Laman

Kamis, 12 Januari 2012

seperti apakah wajah akhir?

Aku selalu kepayahan. Entah apa yang membuatnya menjadi payah untuk kutuliskan. Setiap kali ingatan tentangmu, kita, muncul di layar mata, aku seperti lupa. Dimana letak akhir yang sepertinya kita sepakati sebulan lalu?

Anggaplah aku yang memang payah.

Di jendela, aku coba mengingat kita yang pernah duduk berdua tanpa apa-apa dan tanpa siapa-siapa. Di atas bangunan 3 lantai yang bahkan sampai sekarang urung selesai, kita pernah mencoba manjadi bodoh, menghitung bintang. Dan akhirnya kau kalah. Kau kalah dan menyerah dengan mengatakan bahwa sebanyak apapun bintang di atas sana, tetap tak akan pernah mampu mengalahkan kekuatan sinar di kedua mataku, tepatnya mata sebelah kanan. Dan aku akan tersenyum mendengar kata-katamu.

Entahlah, di setiap kita menghabiskan waktu seusai hari, mejelang kematiannya, aku memang selalu memilih duduk di sebelah kirimu, tanpa alasan. “Setiap hari harus kita habiskan, sebelum ia mati dan melupakan apa-apa yang ingin kita ingat,” kalimat itu yang sampai saat ini masih juga belum bisa kupahami. “Kalau setiap hari memang akan menemui kematian, berarti usia sebuah kenangan juga Cuma sehari dong?,” tanyaku sambil bersandar di bahumu. Dari situ aku sangat bisa merasakan aroma tubuhmu yang sudah tercemari oleh asap rokok. “Jangan pernah memikirkan nasib waktu, apalagi kenangan. Sebab mereka telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri, tanpa harus kita jaga, kita pelihara”.

Matamu terus mengarah ke langit, entah apa yang kau cari di sana. Sedang dari tadi aku memandangi wajamu dari sisi kanan, sambil terus bersandar di bahumu. Ada angin yang selalu sembunyi-sembunyi menguntit kita. Kadang ia berbisik sangat pelan, membujukku untuk berbisik kepadamu, “Aku takut kehilangan, sebab setiap kali kita menyelesaikan hari, aku selalu ingin menghilang darimu. Tak ada yang ingin kuingat, sama sekali.” Sayang, kalimat itu selalu hanya bisa berhenti dalam benakku, dan setelah selesai kuucapkan, kau akan berhenti memandangi langit kemudian mendapatiku tengah memandangimu dari sebelah sini. Sebentar kau membenarkan posisi duduk, membuatku melepaskan sandaran di kepala.

“Sebenernya apa sih yang kamu lihat dari sebelah sini?” kau memegang sebentar alis kananku. Aku melengos, memandang jauh ke depan, ke arah gelap. Pukul 10 malam, kita masih di atas bangunan yang sepertinya memang tak akan pernah diselesaikan. “Aku juga gak tau. Cuma, setiap lagi ngobrol gini sama kamu, ada satu hal yang sebenernya dari dulu pingin aku bilang, ke kamu” aku diam, biasanya ini kalimat yang akan mengakhiri setiap malam yang kita nikmati. Kau ikut terdiam, tepatnya tak mau mengatakan apapun agar tak ada yang berakhir, termasuk waktu. Benar. Sejurus kemudian aku berdiri, mengibaskan bagian belakang rok yang sejak tadi kududukkan di atas batu, di tepian bangunan lantai 3 ini. Kau hanya menengadahkan pandangan ke arahku, tak ingin beranjak.

***

Mungkin malam ini akan turun hujan. Alasan itu kusampaikan untuk menolak ajakanmu mengahbiskan hari di atas bangunan lantai 3 itu. Aku tahu, kau tak akan pernah memaksakan apa yang memang tak kuinginkan. Dan sore itu, kita berpisah di halaman kampus.

Malamnya, sekitar pukul 8 aku sengaja keluar dari kosan menuju bangunan tempat kita biasa berdua membodohi diri. Prediksiku memang salah, tak ada hujan, justru cuaca begitu panas, bahkan aku tak membawa jaket ke sana.

Sunyi, itulah yang hendak kutemui di sana. Tanpa apapun, tanpa siapapun. Sialnya, ketika sampai di anak tangga terakhir, ekspektasiku melebur terbawa angin yang selalu menjadikan bangunan ini dingin. Kudapat kau tengah duduk sendiri, di tepi bangunan lantai 3 ini. Akupun menghentikan langkah, hendak pulang.
“Aku sengaja nunggu kamu di sini” ujarmu tiba-tiba. Rasanya seperti anak-anak tangga itu runtuh, mebuatku tak bisa memilih kecuali berjalan ke arahmu. Memang, selalu ada rindu yang tak bisa kutanggalkan saat berada sedekat ini denganmu. “Kamu aneh beberapa hari ini,” katamu datar, dan dingin. Aku butuh lebih dari jaket untuk mempertahankan diri dari dinginnya angin malam dan ucapanmu itu. Dan saat itu juga kau melepaskan jaket untuk kau berikan padaku, aku tak menolak.

Hening. Aku belum mengucapkan apapun sejak tadi. Kita hanya saling memandangi langit yang sama sekali tak berbintang. Tapi aku yakin ada satu bintang yang tak terlihat, dan sekali saja kita bisa melihatnya,kemudian mengucapkan jumlahnya, seketika bintang itu akan bertambah dan bertambah.

“Bukannya aku memang aneh dari awal ya”

“Iya, aku tahu. Tapi anehmu yang ini beda”

Helaan napasku terdengar begitu jelas di kesunyian semacam ini.
“Aku merasa ada yang salah, dan aku harus segera meyuahi kesalahan ini”
Kau menatapku dari sebelah kiri, mencoba menemukan bola mataku sebelah kanan. Tapi aku memandangi langit sebelah kiri.

Dalam perjalanan yang tak lebih dari 5 bulan ini, aku memang merencanakan sebuah kesalahan. Maka ketika waktunya telah tiba, aku harus jujur dan mengatakan semuanya. Aku tidak pernah berencana untuk mencintaimu sampai selesai, sebab aku akan menyelesaikannya dengan orang lain.

***

Setelah malam itu, jika ada rindu yang menyerang, aku selalu berdiri di depan jendela sambil mebayangkan kita berdua di atas bangunan berlantai 3 di seberang sana.
***
Selesai.
23.08, januari 2012.

Sabtu, 07 Januari 2012

bakal antologi

10.58 pm. jam segitu saya dan 3 orang pria masih bertahan di kampus, tepatnya tangga lantai 2 depan pintu ruang teater fib undip. kami baru saja menyaksikan "lentera senja" oleh sasindo 2010. sebuah pentas drama yang merupakan puncak penilaian dalam mata kuliah pengkajian drama indonesia di semester 3. ada ulasan khusus untuk pentas kalian malam ini.

jadi, awalnya di tangga itu cuma ada saya, achmad, dan mas erwin. tidak ada obrolan khusus di antara kami sampai akhirnya mas pandu keluar dari ruang teater. "mas pandu", sapa saya. dia balik menyapa sambil kami tersenyum. tapi sontak ekspresi senyumnya berubah menjadi tawa antara geli dan kaget ketika mas erwin menyapanya. hha, mereka ini sesepuh kami yang sedang ada di penghujung masa aktif kuliah. sebentar mereka saling sapa dan meledek. "pokoknya kamu harus kejar lulus, win", kata mas pandu. saya hanya tertawa dalam hati. bagaimana tidak, ia menasihati orang yang sedang mengalami nasib yang sama dengan dirinya. jadi kata-kata itu lebih sebagai guyonan saja di telinga saya.

bagi saya, tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan pada mereka yang telah ada di penghujung usia kemahasiswaan. mengurus skripsi atau tidak, lulus atau tidak, itu urusan masing-masing, karena setiap orang telah memiliki jalan hidup masing-masing. jika memang mereka telah menemukan kehidupan (yang ternyata mengganggu kuliah), justru itu baik. mas erwin juga bilang bahwa orang yang telah menemukan kehidupannya, dalam hal ini ia mencontohkan mas pandu yang telah nyaman dengan kepenyairannya (dan iapun nampak total menjalani ini), justru lebih baik dari yang hanya mengiris skripsi dan belum tahu akan melakukan apa setelahnya. tapi, jika kembali pada hakikat skripsi yang hanya berupa tulisan, rasanya 'sayang' jika sampai skripsi tidak diurus. menulis skripsi itu sebentar, yang lama adalah mengumpulkan bahan. dan dari beberapa orang yang saya temukan, kendala yang mereka hadapi adalah bukan karena tidak tau akan menulis apa, tetapi karena terlalu banyaknya referensi di kepala yang akhirnya membuat mereka sulit untuk memilah mana yang akan dituangkan dalam tulisan.

mas pandu, mahasiswa senior di fakultas ilmu budaya undip yang kepenyairannya sudah sampai di mana-mana, antologinya sudah beberapa, tiba-tiba membuka topik mengenai bakal antologi puisi yang beberapa bulan lalu saya titipkan untuk diberik kritik (komentar). tetapi karena saya sempat juga menyebutkan kata endorsment, dia mengira saya akan menerbitkan antologi tersebut. memang, saya ada rencana untuk menerbitkan puisi yang saya kumpulkan selama 2009-2011 itu, tapi sepertinya tidak untuk waktu dekat.

alasan saya hanya satu, saya belum yakin dengan apa yang saya tulis. kenapa saya menitipkan draft antologi itu ke beberapa orang seperti Pak Hermintoyo, Galih Pandu Adi, Adi Hariadi, Guri Ridola dan Yori Kayama, itu sebenarnya bukan untuk meminta endorsment (kalo mas pandu bilang, endorsment adalah pengesahan). jujur, niat awal saya adalah meminta kritik, komentar dari serbagai sisi yang nantinya bisa saya gunakan sebagai pertimbangan apakah bakal antologi tersebut akan saya terbitkan atau tidak. sementara setiap kali  bertemu mas pandu selalu bertanya, "kapan akan diterbitkan?", begitu juga achmad. saya hanya tersenyum menjawabnya.

menerbitkan sebuah buku bukanlah perkara sulit, sepertinya. apalagi hanya sebuah antologi puisi. asalkan mempunyai modal untuk biaya cetak dan launching, selesai. sebab antologi puisi tidak bisa disamakan dengan buku-buku yang dijual di toko. seperti yang juga dikatakan mas pandu, antologi puisi itu gak laku di toko buku. jadi, cetak sendiri jual sendiri. untuk modal, kalau memang sudah ada tekad, menabung beberapa bulan rasanya sudah bisa untyk mengatasi masalah biaya. tetapi, masalah saya adalah, saya ulangi, saya belum begitu percaya diri dengan karya-karya tersebut. jadi, kritik dan komentar yang saya pesan dari beberapa nama tadi menjadi penting bagi saya. karena saya bukan penyair, saya hanya menulis. tell is a need, write is alife. so never ending ur live with do nothing
tapi tetep, terima kasih banyak untuk semua pertanyaan dan semangatnya, hhe. semogalah bisa segera terbit, amin.

Jumat, 23 Desember 2011

semarang kota dagang, bukan kota pelajar

2.48 wib
sejam yang lalu saya dibangunkan lagi. setelah melakukan beberapa hal penting, saya memutuskan untuk menunaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa. adalah hal biasa, jika dalam seminggu saya hanya punya waktu khusus untuk mengerjakan tugas hanya di akhir pekan, itupun kalau tidak ada agenda colongan (angcol: baca--> ancol). sebab hidup hanya sebaatas mengerjakan tugas kuliah sama dengan memulai kematian pelan-pelan. ini tidak berlebihan. mengapa? karena seusai kuliah saya sadar, bukan tugas-tugas semacam itu yang akan saya hadapi, melainkan bagaimana menjalin relasi dengan orang lain kemudian saling bersosialisasi melanjutkan kehidupan. yaa, itu sudah menjadi pilihan. jadi tidak masalah jika konsekuensinya saya harus sering kebut-kebutan di akhir pekan kejar-kejaran dengan deadline, antara tugas kuliah dan organisasi.


http://nasikucing.com/showthread.php?tid=4829
saya kuliah di semarang. sebuah kota yang pada awalnya saya pikir sama dengan kota Yogyakarta. maklum, sepanjang hidup saya habiskan di Lampung, sebuah propinsi di kawasan sumatra. saya tidak pernah tahu seperti apa semarang. yang saya tahu, semarang adalah kota besar di jawa tengah yang isinya adalah para mahasiswa yang belajar, KEREN, itu dugaan awal.


nyatanya, 2 tahun lebih saya menimba ilmu di kota ini, akhirnya saya sadar. semarang bukanlah kota pelajar seperti yang saya bayangkan. semarang adalah kota dagang. jadi wajar jika suasana semarang tak sekondusif yogya. bagi yang beberapa kali memasuki semarang-yogya, pasti bisa merasakan perbedaan iklim ini. ada yang bilang di yogya adalah gudang buku, segalanya ada di sana. 


namun demikian, tidak berarti kita tak bisa belajar di semarang. justru itu menjadi peluang besar bagi kita yang mampu membaca situasi. dosen sastra melayu tiong hoa saya, yang telah menyeleaikan studi s2nya di yogya  bilang: jadi, jika sedikit saja kita serius, kita akan menjadi yang paling menonjol di sini. maksudnya, kalau kita bisa mengambil peluang untuk serius belajar di kota dagang semacam ini, kita akan mudah dikenali, karena kita berbeda dari kebanyakan yang ada. 


bagi yang ingin melanjutkan kuliah di semarang, silahkan berpikir ulang. semarang-yogya hanya berjarak 3 jam, tapi suasana dua kota sejarah ini cukup signifikan perbedaannya. yogya memang sebuah kota yang akan langsung mampu menarik hati pengunjungnya, tidak seperti semarang yang sepertinya memang merintis diri untuk menjadi kota metropilitan semacam jakarta. yang saya maksud berpikir ulang adalah: jika kamu ingin serius (hanya) menuntut ilmu, sebaiknya pergilah ke yogya, di sana kamu akan menemukan surga pendidikan. tapi jika kamu termasuk orang yang menyukai tantangan, semarang adalah kota yang siap menjadi pembimbing!


tulisan ini hanyalah perspektif sempit dari saya yang memang pernah dan sedang merasakan dua kota di jawa tengah ini. terlepas dari adanya sebutan atau kota lain yang sekarang muncul mengusung tema yang sama. lain waktu jika sempat akan saya paparkan mengapa saya setuju bahawa semarang adalah kota dagang, setidaknya untuk informasi bagi yang belum mengetahui gambaran semarang

Kamis, 22 Desember 2011

ibu dan jejak-jejak sungai

"kau punya ibu?"
pertanyaan itu sontak membuatnya lupa. ia lupa segala kejadian beberapa detik setalah mendengar kata itu.
"kau punya ibu?" pertanyaan yang belum sempat dijawab itu justru ia tanyakan balik pada yang bertanya.
"kau?", suara lain timbul entah dari mana "mana ibumu?", lanjutnya.
"ibumu mana?", lagi-lagi muncul suara.

***
hujan belum juga tiba. padahal sudah sejak setahun lalu ia merelakan diri duduk di tepi sungai yang kering karena kemarau yang nyaris mematikan kehidupan. ia tak pernah beranjak dari duduknya. hanya pikiran-pikiran tak berujung yang berhamburan di kepala.
"ibu mana?"
kekagetan membuat lamunannya pecah, ada yang tumpah dari sana.
setetes, dua tetes, tiga, empat, dan seterusnya.
"ibu?", matanya telah basah. di antara dua kubu di kelopaknya, ada aliran yang membentuk jalan. ia mulai menapaki jalan itu, mengingat sampai di mana tadi ia berpikir.
"ibu?"
di setiap jejak yang ia tinggalkan, suara itu menggambar diri. sementara ia terus berjalan memandu alitran menuju sungai.
ibu
    ibu
          ibu
sejenak ia berhenti, itu membuat aliran terpaksa mendahului langkahnya.
ia berbalik ke belakang, matanya berhamburan mencari sesuatu.
"ada banyak sekali yang kutinggalkan"
aliran telah sampai di sungai, sementara ia masih juga diam. di antara dua kubu di kelopaknya, ada sungai yang kini telah kembali. di sana ada jejak-jejak yang menggambar diri.

kafe senja, 22 desember 2011
"selamat hari ibu, mak. jejak dan sungai adalah hidup yang akan mematikan jika mereka tak kau bingkaikan untukku"

lemari

pagi masih terlalu dini. beberapa angin bahkan baru keluar dari pepatnya. tak ada yang mempu bersuara selain sunyi, hati. di balik kekemrungsungan yang terinjak-injak oleh waktu, setiap apa yang muncul di kepala, semuanya menjadi batu.
"apa yang kau pikirkan?", diremahnya ingatan itu.
waktu adalah tiran, itu yang ia dengar dari seseorang. terkadang ia ingin berlari melompati satu dari sekian fase yang rasanya menyakitkan. ada hal-hal yang rasanya begitu memuakkan sampai-sampai menjalaninya adalah pesakitan.
"berhentilah berdatangan!", matanya mulai membelalak di depan cermin sebuah lemari.
ia benci mengingat. apalagi mengingat kepedihan.
baginya penyesalan adalah jamban. tempat membuang segalanya yang tak indah. secara otomatis ia menyadari bahwa apa yang ia masukkan ke dalam sana akan bermanfaat pada tahap lain yang ia tak perlu tahu.
"tapi kamu tak butuh jamban!"
"DIAM!" sergahnya kemudian.
tiba-tiba ponselnya berdering samar. fokusnya pecah. ia mencari-cari dsumber suara yang sebenarnya telah lama dinantikan.
KREEK. suara pintu lemari terbuka, ponselnya tergeletak di sana.

di dalam lemari, tak ada lagi suara, dan segalanya mulai meyusun kematian sendiri-sendiri



kafe senja, desember 2011



"whatever will happen, i just pray at the end"


0:14
sekitar 2 jam lalu saya terbangun, ahh bukan bukan. ternyata masih juga saya sombong ya. selama ini saya tidak pernah terbangun, melainkan dibangunkan. dan saya pikir itu berlaku untuk semua orang, yang memiliki Tuhan.
entahlah. saya awalnya berniat menyesal karena menuliskan ini di blogspot. sejak beberapa bulan lalu saya telah sepakat hanya akan menuliskan hal-hal yang bersifat umum, tidak pribadi semacam ini. tapi jujur, saya rindu untuk dibaca, sebab di tempat saya yang satu itu (tempat menuliskan hal pribadi), tidak banyak yang mengetahui.
sebenarnya beberapa blog teman juga ikut menstimulasi tulisan ini. well, saya kembali pada satu pendapat: TULISAN ADA UNTUK DI BACA --> semoga ini menginspirasi.

saya dibangunkan. entah untuk alasan apa, tapi saya kira, Tuhan ingin saya datang dan menceritakan segalanya. hah! nyatanya saya malah bicara pada internet, dan blog ini kalian.
dua hal yang langsung muncul dalam benak saya setelah sebelumnya saya memutuskan untuk mematikan lampu kamar dan membiarkan Bob Dylan bernyanyi tanpa henti "Mr. Tambourine" (lagu ini kana menjadi pesakitan saya beberapa waktu ke depan, mungkin).

pertama, orang yang memeberikan lagu ini, kedua masalah di organisasi.
untuk masalah pertama syaa hanya ingin bilang, "segalanya akan kembali pada suatu awalan. kita semua hidup sendiri, tanpa apapun, tanpa siapapun". tapi yang saya sesalkan, ini seperti tidak berakhir pada waktu yang saya rencanakan. masih banyak hal yang ingin saya bagi dan tanyakan. tapi entahlah, yang jelas saya memang harus siap dengan segala kemungkinan. entah ini sudha berakhir atau belum. "TERSERAH", saya ulang kata itu, yang kalau kamu yang mendengar, begitulah rasanya.

kedua, siang tadi teman saya, pemimpin umum LPM Hayamwuruk mengabarkan bahwa tulisan saya di majalah Hayamwuruk edisi XXI/2011 telah sampai ke Jakarta. sebenarnya saya masih belum sepenuhnya memahami kata "sampai", apakah hanya sampai secara lisan atau tulisan. saya menanggapinya secara postif:

saya : wooo, keren ya =D
dia: aku serius dest
saya: iya...

saya tersenyum ketika itu. tapi ini bukan tanpa alasan. sebelum akhirnya tulisan itu disetujui oleh redaksi untuk dimuat dalam rubrik Jaring, saya telah melewati suatu tahap perenungan. apa yang saya tuliskan adalah fakta (yag terbungkus aib atau entah aib yang terbungkus fakta , lihat postingan saya INI;  ) keputusan yang menguatkan saya adalah: kalaupun pada akhirnya saya telah melakukan kekeliruan yang menyebabkan saya tertimpa masalah katakanlah dikeluarkan drai kampus, saya siap. KARENA SAYA YAKIN DENGAN APA YANG SYAA TULISKAN, SAYA PUNYA BUKTI-BUKTI YANG BISA DIJABARKAN. SAYA BERANI MEMPERJUANGKAN KEBENARAN. bahkan, syaa sempat berpikir konyol, bahwa betapa keren jika saya dikeluarkan dari kampus hanya karena tulisan yang menyentil birokrasi kampus (fakultas --> jurusan). tapi yang membuat saya agak berpikir lagi adalah, apa yang akan dirasakan orangtua saya? ah sudahlah, Tuhan ada bersama saya. whatever will happen, i just pray at the end. Allah and mommy are with me"

tadinya saya ingin ceritakan ini pada orang menjadi subjek pada masalah pertama saya, tapi karena suatu alasan yang saya tidak bisa pahami, saya ucapkan terima kasih. SIMPAN SAJA HAPEMU DALAM LEMARI...

Rabu, 21 Desember 2011

prolog sebuah epilog

tak ada yang lebih menyiksa
dari pagi yang kehilangan bulan tba-tiba
kehilangan cahaya
dari 2 kedalaman mata
keteduhan telah buyar, tertelan mendung yang kesepian
mari kini nantikan saja hujan
yang pelan-pelan akan hapuskan pagi
tenpa jejak tapi ingatan
yang melukai
kemudian sembunyi ke dalam lemari

kafe senja, desember 2011

epilog pagi

lama
cukup bahkan terlalu lama bulan di pekarngan pucat
tak bicara apalagi bulat
ia pecah menyambut  pagi
matamu yang selalu basah oleh rindu
dan petang terlalu cepat kembali
semogalah malam tak pernah datang
agar pagi tetap bertahan di sini

kafe senja, desember 2011

Jumat, 16 Desember 2011

sunyi, kau

pagi dan keteduhan matamu
adalah malam yang kini selalu luruh
dalam sekat-sekat ingatan
menggambar diri mengulas senyum sendiri
sunyi, kerap menjadi jendela yang membukakan bulan
bulan di bingkai wajahmu
ketika malam tiba dan mengetuk jendela kamar
mungkin ini rindu
di ketiadaan yang kini justru berbalik menjadi ada
kau memang sunyi yang kini selalu memaksaku hening
pada sketsa kita yang baru dimulai

kafe senja, desember 2011