tepatnya memaklumi, fakultas ilmu budaya adalah fakultas yang mengandung banyak variabel penting, baik secara teoretis, apalagi secara empiris. Harmonisasi antara teoretis dan empiris, seperti yang penulis ajukan di atas, semata-mata untuk mendorong kekuatan FIB dalam implementasinya karena tidak mungkin FIB Unila di tengah multietnik akan berada di ruang hampa.

Vacum space, hanya bisa terjadi bila, pertama, FIB hanya mengkristalkan teori. Kedua, bila dosennya merupakan dosen sisa, dalam arti FIB mendapatkan dosen S-2, tetapi energinya sudah terkuras di tempat lain, ini soal administratif tersendiri.

Namun, kalau FIB mau tidak mau akan mengalami hal di atas, tentu FIB membutuhkan stimulasi empiris dari staf pengajarnya. Emha, misalnya, budayawan yang hanya empat bulan di Fakultas Ekonomi UGM itu, mumpuni sekali untuk mengisi ruang hampa itu, selain yang telah disebut Hardi Hamzah pada opininya.

Ekslarasi berdirinya FIB, seyogianya tidak terjebak pada pemikiran birokrat atau menara gadingnya kampus, tetapi cobalah, semangatnya lebih praksis tanpa harus meninggalkan kaidah dan hakikat dasar berdirinya FIB. Ini ingin penulis tekankan, mengingat sering kita terperangkap dengan birokrasi, administrasi, dan yang lainnya sehingga FIB bisa saja sampai sepuluh tahun lagi tidak berdiri, ini tentu tidak kita harapkan.

Penulis menyadari, dua opini Hardi Hamzah dan Destaayu Wulandari merupakan respons positif, tetapi lebih patut disadari lagi mengaktualisasikan FIB setelah berdiri di dalamnya harus ada rajutan-rajutan pemikiran esensial, baik tentang kelampungan itu sendiri maupun kepiawaian dosennya untuk masuk ke suasana kebatinan multietnik, sehingga dinamika yang ada di FIB kelak mampu mengembangkan realitas sosial yang ada.

Ulasan Film The Raid 2: Ketika Ambisi Memutus Akal Sehat

Baru-baru ini Metro Tv memberitakan bahwa film “The Raid 2: Berandal” dilarang diputar di Malaysia. Saat diberitakan, belum ada alasan jelas mengenai pencekalan tersebut. Di sisi lain, seorang produser film Mengejar Setan yang juga ketua Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) menyampaikan kekecewaannya karena pemerintah memberikan apresiasi terhadap film yang kaya akan muatan kekerasan itu. Dalam kutipannya, ia mengatakan, “Pemerintah selalu menuntut PPFI dan anggota di dalamnya memproduksi film yang berisi kebudayaan, pendidikan, dan kearifan lokal lain. Namun, tidak ada apresiasi. Kalau memang lewat kekerasan, tinggal saya bilang sama anggota untuk bikin”  (Lampost, 3/3/14).
Pertama saya ingin menanggapi pelarangan pihak Malaysia. Bagi yang  telah menonton film ini, tentu masih mengingat bahwa ada scene tentang kebudayaan Indonesia yang ditampilkan yaitu Reog Ponorogo. Saya menduga, negara yang sedang terbentur masalah tragedi pesawat hilang itu hanya “tengsin” karena ternyata Indonesia telah berhasil menyampaikan pada dunia bahwa Reog ada di Indonesia meskipun Malaysia pernah mengklaim bahwa itu kebudayaan mereka. Entahlah.
http://www.imdb.com/title/tt2265171/?ref_=rvi_tt
Kemudian, mengenai kekecewaan ketua PPFI. Jujur, di awal artikel saya sempat termakan dan setuju dengan argumennya, tetapi saat di akhir disampaikan bahwa dia adalah seorang produser dari film yang saya belum menonton tapi tayang hanya sebentar di bisokop, seketika apa yang telah ia paparkan jadi subjektif. Ya, lewat film The Raid 2, bagi yang mengenal Indonesia, mungkin akan agak terkaget-kaget sebentar. Bahwa Indonesia terlepas dari adanya keterlibatan negara lain—yang mungkin juga punya maksud lain dalam film ini—bisa menghasilkan film keren. Tapi setelah kekagetan itu, saya pikir penikmat film tidak lagi peduli pada hal-hal di luar ketakjuban dan apresiasi.
Saat menonton film-film Hollywood—dalam hal ini patokannya memang Hollywood—apakah hujatan terhadap negara pembuat film itu penting? Kecuali mengandung SARA, saya pikir, sama dengan sastra yang tak jarang memutarbalik fakta, nilai, dan norma, film juga suatu karya yang ketika ia dilempar ke masyarakat, maka ia menjadi sesuatu yang otonom, lepas dari segala keterikatan penulis, produser, sutradara, apalagi negara asal. Setelah produksi selesai, maka tugas selanjutnya ada pada audiens untuk mengapresiasi dan mengkritisi.
Saya akui, kekerasan yang disajikan dalam film The Raid 2 memang telah mencapai taraf ‘sadis’. Film sadis yang terakhir saya tonton adalah “The Pianist” yang digarap Roman Polanski tahun 2002 tentang kekerasan pada bangsa Yahudi. Seringnya penggunaan benda dan senjata tajam serta proses ‘pembunuhan’ yang selalu brutal membuat film The Raid 2 lebih mengerikan dari film horor. Bahkan saat menonton film ini, intensitas menutup mata dengan beberapa jari tangan jauh lebih tinggi ketimbang saat saya menonton film-film horor seperti Insidious, The Shelter dan Mama. Kengerian dalam film ini sungguh di luar ekspektasi sebagai orang Indonesia yang dikenal sebagai bangsa sopan. Atau jangan-jangan, melalui film ini, penggarapnya ingin menyadarkan bahwa sebetulnya sekarang sifat-sifat baik bangsa ini sudah tidak lagi seperti yang dulu begitu lekat. Nah lo.  
Hanya saja, penonton yang objektif, akan melepaskan hahal eksplisit bersifat pemanis dan justru masuk ke ranah implisit yaitu “nilai” dan pesan moral. Nilai positif yang saya dapatkan antara lain etika balas budi serta hubungan kekeluargaan. Bahwa seorang berandal, pembunuh sadis sekalipun, mereka tetap mengutamakan keluarga. Adegan-adegan di mana para tokoh yang juga seorang Ayah merindukan anak adalah bagian yang cukup berkesan di antara cucuran darah yang mengalir saat pembantaian. Apalagi, selain menampilkan salah satu kebudayaan Indonesia tadi, film ini juga memperkenalkan tentang hal-hal unik negeri ini yaitu tempe, bahasa gaul “elo gue”, dan seni bela diri.  
Termasuk ada juga kritik terhadap pemerintahan Indonesia. Suatu karya, sastra dan fiksi tidak lahir dari kekosongan, pendapat ini berlaku di sini. Ingatkah pada scene saat terjadi mediasi antara kelompok Indonesia dan Jepang yang tersandung konflik karena ada pihak lain yang ingin merebut wilayah kekuasaan mereka? Ada kesan, tokoh yang ditunjuk sebagai mediator adalah pemimpin Indonesia. Lebih jauh, pada bagian ini saya menangkap sindiran mengenai para penguasa negara yang suka sembarangan memperjualbelikan wilayah Indonesia secara sepihak demi keuntungan pribadi.
Ada dialog yang saya ingat begini, “Kita serahkan Menteng dan Sabang buat mereka”. Seolah negara Indonesia adalah milik pribadi yang bisa ia perjual-belikan seenaknya. Orang Indonesia mestinya paham masalah ini.  Ambisi, inilah tema besar yang disebarkan sepanjang film. Gara-gara ambisi, seorang anak sampai hati menembak kepala ayahnya di depan banyak orang. Ambisi juga bisa menguatkan seseorang meninggalkan keluarganya. Dan yang terparah, mengorbankan bangsa sendiri.
Di samping itu, saya dapatkan juga beberapa anomali atau hal di luar nalar dalam film The Raid 2. Pertama adalah latar salju. Dunia tentu tahu bahwa Indonesia adalah negara yang tak mengenal musim di mana salju akan turun. Jika bukan disengaja agar mendapat “perhatian” penonton, tentu ada pertimbangan lain yang melatarbelakangi keputusan dari penggarapnya. Yang jelas, latar salju itu membuat film semakin dramatis karena darah yang merah pekat yang mengucur tumpah di atas salju yang berwarna putih. Kedua, bagaimana tokoh utama bisa bertahan dalam pertempuran hebat menghabisi seluruh “penjahat” termasuk kelompok Bejo. Padahal saat diminta datang untuk menolong, ia sedang mengerang kesakitan karena baru saja selesai bertarung menghadapi serangan di taksi di mana tubuhnya terluka karena terkena benda tajam.
Namun, kembali pada ketua PPFI tadi, poitnya tidak terletak pada tema kekerasan atau bukan. Sebagai orang yang awam dengan sinematografi, saya sangat percaya bahwa sebuah film akan menemukan penontonnya masing-masing. Jadi, apresiasi tak bisa dibeli dengan apapun kecuali ‘kualitas’. 

***Saya pernah menyesal, karena sebelum menonton film The Raid sequel pertama saya terlanjur mendjudge bahwa film itu buruk dengan muatan kekerasan, nyatanya, setelah menonton di laptop dugaan saya langsung hambar tertutupi oleh dahsyatnya sound system. Jangan sampai kamu kelewatan menikmati sensasi sound bioskop ya! :) Grab the ticket now! Durasinya dua setengah jam, tapi gak akan terasa lama. Kecuali pas kamu bayar biaya parkir yang tiga kali lipat lol





Sabtu, 29 Maret 2014

Sastra Tikai

Kian bingung pada dunia sastra saat ini. Banyak tulisan bagus dihajar sedemikian rupa dianggap sebagai tulisan buruk. Sebaliknya banyak tulisan yang cuma gemremeng, sok melawan dengan teori yang tak kokoh dipuji-puji setengah mati oleh orang-orang yang mengaku penjaga sastra Indonesia. Benar kata Mbak Leila S. Chudori dunia sastra kita cuma berisi orang-orang yang suka bertikai.

Wah kalau begitu minta saran Wicaksono Adi bagaimana jadi penghuni dunia sastra yang tak banyak gontok-gontokannya, yakni di dunia hantu, dunia para dhemit.

Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
Beliau adalah guru yang telah mengajar, dan sempat membuat saya kesal karena pada suatu masa, setelah saya mengeluelukan teknik pengajaran beliau, justru memberi nilai yang ketika itu saya anggap tidak adil. Beberapa waktu kemudian, barulah saya tersadar bahwa yang beliau berikan pada saya itu paling pas. Selama ini saya terbiasa puas dengan nilainilai tertinggi. Padahal, tidak semuanya harus demikian. 
Tulisan di atas, terutama pada bagian "banyak tulisan yang cuma gemremeng, sok melawan dengan teori yang tak kokoh" kembali menjadi peringatan bagi saya agar terus belajar untuk menulis berdasarkan riset. Bahwa menulis fiksi bukanlah sekadar menuangkan ceracau hati, atau kritik sosial yang mentah. Melainkan juga menuangkan gagasan intelektual yang diwujudkan dalam sastra sehingga akan berkedudukan setara dengan bukubuku nonfiksi, hanya kemasannya saja yang beebeda. Itu adalah salah satu tanggung jawab saya.

Di Atas Tuhan

Tuhan memang telah memberikan kepada manusia satu keistimewaan yang dari dulu sampai sekarang terus disebutsebut itulah yang membedakannya dari makhluk lain. Otak membuat manusia bisa berpikir, menciptakan banyak inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup baik bagi dirinya atau orang lain.

Saya pernah berpikir. Berdasarkan agama yang saya yakini, di akhirat nanti manusia akan menyaksikan seluruh amalannya selama di dunia terpampang dalam sebuah layar besar. Sedikit banyak saya bisa membayangkannya. Yang muncul dalam imajinasi saya adalah seperti Wall Street di US sana. Serba digital! Ya, seperti itu. Saya yakin, bahkan sangat yakin, segala digitalisasi di era modern ini hanya bagian terkecil dari teknologi Tuhan yang akan dimunculkan di akhir kehidupan nanti, saat manusia sedang samasama menunggu dimulainya kehidupan setelah mati.

Dari hal itu saya coba memahami, bahwa manusia punya tanggung jawab untuk memaksimalkan fungsi otak. Banyak pemikir-pemikir seperti filsuf, ilmuan, pakar teori, pendiri bisnis, motivator, dll muncul barangkali sebagai perwujudan hal tadi.  Dan merujuk pada pendapat seseorang, ini termasuk pemikir juga, mengatakan bahwa “Sebagai manusia, nilai yang saya anut bisa jadi salah, tapi nilai yang diajarkan Islam sudah pasti benarnya”. Sehebat apapun pemikiran seseorang, ide dan pemikiran Tuhanlah yang mutlak benarnya. Orang-orang seperti dia, seperti saya, sangat beryakin pada semua katakata dari Tuhan sekalipun belum semuanya mampu untuk dimengerti tapi selalu mencicil pemahanan.

Minggu, 23 Maret 2014

FIB BERBASIS EMPIRISME?

Opini | Lampung Post, Kamis, 20 Maret 2014 | Halaman 12

FIB Berbasis Empirisme?
Destaayu Wulandari
Alumnus FIB Universitas Diponegoro

DAHI saya berkerut kala membaca opini Lampung Post, 13 Maret 2014 bertajuk Urgensi FIB di Unila. Setidaknya dua hal saya garis bawahi dari tulisan tersebut. Sekilas, kedua gagasan yang dimaksud bukan masalah dan bahkan menjadi pemantik tambahan yang tersampaikan kepada masyarakat—selain diskusi-diskusi terkait yang tidak terpublikasi—demi terwujudnya rencana besar untuk masa depan budaya di Lampung ini. Namun, setelah dikaji lagi, ada hal-hal implisit yang menurut saya perlu untuk diperhatikan.
Pertama, rencana pewujudan yang cenderung lebih mengutamakan nilai-nilai empiris melalui fakultas ilmu budaya (FIB) yang kelak akan didirikan di Universitas Lampung (Unila). Kedua, pengerucutan fungsi yang secara tidak langsung dapat memicu disintegrasi dengan FIB di universitas lain yang lebih dulu ada di Indonesia.

Pada poin pertama, dalam artikel itu peran FIB secara teoretis memang tetap disebut dengan cakupan tepat menyentuh kemasyarakatan dan kemultietnikan budaya setempat. Akan tetapi, setelahnya lebih ditonjolkan paparan yang menimbulkan kesan pengabaian terhadap latar belakang keilmuan bakal dosen yang nantinya mengajar di FIB. Secara jelas disampaikan staf pengajar tidak harus lulusan magister apalagi doktor.
Ada hal yang tendesius saat kemudian penulisnya menunjuk beberapa nama tokoh seniman dan budayawan Lampung yang dianggap mumpuni untuk menduduki posisi dosen. Pada bagian ini, tentu saya bukan menolak ide tersebut, melainkan bermaksud melengkapinya. Kualitas sosok yang direkomendasikan memang tidak perlu diragukan. Mereka telah memiliki prestasi dan pengalaman yang jarang dimiliki masyarakat Lampung, termasuk bila nanti dimunculkan tokoh lain yang serupa. Beberapa sosok yang kapasitasnya dianggap mumpuni itu perlu, utamanya untuk mata kuliah yang sifatnya praktikal.

Sebut saja, sebagai contoh, Penulisan Kreatif, Dramaturgi (teater), serta Transliterasi Naskah pada Subjek Filologi adalah beberapa mata kuliah di FIB yang perlu staf ahli lapangan. Kehadiran mereka tentu penting di satu bagian. Pula, jangan sampai lupa ada bagian lain, yaitu teori yang juga harus diampu oleh ahlinya.

Apalagi Lampung merupakan peserta dalam ajang sastra Rancage. Oleh sebab itu, dengan memahami teori kritik sastra, karya-karya sastra berbahasa Lampung yang telah ada akan bisa dikritisi oleh para mahasiswa yang menaruh minat pada sastra Lampung secara khusus atau sastra secara umum yang ditulis oleh orang Lampung atau bukan orang Lampung. Ke depan, perolehan penghargaan sastra dari yayasan yang diketuai oleh Ajip Rosidi itu tidak lagi minimal dengan adanya kritik yang membangun.

Penekanannya, isu kesulitan (jika memang benar sulit) memperoleh staf pengajar sebaiknya tidak lantas disederhanakan sedemikian itu. Jangan sampai kabar baik bagi pegiat sastra dan budaya di Lampung justru menjadi barang antik yang aksesibilitasnya terbatas.

Semangat empirisme yang diusung dalam artikel tersebut ada baiknya tidak ditelan apa adanya. Bukankah tidak buruk merekrut yang bukan masyarakat Lampung seandainya sungguh tidak ada sama sekali di provinsi ini. Sarjana, magister, dan doktor yang memiliki latar belakang ilmu sastra atau humaniora tetap merupakan hal fundamental bagi fakultas yang masih dalam rencana pendirian itu.

Link and Mach

Selain semangat empirisme, pada poin kedua dibubuhkan pula semangat disintegrasi. Sebagai pembanding, Unversitas Gadjah Mada (Yogyakarta) mendirikan FIB pada 1946, Universitas Diponegoro (Semarang) 1965, Universitas Andalas (Padang) 1982, dan Universitas Airlangga (Surabaya) 1998.

Ingin tampil beda dengan FIB lain, sudahkah terpikirkan risiko yang muncul kemudian. Misalnya, dengan hanya mengandalkan tenaga dari intelektual berbasis empiris, mampukah nantinya FIB di Lampung menjalin kerja sama dengan para pendahulunya itu, yang meskipun concern-nya pada kebudayaan daerah, yaitu Jawa, tetapi juga mengutamakan kematangan pendidikan para pengajarnya.

Link and match yang saya pahami sebagai upaya awal untuk menyerap dasar-dasar pendirian FIB, bisa sekaligus dimanfaatkan untuk menatar para calon dosen yang berpengetahuan umum menjadi berpengetahuan khusus mengenai kelampungan, misalnya, aksara kaganga. Terlebih, hal mengenai guru bahasa Lampung yang nyaris kehilangan posisi, agaknya bisa dijawab dengan tercetusnya ide pendirian FIB. Ditambah lagi, sebelumnya LPPM IAIN Raden Intan Lampung telah memulai workshop mengenai manuskrip Lampung.

Perlu diingat gagasan perlunya pendirian FIB di Lampung ini bermula dari dikembalikannya naskah-naskah kuno yang semula disimpan oleh pihak Belanda. Jadi, saya pikir semangat yang ditularkan oleh pihak Erasmus harus diteruskan selurus-lurusnya, dengan mengutamakan penelitian atas naskah yang ada agar peradaban masa lalu Kota Siger ini terungkap, serta ada kesatuan visi dari semua pihak terkait.
Akhirnya, saya ingin mempertanyakan ke arah mana FIB ini akan dibawa. Apakah FIB yang berbasis ilmu murni atau pendidikan. Jangan sampai nantinya terjadi tumpang tindih antara FIB yang umumnya di dalamnya termasuk program sastra dengan FKIP Bahasa Indonesia yang berbasis keguruan.

Perlu ada pemisahan yang jelas di antara keduanya. Bila hanya mengkerdilkan FIB dengan fungsi empiris, tidak perlu sampai membangun fakultas baru. Gabungkan saja ke fakultas yang sudah ada dalam subjek peminatan baru. Sebab, ada perbedaan antara budaya sebagai ilmu dan budaya sebagai warisan


Rabu, 19 Maret 2014

KIBLAT DI KOTA Y

Setelah berbulan-bulan saya tersandung kepasrahan karena tersandera keadaan dan tidak tahu apakah bisa mempertahankan "perasaan", maka "panggilan" dari Yogya ini seperti suatu Gagal Move on. 
Holaaa, saya sudah ada di Kota Y lagi! Hehe. Kota ini belum pernah membuat saya bosan walaupun telah berkalikali didatangi. Malahan rasa senangnya selalu terbarukan tiap kemudian datang lagi dan lagi. Eits, tapi ada yang berbeda kali ini. Pertama, kedatangan saya untuk interview di sebuah perusahaan penerbitan. Kedua, oke, untuk poin kedua saya paparkan dulu beberapa hal.
Sejak pertama kali datang ke kota ini, telinga saya selalu terganjal dengan kebiasaan warga setempat yang lebih suka menyebut arah mata angin ketimbang arah lokasi. Misal, saat ada yang bertanya, "di mana lokasi rumah sakit x?" maka bukannya menyebut lokasi lain yang searah atau berdekatan, mereka justru menyebut arah mata angin. "Oh, ke arah barat. Oh ke arah selatan", dst.dst. Padahal kan belum tntu setiap orang selalu bawa kompas.
Jika biasanya saya selalu NB "numpang bangik" alias nebeng di kosan kawan ehehe, Si Duu, atau pernah juga di kos Mbak Ai, kali ini saya menginap di rumah teman yang lain. Seorang kawan yang saya kenal saat mengikuti workshop di Bentang Pustaka tahun lalu. Dia seorang nasrani yang telah memiliki dua orang putri. Sebentulnya ada beberapa alternatif yang mungkin saya usahakan, tapi berhubung rumah Mbak Dyah yang paling dekat dengan lokasi interview, saya pun mengusahakannya.
Daan, kesulitan yang saya dapatkan adalah perihal sholat. Untungnya, sebelum menanyakan, justru Mbak Dyah menawarkan duluan seandainya mau ke masjid dia gak keberatan mengantar. Daripada merepotkan malam-malam, maghrib sih, saya pun minta izin untuk sholat di ruangan rumahnya, dia mempersilakan. Kemudian saya bingung lagi,
"Tapi kiblatnya ke arah mana ya Mbak?" tanya saya.
Dia kelihatan berpikir, ada canggung yang tipis dari rautnya.
"Kiblat itu ke arah mana?" dia balik tanya, lebih pada mengkonfirmasi, sih.
"Barat." jawab saya yakin. Gak mungkin dong saya bilang bahwa kiblat ke arah Baitullah hhe.
"Oh, berarti ke arah sana." Mbak Dyah mengangguk anggukan kepalanya.
Well. Saya manut aja. Ini bukan kali pertama saya tersesat arah kiblat. Hari sebelumnya juga pas mau sholat di atas kapal, pengelolanya gak pasang instalasi arah kiblat. Jadilah saya sholat ke arah yang paling meyakinkan. Toh, Tuhan selalu bisa melihat perbuatan hambanya. Makanya, doakan supaya interview saya lancar supaya bisa tinggal di sini untuk waktu yang cukup lama demi belajar arah mata angin dari orang sini. Kalau perlu sekalian dapat jodoh dan jadi ORANG YOGYA, ups, hihi.

19 Maret 2014

Sabtu, 22 Februari 2014

Diari Anas Urbaningrum dalam Rutan (?)

Saya baru saja menemukan sebuah tautan di facebook, karena penasaran saya pun membacanya sampai habis. Kebenarannya jujur masih sangat saya ragukan. Entah itu hanya ilustrasi dari pihak2 tertentu yang pro Anas atau justru sindiran dari pihak yang kontra pada dia. Apalagi tulisan tersebut dimuat hanya di sebuah web blog. Yang jelas itu saya cukupkan sebagai pengetahuan umum. Dan di bagian akhir, ada yang menarik perhatian saya. Begini bunyinya:
"Sabar saja, Pak Anas. Nasib kita sama," begitu nasihatnya.Dia menjelaskan, maksudnya sama-sama sepi, tak ada hiburan, tak ada tontonan. Bedanya, dia menjaga, saya dijaga. Sebagaimana petugas yang lain, jatah jam jaga adalah setengah hari alias 12 jam. Tugas Amir hari ini akan berakhir pagi nanti jam tujuh.

Saya sabar mendengarkan dia bercerita tentang sejarah politik dan kerajaan zaman dulu. Dengan fasih, dia menjelaskan naik-turunnya kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak Tumapel, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Datang dan perginya raja-raja Jawa itu dia jelaskan dengan terperinci mirip guru sejarah. Menarik karena wawasan sejarahnya cukup bagus. Saya hanya khusyuk mendengarkan sembari kasih komentar tambahan sedikit-sedikit.

Inti dari sejarah politik kerajaan-kerajaan Jawa dulu adalah politik “bumi hangus”. Setiap pemenang selalu menghancurkan yang dikalahkan. Kerajaan diluluhlantakkan dan yang dianggap berharga dibawa pergi oleh pemenang perang. Pusat kerajaan yang kalah diratakan dengan tanah sehingga yang tersisa tinggal kenangan. Jikapun ada, hanya bekas-bekas reruntuhan atau situs yang tak lagi utuh. Politik bumi hangus dan dendam tak berkesudahan hamper menjadi model politik sampai Indonesia memasuki zaman modern.
>> Tautan Diari Anas Urbaningrum dalam Rutan (?)

Rabu, 05 Februari 2014

Solilokui Roh dalam Lagu "Resah" oleh Payung Teduh

Ada yang belum pernah mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh? Sayang sekali, padahal band ini merupakan teman tidur dan teman merenung yang seru lho. Dari beberapa yang ada, saya paling suka dengan yang judulnya “Resah” dan “Tidurlah”. Selama ini sudah berapa kali memutar lagu berjudul “Resah?” bagi yang suka banget, barangkali gak terhitung ya. Saya pun gak pernah berniat melakukannya. Seperti malam ini, sama sekali saya gak ada rencana untuk menuliskan hal ini. Bahwa yang sudah-sudah, apa yang saya tangkap dari lagu ini ya hanya sekadar lagu galau. Namun, di putaran kedua, setelah seperti biasa saya terlena dengan lagu yang meresahkan—yang sebetulnya hanya memiliki enam larik dasar (enam baris lirik)—ini, saya dapatkan fakta baru yang gak terpikir sebelumnya.

Begini, di empat larik awal sejak 

“Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap” 
sampai ke 
“tapi aku hanya melihat keresahanmu”, 
ini sekilas memang tampak normal dan biasa saja, sebuah keresahan yang sekilas seperti ditujukan kepada kekasih, seseorang yang dicinta. Tapi ketika masuk ke larik selanjutnya yaitu dua larik terakhir

Aku/menunggu/dengan/sabar/di atas/sini/melayang-layang
Tergoyang/angin/menantikan/tubuh itu

Coba resapi lebih dalam, terutama kata-kata yang bercetak tebal.
Apa yang sekarang terasakan dari lagu ini, masihkah ada kesan “romantis”nya?
Baiklah, sejenak coba kita kembali ke larik-larik awal.

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Singkatnya, saya menyimpulkan bahwa lagu ini merupakan suatu senandika/solilokui/monolog. Bukanlah lagu cinta untuk kekasih melainkan betul-betul sebuah lagu tentang keresahan, tetapi yang ditujukan oleh sebentuk ‘roh’ atau ‘arwah’ atau ‘jiwa’ kepada dirinya sendiri. Bahwa ada seseorang yang seperti telah kehilangan dirinya sendiri. Bisa berarti seseorang itu sudah meninggal, berpisah jiwa dan raganya. Juga dapat pula dimaknai secara konotasi bahwa seseorang telah kehilangan semangat hidupnya. Kehilangan jati dirinya. Bahkan untuk sekadar berdiskusi dengan dirinya sendiri, menikmati kesendirian di malam gelap, di antara daun gugur, menyendiri pun sudah tak bisa. Aku hanya bisa melihat keresahanmu.

Resah-Payung Teduh

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang
Tergoyang angin menantikan tubuh itu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu