Laman

Sabtu, 29 Maret 2014

Sastra Tikai

Kian bingung pada dunia sastra saat ini. Banyak tulisan bagus dihajar sedemikian rupa dianggap sebagai tulisan buruk. Sebaliknya banyak tulisan yang cuma gemremeng, sok melawan dengan teori yang tak kokoh dipuji-puji setengah mati oleh orang-orang yang mengaku penjaga sastra Indonesia. Benar kata Mbak Leila S. Chudori dunia sastra kita cuma berisi orang-orang yang suka bertikai.

Wah kalau begitu minta saran Wicaksono Adi bagaimana jadi penghuni dunia sastra yang tak banyak gontok-gontokannya, yakni di dunia hantu, dunia para dhemit.

Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!
Beliau adalah guru yang telah mengajar, dan sempat membuat saya kesal karena pada suatu masa, setelah saya mengeluelukan teknik pengajaran beliau, justru memberi nilai yang ketika itu saya anggap tidak adil. Beberapa waktu kemudian, barulah saya tersadar bahwa yang beliau berikan pada saya itu paling pas. Selama ini saya terbiasa puas dengan nilainilai tertinggi. Padahal, tidak semuanya harus demikian. 
Tulisan di atas, terutama pada bagian "banyak tulisan yang cuma gemremeng, sok melawan dengan teori yang tak kokoh" kembali menjadi peringatan bagi saya agar terus belajar untuk menulis berdasarkan riset. Bahwa menulis fiksi bukanlah sekadar menuangkan ceracau hati, atau kritik sosial yang mentah. Melainkan juga menuangkan gagasan intelektual yang diwujudkan dalam sastra sehingga akan berkedudukan setara dengan bukubuku nonfiksi, hanya kemasannya saja yang beebeda. Itu adalah salah satu tanggung jawab saya.

Di Atas Tuhan

Tuhan memang telah memberikan kepada manusia satu keistimewaan yang dari dulu sampai sekarang terus disebutsebut itulah yang membedakannya dari makhluk lain. Otak membuat manusia bisa berpikir, menciptakan banyak inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup baik bagi dirinya atau orang lain.

Saya pernah berpikir. Berdasarkan agama yang saya yakini, di akhirat nanti manusia akan menyaksikan seluruh amalannya selama di dunia terpampang dalam sebuah layar besar. Sedikit banyak saya bisa membayangkannya. Yang muncul dalam imajinasi saya adalah seperti Wall Street di US sana. Serba digital! Ya, seperti itu. Saya yakin, bahkan sangat yakin, segala digitalisasi di era modern ini hanya bagian terkecil dari teknologi Tuhan yang akan dimunculkan di akhir kehidupan nanti, saat manusia sedang samasama menunggu dimulainya kehidupan setelah mati.

Dari hal itu saya coba memahami, bahwa manusia punya tanggung jawab untuk memaksimalkan fungsi otak. Banyak pemikir-pemikir seperti filsuf, ilmuan, pakar teori, pendiri bisnis, motivator, dll muncul barangkali sebagai perwujudan hal tadi.  Dan merujuk pada pendapat seseorang, ini termasuk pemikir juga, mengatakan bahwa “Sebagai manusia, nilai yang saya anut bisa jadi salah, tapi nilai yang diajarkan Islam sudah pasti benarnya”. Sehebat apapun pemikiran seseorang, ide dan pemikiran Tuhanlah yang mutlak benarnya. Orang-orang seperti dia, seperti saya, sangat beryakin pada semua katakata dari Tuhan sekalipun belum semuanya mampu untuk dimengerti tapi selalu mencicil pemahanan.

Minggu, 23 Maret 2014

FIB BERBASIS EMPIRISME?

Opini | Lampung Post, Kamis, 20 Maret 2014 | Halaman 12

FIB Berbasis Empirisme?
Destaayu Wulandari
Alumnus FIB Universitas Diponegoro

DAHI saya berkerut kala membaca opini Lampung Post, 13 Maret 2014 bertajuk Urgensi FIB di Unila. Setidaknya dua hal saya garis bawahi dari tulisan tersebut. Sekilas, kedua gagasan yang dimaksud bukan masalah dan bahkan menjadi pemantik tambahan yang tersampaikan kepada masyarakat—selain diskusi-diskusi terkait yang tidak terpublikasi—demi terwujudnya rencana besar untuk masa depan budaya di Lampung ini. Namun, setelah dikaji lagi, ada hal-hal implisit yang menurut saya perlu untuk diperhatikan.
Pertama, rencana pewujudan yang cenderung lebih mengutamakan nilai-nilai empiris melalui fakultas ilmu budaya (FIB) yang kelak akan didirikan di Universitas Lampung (Unila). Kedua, pengerucutan fungsi yang secara tidak langsung dapat memicu disintegrasi dengan FIB di universitas lain yang lebih dulu ada di Indonesia.

Pada poin pertama, dalam artikel itu peran FIB secara teoretis memang tetap disebut dengan cakupan tepat menyentuh kemasyarakatan dan kemultietnikan budaya setempat. Akan tetapi, setelahnya lebih ditonjolkan paparan yang menimbulkan kesan pengabaian terhadap latar belakang keilmuan bakal dosen yang nantinya mengajar di FIB. Secara jelas disampaikan staf pengajar tidak harus lulusan magister apalagi doktor.
Ada hal yang tendesius saat kemudian penulisnya menunjuk beberapa nama tokoh seniman dan budayawan Lampung yang dianggap mumpuni untuk menduduki posisi dosen. Pada bagian ini, tentu saya bukan menolak ide tersebut, melainkan bermaksud melengkapinya. Kualitas sosok yang direkomendasikan memang tidak perlu diragukan. Mereka telah memiliki prestasi dan pengalaman yang jarang dimiliki masyarakat Lampung, termasuk bila nanti dimunculkan tokoh lain yang serupa. Beberapa sosok yang kapasitasnya dianggap mumpuni itu perlu, utamanya untuk mata kuliah yang sifatnya praktikal.

Sebut saja, sebagai contoh, Penulisan Kreatif, Dramaturgi (teater), serta Transliterasi Naskah pada Subjek Filologi adalah beberapa mata kuliah di FIB yang perlu staf ahli lapangan. Kehadiran mereka tentu penting di satu bagian. Pula, jangan sampai lupa ada bagian lain, yaitu teori yang juga harus diampu oleh ahlinya.

Apalagi Lampung merupakan peserta dalam ajang sastra Rancage. Oleh sebab itu, dengan memahami teori kritik sastra, karya-karya sastra berbahasa Lampung yang telah ada akan bisa dikritisi oleh para mahasiswa yang menaruh minat pada sastra Lampung secara khusus atau sastra secara umum yang ditulis oleh orang Lampung atau bukan orang Lampung. Ke depan, perolehan penghargaan sastra dari yayasan yang diketuai oleh Ajip Rosidi itu tidak lagi minimal dengan adanya kritik yang membangun.

Penekanannya, isu kesulitan (jika memang benar sulit) memperoleh staf pengajar sebaiknya tidak lantas disederhanakan sedemikian itu. Jangan sampai kabar baik bagi pegiat sastra dan budaya di Lampung justru menjadi barang antik yang aksesibilitasnya terbatas.

Semangat empirisme yang diusung dalam artikel tersebut ada baiknya tidak ditelan apa adanya. Bukankah tidak buruk merekrut yang bukan masyarakat Lampung seandainya sungguh tidak ada sama sekali di provinsi ini. Sarjana, magister, dan doktor yang memiliki latar belakang ilmu sastra atau humaniora tetap merupakan hal fundamental bagi fakultas yang masih dalam rencana pendirian itu.

Link and Mach

Selain semangat empirisme, pada poin kedua dibubuhkan pula semangat disintegrasi. Sebagai pembanding, Unversitas Gadjah Mada (Yogyakarta) mendirikan FIB pada 1946, Universitas Diponegoro (Semarang) 1965, Universitas Andalas (Padang) 1982, dan Universitas Airlangga (Surabaya) 1998.

Ingin tampil beda dengan FIB lain, sudahkah terpikirkan risiko yang muncul kemudian. Misalnya, dengan hanya mengandalkan tenaga dari intelektual berbasis empiris, mampukah nantinya FIB di Lampung menjalin kerja sama dengan para pendahulunya itu, yang meskipun concern-nya pada kebudayaan daerah, yaitu Jawa, tetapi juga mengutamakan kematangan pendidikan para pengajarnya.

Link and match yang saya pahami sebagai upaya awal untuk menyerap dasar-dasar pendirian FIB, bisa sekaligus dimanfaatkan untuk menatar para calon dosen yang berpengetahuan umum menjadi berpengetahuan khusus mengenai kelampungan, misalnya, aksara kaganga. Terlebih, hal mengenai guru bahasa Lampung yang nyaris kehilangan posisi, agaknya bisa dijawab dengan tercetusnya ide pendirian FIB. Ditambah lagi, sebelumnya LPPM IAIN Raden Intan Lampung telah memulai workshop mengenai manuskrip Lampung.

Perlu diingat gagasan perlunya pendirian FIB di Lampung ini bermula dari dikembalikannya naskah-naskah kuno yang semula disimpan oleh pihak Belanda. Jadi, saya pikir semangat yang ditularkan oleh pihak Erasmus harus diteruskan selurus-lurusnya, dengan mengutamakan penelitian atas naskah yang ada agar peradaban masa lalu Kota Siger ini terungkap, serta ada kesatuan visi dari semua pihak terkait.
Akhirnya, saya ingin mempertanyakan ke arah mana FIB ini akan dibawa. Apakah FIB yang berbasis ilmu murni atau pendidikan. Jangan sampai nantinya terjadi tumpang tindih antara FIB yang umumnya di dalamnya termasuk program sastra dengan FKIP Bahasa Indonesia yang berbasis keguruan.

Perlu ada pemisahan yang jelas di antara keduanya. Bila hanya mengkerdilkan FIB dengan fungsi empiris, tidak perlu sampai membangun fakultas baru. Gabungkan saja ke fakultas yang sudah ada dalam subjek peminatan baru. Sebab, ada perbedaan antara budaya sebagai ilmu dan budaya sebagai warisan


Rabu, 19 Maret 2014

KIBLAT DI KOTA Y

Setelah berbulan-bulan saya tersandung kepasrahan karena tersandera keadaan dan tidak tahu apakah bisa mempertahankan "perasaan", maka "panggilan" dari Yogya ini seperti suatu Gagal Move on. 
Holaaa, saya sudah ada di Kota Y lagi! Hehe. Kota ini belum pernah membuat saya bosan walaupun telah berkalikali didatangi. Malahan rasa senangnya selalu terbarukan tiap kemudian datang lagi dan lagi. Eits, tapi ada yang berbeda kali ini. Pertama, kedatangan saya untuk interview di sebuah perusahaan penerbitan. Kedua, oke, untuk poin kedua saya paparkan dulu beberapa hal.
Sejak pertama kali datang ke kota ini, telinga saya selalu terganjal dengan kebiasaan warga setempat yang lebih suka menyebut arah mata angin ketimbang arah lokasi. Misal, saat ada yang bertanya, "di mana lokasi rumah sakit x?" maka bukannya menyebut lokasi lain yang searah atau berdekatan, mereka justru menyebut arah mata angin. "Oh, ke arah barat. Oh ke arah selatan", dst.dst. Padahal kan belum tntu setiap orang selalu bawa kompas.
Jika biasanya saya selalu NB "numpang bangik" alias nebeng di kosan kawan ehehe, Si Duu, atau pernah juga di kos Mbak Ai, kali ini saya menginap di rumah teman yang lain. Seorang kawan yang saya kenal saat mengikuti workshop di Bentang Pustaka tahun lalu. Dia seorang nasrani yang telah memiliki dua orang putri. Sebentulnya ada beberapa alternatif yang mungkin saya usahakan, tapi berhubung rumah Mbak Dyah yang paling dekat dengan lokasi interview, saya pun mengusahakannya.
Daan, kesulitan yang saya dapatkan adalah perihal sholat. Untungnya, sebelum menanyakan, justru Mbak Dyah menawarkan duluan seandainya mau ke masjid dia gak keberatan mengantar. Daripada merepotkan malam-malam, maghrib sih, saya pun minta izin untuk sholat di ruangan rumahnya, dia mempersilakan. Kemudian saya bingung lagi,
"Tapi kiblatnya ke arah mana ya Mbak?" tanya saya.
Dia kelihatan berpikir, ada canggung yang tipis dari rautnya.
"Kiblat itu ke arah mana?" dia balik tanya, lebih pada mengkonfirmasi, sih.
"Barat." jawab saya yakin. Gak mungkin dong saya bilang bahwa kiblat ke arah Baitullah hhe.
"Oh, berarti ke arah sana." Mbak Dyah mengangguk anggukan kepalanya.
Well. Saya manut aja. Ini bukan kali pertama saya tersesat arah kiblat. Hari sebelumnya juga pas mau sholat di atas kapal, pengelolanya gak pasang instalasi arah kiblat. Jadilah saya sholat ke arah yang paling meyakinkan. Toh, Tuhan selalu bisa melihat perbuatan hambanya. Makanya, doakan supaya interview saya lancar supaya bisa tinggal di sini untuk waktu yang cukup lama demi belajar arah mata angin dari orang sini. Kalau perlu sekalian dapat jodoh dan jadi ORANG YOGYA, ups, hihi.

19 Maret 2014

Sabtu, 22 Februari 2014

Diari Anas Urbaningrum dalam Rutan (?)

Saya baru saja menemukan sebuah tautan di facebook, karena penasaran saya pun membacanya sampai habis. Kebenarannya jujur masih sangat saya ragukan. Entah itu hanya ilustrasi dari pihak2 tertentu yang pro Anas atau justru sindiran dari pihak yang kontra pada dia. Apalagi tulisan tersebut dimuat hanya di sebuah web blog. Yang jelas itu saya cukupkan sebagai pengetahuan umum. Dan di bagian akhir, ada yang menarik perhatian saya. Begini bunyinya:
"Sabar saja, Pak Anas. Nasib kita sama," begitu nasihatnya.Dia menjelaskan, maksudnya sama-sama sepi, tak ada hiburan, tak ada tontonan. Bedanya, dia menjaga, saya dijaga. Sebagaimana petugas yang lain, jatah jam jaga adalah setengah hari alias 12 jam. Tugas Amir hari ini akan berakhir pagi nanti jam tujuh.

Saya sabar mendengarkan dia bercerita tentang sejarah politik dan kerajaan zaman dulu. Dengan fasih, dia menjelaskan naik-turunnya kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak Tumapel, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Datang dan perginya raja-raja Jawa itu dia jelaskan dengan terperinci mirip guru sejarah. Menarik karena wawasan sejarahnya cukup bagus. Saya hanya khusyuk mendengarkan sembari kasih komentar tambahan sedikit-sedikit.

Inti dari sejarah politik kerajaan-kerajaan Jawa dulu adalah politik “bumi hangus”. Setiap pemenang selalu menghancurkan yang dikalahkan. Kerajaan diluluhlantakkan dan yang dianggap berharga dibawa pergi oleh pemenang perang. Pusat kerajaan yang kalah diratakan dengan tanah sehingga yang tersisa tinggal kenangan. Jikapun ada, hanya bekas-bekas reruntuhan atau situs yang tak lagi utuh. Politik bumi hangus dan dendam tak berkesudahan hamper menjadi model politik sampai Indonesia memasuki zaman modern.
>> Tautan Diari Anas Urbaningrum dalam Rutan (?)

Rabu, 05 Februari 2014

Solilokui Roh dalam Lagu "Resah" oleh Payung Teduh

Ada yang belum pernah mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh? Sayang sekali, padahal band ini merupakan teman tidur dan teman merenung yang seru lho. Dari beberapa yang ada, saya paling suka dengan yang judulnya “Resah” dan “Tidurlah”. Selama ini sudah berapa kali memutar lagu berjudul “Resah?” bagi yang suka banget, barangkali gak terhitung ya. Saya pun gak pernah berniat melakukannya. Seperti malam ini, sama sekali saya gak ada rencana untuk menuliskan hal ini. Bahwa yang sudah-sudah, apa yang saya tangkap dari lagu ini ya hanya sekadar lagu galau. Namun, di putaran kedua, setelah seperti biasa saya terlena dengan lagu yang meresahkan—yang sebetulnya hanya memiliki enam larik dasar (enam baris lirik)—ini, saya dapatkan fakta baru yang gak terpikir sebelumnya.

Begini, di empat larik awal sejak 

“Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap” 
sampai ke 
“tapi aku hanya melihat keresahanmu”, 
ini sekilas memang tampak normal dan biasa saja, sebuah keresahan yang sekilas seperti ditujukan kepada kekasih, seseorang yang dicinta. Tapi ketika masuk ke larik selanjutnya yaitu dua larik terakhir

Aku/menunggu/dengan/sabar/di atas/sini/melayang-layang
Tergoyang/angin/menantikan/tubuh itu

Coba resapi lebih dalam, terutama kata-kata yang bercetak tebal.
Apa yang sekarang terasakan dari lagu ini, masihkah ada kesan “romantis”nya?
Baiklah, sejenak coba kita kembali ke larik-larik awal.

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Singkatnya, saya menyimpulkan bahwa lagu ini merupakan suatu senandika/solilokui/monolog. Bukanlah lagu cinta untuk kekasih melainkan betul-betul sebuah lagu tentang keresahan, tetapi yang ditujukan oleh sebentuk ‘roh’ atau ‘arwah’ atau ‘jiwa’ kepada dirinya sendiri. Bahwa ada seseorang yang seperti telah kehilangan dirinya sendiri. Bisa berarti seseorang itu sudah meninggal, berpisah jiwa dan raganya. Juga dapat pula dimaknai secara konotasi bahwa seseorang telah kehilangan semangat hidupnya. Kehilangan jati dirinya. Bahkan untuk sekadar berdiskusi dengan dirinya sendiri, menikmati kesendirian di malam gelap, di antara daun gugur, menyendiri pun sudah tak bisa. Aku hanya bisa melihat keresahanmu.

Resah-Payung Teduh

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang
Tergoyang angin menantikan tubuh itu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu

Senin, 27 Januari 2014

Menulis (untuk) Memenangkan Sejarah

Lampung Tumbai edisi keempat di Koran Lampost akhirnya terbit. Sudah saya baca sekalian saya gunting bagian itu dengan maksud untuk dibuat klipping. Tapi agak berbeda, kali ini untuk pertama kalinya seorang kawan di fb yang tak lain wartawan dari koran yang bersangkutan, untuk pertama kalinya menandai saya diartikel yang sama tapi versi digital. Jadi, saat menerima notification, saya sempat membaca beberapa komentar di sana. Satu yang menarik perhatian saya begini bunyinya:

"Tulisan ini sangat subyektif. Fakta-faktanya masih banyak yang harus dikoreksi. Orientalis seperti ini banyak bermunculan pada abad-abad ke-19. Tujuannya sengaja mengaburkan sejarah dan pecah belah. Bagi saya tulisan ini tidak layak dijadikan acuan sejarah. Paling tidak hanya untuk data pembanding."

Pada intinya, saya sepakat dengan kritik tersebut. Bahwa benar, di edisi berjudul "Lingkaran Setan di Lampung" kali ini (saya tidak yakin dia telah membaca tiga artikel edisi sebelumnya), taste yang muncul cenderung lebih subjektif dibandingkan tiga edisi terdahulu. Dan bahwa tulisan atau artikel-artikel tersebut memang sebaiknya dijadikan bahan pembanding saja. Tapi persoalannya, kembali pada curhatan saya sebelum ini. Masih terlalu minim sumber rujukan tentang Lampung yang bisa ditemui. Maka ketika ada seseorang yang mengaku penyuka sejarah dan berada dekat dengan manuskrip-manuskrip, apa salahnya coba openmind terhadap pendapatnya.

Selain itu, di tempat lain saya pernah menuliskan: "Menulis untuk diam-diam memenangkan, sejarah." Kenapa saya berkata demikian, sebab memang sejak dulu, catatan sejarah adalah produk dari "pemenang sejarah" dan di balik tulisan-tulisan objektif, mustahil tak terkandung subjektivitas. Hanya saja kadarnya mungkin dikonsep sedemikian rupa agar yang menonjol adalah sisi objektifnya. Dengan menulis, setidaknya seseorang akan bisa memenangkan sejarah hidupnya sendiri. Ingat, "scripta manen verba voilant".

Jadi, apapun tujuan politis di belakang penerbitan artikel pekanan mengenai Lampung tempo dulu itu, saya tetap mengapresiasi usaha pihak-pihak terkait untuk menyodorkan kepada para pencari catatan sejarah untuk bisa memeroleh bahan-bahan pembanding. Sekali lagi, tak ada hal yang benar-benar objektif apalagi mutlak benar. Pembaca yang baik akan selalu berusaha menelusuri celah-celah yang memungkinkan dari suatu argumen. Dan artikel pekanan ini akan bermanfaat untuk menyusuri lebih jauh jejak sejarah Tano Lado yang sejauh ini jelas masih miskin data. Perkara si penulis "dibayar" atau punya niatan buruk terhadap sejarah Lampung, itu kembali lagi pada tiap-tiap orang adakah tindakan lanjutan, mungkin dengan membaca langsung buku-buku rujukannya. Apalagi baru-baru ini sebuah situs web mengabarkan bahwa Belanda telah mengembalikan (atas usaha seorang akademisi UI) sekitar 12.000 naskah Indonesia.


Minggu, 05 Januari 2014

Lampung Tumbai*


Beberapa waktu lalu ketika saya menjenguk nenek yang sedang dirawat di RS Urip Sumoharjo. Sebagai pengait, rumah sakit ini menggunakan nama-nama pahlawan Indonesia sebagai nama kamar di kelas VIP. Ketika itu saya berada di kamar Martha Christina Tiahahu. Entahlah, nenek (adik nenek saya) satu ini bisa dibilang sering (mungkin malah hobi) keluar-masuk rumah sakit karena menurutnya lebih enak dirawat ketimbang sakit di rumah. Di sana kami ngobrol-ngobrol. Salah satu topiknya adalah membahas mengenai Radin Inten, pahlawan nasional Lampung yang namanya baru, baru-baru ini dijadikan nama bandara (awalnya bernama Bandara Branti). Miris ya, padahal kota-kota lain telah menggunakan nama pahlawan jauh lebih lama. Nenek saya bertanya, mungkin juga sekadar basa-basi mengetes pengetahuan saya sebagai yang katanya sarjana Humaniora dari Fakultas Ilmu Budaya,
Berarti, sebagai pahlawan, Radin Inten masuk ya dalam sejarah Indonesia?
Ke-soktahuan-saya pun terusik.  Saya bilang padanya, selama mempelajari sejarah (nasional Indonesia), sejak SD hingga kuliah, saya tidak pernah mendengar nama Lampung dihebohkan. Untungnya, ini agak berkaitan dengan kutipan yang muncul beberapa waktu setelahnya berikut ini,
Walapun tulisan dan dokumentasi mengenai seluruh wilayah nusantara--bahkan sampai pulau dan dusun yang  terkecil--tersedia, dari dahulu kala dan bahkan sampai sekarang perhatian sebagian besar peneliti, penulis dan pengamat budaya mancanegara lebih banyak dicurahkan pada masyarakat dan kebudayaan di Pulau Jawa dan Bali (Lampung Post, 5 Januari 2014)
Waktu itu sebetulnya saya merasa tak yakin, hanya sebatas menduga bahwa memang Lampung tak menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya.

Sebagaimana saya yang dulu justru memilih sastra Indonesia dan bukannya sastra daerah. Baru kemudian di masa-masa akhir kuliah sempat galau kenapa saya malah tak peduli. Tapi apa daya, pilihan sudah ditentukan dan saya hanya bisa menonton, saya tidak menyesal karena sastra Indonesia memang juga passion saya. Hanya saja sedikit sedih kenapa sepertinya saya telah menutup sendiri jalan lain untuk menuju tempat lain. 

Hari ini Lampost sedikit menghibur saya. Bahwa menurut Frieda Amran, antropolog UI yang bermukim di Belanda dan didaulat menjadi pengisi rubrik pekanan tersebut, ada sekitar 1534 tulisan mengenai Lampung dalam bentuk buku, majalah, dan naskah di Perpustakaan KITLV (Koninklijk Intituut Taal-, Land -en Volkenkunde) Leiden, Belanda. Buku tertua mengenai Lampung di sana ditulis oleh Johan Diederik Krusenman tahun 1817.Ternyata benar bahwa Leiden juga menyimpan naskah Tano
Lado. Rasanya seperti dayung bersambut. Saya berharap, resah yang selama ini saya rasakan memang bukan satu-satunya. Semoga memang ada banyak masyarakat Lampung atau yang peduli pada Lampung mengalami hal serupa, keresahan yang mengawali sebuah kejadian. Saya masih berharap bisa jadi bagian dalam -apa ya menyebut hal ini- urusan ini. Terima kasih Lampung Post. Semoga "hal ini" bisa difollowup secara matang dan hasilnya bisa bermanfaat untuk khalayak.

*Tumbai=tempo dulu

Senin, 30 Desember 2013

Filologi dan Lampung

Menjadi mahasiswa sastra Indonesia ada banyak pengetahuan dan ilmu yang saya peroleh, tentu tidak semuanya bisa saya serap dengan baik, sayangnya. Ya, kita yang pernah kuliah memang akhirnya disadarkan bahwa pendidikan di perguruan tinggi itu lebih menuntut mahasiswa untuk belajar mandiri. Bila hanya mengandalkan pelajaran yang disampaikan dosen, tamatlah riwayat, yang ketika lulus hanya sekadar menyandang gelar sarjana tanpa tahu harus melaukan apa karena memang tak matang ilmunya. Orang-orang seperti itu malang betul nasibnya. Satu ilmu yang saya ketahui di antara sekian banyak itu adalah filologi. Singkatnya, ilmu ini berkaitan dengan naskah-naskah kuno. 

Di FIB Undip jurusan sastra Indoesia, pada semester V mahasiswa diberi kesempatan untuk memilih 3 peminatan yaitu Sastra Indonesia, Linguistik, dan Filologi. Sasindo tentu tak jauh-jauh dari penelitian mengenai karya-karya fiksi seperti puisi dan novel. Linguistik lebih menekankan pada tata bahasa. Sementara filologi seperti yang saya paparkan sebelumnya mengajak peminatnya untuk berkonsentrasi membedah naskah-naskah kuno baik yang ada di nusantara maupun di Leiden. Naskah nusantara umumnya beraksara melayu-jawa-arab, sedangkan di Leiden tentu tak berbahasa Indonesia namun membahas nusantara.

Di Undip, konsentrasi filologi lebih cenderung pada naskah jawa. Ketika semester V, kebimbangan saya hanya jatuh pada Sasindo dan Filologi. Itu karena sebetulnya secara konsep keduanya sama-sama membahas objek fiksi-nonfiksi tidak seperti linguistik yang dalam bayangan saya pasti rumit dan akan menyita banyak waktu dengan hapalan teori-teori kebahasaan. Passion saya di sastra, baiklah seiring waktu saya menjatuhkan pilihan pada sastra dan melepaskan filologi karena sadar kemampuan bahasa dan terutama aksara Jawa saya sangat buruk. Padahal beberapa pihak telah sempat memberi masukan bahwa paham aksara Jawa bukan hal yang diperlukan secara mutlak.

Saat skripsi, mahasiswa Filologi boleh membahas naskah kuno lain, misal Sastra Melayu
Tionghoa. Saya memang banyak beralasan. Oya, seandainya memang ada (tolong dimaafkan kesoktahuan saya) kelas filologi di Lampung, sudah barang tentu ada lanjutan pelajaran bahasa dan sastra daerah serta aksara Lampung yang selama ini hanya dipelajari sampai jenjang SMP saja.

Waktu berlalu dan sekarang saya sudah jadi seorang Sarjana Humaniora (S. Hum). Dengan seluruh kerja keras dan ketekunan sekuat saya, masih juga saya merasa kenapa dulu saat kuliah saya masih kurang memaksimalkan waktu yang ada untuk belajar lebih banyak. Saya merasa masih sangat bodoh. Setelah kembali ke rumah, ilmu yang saya pelajari kelihatannya masih belum diminati.

Sampai suatu hari saya baca koran harian, salah satu berita di halaman utamanya menyebut-nyebut FILOLOGI di bagian judul. Mata saya langsung tak sabar ingin membaca isinya. Berita itu menginformasikan bahwa akan diadakan semacam proyek penelitian filologi utnuk mengungkap sejarah Provinsi Lampung yang mengalami missing link dengan sejarah nasional. WOW. Pada artikel lanjutan di edisi selanjutnya, mereka berencana untuk mengmpulkan naskah-naskah beraksara Lampung yang kemungkinan ada di pesantren-pesantren. Karena menurut ahli, Lampung adalah Jawa Timurnya Sumatera. Selain di pesantren, mereka telah mengincar naskah yang (ternyata) ada di Leiden juga.
Sungguhkah?

Sayapun berpikir, bisakah saya ikut ambil bagian dalam proyek itu? Kalau bisa, bagaimana caranya? Bukan mengenai fee, melainkan bagaimana saya bisa menunjukkan kepada tanah kelahiran bahwa saya sangat ingin sumbangsih pengetahuan dan jadi bagian dalam pembangunan. Tapi saya sadar juga bahwa ilmu yang saya miliki sepertinya kurang pas. 

Tulisan ini apa ya? Kekecewaan? Terserahlah. Saya masih lebih kecewa ketika setelah mengetahui informasi itu kemudian bertanya pada teman yang berkuliah di Lampung jurusan Sasindo Daerah 'di sana ada peminatan filologi gak?' dan dijawab 'filologi apaan ya?' Dan lagi, menurut koran itu, yang berinisiatif melakukan penelitian pun bukan Universitas Lampung melainkan IAIN Bandar Lampung. wow wow wow.

Selasa, 19 November 2013

Aroma Nepotisme Orang-orang Dalam

Lulus dan menjadi sarjana memang menjadi klimaks bagi para mahasiswa yang sudah sampai di batas akhir masa studinya. Tapi kalau mau jeli, ketuntasan itu justru menjadi awal perjuangan selanjutnya. Jika belum mengalami sendiri, maka tak perlu buru-buru percaya bahwa menjadi sarjana bukan hal sederhana. Cukuplah dengan serius menjalani kewajiban sebagai mahasiswa dengan tak mengabaikan pentingnya berorganisasi. Nanti, setelah gelar itu betul-betul telah disandang, percaya atau tidak pada kenyataan tersebut tetap sebuah pilihan yang tak bisa dipaksakan.

Hampir tiga bulan menjadi Sarjana Humaniora ternyata membosankan juga. Bayangan indah mendapatkan pekerjaan impian pasca wisuda masih menjadi sekadar impian. Bukan tanpa usaha tentu saja. Padahal jika agak mundur ke belakang, rasanya tawaran-tawaran menggiurkan di masa-masa akhir studi bisa dibilang cukup. Lantas kenapa kenyataannya justru sepahit ini ya. Sekian banyak cv dan surat lamaran pekerjaan telah sampai ke kotak surat elektronik berbagai HRD perusahaan yang dianggap layak. Nyatanya, beberapa panggilan interview tak cukup memuaskan. Siasanya, lebih mengecewakan. Memaksa diri untuk bersabar dan terus saja berusaha. Memupuk keyakinan, optimisme kesuksesan pada pekerjaan impian.

Bertahan dua bulan di kota rantau akhirnya berujung juga. Bujukan baik secara langsung atau diam-diam dari orangtua tak bisa lagi dielakkan. Sudah dua minggu ini saya kembali ke kapung halaman. Hal serupa sudah dilakukan. Memasukkan lagi cv dan surat-surat lamaran pekerjaan itu ke beberapa perusahaan yang lagi-lagi saya anggap paling mendekati keinginan pribadi. Masih nihil. Sejenak saya merenungkan apa yang salah? Atau apa yang kurang? Adakah yang bisa membantu saya memperbaiki kekurangan? Sebab berada di rumah saat masih berstatus mahasiswa itu tak sama dengan saat sudah berstatus sarjana. Memang, orangtua tak secara langsung menunjukkan perbedaan sikap. Tapi sebagai anak—dengan tetap yakin bahwa orangtua tak mungkin bersikap tak menyenangkan secara terang-terangan—tentulah kecanggungan itu pasti ada.

Empat tahun saya tinggalkan, katakanlah kecamatan tempat saya tinggal saja, sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Banyak pabrik-pabrik bermunculan. Dari perusahaan minyak makan sampai besi bekas sekarang berdiri angkuh di sepanjang jalan lintas sumatera. Satu yang menarik hati saya adalah perusahaan susu dan kopi instan. ADA pula sebuah perusahaan agribisnis. Selain karena keduanya sudah punya nama, kedua berada di lokasi tepi pantai, bersentuhan langsung dengan pantai. Saya ingin bekerja di tepi pantai tanpa harus jadi nelayan. Tapi sekali lagi, bukan hal mudah untuk bisa bergabung di perusahaan itu. Bahkan saya ragu, apakah label kampus dan almamater saya itu akan berfungsi jika aroma nepotisme begitu terasa di perusahaan-perusahaan yang saya inginkan? Haruskah saya hanyut juga dalam arus demikian. Saya makin geram dan ingin membuat perusahaan sendiri jadinya.

Memang, untuk bisa melenggang mendirikan perusahaan di suatu kawasan, seringkali ada persyaratan yang mengharuskan perusahaan tersebut memperkerjakan warga sekitar. Jika calon tenaga kerja tersebut memiliki standar kelayakan (pendidikan dan soft skill) tentu bukan perkara. Celakanya, kawasan pedesaan didominasi oleh warga yang tingkat pendidikannya di bawah standar. Demikianlah akhirnya perusahaan tetap berjalan. Seiring waktu, warga yang telah lama direkrut menjadi pekerja itu ada yang punya posisi elit. Umumnya, mereka dipanggil dengan nama “orang dalam”. Pihak yang seringkali mengacaukan pengumuman adanya lowongan pekerjaan di perusahaan tempatnya bekerja.