Laman

Rabu, 06 Juni 2012

mengantar jenazah

bunga dan merah tanah
menyatu atas debu
doa rabu
mengurapi udara

kusandang duka
diam-diam
ada yang pergi dalam
diam
ada yang lebih basah dari air mata

--acep zamzam noor--

di sebuah rabu, saya temukan sajak ini di halaman pertama buku kumpulan sajak acep zamzam noor yang saya pinjam sebentar dari seorang teman. entah kenapa, saya langsung ingin menjadikan sajak ini sebagai salah satu sajak paling duka --yang lebih perih dari luka--
saya hapal tiap larik sajak ini, hari ini juga.
untuk membuktikannya, biar saya ulang kembali menuliskannya tanpa mencontek.

mengantar jenazah
bunga dan merah tanah/ menyatu atas debu/ doa rabu/ mengurapi udara
kusandang duka/ diam-diam/ ada yang pergi dalam/ diam/ ada yang lebih basah dari air mata//
--acep zamzam noor--

rabu, 6/6/2012

kepada entah


aku benci ketika dalam pusaran hidup ini akhirnya tiba di suatu titik yang entah di mana, yang jelas ketika sampai di sana aku langsung merindukan seseorang yang entah siapa, atau sesuatu yang entah apa. aku benci pada remang yang entah bagaimana, pedih yang entah mengapa, jauh yang entah seberapa, dan segalanya yang tak berbetuk apa-apa.

aku tak pernah gagal untuk gagal mengingat dan merasakan apa yang disebut dengan ketaktahuan pada apapun yang tiba-tiba datang menyampaikan sebuah paket dari entah siapa, kotak air mata yang entah seberapa. aku gagal membuangnya kemudian nyaris mati berdiskusi dengan entah apa dan siapa di sudut ruangan.

aku memang bukan siapa-siapa. mungkin tak (lagi) memiliki apa-apa yang bisa diapa-apakan. aku hanyalah apa (?) apa yang terus menjadi tanda tanya dan terus bertanya-tanya tentang siapa dan apa.

Selasa, 22 Mei 2012

Memaknai Kemudian Mendefinisi-i

Ada yang coba saya ingat-ingat saat berpikir 'kenapa sih kelas penulisan kreatif dengan Triyanto Triwikromo selalu menyenangkan?' Ternyata, saat sekitar semester 3 yang lalu (sekarang saya semester 6) saya sudah membayangkan betapa akan menyenangkannya mengikuti perkuliahan dengan dosen pengampu seorang sastrawan sekaligus redaktur surat kabar terkemuka di Semarang (Suara Merdeka).

Ekspektasi saya tidak salah. selama hampir satu semester mengikuti kelas tiap minggunya, selalu ada hal-hal baru dan menyenangkan yang saya dapatkan. Meskipun materi yang disampaikan sangat sederhana, tetapi Pak Triyanto memiliki teknik pengajaran yang menurut saya selalu berusaha agar para mahasiswanya berpikir keras, mengeksplore imajinasi dan benar-benar berpikir secara kreatif. Banyak hal-hal tak terduga yang kerap muncul di setiap perkuliahan kami, misalnya hari ini.

Selasa pekan ini (22/5/2012) materi kami adalah tentang puisi. Saya memang datang terlambat sekitar 10 menit, tetapi masih sangat bisa mengikuti perkuliahan secara penuh. Salah satu hal yang menurut saya menjadi poin plus dalam kelas Pak Triyanto adalah 'santai' dan longgar. Mahasiswa yang terlambat tidak akan dikomentari, ia akan terus melanjutkan tuturannya saat mahasiswa yang terlambat tiba-tiba masuk kelas. selain itu beliau juga tidak pernah 'menyalahkan' setiap pendapat.

Materi kami pekan ini tentang puisi. Pak Triyanto meminta kami mendefinisikan puisi dengan cara kami masing-masing. Namun, sayaratnya definisi tersebut tidak boleh merujuk pada makna harfiah, misalnya puisi adalah untaian kata yang disusun berdasarkan rima, asonansi, aliterasi, dst...

Dan inilah hasil pendefinisian kami. Kebetulan saya mendapat giliran pertama. Menurut saya, definisi puisi (sajak) adalah malam yang kesepian, hujan yang kedinginan dan gelap yang teramat sungsang. Sesekali senyum dalam ketiadaan tapi selalu hidup dalam kematian.

Kemudian mahasiswa lain mendefinisikan puisi (sajak) adalah:
  • dewi nafisa prabawati: sajak adalah teknologi. Pak Triyanto mencoba memaknai definisi ini dengan menggambarkan bahwa sajak adalah kesatuan mesin yang di dalamnya ada skrup dll.
  • achmad dwi afriyadi: sajak adalah perselingkuhan. Ini dimaknai bahwa sajak lahir karena adanya perasaan was-was, karena pelaku perselingkuhan biasanya kerap dihinggapi perasaan was-was dan semacamnya.
  • imam muchdi: sajak adalah aturan. Meskipun Pak Triyanto memaknai definisi ini mengacu pada aturan seperti jumlah larik, rima akhir, asonansi, aliterasi dsb, menurut saya kata 'aturan' yang dicetuskan imam lebih mengacu pada suatu aturan yang lahir dari masing-masing penyair terhadap sajaknya. Jadi, ketika ia menulis sajak dengan berbagai diksi, tipografi, metafora dan kombinasi lainnya, itu semua mengacu pada aturan si penyair yang menuliskan sajaknya. Terlepas dari pemaknaan yang dilakukan orang lain, yang penting puisi tersebut dibangun oleh aturan-aturan (ego) penulisnya
  • galih wisnu pribadi: sajak adalah media curahan hati
  • sri debby marpaung: sajak adalah jeroan, gado-gado dan air beriak. Menurut Pak Triyanto definisi ini memandang sajak sebagai sesuatu yang tidak beraturan. Ada lompatan-lompatan yang terjadi di dalamnya.
  • moch. taher agus prasetyo: sajak adalah orang kulit hitam (negro) di pulau Albino.
  • zen marten nurullah: sajak adalah futsal. Berapa orang yang mati karena futsal? tanya Pak Triyanto menanggapi definisi ini. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa definisi ini mengarah pada suatu anggapan bahwa puisi adalah kematian.
  • diana novita sari: sajak adalah ruangan dan warna
  • tri sena surya anggara: sajak adalah lamunan kamar mandi yang membantu proses keluarnya tai. Definisi ini mengarah pada bahwa sajak adalah kesia-siaan. Tapi menurut saya, definisi ini mengarah pada suatu pemaknaan bahwa sajak adalah kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
  • anggun prestiani: sajak adalah nada-nada jiwa. Pak Triyanto coba menganalogikan bahwa melaui definisi ini ia membayangkan di dalam jiwa manusia ada semacam piano yang membunyikan nada-nada.
  • riko yulianto: sajak adalah 4 ekor hewan berbeda yang berduel
Setelah pendefinisan sajak tersebut, sesi diskusi pun berlangsung meskipun singkat. Satu pertanyaan yang saya lontarkan adalah bagaimana bapak menanggapi pembedahan puisi yang sepertinya adalah suatu keisa-siaan karena sebagaimanapun puisi dimaknai oleh sekian orang maka sekian makna akan diperoleh? Menanggapi ini dengan uraian yang cukup lebar, tetapi pada akhirnya Pak Triyanto menyampaikan bahwa dalam kesia-siaan pun ada penemuan yang didapatkan yang mengarah pada suatu eksistensialisme.

Selanjutnya, potongan sebuah puisi yang disampaikan Debby cukup membuat kami berpikir mengenai maknanya, sebab menurut Debby, ia mendapat beberapa hujatan dari bebebrapa pihak yang menilai puisinya sudah melewati batas kewajaran. Berikut ini potongan sajaknya:

dan tuhan tak urung tersenyum
melihat kami nyaris berkelamin

Untuk mencoba menyimpulkan beberapa pemaknaan yang kami buat, Pak Triyanto menutup kuliah hari ini dengan sebuah idiom yahudi yang berbunyi: "saat manusia berpikir, Tuhan tertawa"

Jumat, 18 Mei 2012

Rumah



Malam hampir menua
Wajahnya yang penuh kerutan kian pucat menelan angin yang mampir ke jendela
Di sebuah lubang, di balik sebatang kerinduan yang sungsang di halaman belakang
Di getirnya kesepian di ketiadaan
Aku tinggal jendela
Setiap malam kutelan diam-diam pesanmu yang sesenggukan menahan angin
Setiap diam kutikam jarak yang menjauhkanmu dari kenyataan
Semu. Semua yang kau kirimkan adalah kepura-puraan yang memaksa
Pakaianmu, makananmu, pekerjaanmu, pikiranmu...
Semu. Omong kosong
Tinggal aku jendela
Di pintu, pernah pesanmu meringkuk sendiri dilayati angin yang kedinginan
angin yang kepayahan
Pesanmu tak bisa sampai lewat pintu depan. Pintu yang sudah mati kehilangan kunci
Lalu kupungut. Kupungut lalu kumasukkan lewat jendela. Aku jendela
Tapi pesanmu tak bisa terbaca
Jendela tinggal aku
Tinggal aku yang sesekali sempoyongan menahan angin.
Aku tinggal. Tanpa pintu tanpa ruang tengah
Di jendela, pesanmu tak pernah sampai. Tak ada suara di ruang tengah
Pesanmu seharusnya sudah sampai di sana, dan kau baca:
Tak ada lagi rumah. Tak usah pulang.

Semarang, 18 Mei 2012

Kamis, 19 April 2012

kepada kartini. kartini yang telah mati...

sumber gambar: tumblr.com

Kepada Kartini. Kartini yang telah mati...
Kartini. Itu namamu kan? Aku tak ingat kapan pertama kalinya mengenal namamu. Ya, sekadar mengenal namamu. Mungkin saat aku masih duduk di SD. Aku lupa. Dan aku sangat tak peduli. Kau tahu tidak apa yang kupedulikan? Ah, aku yakin kau sama sekali tak tahu. Yang kau tahu pasti hanya mengenai para perempuan yang ada di barisanmu, yang berdiri sambil memegang bendera bertulis EMANSIPASI WANITA. Kau tak tahu apa-apa tentang aku, tentang kami, apalagi tentang bangsa ini, sekarang!

Apa yang kau pikirkan saat berkoar memperjuangkan emansipasi? Kau sedang memperjuangkan dirimu sendiri, bukan? Ah, terserahlah. Yang jelas, padamu ingin kukatakan bahwa emansipasi yang kau gadang-gadangkan di masa lalu telah menjadikan kaummu lupa diri.

Kenapa kau merasa begitu hebat hingga harus kami peringati? Ah, oke. Mungkin maksudku, kenapa kami, tepatnya kaummu--aku tidak--menganggap kau begitu berjasa? Apa jasamu? Coba saja kau tanyai mereka satu persatu, semoga bisa kau dapati mereka mengerti apa makna perjuanganmu. Mereka hanya melakukan selebrasi, tanpa makna tanpa apa-apa. Ya. Seperti selebrasi-selebrasi lainnya di negeri  ini. Sia-sia. Tak ada kesadaran yang timbul dari kedalaman hati. Sebatas mengenakan kebaya, apa maknanya? Kau menyukainya? Hei, jawab!

Maaf. Aku tak tahu harus mengeluh kepada siapa lagi di sini. Sejarah yang menceritakan perihal hidupmu di masa lalu, bukanlah alternatif untukku percaya. Sejarah di sini adalah manipulasi. Pemilik sejarah adalah penguasa di masa itu. Jadi, jika hari ini aku menjadi penguasa, aku berhak atas sejarah, aku berhak menuliskannya semauku.

Aku menyesalkan keberadaanmu di masa lalu. Jika memang kau pernah ada!
Aku, perempuan yang tak mampu mengenalimu itu.
Semarang, beberapa hari menjelang hari peringatanmu.

Minggu, 25 Maret 2012

Musim

“Lalu apakah disebut kesalahan jika aku ingin tinggal di suatu tempat yang memiliki 4 musim, bersamamu?”
Tak ada jawaban yang meluncur dari bibirku, hanya kelu. Kulihat seketika hening menghampiri matamu yang biasanya teduh. Ini bukan pertama kalinya kau membuatku larut dalam kebingungan yang tak bisa kulerai.

Kemarau. Kita baru saja sampai di pintu depannya. Dari jendela kita sama-sama mencoba menuliskan apa-apa yang tak sempat kita wujudkan selama musim hujan kemarin.

“Kenapa tempat kita tinggal sekarang ini, hanya punya 2 musim ya...”
Itu pertanyaan pertamamu saat kita tiba 3 jam yang lalu, saat pelayan membawakan menu yang semuanya hanya kopi dan teh. Beberapa saat kemudian kau sedikit kecewa karena tak menemukan ice cream dalam daftar menu, dan akhirnya memesan ice tea.

Di kemarau semacam ini, harus kuakui bahwa pilihanmu memang jauh lebih tepat dibanding pilihanku. Secangkir vanila coffe yang kupesan bahkan kini merenung tanpa asap yang awalnya mengepul. Kau sempat protes kenapa aku tak memilih seperti yang kau pesan. Tapi kau akhirnya diam juga saat kukatakan bahwa aku tak peduli pada musim yang sedang berlangsung, yang kutahu, aku lelah merasakan kepayahan sepanjang musim hujan kemarin. Aku ingin sejenak lelap dalam ketaktahuan dan kemasabodohan. Tapi aku sadar bahwa itu adalah wujud dari keegoisan. Maka aku harus bertahan dari rasa kantuk yang tak henti menyerang, bahkan hingga detik ini.

Hampir setahun lalu, aku ingat bagaimana pertama kalinya kutemukanmu sedang khusyuk memainkan hujan sendirian. Tak ada duka atau luka memang, itulah mengapa aku memberanikan diri untuk duduk dan memerhatikanmu dari dekat. Kau memang tak lantas menyambutku. Aku harus rutin mengunjungimu yang tengah bermain hujan, tanpa ada sepatahpun ucapan, atau skeedar sambutan untuk orang yang belum kau kenal.

Kini hujan telah selesai, di musim pancaroba aku, sepertinya, berhasil meyakinkanmu bahwa keberadaanku didekatmu bukanlah kesia-siaan. Hingga menjelang musim kemarau, aku benar-benar kau izinkan untuk berada didekatmu, dengan obrolan-obrolan ringan, terkadang penuh makna juga romantika sederhana.
Namun, ada yang sampai saat ini tetap tak mampu kumengerti.

“Musim hujan telah selesai, apakah kau akan mencintai kemarau seperti mencintai hujan?”
Jujur saja, itulah akumulasi dari kerisauan yang selama ini kutahankan. Jika diminta menggambarkan bagaimana kecintaanmu terhadap hujan, maka jawabanku singkat saja. Hujan adalah cairan yang selalu lekat di dua bola matamu. Hujan memang bukanlah simbol kepedihan, setidaknya dalam hidupmu. Kau memerlakukan hujan dengan begitu indah, dengan penuh keceriaan dan kebersyukuran. Yang kutahu, itu adalah sebuah anomali.

Sendiri, aku terus berpikir. Jika itu perlakuan yang diterima hujan, lalu bagaimana nasib kemarau? Entahlah. Terkadang aku beku dan tersesat dalam pikiranku sendiri. Aku terlalu takut kau memerlakukan kemarau justru speerti orang-orang memerlakukan hujan.

“Entahlah.” Jawabmu singkat, dan meragukan.

Setelah itu kau mulai bercerita seandainya suatu saat 2 musim yang selama ini ada, berbiak menjadi 4 seperti di tempat lain. Kau bilang, mungkin akan bahagia menikmati salju atau daun-daun gugur dari pepohonan di halaman rumahmu yang begitu luas.

Hingga saat ini, aku masih kesulitan untuk memahami jalan pikiranmu. Di jendela, kulihat satu dari sekian harapan yang kau tuliskan, dan aku tak tahu harus bersikap seperti apa.


Aku ingin merasakan musim di mana kau tak lahir pada musim itu. Aku hanya ingin, kita, hidup di musim lain yang sama sekali tak kita kenal. Agar tak ada yang bisa teringat pada kehidupan pada musim sebelumnya, seperti yang kualami sepanjang musim kemarin, hingga saat ini.
Semarang, 25 Maret 2012  

Senin, 12 Maret 2012

Di Kotak Mimpi



Kemarin malam aku menemukan sekotak mimpi
Di dalamnya kutemukan sketsa-sketsa wajahmu yang memang kukenal
Dari gurat senyum hingga letih yang menyemakin
Tapi, kenapa kita tak saling kenal?
Seolah kau lupa siapa aku dan akupun kesulitan menerjemahkan kelakuanmu
Masih di kotak yang sama, malam yang telah berubah siang
Aku kian kehilangan
Kau pergi tak hanya sebatas raga
Ayah, lekas keluar dari sana
Ada rindu yang rasanya ingin kuretakkan hingga pecah tak berbilang
Ini hanya mimpi, dan aku percaya

Semarang, 12 Maret 2012

Minggu, 11 Maret 2012

Perpisahan




Mulai hari ini kita akan menanam rindu di halaman waktu tak berbatas
Dengan hujan yang tersendat-sendat kita siap menanti tunas pertama
Entah kapan
Sambil menunggu, kau mengambil kanvas dan aku mulai menggambar sketsa
Tapi mengapa titik-titik gerimis justru menghapusnya?
Dalam jarak, kita saling mencipta ketiadaan

Semarang, 11 Maret 2012, 23.54

Hujan dan jarak




Ingatkah kita pernah menuang hujan bersama
Malam itu bahkan dingin seolah selimut yang mendekap kita
Meneguk satu, lalu dua, dan seterusnya
Di gelasmu ada rindu yang tak bisa tumpah
Di bibirku jarak menjadi gelegar yang bisu
Lalu kita mengeja meja
Hujan kini menggerimis
Kita masih dengan gelas masing-masing
Tak bisa berbagi.

11 Maret 2012

Sabtu, 03 Maret 2012

"mengalir" oleh privat harmony

kusentuh kamu dengan hatiku
mengalir deras cinta untukmu
rasakanlah begitu hebat, memujamu, aku
mengalirlah mencintai aku
jangan berhenti hei
seperti diriku mencintaimu
selama kita bisa menjaga cinta ini
mengalir bersamaku

lantunkan semua kata cintamu
yang tersusun rapi dalam hatimu
kurasakan begitu hebat
memujaku, kamu