Laman

Selasa, 29 Juni 2010

Menguak Ilusi di Balik Halo-- Sebuah Analisis untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester

http://gagasmedia.net/Info/Cerita-Halo-dalam-Sebuah-Novel.html
Identitas buku

Judul Buku       : Halo, Aku Dalam Novel
Penulis             : Nuril Basri
Tebal Buku      : 301 Halaman
Penerbit           : Gagasmedia
Tahun Terbit    : 2009







Pendahuluan

Berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain merupakan hak yang sekaligus menjadi kebutuhan setiap individu bernama manusia. Meskipun pada kenyataannya ada saja mereka yang beranggapan bahwa ia bisa hidup ‘sendiri’ tanpa orang lain. Biasanya tindakan ini akan diwujudkan dengan menganggap orang lain tidak penting, menganggap kita tidak perlu berurusan apalagi sampai memperdulikan orang lain. Inilah yang terjadi pada Pram dan Halo. Dalam novel ini, Halo, Aku dalam Novel yang disingkat dengan HADN, penulis memaparkan kisah tentang seorang pemuda bernama Pram yang kuliah di Amerika, sesungguhnya Pram ini memiliki keanehan yaitu sering berhalusinasi melihat orang lain yang sebenarnya tidak ada, keanehannya tersebut ia tuangkan dalam novel yang ia tuliskan, melalui tokoh utamanya, Halo.


   Selama kuliah Pram sangat jarang berkomunikasi bahkan dengan teman sekamarnya pun, yang juga berasal dari Indonesia. Namun, pada akhirnya, berkat Halo, tokoh yang ia ciptakan sendiri, Pram akhirnya menyadari betapa menjadi bagian dari orang lain adalah suatu kebutuhan yang tidak mungkin diabaikan hanya karena keegoisan.


Sinopsis

   Novel ini menceritakan tentang seorang tokoh bernama Pram, ia sangat ingin menjadi penulis. Namun, karena masalah idealisme orang tuanya, ia dipaksa kuliah di luar negeri dan mengambil jurusan yang tidak dikehendaki. Akibatnya ia tak serius kuliah, sebagian besar waktunya selalu digunakan untuk menulis dan menulis.

   Pram sangat ingin membuat tulisan yang menceritakan tentang penderitaan seseorang. Beberapa hari sejak ia di luar negeri Pram mulai menulis, Halo, adalah tokoh utamanya, nama itu sengaja dibuat agar terkesan aneh dan memang keseluruhan kisah yang ia tuliskan sangat aneh. Halo adalah seorang gadis yang dilahirkan dengan bibir sumbing dan mata yang juling, ia sering merasa kesepian karena orang-orang selalu “segan” mengajaknya bicara, bahkan orang tuanya – ibunya pun, lebih peduli pada adik laki-lakinya yang tampan. Akhirnya Halo meninggalkan rumah dan tentu saja tak ada yang mencarinya. Di luar sana Halo bertemu dengan sekelompok preman yang ternyata sangat baik sampai-sampai memperbolehkannya tinggal di rumah susun mereka.

   Pram yang memang ingin membuat suatu kisah ‘penderitaan’, mulai kesal dengan tokoh-tokohnya yang bersikap baik, Rio dan Al. ia berencana untuk membunuh tokoh itu. Hal aneh terjadi, entah bagaimana caranya tiba-tiba Al muncul dan melarangnya membunuh Rio, bahkan suatu ketika Pram bisa berinteraksi langung dengan tokoh-tokoh dalam novelnya. Pram mulai ketakutan, ia bertekad harus segera menyelesaikannya. Di saat seperti itu lah, ia tersadar tentang keanehan dalam dirinya. Pram selalu berbicara dengan orang yang sangat ia sukai – padahal mereka tidak ada, dan menganggap orang yang ia benci tidak ada – namun selalu saja muncul dan merepotkannya, beberapa orang yang ia sukai dalam kehidupannya mulai menghilang.

Pembahasan

Analisis unsur intrinsik novel

A. Tema

   Halo, Aku Dalam Novel (HADN), adalah cerita berbingkai yang mengangkat tema tentang kehidupan sosial, tentang pentingnya berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan.

B. Tokoh dan Penokohan
  
   Dalam Halo, Aku dalam Novel ini terdapat banyak sekali tokohnya, apalagi jika mengarah pada cerita yang dituliskan Pram, mengenai Halo dan kawan-kawannya. Namun, tidak perlu dipermasalahkan banyaknya tokoh tersebut, sebab mereka hanyalah tokoh tambahan, yang jika dihilangkan pun esensi cerita akan tetap bisa dirasakan. Perincian tokoh-tokoh tersebut adala sbb.

Tokoh utama (yang) utama: Pram

  Novel (cerita) berbingkai semacam HADN biasanya memang sulit untuk ditemukan siapa tokoh utamanya (salah satu contohnya adalah “Suweng” karya Hasta Indrayana, sebab jika tidak dipahami secara jeli pembaca akan terkecoh dengan tokoh utama (yang) utama dan tokoh utama (yang) tambahan.

Pram, adalah tokoh utama (yang) utama, sebab meskipun sepintas Halo yang menjadi fokus penceritaan, toh Pram-lah yang berperan penting dalam memunculkan Halo dan kawan-kawan, dan kapan pula ia memunculkan dirinya sendiri, baik di dunia nyata maupun di dunia khayalannya, dunia Halo dan kawan-kawan.

Tokoh utama tambahan: Halo

  Sebagai tokoh utama dalam kisah yang dituliskan Pram, sebenarnya Halo hanyalah tokoh statis yang kedudukannya menguatkan watak tokoh utama yaitu Pram. Halo ini lah yang menyebabkan pertemuan antara Pram dan beberapa tokoh dalam kisah yang ia tuliskan, Rio, Al, Brenda dll. Jika Halo tidak pernah muncul dalam pikiran Pram, maka Pram tidak akan mungkin bisa menyadari tentang keanehan dalam dirinya yang kerap berhalusinasi tentang orang-orang yang sebenarnya tidak ada, menjadi ada. Harlan, Mike, Merry, adalah beberapa tokoh dalam kehidupan Pram, yang sebenarnya mereka tidak pernah ada, berikut kutipannya:

"Saya bisa melihat Merry yang sedang membaca buku sambil mencamil keripik. Sedang menunggu saya. Oh, rajin sekali. Dia mungkin tidak tahu kalau saya sudah bangun. Sebenarnya. Saya tidak ingin menemuinya lagi, karena Merry itu hanya ilusi yang saya ciptakan saja. Kalau saya semakin mengenal dia, nanti saya akan merasa sedih sekali ketika berpisah. Mending saya tidak kenal saja" (HADN: 272).


Tokoh tambahan (yang) utama: Rio, Mike, Al, Merry, Marius.

  Tokoh tambahan tambahan: Brenda, Kakek Tua di Ladang Jagung, Nenek-nenek misterius, Brenda, Ardian, Harlan, Ibunya Marius, dll.

  Sebagai tokoh tambahan, keberadaan mereka memang tidaklah begitu penting, bahkan jika dihilangka pun, esensial cerita ini akan tetap terasa, hanya saja akan nampak monoton. Setidaknya keberadaan para tokoh tambahan ini menjadikan pembaca tidak jenuh. Berikut ini salah satu kutipan yang menjadikan novel ini lebih berwarna dengan hadirnya para tokoh tambahan:

“Eh, bagus, loh, cerita yang kamu tulis,” ujar Ardian, seolah dengan nada-nada memberi semangat. Dia pikir, kalau dia bilang sebaliknya, semangat menulis saya bisa hilang. Mendapat perhatian seperti itu darinya malah sangat menjijikkan.
“Hmm,” ujar saya.
“Apanya? Biasa saja, kok, malah jelek” ucap si Merry (HADN: 79).



Penokohan

   Ada perbedaan antara pengertian tokoh dan penokohan. Tokoh adalah pelaku dalam cerita sedangkan penokohan bisa diartikan pelukisan karakter yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam cerita. Ada dua macam penokohan, ekspositoris dan dramatik, dalam HADN ini teknik yang lebih banyak digunakan adalah dramatik, beberapa di antaranya adalah:

Teknik cakapan, melukiskan karakter Rio

“Kenapa kamu mau melakukan itu?” tanya Halo
“Melakukan apa?” tanya Rio
“Menolong nenek-nenek itu dan menolongku waktu itu…, padahal kamu tidak mengenalku…”
“Soalnya, tak ada yang menolongku sewaktu aku membutuhkannya dulu… dan aku tidak mau orang lain merasakan hal yang sama.” (HADN: 93).

Teknik pikiran dan perasaan, melukiskan karakter Pram

... Di Indonesia sana, saya memang punya pembantu, tapi bukan berarti saya tidak mandiri. Saya sangat mandiri! Saya bisa melakukan segalanya sendiri! Saya tidak butuh orang lain menemani saya! Saya benci orang-orang! Mereka sok tahu! (HADN: 55)

Teknik pelukisan fisik, melukiskan karakter Halo

Halo, tidak ada yang spesial mengenainya, kecuali dia sangat kurus. Tulang-belulang di tubuhnya sangat menonjol, menirus dan merusuk kemana-mana. Dia terihat seperti tengkorak yang hanya dapat berjalan dan bernapas (HADN: 6).

C. Penceritaan (pusat pengisahan)

   Sekilas pada bagian Tokoh Utama telah saya paparkan tentang kedudukan Pram sebagai tokoh utama yang menjadi pioner dalam keberlangsungan isi cerita. Pram adalah tokoh utama yang sekaligus menjadi pusat penceritaan . Pram selalu muncul dalam setiap peristiwa. sekali lagi, Halo hanyalah alat atau perantara bagi tokoh Pram untuk memperjelas apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, bagaimana wataknya, bagaimana sikapnya terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri.

… Mungkin saya akan mulai dengan menciptakan karakter utamanya. Yang jelas, dia tidak boleh cantik. Cih. Saya benci orang cantik karena mereka biasanya tolol. Saya akan membuatnya sangat jelek. Jelek sekali. Tidak punya teman, sendirian. Mungkin, gagu (HADN: 5).

Kalimat tidak punya teman, sendirian, sebenarnya merupakan representasi atas keadaan si Pram, sendirian tidak punya teman, sampai-sampai ia menciptakan sendiri orang-orang dalam hidupnya. Novel ini memusatkan penceritaan pada tokoh aku, Pram.

Sudut pandang

  Secara umum ada tiga macam sudut pandang, orang pertama, orang ketiga , dan campuran. Dalam HADN ini sudut pandang yang digunakan adalah campuran. Penggunaan sudut pandang campuran adalah kebebasan dari pengarangnya, namun dalam novel ini, sudut pandang campuran tercipta karena format kisahnya adalah cerita berbingkai, pencerita bisa berada pada dua posisi sekaligus, yaitu sebagai aku dalam penceritaan Pram, dan menjadi orang ketiga “maha tahu” di penceritaan Halo. Berikut ini adalah kutipan yang berturut-turut menerangkan posisi pencerita sebagai orang pertama dan orang ketiga:

  Namun, kami berhenti juga di sebuah minimarket, K-Mart, karena Mike harus belanja. Saat berada di dalam minimarket, saya membayangkan Halo. Dia bekerja di tempat seperti ini. Keren sekali. Saya melihat-lihat kasirnya, siapa tahu ada yang mirip dia (HADN: 41).

  Beberapa hari kemudian, Halo merasa kakinya sudah sembuh dan dia sudah bisa berjalan dengan normal. Dia pun akhirnya mengatakan niatnya pada Rio untuk berjalan-jalan di luar. Dia sudah merasa agak sumpek berada di dalam ruangan terus-menerus seminggu ini (HADN: 80).

D. Alur dan Pengaluran

  Alur merupakan rangkaian cerita yang membentuk suatu kausabilitas. Sedangkan pengaluran adalah cara menampilkan alur. Berkaitan dengan pengaluran tersebut, ada tiga macam alur yang bisa digunakan, yaitu:

Berdasarkan urutan waktu, novel ini menggunakan alur progresif, sebab cerita mengalir dari tahap awal: pengenalan tokoh, baik dalam penceritaan Pram maupun Halo, pemunculan konflik, klimaks dan diakhiri dengan penyelesaian.

Berdasarkan kuantitas, yang digunakan adalah alur tungal. Hal ini dikarenakan hanya ada penceritaan satu tokoh, lengkap dengan segala konflik yang menyertai kehidupannya. Meskipun tetap ada tokoh-tokoh lain baik itu tokoh utama tambahan maupun tokoh tambahan, dan dari tokoh-tokoh itu juga muncul konflik, kesemuanya itu adalah pelengkap yang semuanya selalu berkaitan dengan kisah tokoh utama.

Berdasarkan kualitas, novel ini menggunakan alur rapat. Beberapa ciri dari alur rapat adalah cerita disajikan secara cepat, peristiwa fungsional saling susul-menyusul, ada jalinan erat antarperistiwa yang jika beberapa bagian dihilangkan maka pembaca akan kesulitan memahaminya. Itulah yang terjadi dalam HADN ini. Kisah dimulai dari Pram yang sangat ingin menulis, kemudian ia mulai menemukan kemistri pada novelnya, muncul konflik dalam novelnya, tiba-tiba ia menjadi bagian dalam novelnya, ia mulai gamang dengan cerita yang dibuat sendiri, lalu Pram sadar tentang keanehan dalam dirinya dan seterusnya termasuk kesibukan Halo mencari seseorang yang bisa menghidupkan Rio menyebabkan Pram terpengaruh sampai akhirnya menghidupkan kembali Rio dengan dalih mati suri, mengeluarkan Al dari penjara. Kesemuanya itu membentuk satu kausalitas yang padat dan tidak bisa dipisahkan, meskipun ini cerita berbingkai.

E. Latar dan Pelataran

   Latar biasanya mengacu pada pengertian tempat, waktu dan lingkungan sosial cerita. Sedangkan pelataran adalah teknik pelukisan latar.

Latar tempat, jika mengacu pada geografis, lokasi terjadinya cerita tentang Pram adalah di Amerika,

Saya baru seminggu berada di Amerika. Di sini, ternyata sedang musim dingin. Saat turun dari bandara di San Fransisco minggu lalu, saya langsung menuju took pakaian hangat dan membeli jaket anti-dingin tiga sekaligus (HADN: 3)

Sedangkan lokasi cerita tentang Halo belum bisa dipastikan, sebab dunia Halo hanyalah khayalan yang dibuat Pram, sebagaimana ia mengarang cerita tentang orang-orang disekitarnya. Namun, ada beberapa indikasi yang bisa sedikit membantu,

“Kamu mau tahu bagaimana caranya menghidupkan orang mati?” tanya Sarah sangat terkejut. Sekaligus sangat meremehkan.
“Pertama, kamu bisa mengunjungi seorang pawang dari Tana Toraja,” jelas Ebra pada Halo (HADN: 247)
Tana Toraja, adalah indikasi bahwa lokasinya berada di Indonesia, tetapi bisa juga ini hanyalah efek dari Pram, atau penulisnya yang memang orang Indonesia, dan dia tidak tahu harus menyebutkan daerah mana yang kira-kira gayut atau relevan.

Setelah membaca ulang novel HADN ini akan dapat disimpulkan bahwa penulis sangat sering menempatkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kampus, terutama asrama dan dinning hall.
Latar waktu, tidak ada dominasi waktu dalam novel ini, cerita mengalir pada semua waktu yang ada, pagi, siang, sore, dan malam pada waktu setempat.

Latar suasana, suasana yang sering digambarkan oleh penulis, baik pada penceritaan Pram maupun Halo adalah suasana misterius dan sedikit tidak lazim.
“Terima kasih, tapi aku tidak perlu mandi,” ujar Halo. “Aku sedang buru-buru…”
“Kamu tidak bisa buru-buru kalau kalau kamu mati” jawab si Kakek.
“Maksud kakek?”
“Racunnya sudah meresap ke dalam kulitmu. Kuharap belum terlambat …” (HADN: 191)
Pelataran, hal mengenai pelataran ini berkaitan dengan efek realistis dari cerita. Pelataran biasanya mengaitkan antara karakter tokoh dengan latar yang menyertainya. Pram, adalah tokoh utama yang memiliki watak individualis,
... Di Indonesia sana, saya memang punya pembantu, tapi bukan berarti saya tidak mandiri. Saya sangat mandiri! Saya bisa melakukan segalanya sendiri! Saya tidak butuh orang lain menemani saya! Saya benci orang-orang! Mereka sok tahu! (HADN: 55)

   Dan sikap individualisnya ini sejalan dengan pola pikir, cara dia bergaul dengan lingkungannya, cara dia berbicara dan menyikapi orang lain. Sesungguhnya Pram adalah seseorang yang merasakan ketakutan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, secara implisit nampak bahwa Pram terlalu takut dianggap aneh sehingga ia jarang berkomunikasi dengan orang lain, sama persis dengan apa yang ia tuliskan tentang Halo dalam novelnya. Dan ini berarti bahwa Pelatarannya sejalan dengan karakter tokoh Pram. Untuk tokoh Halo pun demikian, dalam novel ini ia digambarkan sebagai sosok yang kurang percaya diri dan selalu menarik diri karena takut dianggap aneh,
“Oh, Tuhan! Kata Halo kaget.
Hidung lelaki itu berdarah, Halo yang melihatnya menjadi sangat gusar. Jantungnya berdebar sangat kencang. Tiba-tiba saja, dia meninggalkan tempat itu (HADN: 15).

F. Aspek sosial (sistem dan nilai),

  Yang paling asyik dengan orang-orang Amerika adalah kita tinggal mengatakan ‘Ya’ dan ‘Terima kasih’, dan orang-orang tidak akan mengganggumu lagi (HADN: 185).
G. Amanat,

   Disampaikan secara implisit, bahwa sebagai makhluk sosial kita tidak akan pernah mampu hidup sendiri, seperti yang dialami Pram, betapapun ia menganggap orang lain tidak penting, toh ia tetap membutuhkan orang lain, dengan cara menciptakan sendiri orang-orang tersebut.


Penutup
   
  Demikian analisis saya terhadap novel karya Nuril Basri yang berjudul Halo, Aku dalam Novel. Semoga apa yang saya paparkan bisa bermanfaat dan berharap ada kelanjutan atau bahkan peninjauan kembali oleh pihak yang memang membutuhkannya.

  Yang terpenting lagi adalah semoga apa yang saya buat ini bisa memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Pengkajian Cerita Rekaan sehingga dapat memberikan penilaian yang semestinya terhadap apa yang sudah saya pahami dari mata kuliah yang disampaikan.

 Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Malam: Sajak Layla kepada Kekasihnya

Malam.
Kau tahu kasihku,
Jika asap pada cerutunya telah mengepul
Kau akan berpaling dari setiap apa pun yang tengah kau garap di ladang cinta kita
Lekas  memanggul kayu bakar, sayuran segar dan beberapa ubi
Kau akan pulang dan ketika sambil mengetuk pintu kau berkata,
:"Layla, aku pulang. Aku membawakanmu hasil ladang kita. Cinta"
Kemudian tergopoh-gopoh kuraih gagang pintu, yang di sana tak pernah kusematkan gerendel pada penguncian; seperti itu pun aku mengenai rumah hatiku atasmu.


O, kasihku.
Betapa tak kuasa ku untuk tak menarikmu dalam dekapan sunyi ketika kudapati senyum di antara gurat letih di rautmu
Dan kita berbagi rindu, seketika



Malam
Kau tahu kasihku,
Jarang bahkan nyaris sama sekali tak pernah kulewatkan menyelami kekhusyukanmu pada-Nya,
Mengirimiku seperigi doa, melalui-Nya.
Yang sebelum kau rekat pada sajadah itu, kau nampak aneh;
“Layla, nyalakan lampu kamar kita. Aku akan bersiap mencangkul seperigi doa untukmu”
Padahal, lampu itu tak pernah kuredup bahkan matikan, bahkan ketika siang?
Ah, kuanggap itu selimut tambahan darimu kepadaku yang telah cukup hangat dengan selimut-selimut kesetiaanmu.
Dan aku lena pada pendoaanmu.

Malam
Kau tahu kasih,
Bahwa aku sama sekali tak mengetahui
Kapan aku lahir dari rongga dadamu dan menjadi serupa embun yang selalu hadir ketika pagi menyemburatkan dingin menyambut keterjagaan kita
Betapa sungguh, kasih
Sejak kapan aku selalu kau anggap ada di rumah kita,
Sedang seseorang selalu beku di sana.
Itu, di salah satu kanvas yang tersobeksobek waktu
Di sudut rumahmu, rumah kita ini
Siapa dia?
Dan aku terlelap, dalam rengkuh tanya yang kau bingkai dalam dongengdongeng pengantar tidurku.
:Tentang seorang pecinta yang nyaris mati karena cintanya
Selamat malam, kasihku.

Malam.
Asapnya mengepul menerobos celah jendela rumah kita
Aku bisa merasakan dingin yang sesungguhnya adalah rembesan perasaan batinmu.
Tapi aku bahagia ada di sisimu, sungguh.

Tembalang, 27 juni 2010

Senin, 21 Juni 2010

jadi kakak tingkat

hwaaaa..

uda berapa ratus jam ya, gga ngeblog.
sibuk gee..

hmm.
beberapa hari kedepan aku lagi minggu tenang.
t e n a n g .

yaa, boleh sii dikatakan seperti itu,
walaupun,
pada kenyataannya gga bisa sepenuhnya tenang.

tau kenapa?

karena banyak tugas yang bikin gga bisa tenang kalo belum dikerjain.

hhe.
huh, desta, desta ...
tugas kok dikeluhkan..

ya sudahlah.
selamat minggu tenang untuk kawan-kawan khususnya sasindo undip 09
semangat tugas
semangat uas
semangat pulang kampung
semangat lampung

semanagaaaat, (bentar lagi jadi kakak tingkat..




hhoo

Selasa, 13 April 2010

malam bergusi lebam

m a l a m

berjingkat

menyelinap ke gumpalan di gusiku
lebam.

malam merayap
menjarah
lalu memapar
ingatan yang kusimpan
dalam

d a l a m




tembalang, 13 april 2010

Minggu, 04 April 2010

======================= Kajian QS asy-syu’ara [26]: 221-227)

“Maukah Aku beritahukan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa

Mereka meyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang pendusta

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang sesat
Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah*

Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang dzalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.”
(QS asy-syu’ara [26]: 221-227)

*yang dimaksud dengan ayat ini ialah bahwa sebagian penyair itu suka mempermainkan kata-kata, tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak mempunyai pendirian
===================================================================================

Assalamualaikum, saudaraku sesama muslim, kawanku, kawanan senjaku, kawan berbagi sajakku, dan tentu saja “kawan berbagi kesederhanaan”ku, kali ini aku meyapa kalian dengan beberapa potong sajak Tuhan. Jangan dulu bergumul dengan kotak kefanatikan, tapi kumohon, letakkan sejenak “pandangan” itu di hati dan kerendahan serta ketawadu’an kepada-Nya, Pengampu K A T A yang selama ini kita jarang K A T A K A T A itu di perapian sajak (semaumaunya) agar masak dan kemudian kita santap sebagai menu sarapan, makan siang atau makan malam (terkadang menjelang pagi).

Sajak ini kutemukan beberapa waktu lalu, tepatnya ketika kutuliskan “Tuhan,aku ingin ketemu” dan sajak ini terus berkutat dibelakangku, di setiap akan ku ramu K A T A K A T A itu di panci sajak.

Saudaraku, kawanku, tidakkah potongan sajak di atas membuat gatal kepala, apalagi ada lirik yang bicara penyair dan puisi? Yang ingin kujarang dengan kalian adalah soal:

Yang pertama adalah penyair, jika ada suatu pengakuan dalam hati bahwa penyair adalah sesuatu yang melekat dalam diri (kita) tuliskanlah sesuatu untuk meluruskan semuanya, setidaknya dari posisi kita, semampunya (karena pada dasarnya kita lemah).

Kedua, setelah ada pengakuan itu, kita lanjutkan dengan baris sajak yang berbunyi … lembah* dengan catatan kaki dibawahnya : *yang dimaksud dengan ayat ini ialah bahwa sebagian penyair itu suka mempermainkan kata-kata, tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak mempunyai pendirian

Kemudian baris ini: Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

Dan yang terakhir : (karena menjawab puisi-puisi orang kafir)

Saudaraku, kawanku, aku percaya bahwa kita adalah umat beragama yang ‘lah terlanjur beternak K A T A di kebun belakang, ternak itu ‘lah semakin membesar dengan K A T A K A T A yang kian waktu semakin berkembangbiak (meskipun ‘lah kita jadikan menu sarapan).

Aku hanya ingin berbagi, tidak lebih. Dan jangan biarkan beberapa potong sajak ini hanya menjadi arang di perapian sajak kita. Terutama empat hal yang ingin ku jarang bersama kalian, karena kepalaku terasa gatal terusterusan. Terima kasih saudaraku, kawanku.

Wassalamualaikum.

Sabtu, 03 April 2010

Lakon senja


Akulah pelakon yang datang dari negeri senja… negeri di mana keindahan tergambar tanpa bingkai, keteduhan bernaung tanpa sungkan. Ya, meskipun ada keabsurban di setiap siluetnya. Itulah keabsurban yang menjadikan negeriku kian menawan.

Jika hidup adalah sebuah pementasan drama, maka aku termasuk salah satu diantara pemerannya. Dan Jika drama itu di pentaskan sepanjang waktu, maka percayalah, saat ini aku sedang dalam peran yang kumiliki.

Tak tahu sejak kapan pementasan ini di mulai, apalagi bertindak sok tahu dengan mencari tahu kapan berakhirnya. Sebagai seorang pemain drama, seyogianya haruslah memiliki kemampuan dalam segi peran, bagaimana cara mengucapkan suatu kalimat apakah harus berteriak, berbisik,dan yang tak kalah penting adalah ekspresi atau mimik wajah.

Sepakat ataupun tidak, pada kenyataanya hidup memanglah sebuah pementasan drama atas sekenario-Nya. Percaya ataupun tidak, aku dan kau tengah disatukan dalam sebuah lakon di episode kali ini. Aku sadar, tak pernah mengenyam pendidikan pementasan, tapi aku paham, ‘lah kulakukan berbagai adegan dalam belasan episode bertema kehidupan. Kau tahu, inilah episode yang menuntutku untuk menjadi tokoh dengan karakter lain. Karakter yang belum pernah kumainkan sebelumnya.

Aku tahu kaulah pelakon itu, kau mumpuni dalam hal penokohan. Jadi, yang seharusnya kau lakukan adalah mengajarkanku cara bermain peran, bukan menuntutku untuk total, karena pada kenyataannya, aku masih dalam tahap pembelajaran. Kau paham kan? Kau harus tahu bahwa akupun tak akan mungkin merusak sekenario yang ‘lah ia tuliskan.

Tembalang, 3 april 2010

Jumat, 02 April 2010

======================= Tuhan, aku ingin ketemu



Malam berkejaran dengan pagi
Sedang aku merangkak, mengejar pintu-Mu

Remang redam
Berenang pada malam
Ku lihat waktu berjajar
Mengeja dosa
Tanpa laku
Tanpa suara
Pura-pura

Tuhan, boleh kan aku menemui-Mu?

Tembalang, 2 april 2010


======================== pencuri waktu



Akulah pencuri waktu
Di wajah siang tak kenal pulang
Ketika malam, berdeham
Menanak mimpi dalam keranda



Akukah itu,
Nyaris menyelipkan mata, telinga, tangan, kaki dan hati ke dalam saku
Bukan saku wajah-Mu,
Tapi saku waktu yang berkubang di pelataran rindu
Rindu menyimpuhi-Mu
Sebab jalan pulang kian samar
Kian tersandung,
Nanar pada Doif untuk ku kembalikan waktu

Tembalang, 2 april 2010

Minggu, 28 Maret 2010

Pemakan Sirih

sebelumnya Akku ucapkan maaf sangat kepada pengarangnya.
ini Akku lakukan untuk memenuhi tugas pengkajian cerkan.

Sebelumnya :

“Ku kira kau tak perlu lagi menolongku,” kata Sukro “di sini banyak buah-buahan dan tanaman yang bisa ku makan setiap hari. Aku akan tinggal di kuburan tua ini. Kabarkan pada istri dan anakku, mereka tak perlu mencariku”
***
“Pak Lurah, Pak Lurah!” dari teras ia berteriak memanggil tuannya sambil tergopoh-gopoh membawa tubuhnya yang besar tinggi namun agak botak di bagian kepala.
“Buk Lurah, saya mau bertemu Pak Lurah, ada urusan penting, bisa Bu?” lelaki pelaku pembantaian terhadap Sukro, yang juga memprovokasi warga, datang menemui pemimpin desa Sirih Ijo, pagi-pagi sekali.
Dengan air muka tak senang Bu Lurah yang sedang menyapu teras langsung masuk ke dalam rumah sambil meletakkan sapu dan menggelung ulang rambutnya yang panjang namun tipis.  Cukup lama Darmo, lelaki itu menunggu dengan perasaan gusar. Ketika melihat yang di tunggu keluar, tergopoh-gopoh Darmo mendekat.
“Gawat Pak Lurah. Gawat!” napas Darmo tak beraturan.
Namun Pak Lurah yang baru bangun tidur itu tak merespon apa-apa. Ia hanya melengos sambil menarik kursi untuk diduduki.
“Gawat apanya, Darmo?” tanya Pak Lurah malas, telunjuk kirinya menyusuri lubang hidung.
“Gawat Pak, Gawat! Sangat gawat!” sekarang Darmo ikut duduk di samping Pak lurah, ia mulai mengatur napasnya. Setelah agak tenang, ia kembali melanjutkan.
“Tadi malam, Pak. Saya didatangi arwah Sukro!”
Seperti baru mendengar lelucon, Pak Lurah terkekeh geli.
Ha… ha… ha…
Melihat reaksi tersebut Darmo jadi kesal, jika tidak ingat sisa uang upah pembantaian terhadap Sukro, sudah pasti dilipat-lipat tubuh Pak Lurah yang kurus itu.
“Kenapa Pak Lurah malah tertawa?”
“Kau itu memang gak becus Darmo! Di suruh mateni pengunyah Sirih seperti Sukro saja gak bisa! Percuma saya bayar kamu, dan jangan harap sisa pembayaran itu bisa kamu ambil!” Pak Lurah melirihkan suaranya agar tak terdengar oleh siapapun, termasuk istrinya.
Kemudian Pak Lurah bercerita sedikit tentang kejadian beberapa hari lalu, ketika orang-orang meninggalkan Sukro di dekat pemakaman tua. Mereka semua, termasuk Darmo mengira bahwa Sukro telah benar-benar meninggal. Padahal Sukro masih punya urat-urat nyawa yang melekat pada kunyahan sirihnya. Mendengar hal itu, Darmo semakin gamang. Sekarang Ia tak peduli lagi dengan sisa upahnya.
“Sekarang saya sudah cuci tangan. Lagipula warga hanya tahu bahwa kau yang mengatakan bahwa Sukro telah mencuri sapi si Hasan. Aku tidak mau terlibat, urusi sendiri!”
Pak Lurah langsung bangkit dan meninggalkan Darmo yang ketakutan. Belum sempat melewati pintu masuk, istrinya tiba-tiba keluar membawa nampan teh, nyaris mereka bertabrakan.
“Tapi Pak, saya sudah terlanjur bilang pada Sukro bahwa Pak Lurah adalah dalang di balik semua ini. Saya sudah tidak peduli dengan sisa upah, yang penting saya sudah menyampaikan berita buruk ini. Sekarang terserah Pak lurah, saya akan berangkat ke kota pagi ini, dan perlu Pak Lurah tahu, Sukro akan datang menemui Pak Lurah malam ini”
Istri Pak Lurah tak mampu berkata-kata mendengar ucapan Darmo. Gemetar tangannya mempertahankan nampan. Pak Lurah pun berubah gamang. Tak ada gunanya menahan Darmo. Ia tahu siapa Sukro, laki-laki yang tak lain adalah kakak iparnya, suami dari kakak perempuan istrinya, bukanlah orang sembarangan. Berita bahwa Sukro menyimpan cadangan nyawa pada daun sirih memang telah menyebar di masyarakat. Dan Sukro tak akan pernah terima perlakuan atas dirinya beberapa waktu lalu.
***
Malam itu Pak Lurah hanya berkutat dengan perasaan takutnya. Ia sendiri di rumah megahnya. Istri beserta anaknya yang cacat ‘lah pamit pergi entah kemana. Mungkin istrinya sudah tahu apa yang akan terjadi, dan inilah puncak kekesalannya pada suaminya sendiri, suami dan juga pemimpin yang serakah.
Pelan suara pintu di ketuk. Pak Lurah bergeming. Suara ketukan agak kencang, semakin kencang, seolah sekarang menggedor-gedor jantungnya. Akhirnya pintu terbuka, sudah bisa di tebak siapa yang datang. Kini Ia meringkuk di sudut kamar, tak bisa bergerak tubuhnya, kaku. Langkah kaki mulai terdengar mendekati kamarnya. Seperti bola kasti memantul berulang kali di dekat jantung, keringat dingin tak bisa lagi terbendung. Suara langkah ‘lah lenyap, dan perlahan pintu kamarnya terbuka.
“Ampun kang Sukro, ampun. Memang, memang Aku yang menyuruh Darmo untuk memprovokasi warga supaya membunuhmu atas tuduhan pencurian terhadap sapi si Hasan. Tapi aku sangat menyesal kang, Aku minta maaf”
Sejenak suasana hening. Tak ada sepatahpun kata-kata keluar dari pemilik suara langkah kaki tadi. Pak Lurah semakin gemetar. Membayangkan Sukro sedang berdiri dengan mata nanar, siap mencekik lehernya.
“Pak, Pak Lurah…”
Pak Lurah mengenali suara itu, sangat kenal, apalagi suara ketukkan di lantai yang terus mengiringi kata-kata orang itu. Pelan-pelan kepalanya terangkat, mendongak dan mendapati tukang pijat buta yang sering menjadi tukang pijatnya.
Pfufh, ada napas lega yang meluncur dari lubang hidungnya.
“Ada apa kau kesini, pemijat buta!”
“Anu Pak Lurah, saya mau minta daun sirih di belakang rumah bapak”
Tak habis pikir dengan kata-kata yang baru didengarnya, Pak Lurah tak berkedip, napasnya masih memburu.
“Untuk apa?”
“Tadi saya menemukan harimau di tengah hutan,ia terluka parah. Saya kehabisan daun sirih di hutan, karena beberapa waktu lalu sudah saya gunakan untuk merawat seseorang yang terluka parah hampir mati. Dan berkat daun sirih itu, ia hidup lagi. Dan yang membuat saya keteteran sekarang, Dia terus-terusan minta daun sirih, parahnya daun sirih itu bukan untuk mengobati luka-lukanya, selain untuk di kunyah-kunyah, dia juga memakan daun itu, sebagai pengganti nasi Pak Lurah. Saya bingung karena semua daun sirih yang merembet di gubuk saya ludes! Lalu dia memberitahu saya, katanya Pak Lurah punya banyak batang daun sirih, maka itu saya kesini Pak Lurah. Saya malah baru tahu kalau Pak Lurah punya kebun sirih, padahal saya sering datang kemari untuk memijat Pak Lurah” lelaki buta itu tersenyum polos sambil mengusap gagang tongkatnya.
Pak Lurah bisa menebak siapa seseorang yang dimaksudkan si pemijat buta, pasti Sukro.
“Sekarang di mana orang itu?” tanya Pak Lurah ragu.
“Nunggu di depan, Pak Lurah, di teras”
Selesai.
Analisis tokoh:


1.    Sukro
a.    Psikologis, seseorang yang  karakternya tak bisa di tebak. Terkadang menjadi sosok yang ditakuti,
…Ia tahu siapa Sukro, laki-laki yang tak lain adalah kakak iparnya, suami dari kakak perempuan istrinya, bukanlah orang sembarangan. Berita bahwa Sukro menyimpan cadangan nyawa pada daun sirih memang telah menyebar di masyarakat. Dan Sukro tak akan pernah terima perlakuan atas dirinya beberapa waktu lalu.

terkadang jadi penakut bahkan tiba-tiba menjadi sosok yang aneh dan konyol.
… Dan yang membuat saya keteteran sekarang, Dia terus-terusan minta daun sirih, parahnya daun sirih itu bukan untuk mengobati luka-lukanya, selain untuk di kunyah-kunyah, dia juga memakan daun itu, sebagai pengganti nasi Pak Lurah. Saya bingung karena semua daun sirih yang merembet di gubuk saya ludes! Lalu dia memberitahu saya, katanya Pak Lurah punya banyak batang daun sirih, maka itu saya kesini Pak Lurah”

b.    Fisiologis, seorang laki-laki yang penampilan fisiknya menyerupai perempuan pengunyah sirih namun dalam bentuk laki-laki.
..Mulut Sukro senantiasa memerah. Bibir, gigi, dan lidah lelaki setengah baya itu mengundang perhatian orang lantaran memerah…

c.    Sosiologis, seseorang yang jarang bersosialisasi dengan masyarakat
“Ayo tampakkan kesaktianmu, Sukro! Mana bukti kalau kamu kebal…” kalimat ini memberi kesan bahwa Sukro adalah seseorang yang di kenal kehebatannya namun hanya sebatas gosip atau berita dari orang-perorang.

Sukro juga merupakan sosok yang mudah akrab dengan orang lain, terlihat dari ketika ia di tolong oleh lelaki buta sampai-sampai merepotkan karena menghabiskan daun sirih di gubuk lelaki buta.
… Dia terus-terusan minta daun sirih, parahnya daun sirih itu bukan untuk mengobati luka-lukanya, selain untuk di kunyah-kunyah, dia juga memakan daun itu, sebagai pengganti nasi Pak Lurah.

2.    Pak Lurah
a.    Psikologis, seseorang yang licik, ini terlihat dari teknik pelukisan dramatik melalui tingkah laku tokoh : dari kejauhan Pak Lurah memandangi pembantaian Sukro. Membuang muka, geram. Tak mau terlibat. Buru-buru meninggalkan kuburan tua dan daerah bukit cadas yang di gempur …

“Sekarang saya sudah cuci tangan. Lagipula warga hanya tahu bahwa kau yang mengatakan bahwa Sukro telah mencuri sapi si Hasan. Aku tidak mau terlibat, urusi sendiri!”

Memiliki karakter kasar dan sombong
“Kau itu memang gak becus Darmo! Di suruh mateni pengunyah Sirih seperti Sukro saja gak bisa! Percuma saya bayar kamu, dan jangan harap sisa pembayaran itu bisa kamu ambil!” Pak Lurah melirihkan suaranya agar tak terdengar oleh siapapun, termasuk istrinya.

Dan juga pengecut
“Ampun Sukro, ampun. Memang, memang Aku yang menyuruh Darmo untuk memprovokasi warga supaya membunuhmu atas tuduhan pencurian terhadap sapi si Hasan. Tapi aku sangat menyesal Sukro, Aku minta maaf”

b.    Fisiologis, seseorang yang berperawakan kurus tinggi
 Melihat reaksi tersebut Darmo jadi kesal, jika tidak ingat sisa uang upah pembantaian terhadap Sukro, sudah pasti dilipat-lipat tubuh Pak Lurah yang kurus itu.

c.    Sosiologis, tidak respek terhadap warganya. …Tak mau terlibat. Buru-buru meninggalkan kuburan tua dan daerah bukit cadas yang di gempur …

3.    Lelaki  Buta
a.    Psikologis, seseorang yang baik hati dan cukup hati-hati. Hal ini terlihat dari teknik pelukisan melalui pikiran dan perasaan tokoh ketika menolong Sukro yang tak berdaya.
… ia memijat sekujur tubuh Sukro, bergemeletak tulang-tulang yang patah diluruskannya.

Tokoh ini juga memiliki sikap lugu dan polos
Saya bingung karena semua daun sirih yang merembet di gubuk saya ludes! Lalu dia memberitahu saya, katanya Pak Lurah punya banyak batang daun sirih, maka itu saya kesini Pak Lurah”

b.    Fisiologis, matanya buta, membawa-bawa tongkat kemanapun pergi
… ia mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan yang akan dilaluinya..

c.    Sosiologis, seseorang yang sangat peduli dan berbuat tanpa pamrih kepada siapapun bahkan seorang yang di tuduh pencuri seperti Sukro.
Tapi ia cemas bila pencuri ternak itu dimusuhi orang-orang kampong

4.    Darmo
a.    Psikologis, seorang tokoh yang rela melakukan apapun demi uang
..Percuma saya bayar kamu, dan jangan harap sisa pembayaran itu bisa kamu ambil!” Pak Lurah melirihkan suaranya agar tak terdengar oleh siapapun, termasuk istrinya.

Darmo juga pengecut seperti Pak Lurah
Sekarang terserah Pak lurah, saya akan berangkat ke kota pagi ini, dan perlu Pak Lurah tahu, Sukro akan datang menemui Pak Lurah malam ini”

b.    Fisiologis,
“Pak Lurah, Pak Lurah!” dari teras ia berteriak memanggil tuannya sambil tergopoh-gopoh membawa tubuhnya yang besar tinggi namun agak botak di bagian kepala.

c.    Sosiologis, seseorang yang sebenarnya manut dan berdedikasi terhadap tuannya
“Tapi Pak, saya sudah terlanjur bilang pada Sukro bahwa Pak Lurah adalah dalang di balik semua ini. Saya sudah tidak peduli dengan sisa upah, yang penting saya sudah menyampaikan berita buruk ini.

5.    Istri Pak Lurah
a.    Psikologis, tidak tahan dengan suatu kebusukan seperti yang dilakukan suaminya
Istri beserta anaknya yang cacat ‘lah pamit pergi entah kemana. Mungkin istrinya sudah tahu apa yang akan terjadi, dan inilah puncak kekesalannya pada suaminya sendiri, suami dan juga pemimpin yang serakah.

b.    Fisiologis,
Dengan air muka tak senang Bu Lurah yang sedang menyapu teras langsung masuk ke dalam rumah sambil meletakkan sapu dan menggelung ulang rambutnya yang panjang namun tipis.

c.    Sosiologis,
Tokoh ini  menghargai tamu walaupun tidak suka terhadapnya,
Dengan air muka tak senang Bu Lurah yang sedang menyapu teras langsung masuk ke dalam rumah … Belum sempat melewati pintu masuk, istrinya tiba-tiba keluar membawa nampan teh, nyaris mereka bertabrakan.

========================= coz i love you -- agnes monica

canda tawa
tangisanmu
air mataku
tak ku sesali

pelukanmu
amarahmu
pengorbananmu
tak kan ku ganti

(#)
semua yang harus kita alami
membuat kita tuk saling mengerti

coz i love you
coz i need you
and i want you
by my side

keakuan, tak buatmu tuk jadi ragu sayangi aku
tuk sayangi aku 


download lagunya di siniii ..

http://www.4shared.com/file/108473630/e4d5e4ad/Agnes_Monica-Coz_I_Love_You.html?s=1