Laman

Minggu, 29 September 2013

Rangkaian Dies Natalis Undip ke-56 "BERKARYA DENGAN EMPATI"


3 impressive things in Undip Dies Natalis 56th tonight. Emha Ainun Najib "Kiai Kanjeng", tradition snack, and that cute lil girl who actived copycat the performer :) with Umi – View on Path.
Cak Nun suatu hari membayangkan Universitas Pangeran Diponegoro menjadi universitas international. Menjadi laboratorium ilmu pengetahuan dan budaya Indonesia dan dunia. Tak sekadar orang-orang asing kuliah di Undip melainkan betul-betul "orang-orang barat" belajar pada orang timur.

Islam adalah rahmatan lilalamin. Artinya, ketika ada seorang muslim, maka apapun yang ada di sekitarnya (manusia) akan terlindungi dalam 3 hal: nyawa, martabat dan hartanya.
Orang barat perlu penjelasan panjang lebar untuk memahami sebuah fakta. Misalnya fakta “rice” yang dalam bahasa Jawa bisa bermakna pari, gabah, beras, dan nasi. 

Menurut Cak Nun, sejarahwan modern tidak mengakui simbah-simbahnya (nenek moyangnya) sebab mereka tidak mengakui babad. Sejarah Indonesia adalah berdasarkan pengakuan sejarah barat. Apa yang tidak tercatat di Leiden maka tidak dianggap sebagai sejarah Indonesia. Maka semoga suatu saat Undip/Indonesia bisa menjadi pusat penyadaran budaya.

Diponegoro dan Gajahmada adalah dua sosok sejarah yang berjuang bukan hanya atas nama Jawa melainkan nusantara. Mereka sebetulnya bisa saja menjadi raja, tetapi mereka tidak mempermasalahkan. Gajahmada merupakan Muslim yang taat. Ia merelakan anaknya, Hayamwuruk menjadi raja (meskipun tidak ada yang tahu bahwa Hawe adalah anaknya).

Lagu jawa gelarno kloso. Eh pagere ambruk eh mergo tak tubruk. Itu adalah gambaran Indonesia yang bukannya menyelesaikan sebuah masalah justru membuat masalah berbiak. Masyarakat berharap dari kampus muncul solusi-solusi. Mahasiswa seharusnya BERKARYA DENGAN EMPATI TERHADAP PERMASALAHAN NEGARA.

Selasa, 17 September 2013

Memaknai Pendakian (Puncak Lawu 3265 mdpl)



Mendaki gunung ialah bentuk lain dari memaknai hidup. Jika biasanya di daratan kita dihadapkan pada beragam masalah yang begitu memberatkan “pundak” namun kita tidak bisa langsung “melihat” seperti apa wujud beban itu, maka dalam pendakian, kita bisa langsung melihat wujud beban yang tak hanya memberatkan bahkan membuat perih kedua bahu, termasuk juga kedua kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya.
Tidak sedikit orang yang berkata “siap” untuk melewati jalur pendakian. Juga tidak sedikit mereka yang telah berada di jalur pendakian kemudian merasa nyaris putus asa karena tak kunjung sampai ke puncaknya. Ini sama persis dengan sikap sebagian orang (termasuk saya) saat menghadapi permasalahan hidup. Ada yang terus berjuang hingga selesai, pun yang menjalaninya dengan sisa-sisa kesabaran yang ada. Ada yang mau tak mau harus menitipkan beban pada orang lain, ada pula yang dengan senang hati membawakan beban orang lain.
Bagi mereka yang sering mengeluh atas permasalahan hidup, memang ada baiknya melakukan pendakian. Tak harus ke Mahameru atau Lawu, cukup ke Ungaran. Tapi lakukan pendakian dengan niat untuk semakin menguatkan fisik dan mental. Bahwa hidup memang adalah sebuah pendakian untuk menuju Tuhan. Dalam pendakian, jalur tidaklah terus menerus naik, ada jalur-jalur datar yang kami menyebutnya “bonus”. Saya maknai, mereka yang senang berlama-lama di jalur datar ini ialah mereka yang salah paham atas kehidupan. Mereka harus sadar bahwa jalur sesungguhnya memanglah mendaki, jalur yang lebih banyak harus mereka lalui.
Untuk mencapai puncak Lawu via Cemoro Kandang, estimasi waktu standarnya sekitar 12 jam. Ini sudah termasuk jeda istirahat. Tapi untuk turun, hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 jam via Cemoro Sewu. Uniknya dua jalur ini yaitu Cemoro Kandang masih berada di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah sedangan Cemoro Sewu merupakan kawasan wisata di Kabupaten Magetan Jawa Timur. Jarak dua kawasan perbatasan ini tak sampai 1km berjalan kaki. Perbedaan estimasi jalur naik dan turun ini dipengaruhi oleh tingkat keekstreman. Meskipun lebih cepat 3 kali lipat, tapi jalur turun Cemoro Sewu lebih ‘gila’ dibanding jalur pendakian.

Jumat, 16 Agustus 2013

Kata Selingkung

Belakangan, selain kosakata alay, bermunculan pula kosakata yang tampaknya baru, yang dipakai oleh masyarakat umum khususnya pengguna sosial media. Yang lumayan kerap muncul ialah penyederhanaan salah satu proses dalam morfologi yaitu repetisi. Repetisi merupakan bentuk kata ulang misalnya kupu-kupu, tali-temali, pepohonan, dll. Bentuk yang terakhir inilah yang secara serampangan banyak digunakan oleh masyarakat. Pepohonan berasal dari kata pohon-pohonan. Contoh lain bentuk ini adalah rerumputan, jejadian, dll. Namun betulkah bentuk-bentuk seperti ‘gegara’, ‘rerupa’, lelama’? Dee bahkan pernah mengkultwitkan perihal ini di akun twitternya. Ia pun heran.

Dalam workshop editor di Bentang Pustaka yang saya ikuti Mei 2013 lalu di Yogyakarta, saya mengenal adanya “kamus selingkung”. Awalnya yang saya dengar adalah kamus “selingkuh”, sebab itulah kali pertama saya mendengarnya. Kamus selingkung ialah sejenis “buku putih” di suatu penerbitan yang digunakan selain KBBI. Kamus ini berfungsi sebagai “kitab suci” acuan yang sifatnya mengikat hanya ke dalam intern penerbitan. Misalnya penggunaan kata “gegara”, dalam KBBI tidak ada kata ini. Berbeda dengan penggunaan kata "sekadar" yang memang bentuk baku dari kesalahkaprahan "sekedar". Atau kata "selebriti" yang belakangan telah mulai digantikan dengan yang baku yaitu "selebritas".

Salah satu penerbit menggunakan istilah pengin (ada yang menggunakan kata ‘pingin’) meskipun yang ada dalam KBBI adalah ‘ingin’, berdasarkan suatu alasan. Diantaranya karena adanya lebih dari satu versi, maka untuk “menyudahi” kegalauan penerbit pun menetapkan satu kata yang mereka pilih untuk digunakan secara konsisten. Pun bila di kemudian hari diharuskan adanya revisi tentu penyesuaian akan senantiasa dilakukan.

Hal tersebut memang tidak sepenuhnya baik. Bahkan bisa jadi melangkahi KBBI. Namun, (menurut saya) penggunaan yang terlanjur marak oleh masyarakat menjadi tuntutan pembaharuan terhadap buku-buku yang baru diterbitkan di suatu era tertentu. Hanya saja, beberapa masyarakat awam yang membaca buku-buku terbitan mereka seringkali menjadi salah kaprah dan menganggap kata tersebutlah yang paling benar. Padahal tidak demikian. Sebab tiap penerbitan memiliki kamus selingkung masing-masing. Asas penggunaan suatu kata dalam kamus selingkung adalah konsistensi.Jadi, sebagai pembaca sebaiknya kita lebih bijak dalam memilih kosakata-kosakata yang memang sudah umum tetapi belum dibakukan dalam KBBI.

Minggu, 21 Juli 2013

La Tahzan, sebab Tuhan Tak Ingin Kita Bersedih

Kesedihan umumnya disebabkan oleh ketakmampuan mengatasi suatu permasalahan. Padahal, permasalahan atau ujian dalam hidup manusia adalah hal lumrah. Sebab hidup adalah proses. Dalam proses, kita melewati fase-fase tertentu. Jika kita gagal melewati sebuah fase atau gagal menyelesaikan suatu permasalahan, maka kita akan menjadi manusia yang stagnan. Hanya berkutat pada masalah yang itu-itu saja. Sedangkan proses menuntut kita untuk senantiasa lanjut ke fase berikutnya.

Sakit hati adalah salah satu bentuk ujian yang harus kita selesaikan pada suatu fase. Ada orang yang bukannya menyelesaikan masalah melainkan justru hanya melakukan pelarian.
Banyak hal bisa dilakukan untuk melarikan diri dari masalah. Cara positif misalnya dengan membaca quran, mendekatkan diri pada Tuhan. Atau dengan cara negatif misalnya minum alkohol. Hal semacam itu bisa memberikan ketenangan pada seseorang. Sehingga masalah tidak diselesaikan tetapi hanya dianggap selesai.

Ada kalanya menyelesaikan suatu permasalahan dengan hanya menganggapnya selesai adalah cara terakhir yang mampu dilakukan seseorang. Apalagi jika itu adalah masalah yang terlalu pelik. Ini semacam pengingkaran agar beban sejenak berkurang.

Sayangnya, menganggap selesai suatu permasalahan tanpa  benar-benar menyelesaikannya adalah sama dengan hanya mengendapkan hal tersebut. Tidak heran bila di kemudian hari, endapan masalah tersebut justru menjadi masalah yang makin serius. Sebab hanya menganggapnya selesai tanpa mengikhlaskannya adalah kesia-siaan.
Terhadap suatu permasalahan, kita harus menyadari masalah tersebut, merasakan dengan penuh kesadaran. Meluapkannya. Jika marah katakan marah. Lepaskan emosi itu. Baru kemudian berusaha melupakan. Hal ini sama dengan ketika kita berusaha untuk merasakan denyutan di seluruh tubuh.

Denyut pada tubuh adalah bukti kasih sayang Allah. Sesungguhnya denyutan ada di seluruh bagian tubuh kita dari kepala sampai kaki. Tapi kita jarang mampu menyadarinya.
Cobalah rasakan denyut nadi di genggaman tangan, langsung terasakah? Jika belum, pejamkan mata dan rasakan. Tidak mampu meraskan denyut di tangan adalah indikator bahwa kita belum bisa merasakan dan menyadari emosi diri. Merasakan apakah kita sudah betul-betul mengikhlasakan sesuatu atau hanya mengendapkannya.
Dalam QS 7: 42-43, Allah SWT berfirman: 
"Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan kami mencabut dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai."

Dari ayat tersebut kita bisa berhikmah bahwa cara menghapus rasa dendam atau sakit hati atau mengikhlaskan suatu masalah adalah dengan berbuat baik, kebajikan. Kalau kita masih sedih ketika mengingat sesuatu (permasalahan di masa lalu yang kita anggap sudah selesai) berarti kita belum ikhlas. Berarti Allah belum mencabut masalah itu dari hati kita.

Pentingnya mengikhlaskan suatu permasalahan sakit hati adalah agar kita tidak larut dalam kesedihan. Kita tidak boleh bersedih. Dalam quran dikatakan "la tahzan" (jangan bersedih). Sebab orang bersedih pertanda jauh dari rahmat Allah. Kesedihan pun bisa membuka peluang bagi setan untuk menjerumuskan kita.

Banyak hal menjadi serba salah ketika kita bersedih. Menyebabkan kita tidak bisa beraktivitas dengan baik. Salah satu contohnya adalah perilaku galau yang belakang seolah menjadi gaya hidup, menjadi bagian yang tak bisa terlewatkan. Padahal jelas bahwa menggalau ialah memanjakan kesedihan diri sendiri.

Disusun dan dikembangkan berdasarkan dari Spiritual Coaching bersama Ustazah Meidian, 21 Juli 2013 di Masjid Kampus Undip Tembalang.


Rabu, 05 Juni 2013

Indonesiaku Atlantisku


Mengenai adanya dugaan bahwa Indonesia adalah benua yang hilang yaitu Antartika, sepertinya saya setuju. Semua hal yang saya butuhkan atau yang akan saya butuhkan, ada di sini. Sejak dilahirkan dan bertahan hidup di negeri ini selama 21 tahun lebih saya memang merasa beruntung menjadi Warga Negara Indonesia. Sebelum dan setelah saya tahu mengenai adanya negara-negara lain di seluruh dunia, meskipun ada keinginan untuk mengunjungi beberapa negara lain, saya tetap mencintai tanah air ini begitu dalam. Tidak ada alasan yang bisa menjelaskan secara pasti kenapa saya begitu mencintai Indonesia. Yang jelas, dalam tubuh saya terkandung begitu banyak unsur tanah dan air Indonesia.

Indonesia adalah negeri yang sangat bahkan terlalu potensial untuk semua hal. Baik dari segi SDM, SDA, dan hal lain yang suatu saat nanti dibutuhkan oleh dunia. Saya setuju dengan ucapan Mr. Fahmi yang mengatakan bahwa meskipun bangsa Indonesia pernah dijajah oleh beberapa bangsa dunia sejak masa lampau hingga sekarang (hanya berbeda teknik penjajahan), Indonesia tetaplah negeri yang survive. Di negeri yang secara serampangan dianggap memiliki tanah subur—karena beberapa tanaman bisa tumbuh tanpa perlu ditanam cukup dengan melempar biji buahnya saja—ini selalu lahir dan tumbuh bibit-bibit baru baik SDM maupun SDA. Indonesia tidak pernah kehabisan orang-orang kreatif yang bisa mengolah apapun menajdi hal bermakna bagi hidup mereka masing-masing.

Menjadi negeri yang adidaya seperti Amerika, Cina atau Jepang mungkin bukan hal diambisiuskan bangsa ini. Tapi saya percaya bahwa Indonesia mumpuni untuk sekadar menjadi negara super power. Ini hanya masalah ada tidaknya kemauan dan tekad yang kuat (ambisiusitas). Menurut pendapat saya, Indonesia tidak begitu ambisius untuk hal tersebut. Tapi yang terpenting bagi bangsa negeri ini adalah selalu bisa mengikuti setiap trend dunia. Indonesia tak perlu menjadi yang nomor satu di dunia tapi dunia akan selalu mengingat negeri ini. Itulah poin penting yang saya peroleh dari pengamatan.  

Sebagai negara kepulauan, Indonesia adalah negara besar yang berani untuk mempertahankan puluhan provinsi untuk tetap menjadi bagian dari NKRI. Tidak seperti negara lain di dunia yang membentuknya menjadi negara bagian (united state). Dikarenakan kemajemukan tersebut, Indonesia memiliki keanekaragaman dalam banyak hal: agama, budaya, tradisi, bahasa dll. Jelas bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya. Bisa jadi karena kekayaan itulah Indonesia lalai untuk merawat apa yang merupakan miliknya. Wajar jika beberapa “harta” yang dimiliki telah dengan mudah diakui sebagai hak milik oleh bangsa lain. Tapi tetap saja, meskipun demikian Indonesia tidak begitu khawatir kehilangan. Adanya tanah subur yang senantiasa menumbuhkan berbagai keperluan hidup membuat bangsa Indonesia tetap tenang, stay woles dan malas. Apalagi sudah banyak bangsa Indonesia yang cenderung melupakan budaya lokal-nasional dan tertarik pada budaya bangsa lain. Mereka lebih suka ikut-ikutan budaya lain. Misalnya budaya barat dan yang sekarang sedang booming adalah budaya Kpop.


Namun demikian, di postingan sebelumnya saya sudah pernah sampaikan bahwa budaya homoseksual yang dianggap berasal dari budaya barat sebetulnya adalah pendapat yang salah. menurut Kang Putu isu lesbian—yang belakangan kerap menjadi topik di buku-buku sastra—ikut mewarnai buku ini. meskipun kang putu menambahkan bahwa isu lesbian sebenarnya telah ada di indonesia sejak dulu. menurutnya, para warok di jawa timur umumnya memiliki simpanan pria tampan sebagai semacam “sarat” profesi. jadi, menurut kang putu lagi, kita tidak perlu mengucapkan kulonuwon pada budaya barat mengenai isu tersebut. Sebagai bukti tambahan bahwa Indonesia sudah lebih dulu memiliki ‘sesuatu’ yang mungkin dianggap baru bahkan dianggap sebgai budaya dari negara lain. Saya sampaikan pula di sini pendapat Mr. Fahmi mengenai budaya rapper yang dianggap kepunyaan American Black. Rapper asli Indonesia adalah dalang. Mereka bicara secara spontan dengan iringan instrumen musik sebagaimana para rapper. Apa yang dilakukan para rapper sebetulnya hanyalah membaca dengan diiringi beat music. 

Senin, 13 Mei 2013

Arusutama (Mainstream)



Selama ini yang terlintas di kepala saat mendengar istilah melawan arus adalah sesuatu yang jauh lebih keren (ekstrem) dari sekadar ikut arus (ikut mainstream). Tapi pernahkah terpikir filisofi arus?
Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, begitulah takdirnya. Saat seseorang melawan arus, sudahkah tergambar arah mana yang akan ia tuju? Kembali kah ke masa lalu? Atau sekadar berbelok? Sebab jika ia masih menjadi air, tak akan mungkin mengalir ke atas. Sedangkan laut akan selamanya menjadi muara, di bagian terendah.

Jadi, saya simpulkan bahwa istilah melawan arus yang selama ini saya pahami adalah kesalahkaprahan. Lalu, tidakperlukah kita menjadi pelawan arus? Jika pertanyaan ini mengacu pada maksud ‘tidak perlukah kita menjadi pribadi yang unik?’ maka jawabannya:  melawan arus berarti melawan kodrat. Jika ingin menjadi pribadi yang berbeda dari yang lain, cukup lakukan dengan cara memilih jalur yang tidak umum. Tetapi tetap meyakini bahwa air akan senantiasa termuarakan pada laut.

Senin, 06 Mei 2013

Mengukur Kedalaman Pram, Sebuah Resensi


MENGUKUR KEDALAMAN PRAM
Judul buku : Pram dari Dalam (2013)
Penulis     : Soesilo Toer
Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri
Harga : Rp 65. 000 ; 286 hlm.

Melalui Pram dari Dalam, meskipun berkali-kali menyatakan bahwa dirinya merupakan orang yang paling berhasil untuk gagal, Soesilo Toer justru telah benar-benar berhasil menceritakan ‘dari dalam’ tentang sosok kakak tertuanya, Pramoedya Ananta Toer. Dengan gaya bahasa yang kasar dan dhleyo, ia memegang totalitas itu tanpa harus tercoreng wajahnya dengan ungkapan tak tahu diri. Dalam hal ini, Soes berhasil menjadi narator dengan kolaborasi isudut pandang orang pertama dan orang ketiga serba tahu, seandainya buku ini dianggap sebagai karya sastra. Dengan membaca Pram dari Dalam, akan diperoleh begitu banyak informasi tidak hanya mengenai Pram, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan pengarang yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam,puluhan bahasa dunia tersebut, yang bisa jadi tidak akan pernah diungkapkan orang selain Soesilo Toer.

Beberapa hal yang disampaikan Soesilo Toer adalah mengenai sejarah orangtua Pram bersaudara yang masih ternyata merupakan keturunan ningrat—ayahnya telah menghapus nama depannya yang semula Mastoer menjadi hanya Toer saja karena alasan nasionalisme. Ada pula cerita mengenai Pram yang—menurut Soes—lebih gagal dibandingkan dirinya dalam mebina rumah tangga. Dalam buku ini juga Soes memaparkan bahwa betapa pun Pram bersikap keras terhadap adik-adiknya, ia tetaplah kakak tertua yang harus dihormati. Pram berpesan sesulit apa pun hidup, berusahalah untuk tidak meminta kepada orang lain. Soes bisa menceritakan potongan-potongan kisah hidup Pram karena ia pernah tinggal bersama kakaknya itu ketika di usia sekolah. Sehingga ia pun bisa menginformasikan bahwa seseorang yang paling berjasa dalam hidup Pram adalah Jan van Resink. Ia merupakan seorang Belanda yang ahli bahasa Jawa. Resinklah yang dikabarkan telah menyelundupkan naskah milik Pram yang saat itu sedang ditahan di Penjara Bukitduri Jatinegara. Naskah tersebut diselundupkan pada sebuah lomba—yang sebenarnya pun telah ditutup—yang diadakan H.B Jasin. Menurut Soes itu merupakan tonggak sejarah dunia kepengarangan Pram.
  
Historia vitae vagistra, demikianlah Soes menyebutkan bahwa sejarah akan selalu membuat manusia menjadi lebih bijak. Barangkali tindakan Soes mempublikasikan “aib” keluarga Toer dianggap kecerobohan. Namun, pandanglah dari perspektif lain, bahwa Pram adalah bagian dari sejarah. Sebagaimana visi hidup Pram bahwa menulis adalah tugas nasional, maka Soes justru telah memperbesar kuantitas informasi mengenai sejarah Pram, bagian dari sejarah Indonesia. Kalau pun saat ini belum diterima secara utuh, kelak, Pram dengan segala kisah hidupnya akan benar-benar menjadi bagian dari sejarah Indonesia seutuhnya, terutama sejarah dunia kepengarangan. Sebab sejarah selalu berkembang.

Pram telah tiada, dan buku ini menjadi serupa album kenangan yang bisa dijadikan sumber inspirasi. Sebab Soes tak sekadar memaparkan Pram dari kedalaman yang begitu dalam, tetapi juga membagikan pengalamannya—sumber ilmu pengetahuan—yang begitu bernilai. Bahwa di balik sosoknya yang sederhana bahkan cenderung ndleyo, ia telah menginspirasi. Ini memperkuat pula kata-kata Nuril Basri yang diutulis dalam blog pribadinya bahwa untuk menghargai oang lain tidak sekadar dilihat dari tampilan luar, tetapi  juga dari dalamnya. Sebab bisa jadi orang yang dari luar tampak tidak berharga, justru memiliki kehebatan yang tidak kita miliki—yang merasa lebih bernilai dari orang tersebut. Dan di balik keterlalusederhanaannya tersebut, Soesilo Toer merupakan doktor lulusan Institut Plekhanov Rusia. Saat ini ia menjalani hari tuanya dengan didampingi istrinya. Bersama rekan-rekan lain mengelola Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) Blora.

Satu-satunya kekurangan yang justru semakin menambah kelebihan buku ini adalah kerap Soes tidak fokus membicarakan sebuah pokok bahasan dalam satu bab. Bercampurnya berbagai informasi dalam sebuah bab membuat pembaca menjadi kewalahan untuk menampung informasi-informasi berharga yang diabadikan dalam buku ini.

Rabu, 01 Mei 2013

Ketika Topeng menjadi Tuntutan


Judul novel : Topeng (2002)
Penulis : Wing Kardjo
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia; 158 hlm.

Pen, seorang laki-laki berusia 49 tahun. Selain menjadi dosen di Jepang ia juga penyair. Sampai di usia yang terlampau lanjut ia tetap melajang. Sebagai seorang dosen, kegilaan yang dilakukan Pen adalah bercinta dengan mahasiswinya yang bernama Ayuko. Bercinta dalam arti terdalam yaitu tidak sekadar menjalin kisah cinta tetapi juga berhubungan intim—tanpa pernikahan. Tentu saja hubungan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebab bukan hanya perkara usia yang mereka langkahi, melainkan juga adat istiadat.

Dalam kisah ini sebentulnya yang menjadi sumber permasalahan adalah Ayuko. Perempuan berusia 20 tahun itu diduga mengidap electra complex yaitu kebalikan dari oedipus complex. Sebagai perempuan—sengaja tidak disebut gadis karena tidak bisa dibuktikan apakah Ayuko masih perawan atau tidak sebelum berhubungan dengan Pen—berusia belia, Ayuko tampak begitu biasa menjalin kisah cinta dengan laki-laki yang lebih tua dari ayahnya sendiri. Bahkan, beberapa kali Pen menjelaskan hal tersebut, Ayuko justru meyakinkan bahwa baginya tidak ada masalah. Ia mencintai dosennya itu tanpa alasan, parce que. Meskipun pada akhirnya hubungan mereka harus berakhir begitu saja setelah Ayuko diduga terkena virus HIV Aids. Sebelum memutuskan untuk berpisah, Ayuko telah lebih dulu menyampaikan maksudnya itu secara implisit, lewat sebuah puisi. Puisi tersebut dimaknai oleh Pen sebagai suatu permintaan maaf. Mungkin memang Ayuko adalah gadis “nakal”. Namun, Pen pun tidak lebih baik darinya. Mereka seimbang sebagai pemakai “topeng”.

Merasa keputusan Ayuko tersebut berbanding terbalik dengan sikapnya selama ini, Pen berusaha untuk bisa bertemu hanya untuk menjelaskan duduk perkara. Sayangnya, Ayuko tetap tidak mau menjelaskan apa pun. Di sanalah kesadaran Pen muncul. Ia merasa menjadi manusia tidak tahu diri karena telah menjalin hubungan gelap dengan perempuan belia. Ia khawatir kebiasaannya mengunjungi shoapland menjadikannya sebagai penular virus terhadap Ayuko. Sejak saat itu, ia bertekad untuk memasang kembali topengnya. Menjalani peran sebagai dosen yang notabenenya bijaksana dan beritikad baik.

Penyair Ronggowarsito dikenal dengan ramalannya mengenai “zaman edan”. Sementara Akira Kurosawa melalui Soesilo Toer pernah menyatakan bahwa di dunia gila, hanya si gila yang waras. Lalu kapankah zaman tersebut mulai terjadi? Sekiranya ramalan Ronggowarsito telah benar-benar terjadi pada kurun tahun 2000, bisa jadi Pen (mungkin benar-benar memang Wing Kardjo sendiri) telah mengambil peran sebagai si gila yang hidup di zaman edan. Ia ingin tetap tampak waras dengan membawa-bawa topeng supaya rahasia mengenai kegilaannya tetap tertutupi.

Topeng merupakan salah satu karya tahun 2000-an yang terbilang vulgar. Sejak awal kisah, pembaca sudah langsung disuguhi peristiwa berbau ranjang. Selanjutnya peristiwa demi peristiwa dijalin dengan aroma seksualitas. Selain itu, kekurangan novel ini adalah kelatahan narator yang cenderung ikut campur dalam penceritaan. Sehingga hal tersebut menyebabkan pembaca menjadi curiga bahwa narator adalah penulisnya sendiri yaitu Wing Kardjo. Meskipun bagian semacam itu hanya beberapa kali, tetap saja menjadi hal fatal yang secara implisit menunjukkan kepada pembaca bahwa  novel ini adalah sebuah catatan harian yang diprosakan.

Meskipun demikian, novel ini tetap mengandung nilai-nilai positif. Melalui novel ini disampaikan informasi mengenai beberapa budaya masyarakat Jepang. Di antaranya adalah mengenai kebiasaan mereka untuk disiplin waktu. Jika masyarakat Indonesia cenderung mengulur waktu dalam mengerjakan suatu hal sehingga terburu-buru di penghujung, maka tidak dengan masyarakat Jepang. Lembur akan mereka lakukan saat dibutuhkan, tetapi segera istirahat setelah menyelesaikannya secara maksimal. Satu lagi hal yang sekiranya mengejutkan adalah mengenai budaya masyarakat Jepang yang tidak ingin berutang budi dan senang memberikan hadiah dengan bungkusan-bungkusan yang indah. Hal tersebut juga yang menjadi motivasi bagi Ayuko untuk menghadiahkan tubuhnya yang terbungkus kimono.

Kamis, 25 April 2013

Mendung Berkabut

Tuhan terlampau biasa untuk sekadar memahami.
Di pundakmu, ada risau-risau yang pasi.
Ke mana hendak kau bawa pergi bercak-bercak rindu yang tak merupa?
Tuhan terlanjur biasa dalam memberi.
Kadang, kau terlalu khusyuk untuk meyakini jalan yang tertimpa langit.
Kabut. Di matamu terberai kabut yang bahkan tak sempat mengantarkan mendung.
Hujan. Di pekaranganmu menderas ianya yang tak tahu ke mana harus pulang.
Tuhan berkabut.
Sementara kau sendirian menelan mendung, sampai habis.

Semarang, 24 April 2013

Rabu, 17 April 2013

Diskusi dan Bedah Buku 'Pram dari Dalam'



Bersama Soesilo Toer di Diskusi dan Bedah Buku ‘Pram dari Dalam’. FBS Unnes, April 2013.

Sumringah. Itulah satu kata yang agaknya menggambarkan perasaan saya sepanjang berada di FBS Unnes. Saya sudah sempat melewatkan beberapa kesempatan sampai akhirnya bisa bertatap muka dengan “adik kesayangan” Pramoedya Ananta Toer ini. Well, saya sebutkan saja poin-poin penting dari acara ini ya.

1. Pak Soes memperkenalkan keluarganya. Ia membawa istri dan anak semata wayangnya, Benee Santoso. Menurutnya, seorang Bapak memang harus kalah dari anak dalam beberapa hal. Sebab ia merasa bangga karena anaknya memiliki tinggi 180an, 20 cm lebih darinya.

2. Dulunya Pak Soes cadel. Mengilangkan cadel dengan cincin emas yang telah dububuhi kotoran manusia atas saran guru bahasa Inggris di tamsis Jakarta.

3. Pak Soes protes sebab di backdrop namanya ditulis tidak dengan "oe" tetapi "u". Ia tidak mau demikian sebab ia lahir sebelum orba. Mengacu pada prolog yg disampaikan saya jadi penasaran, benarkah, rasa jengkel karena dimusuhi oleh orba masih mengakar atau bahkan diturunkan sampai generasi sekarang? Dan kalau benar masih, kenapa? Tidakkah melihat bahwa masyarakat nonorba sepertinya biasa saja. Saya sebagai anak bangsa yg lahir pasca orba cenderung bersikap netral. Sebab sejauh ini referensi saya mengenai perseteruan PKI-orba masih seadanya. Tapi beliau menjelaskan: "Saya tidak pernah merasa benci dan memusuhi bangsa Indonesia. Saya hanya kecewa kenapa kami dimusuhi tanpa pernah tahu kesalahan kami." Sambil tersenyum ia menyampaikan rasa bangganya bisa berdiri di depan para audien.

4. Untuk menghasilkan suatu karya maka perkayalah fakta dan pengalaman diri. Berkaitan dengan karya-karya Pram yang cenderung "arus balik", menurutnya, Roman sejarah merupakan shock teraphy bagi masyarakat. Tergantung bagaimana mereka menyikapinya. Apakah akan tetap percaya pada sejarah yang ada atau berontak.

5. Dari awal Soes menyebut-nyebut istilah "pemulung" secara implisit dan eksplisit untuk menyebut profesinya. Padahal, di bbalik tampilannya yang terlalu sederhana itu beliau merupakan doktor lulusan Rusia. Beliau juga pendiri Perpustakaan Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA) di rumah warisan keluarga Toer di Blora.

6. Saat diminta menggambarkan seorang PAT dalam satu kata, Soes menyebut kata "antikritik". Sebab PAT adalah orang yang tidak mau dikritik meskipun suka mengkritik orang lain.

7. Saya bertemu dengan 2 alumni Hawe, seperti biasa Duo Budi Maryono dan Kang Putu. Beliau pelaku kongsi penerbitan Gigih Pustaka Mandiri yang dalam hal ini adalah penerbit buku PDD (padahal keduanya pun penulis, dan dosen :D) Dan belakangan saya baru tahu bahwa sketsa PAT di buku PDD adalah karya Toni Malakian, juga mantan pengelola Hawe. Wow