Kesedihan umumnya disebabkan oleh
ketakmampuan mengatasi suatu permasalahan. Padahal, permasalahan atau ujian
dalam hidup manusia adalah hal lumrah. Sebab hidup adalah proses. Dalam proses,
kita melewati fase-fase tertentu. Jika kita gagal melewati sebuah fase atau
gagal menyelesaikan suatu permasalahan, maka kita akan menjadi manusia yang
stagnan. Hanya berkutat pada masalah yang itu-itu saja. Sedangkan proses
menuntut kita untuk senantiasa lanjut ke fase berikutnya.
Sakit hati adalah salah satu bentuk ujian yang harus kita selesaikan pada suatu
fase. Ada orang yang bukannya menyelesaikan masalah melainkan justru hanya
melakukan pelarian.
Banyak hal bisa dilakukan untuk melarikan diri dari masalah. Cara
positif misalnya dengan membaca quran, mendekatkan diri pada Tuhan. Atau dengan
cara negatif misalnya minum alkohol. Hal semacam itu bisa memberikan ketenangan
pada seseorang. Sehingga masalah tidak diselesaikan tetapi hanya dianggap
selesai.
Ada kalanya menyelesaikan suatu permasalahan dengan hanya menganggapnya selesai
adalah cara terakhir yang mampu dilakukan seseorang. Apalagi jika itu adalah
masalah yang terlalu pelik. Ini semacam pengingkaran agar beban sejenak
berkurang.
Sayangnya, menganggap selesai suatu permasalahan tanpa benar-benar
menyelesaikannya adalah sama dengan hanya mengendapkan hal tersebut. Tidak
heran bila di kemudian hari, endapan masalah tersebut justru menjadi masalah
yang makin serius. Sebab hanya menganggapnya selesai tanpa mengikhlaskannya
adalah kesia-siaan.
Terhadap suatu permasalahan, kita harus menyadari masalah
tersebut, merasakan dengan penuh kesadaran. Meluapkannya. Jika marah katakan
marah. Lepaskan emosi itu. Baru kemudian berusaha melupakan. Hal ini sama
dengan ketika kita berusaha untuk merasakan denyutan di seluruh tubuh.
Denyut pada tubuh adalah bukti kasih sayang Allah. Sesungguhnya denyutan ada di
seluruh bagian tubuh kita dari kepala sampai kaki. Tapi kita jarang mampu
menyadarinya.
Cobalah rasakan denyut nadi di genggaman tangan, langsung
terasakah? Jika belum, pejamkan mata dan rasakan. Tidak mampu meraskan denyut
di tangan adalah indikator bahwa kita belum bisa merasakan dan menyadari emosi
diri. Merasakan apakah kita sudah betul-betul mengikhlasakan sesuatu atau hanya
mengendapkannya.
Dalam QS
7: 42-43, Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan,
Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka
itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan kami mencabut dendam dari
dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai."
Dari ayat tersebut kita bisa berhikmah bahwa cara menghapus rasa dendam atau
sakit hati atau mengikhlaskan suatu masalah adalah dengan berbuat baik,
kebajikan. Kalau kita masih sedih ketika mengingat sesuatu (permasalahan di
masa lalu yang kita anggap sudah selesai) berarti kita belum ikhlas. Berarti
Allah belum mencabut masalah itu dari hati kita.
Pentingnya mengikhlaskan suatu permasalahan sakit hati adalah agar kita tidak
larut dalam kesedihan. Kita tidak boleh bersedih. Dalam quran dikatakan
"la tahzan" (jangan bersedih). Sebab orang bersedih pertanda jauh
dari rahmat Allah. Kesedihan pun bisa membuka peluang bagi setan untuk
menjerumuskan kita.
Banyak hal menjadi serba salah ketika kita bersedih. Menyebabkan kita tidak bisa
beraktivitas dengan baik. Salah satu contohnya adalah perilaku galau yang
belakang seolah menjadi gaya hidup, menjadi bagian yang tak bisa terlewatkan.
Padahal jelas bahwa menggalau ialah memanjakan kesedihan diri sendiri.
Disusun dan dikembangkan berdasarkan dari Spiritual Coaching
bersama Ustazah Meidian, 21 Juli 2013 di Masjid Kampus Undip Tembalang.