Laman

Selasa, 13 April 2010

malam bergusi lebam

m a l a m

berjingkat

menyelinap ke gumpalan di gusiku
lebam.

malam merayap
menjarah
lalu memapar
ingatan yang kusimpan
dalam

d a l a m




tembalang, 13 april 2010

Minggu, 04 April 2010

======================= Kajian QS asy-syu’ara [26]: 221-227)

“Maukah Aku beritahukan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa

Mereka meyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang pendusta

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang yang sesat
Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah*

Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terdzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir). Dan orang-orang yang dzalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.”
(QS asy-syu’ara [26]: 221-227)

*yang dimaksud dengan ayat ini ialah bahwa sebagian penyair itu suka mempermainkan kata-kata, tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak mempunyai pendirian
===================================================================================

Assalamualaikum, saudaraku sesama muslim, kawanku, kawanan senjaku, kawan berbagi sajakku, dan tentu saja “kawan berbagi kesederhanaan”ku, kali ini aku meyapa kalian dengan beberapa potong sajak Tuhan. Jangan dulu bergumul dengan kotak kefanatikan, tapi kumohon, letakkan sejenak “pandangan” itu di hati dan kerendahan serta ketawadu’an kepada-Nya, Pengampu K A T A yang selama ini kita jarang K A T A K A T A itu di perapian sajak (semaumaunya) agar masak dan kemudian kita santap sebagai menu sarapan, makan siang atau makan malam (terkadang menjelang pagi).

Sajak ini kutemukan beberapa waktu lalu, tepatnya ketika kutuliskan “Tuhan,aku ingin ketemu” dan sajak ini terus berkutat dibelakangku, di setiap akan ku ramu K A T A K A T A itu di panci sajak.

Saudaraku, kawanku, tidakkah potongan sajak di atas membuat gatal kepala, apalagi ada lirik yang bicara penyair dan puisi? Yang ingin kujarang dengan kalian adalah soal:

Yang pertama adalah penyair, jika ada suatu pengakuan dalam hati bahwa penyair adalah sesuatu yang melekat dalam diri (kita) tuliskanlah sesuatu untuk meluruskan semuanya, setidaknya dari posisi kita, semampunya (karena pada dasarnya kita lemah).

Kedua, setelah ada pengakuan itu, kita lanjutkan dengan baris sajak yang berbunyi … lembah* dengan catatan kaki dibawahnya : *yang dimaksud dengan ayat ini ialah bahwa sebagian penyair itu suka mempermainkan kata-kata, tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak mempunyai pendirian

Kemudian baris ini: Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

Dan yang terakhir : (karena menjawab puisi-puisi orang kafir)

Saudaraku, kawanku, aku percaya bahwa kita adalah umat beragama yang ‘lah terlanjur beternak K A T A di kebun belakang, ternak itu ‘lah semakin membesar dengan K A T A K A T A yang kian waktu semakin berkembangbiak (meskipun ‘lah kita jadikan menu sarapan).

Aku hanya ingin berbagi, tidak lebih. Dan jangan biarkan beberapa potong sajak ini hanya menjadi arang di perapian sajak kita. Terutama empat hal yang ingin ku jarang bersama kalian, karena kepalaku terasa gatal terusterusan. Terima kasih saudaraku, kawanku.

Wassalamualaikum.

Sabtu, 03 April 2010

Lakon senja


Akulah pelakon yang datang dari negeri senja… negeri di mana keindahan tergambar tanpa bingkai, keteduhan bernaung tanpa sungkan. Ya, meskipun ada keabsurban di setiap siluetnya. Itulah keabsurban yang menjadikan negeriku kian menawan.

Jika hidup adalah sebuah pementasan drama, maka aku termasuk salah satu diantara pemerannya. Dan Jika drama itu di pentaskan sepanjang waktu, maka percayalah, saat ini aku sedang dalam peran yang kumiliki.

Tak tahu sejak kapan pementasan ini di mulai, apalagi bertindak sok tahu dengan mencari tahu kapan berakhirnya. Sebagai seorang pemain drama, seyogianya haruslah memiliki kemampuan dalam segi peran, bagaimana cara mengucapkan suatu kalimat apakah harus berteriak, berbisik,dan yang tak kalah penting adalah ekspresi atau mimik wajah.

Sepakat ataupun tidak, pada kenyataanya hidup memanglah sebuah pementasan drama atas sekenario-Nya. Percaya ataupun tidak, aku dan kau tengah disatukan dalam sebuah lakon di episode kali ini. Aku sadar, tak pernah mengenyam pendidikan pementasan, tapi aku paham, ‘lah kulakukan berbagai adegan dalam belasan episode bertema kehidupan. Kau tahu, inilah episode yang menuntutku untuk menjadi tokoh dengan karakter lain. Karakter yang belum pernah kumainkan sebelumnya.

Aku tahu kaulah pelakon itu, kau mumpuni dalam hal penokohan. Jadi, yang seharusnya kau lakukan adalah mengajarkanku cara bermain peran, bukan menuntutku untuk total, karena pada kenyataannya, aku masih dalam tahap pembelajaran. Kau paham kan? Kau harus tahu bahwa akupun tak akan mungkin merusak sekenario yang ‘lah ia tuliskan.

Tembalang, 3 april 2010

Jumat, 02 April 2010

======================= Tuhan, aku ingin ketemu



Malam berkejaran dengan pagi
Sedang aku merangkak, mengejar pintu-Mu

Remang redam
Berenang pada malam
Ku lihat waktu berjajar
Mengeja dosa
Tanpa laku
Tanpa suara
Pura-pura

Tuhan, boleh kan aku menemui-Mu?

Tembalang, 2 april 2010


======================== pencuri waktu



Akulah pencuri waktu
Di wajah siang tak kenal pulang
Ketika malam, berdeham
Menanak mimpi dalam keranda



Akukah itu,
Nyaris menyelipkan mata, telinga, tangan, kaki dan hati ke dalam saku
Bukan saku wajah-Mu,
Tapi saku waktu yang berkubang di pelataran rindu
Rindu menyimpuhi-Mu
Sebab jalan pulang kian samar
Kian tersandung,
Nanar pada Doif untuk ku kembalikan waktu

Tembalang, 2 april 2010

Minggu, 28 Maret 2010

Pemakan Sirih

sebelumnya Akku ucapkan maaf sangat kepada pengarangnya.
ini Akku lakukan untuk memenuhi tugas pengkajian cerkan.

Sebelumnya :

“Ku kira kau tak perlu lagi menolongku,” kata Sukro “di sini banyak buah-buahan dan tanaman yang bisa ku makan setiap hari. Aku akan tinggal di kuburan tua ini. Kabarkan pada istri dan anakku, mereka tak perlu mencariku”
***
“Pak Lurah, Pak Lurah!” dari teras ia berteriak memanggil tuannya sambil tergopoh-gopoh membawa tubuhnya yang besar tinggi namun agak botak di bagian kepala.
“Buk Lurah, saya mau bertemu Pak Lurah, ada urusan penting, bisa Bu?” lelaki pelaku pembantaian terhadap Sukro, yang juga memprovokasi warga, datang menemui pemimpin desa Sirih Ijo, pagi-pagi sekali.
Dengan air muka tak senang Bu Lurah yang sedang menyapu teras langsung masuk ke dalam rumah sambil meletakkan sapu dan menggelung ulang rambutnya yang panjang namun tipis.  Cukup lama Darmo, lelaki itu menunggu dengan perasaan gusar. Ketika melihat yang di tunggu keluar, tergopoh-gopoh Darmo mendekat.
“Gawat Pak Lurah. Gawat!” napas Darmo tak beraturan.
Namun Pak Lurah yang baru bangun tidur itu tak merespon apa-apa. Ia hanya melengos sambil menarik kursi untuk diduduki.
“Gawat apanya, Darmo?” tanya Pak Lurah malas, telunjuk kirinya menyusuri lubang hidung.
“Gawat Pak, Gawat! Sangat gawat!” sekarang Darmo ikut duduk di samping Pak lurah, ia mulai mengatur napasnya. Setelah agak tenang, ia kembali melanjutkan.
“Tadi malam, Pak. Saya didatangi arwah Sukro!”
Seperti baru mendengar lelucon, Pak Lurah terkekeh geli.
Ha… ha… ha…
Melihat reaksi tersebut Darmo jadi kesal, jika tidak ingat sisa uang upah pembantaian terhadap Sukro, sudah pasti dilipat-lipat tubuh Pak Lurah yang kurus itu.
“Kenapa Pak Lurah malah tertawa?”
“Kau itu memang gak becus Darmo! Di suruh mateni pengunyah Sirih seperti Sukro saja gak bisa! Percuma saya bayar kamu, dan jangan harap sisa pembayaran itu bisa kamu ambil!” Pak Lurah melirihkan suaranya agar tak terdengar oleh siapapun, termasuk istrinya.
Kemudian Pak Lurah bercerita sedikit tentang kejadian beberapa hari lalu, ketika orang-orang meninggalkan Sukro di dekat pemakaman tua. Mereka semua, termasuk Darmo mengira bahwa Sukro telah benar-benar meninggal. Padahal Sukro masih punya urat-urat nyawa yang melekat pada kunyahan sirihnya. Mendengar hal itu, Darmo semakin gamang. Sekarang Ia tak peduli lagi dengan sisa upahnya.
“Sekarang saya sudah cuci tangan. Lagipula warga hanya tahu bahwa kau yang mengatakan bahwa Sukro telah mencuri sapi si Hasan. Aku tidak mau terlibat, urusi sendiri!”
Pak Lurah langsung bangkit dan meninggalkan Darmo yang ketakutan. Belum sempat melewati pintu masuk, istrinya tiba-tiba keluar membawa nampan teh, nyaris mereka bertabrakan.
“Tapi Pak, saya sudah terlanjur bilang pada Sukro bahwa Pak Lurah adalah dalang di balik semua ini. Saya sudah tidak peduli dengan sisa upah, yang penting saya sudah menyampaikan berita buruk ini. Sekarang terserah Pak lurah, saya akan berangkat ke kota pagi ini, dan perlu Pak Lurah tahu, Sukro akan datang menemui Pak Lurah malam ini”
Istri Pak Lurah tak mampu berkata-kata mendengar ucapan Darmo. Gemetar tangannya mempertahankan nampan. Pak Lurah pun berubah gamang. Tak ada gunanya menahan Darmo. Ia tahu siapa Sukro, laki-laki yang tak lain adalah kakak iparnya, suami dari kakak perempuan istrinya, bukanlah orang sembarangan. Berita bahwa Sukro menyimpan cadangan nyawa pada daun sirih memang telah menyebar di masyarakat. Dan Sukro tak akan pernah terima perlakuan atas dirinya beberapa waktu lalu.
***
Malam itu Pak Lurah hanya berkutat dengan perasaan takutnya. Ia sendiri di rumah megahnya. Istri beserta anaknya yang cacat ‘lah pamit pergi entah kemana. Mungkin istrinya sudah tahu apa yang akan terjadi, dan inilah puncak kekesalannya pada suaminya sendiri, suami dan juga pemimpin yang serakah.
Pelan suara pintu di ketuk. Pak Lurah bergeming. Suara ketukan agak kencang, semakin kencang, seolah sekarang menggedor-gedor jantungnya. Akhirnya pintu terbuka, sudah bisa di tebak siapa yang datang. Kini Ia meringkuk di sudut kamar, tak bisa bergerak tubuhnya, kaku. Langkah kaki mulai terdengar mendekati kamarnya. Seperti bola kasti memantul berulang kali di dekat jantung, keringat dingin tak bisa lagi terbendung. Suara langkah ‘lah lenyap, dan perlahan pintu kamarnya terbuka.
“Ampun kang Sukro, ampun. Memang, memang Aku yang menyuruh Darmo untuk memprovokasi warga supaya membunuhmu atas tuduhan pencurian terhadap sapi si Hasan. Tapi aku sangat menyesal kang, Aku minta maaf”
Sejenak suasana hening. Tak ada sepatahpun kata-kata keluar dari pemilik suara langkah kaki tadi. Pak Lurah semakin gemetar. Membayangkan Sukro sedang berdiri dengan mata nanar, siap mencekik lehernya.
“Pak, Pak Lurah…”
Pak Lurah mengenali suara itu, sangat kenal, apalagi suara ketukkan di lantai yang terus mengiringi kata-kata orang itu. Pelan-pelan kepalanya terangkat, mendongak dan mendapati tukang pijat buta yang sering menjadi tukang pijatnya.
Pfufh, ada napas lega yang meluncur dari lubang hidungnya.
“Ada apa kau kesini, pemijat buta!”
“Anu Pak Lurah, saya mau minta daun sirih di belakang rumah bapak”
Tak habis pikir dengan kata-kata yang baru didengarnya, Pak Lurah tak berkedip, napasnya masih memburu.
“Untuk apa?”
“Tadi saya menemukan harimau di tengah hutan,ia terluka parah. Saya kehabisan daun sirih di hutan, karena beberapa waktu lalu sudah saya gunakan untuk merawat seseorang yang terluka parah hampir mati. Dan berkat daun sirih itu, ia hidup lagi. Dan yang membuat saya keteteran sekarang, Dia terus-terusan minta daun sirih, parahnya daun sirih itu bukan untuk mengobati luka-lukanya, selain untuk di kunyah-kunyah, dia juga memakan daun itu, sebagai pengganti nasi Pak Lurah. Saya bingung karena semua daun sirih yang merembet di gubuk saya ludes! Lalu dia memberitahu saya, katanya Pak Lurah punya banyak batang daun sirih, maka itu saya kesini Pak Lurah. Saya malah baru tahu kalau Pak Lurah punya kebun sirih, padahal saya sering datang kemari untuk memijat Pak Lurah” lelaki buta itu tersenyum polos sambil mengusap gagang tongkatnya.
Pak Lurah bisa menebak siapa seseorang yang dimaksudkan si pemijat buta, pasti Sukro.
“Sekarang di mana orang itu?” tanya Pak Lurah ragu.
“Nunggu di depan, Pak Lurah, di teras”
Selesai.
Analisis tokoh:


1.    Sukro
a.    Psikologis, seseorang yang  karakternya tak bisa di tebak. Terkadang menjadi sosok yang ditakuti,
…Ia tahu siapa Sukro, laki-laki yang tak lain adalah kakak iparnya, suami dari kakak perempuan istrinya, bukanlah orang sembarangan. Berita bahwa Sukro menyimpan cadangan nyawa pada daun sirih memang telah menyebar di masyarakat. Dan Sukro tak akan pernah terima perlakuan atas dirinya beberapa waktu lalu.

terkadang jadi penakut bahkan tiba-tiba menjadi sosok yang aneh dan konyol.
… Dan yang membuat saya keteteran sekarang, Dia terus-terusan minta daun sirih, parahnya daun sirih itu bukan untuk mengobati luka-lukanya, selain untuk di kunyah-kunyah, dia juga memakan daun itu, sebagai pengganti nasi Pak Lurah. Saya bingung karena semua daun sirih yang merembet di gubuk saya ludes! Lalu dia memberitahu saya, katanya Pak Lurah punya banyak batang daun sirih, maka itu saya kesini Pak Lurah”

b.    Fisiologis, seorang laki-laki yang penampilan fisiknya menyerupai perempuan pengunyah sirih namun dalam bentuk laki-laki.
..Mulut Sukro senantiasa memerah. Bibir, gigi, dan lidah lelaki setengah baya itu mengundang perhatian orang lantaran memerah…

c.    Sosiologis, seseorang yang jarang bersosialisasi dengan masyarakat
“Ayo tampakkan kesaktianmu, Sukro! Mana bukti kalau kamu kebal…” kalimat ini memberi kesan bahwa Sukro adalah seseorang yang di kenal kehebatannya namun hanya sebatas gosip atau berita dari orang-perorang.

Sukro juga merupakan sosok yang mudah akrab dengan orang lain, terlihat dari ketika ia di tolong oleh lelaki buta sampai-sampai merepotkan karena menghabiskan daun sirih di gubuk lelaki buta.
… Dia terus-terusan minta daun sirih, parahnya daun sirih itu bukan untuk mengobati luka-lukanya, selain untuk di kunyah-kunyah, dia juga memakan daun itu, sebagai pengganti nasi Pak Lurah.

2.    Pak Lurah
a.    Psikologis, seseorang yang licik, ini terlihat dari teknik pelukisan dramatik melalui tingkah laku tokoh : dari kejauhan Pak Lurah memandangi pembantaian Sukro. Membuang muka, geram. Tak mau terlibat. Buru-buru meninggalkan kuburan tua dan daerah bukit cadas yang di gempur …

“Sekarang saya sudah cuci tangan. Lagipula warga hanya tahu bahwa kau yang mengatakan bahwa Sukro telah mencuri sapi si Hasan. Aku tidak mau terlibat, urusi sendiri!”

Memiliki karakter kasar dan sombong
“Kau itu memang gak becus Darmo! Di suruh mateni pengunyah Sirih seperti Sukro saja gak bisa! Percuma saya bayar kamu, dan jangan harap sisa pembayaran itu bisa kamu ambil!” Pak Lurah melirihkan suaranya agar tak terdengar oleh siapapun, termasuk istrinya.

Dan juga pengecut
“Ampun Sukro, ampun. Memang, memang Aku yang menyuruh Darmo untuk memprovokasi warga supaya membunuhmu atas tuduhan pencurian terhadap sapi si Hasan. Tapi aku sangat menyesal Sukro, Aku minta maaf”

b.    Fisiologis, seseorang yang berperawakan kurus tinggi
 Melihat reaksi tersebut Darmo jadi kesal, jika tidak ingat sisa uang upah pembantaian terhadap Sukro, sudah pasti dilipat-lipat tubuh Pak Lurah yang kurus itu.

c.    Sosiologis, tidak respek terhadap warganya. …Tak mau terlibat. Buru-buru meninggalkan kuburan tua dan daerah bukit cadas yang di gempur …

3.    Lelaki  Buta
a.    Psikologis, seseorang yang baik hati dan cukup hati-hati. Hal ini terlihat dari teknik pelukisan melalui pikiran dan perasaan tokoh ketika menolong Sukro yang tak berdaya.
… ia memijat sekujur tubuh Sukro, bergemeletak tulang-tulang yang patah diluruskannya.

Tokoh ini juga memiliki sikap lugu dan polos
Saya bingung karena semua daun sirih yang merembet di gubuk saya ludes! Lalu dia memberitahu saya, katanya Pak Lurah punya banyak batang daun sirih, maka itu saya kesini Pak Lurah”

b.    Fisiologis, matanya buta, membawa-bawa tongkat kemanapun pergi
… ia mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan yang akan dilaluinya..

c.    Sosiologis, seseorang yang sangat peduli dan berbuat tanpa pamrih kepada siapapun bahkan seorang yang di tuduh pencuri seperti Sukro.
Tapi ia cemas bila pencuri ternak itu dimusuhi orang-orang kampong

4.    Darmo
a.    Psikologis, seorang tokoh yang rela melakukan apapun demi uang
..Percuma saya bayar kamu, dan jangan harap sisa pembayaran itu bisa kamu ambil!” Pak Lurah melirihkan suaranya agar tak terdengar oleh siapapun, termasuk istrinya.

Darmo juga pengecut seperti Pak Lurah
Sekarang terserah Pak lurah, saya akan berangkat ke kota pagi ini, dan perlu Pak Lurah tahu, Sukro akan datang menemui Pak Lurah malam ini”

b.    Fisiologis,
“Pak Lurah, Pak Lurah!” dari teras ia berteriak memanggil tuannya sambil tergopoh-gopoh membawa tubuhnya yang besar tinggi namun agak botak di bagian kepala.

c.    Sosiologis, seseorang yang sebenarnya manut dan berdedikasi terhadap tuannya
“Tapi Pak, saya sudah terlanjur bilang pada Sukro bahwa Pak Lurah adalah dalang di balik semua ini. Saya sudah tidak peduli dengan sisa upah, yang penting saya sudah menyampaikan berita buruk ini.

5.    Istri Pak Lurah
a.    Psikologis, tidak tahan dengan suatu kebusukan seperti yang dilakukan suaminya
Istri beserta anaknya yang cacat ‘lah pamit pergi entah kemana. Mungkin istrinya sudah tahu apa yang akan terjadi, dan inilah puncak kekesalannya pada suaminya sendiri, suami dan juga pemimpin yang serakah.

b.    Fisiologis,
Dengan air muka tak senang Bu Lurah yang sedang menyapu teras langsung masuk ke dalam rumah sambil meletakkan sapu dan menggelung ulang rambutnya yang panjang namun tipis.

c.    Sosiologis,
Tokoh ini  menghargai tamu walaupun tidak suka terhadapnya,
Dengan air muka tak senang Bu Lurah yang sedang menyapu teras langsung masuk ke dalam rumah … Belum sempat melewati pintu masuk, istrinya tiba-tiba keluar membawa nampan teh, nyaris mereka bertabrakan.

========================= coz i love you -- agnes monica

canda tawa
tangisanmu
air mataku
tak ku sesali

pelukanmu
amarahmu
pengorbananmu
tak kan ku ganti

(#)
semua yang harus kita alami
membuat kita tuk saling mengerti

coz i love you
coz i need you
and i want you
by my side

keakuan, tak buatmu tuk jadi ragu sayangi aku
tuk sayangi aku 


download lagunya di siniii ..

http://www.4shared.com/file/108473630/e4d5e4ad/Agnes_Monica-Coz_I_Love_You.html?s=1

Sabtu, 27 Maret 2010

========================== yang tercatat ketika senja 'lah kita tafsirkan

Belakangan Akku sering menjadi manusia malam, apalagi kalau pulang kuliah kesorean. Biasanya ia akan tidur lebih awal karena kelelahan untuk kemudian terjaga diatas pukul 10, selanjutnya berdiskusi di depan lapy sampai subuh berpamitan.

Belum genap sebulan Akku menyandang status sebagai mahasiswi semester II, tapi rasanya tugas dari kampus tak henti menyerang. Dari mulai pengkajian cerkan yang bobotnya 4 sks sampai TI yang hanya 2 sks, semua menawarkan diri untuk menjadi camilan lapynya.

“Duh, mataku jereng ik” ujarnya selepas subuh

“Lagian kamu ngedur banget, selain terlalu deket ama lapy, kamar kita ini kan penerangannya kurang. Kamu juga, inget harus jaga pandangan”

Akku tak paham dengan kalimat terakhir Yayuk, teman sekamarnya.

“Pandangan Kku, kalo ku perhatiin kamu tuh serius banget natap si lapy, ati-ati”

“Yee, kirain pandangan apaan. Ya gimana lagi dong. Tugasku numpukpukpuk”

Obrolan mereka terus berlanjut, ngalor-ngidul. Dan baru berhenti ketika Yayuk terenggut oleh mimpi. Akku tahu, hari ini Yayuk kuliah jam 9, jadi bisa tidur lagi. Sementara dirinya harus siap-siap karena ada kuliah jam 8. Dua jam lalu ia baru menyelesaikan rangkuman TI untuk kemudian digabung dengan yang lain menjadi sebuah makalh utuh. Beberapa menit sebelum berangkat Akku merasa agak kurang enak badan, sedikit demam. Pasti gara-gara begadang dan duduk di lantai.

“Apa masuk angin ya?” pertanyaan itu pun terabaikan seiring langkahnya meninggalkan kamar.

“Bu, berangkat. Asaalamualaikum”

Empat puluh menit keudian Akku tiba di kampus, tepat dugaannya, kelas sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Sebelum masuk kelas ia bertemu Gara,

“Ga kuliah lagi?”

Dengan santainya dijawab,. “dosennya bikin ga napsu”

Akku langsung bisa mengambil kesimpulan, hari ini hanya ada satu mata kuliah SASTRA NUSANTARA, pasti yang mengampu dosen itu. Tergambar dalam otaknya seorang dosen yang telah memasuki masa pensiun namun tetap semangat mengajar. Berbanding terbalik dengan para mahasiswanya yang ogah-ogahan.

Akku masuk kelas dengan leluasa dan dengan polosnya melangkah mendekati kursi tedepan. Wkwk. Ketika duduk, Nafisa berkata, “tengok kebelakang!”

Dan Akku terkagetkaget mendapati sosok lain di belakangnya,

“Hwaaa, Riska!”

Yang punya nama sempat terkejut, tapi kemudian tersenyum.
Akku fokus lagi kedepan mendengarkan dosen yang tengah asik nembang. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat bilang,”selamet ya” dan menyalami tangannya.

Dasar Akku! Akhirnya hal itu dilakukannya juga, toh aku ga bisa dengar jelas yang dilagukan pak dosen.
Mendapati sambutan yang menyenangkan, Riska tersenyum sambil menerima uluran tangan Akku.

Setengah jam kemudian kuliah berakhir, dengan tanpa mendapatkan pengetahuan tambahan. Tapi tak apa, 
Akku yang ketika berangkat tadi agak kurang bersemangat, merasa sumringah mendapati satu lagi temannya mendapatkan hidayah untuk memakai jilbab. Entah kenapa ia merasa sangat bahagia, mudah-mudahan setelah ini akan ada yang menyusul lagi. Itu yang selalu tergumam dalam benaknya.
***

Kemarin sore, saat sedang mengerjakan tugas pengkajian cerkan dari Pak Karjo, Akku menerima sebuah pesan yang isinya adalah undangan untuk menghadiri peluncuran dua buku puisi karya sastrawan Semarang, disana juga tertulis nama salah satu pembicaranya AHMAD TOHARI.  Tentu saja Akku mau untuk menghadiri, apalagi di akhir pesan ada tulisan FREE. Hhe.

Yang mengirimi pesan bilang ingin sekali datang, karena salah satu novel karangan pembicaranya sedang di baca, RONGGENG DUKUH PARUK. Mengakhiri perpesanan itu Akku berkata sendiri,
“Ya udah liat besok, kuliah editingnya jadi atau ga, karena waktunya hampir bersamaan, PUKUL 13.00”

Ternyata kuliah editing batal, Akku sudah terlanjur menunggu sampai pukul 11.30, ngobrol dengan beberapa teman dan yang mengiriminya pesan tentang peluncuran buku-buku puisi, samba mengerjakan rangkuman makalah Pkn.

“Jadi ikut ga?” ia bertanya pada Akku sebelum berangkat jum’atan.

Yang ditanya menjawab, “Liat nanti ya, aku lagi sms Umi, katanya dia pingin ikut, kan novel yang kalian baca sama”
***

Jamaah jum’at telah bubar, yang mengajak Akku tadi, sebut saja namanya Diia, menghampiri Akku lagi. Memastikan.

“Kalian dulian aja, nanti Akku nyusul sama umi”

“Bareng aja”

“Ga usah, Akku mau sholat dulu, kalian duluan gak papa”

“Apa mau dijemput?”

“Ehm, yaudah nanti kalo kita dah nyampe di depan gerbang ku sms, nanya lokasinya dimana”

“Bukan, maksudnya dijemput pake mot…” belum selesai kalimatnya, Akku sudah memotong,

“Ga usah, kalian duluan aja, nanti biar Akku naik bis” Diia pun seperti kehabisan kata.
Akku pamit untuk ke mushola jurusan.
***

Kira-kira lima belas menit kemudian Akku siap untuk menemui umi yang katanya menunggu di depan fakultas hukum. Saat melangkah meninggalkan gerbang kampus, sebenarnya Akku samar-samar mendengar suara Diia dan dua orang temannya di kelas, tapi mengabaikan. Pasti mereka udah berangkat duluan, pikirnya.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat tujuan, jalan tri lomba juang. Dengan bekal ingatan sedikit isi pesan, Akku dan Umi masuk ke dalam stadion tri lomba juang (baca:mugas) dan mendapati kebingungan.

“Di mana lokasinya?” tanya umi.

“Katanya sih, gedung pers tri lomba juang, ntar ku sms Diia dulu ya”

Sebentar belum ada balasan, Akku pun berinisiatif untuk bertanya pada salah seorang yang sedang membaca papan pengumuman.

“Permisi mas, lokasi pelincuran buku-buku puisi dimana ya?”

Orang itu sepertinya paham, dan langsung menunjukkan lokasi yang benar. Ternyata bukan di stadion ini, melainkan di depannya. Sekali lagi dibaca pesan undangan itu, GEDUNG PERS JLN TRI LOMBA JUANG.

“oh, ternyata jalan tri lomba juang, bukan stadion tri lomba juang” dan mereka menertawakan “kebodohan” sendiri.

Setelah menyebrang mereka sampai di lokasi yang benar. Di pagar depan gedung tertulis persis GEDUNG PERS. Sempat bingung untuk kemudian harus lewat pintu yang mana, lagi-lagi Akku bertanya,

“Maaf pak, tempat peluncuran buku-buku puisi dimana ya?”

Dengan begitu welcome khas orang jawa, mereka pun dipersilahkan masuk untuk kemudian naik ke lantai dua. 
Anak tangga terakhir pun berhasil didaki, seorang resepsionis mempersilahkan mereka untuk mengisi buku tamu,

“Bukunya menyusul ya mbak” ujarnya ramah.

Mereka mengangguk sambil tersenyum.

“Ternyata dapat buku” umi sumringah. Akku ikut-ikutan.

Ruangannya minimalis, sebelum duduk di kursi depan Akku sempat melihat beberapa kakak tingkat yang satu jurusan dengan mereka tengah berbincang di kursi belakang.

“Lho, Diia belum nyampe to?”

“Gak tau, tadi si di kampus aku sempet dengar suara mereka masih di kelas, tapi kupikir mereka pasti udah berangkat, soalnya aku sholat lumayan lama”

Tapi tak lama kemudian hp Akku bergetar, di layarnya bergerak-gerak nama kontak Diia. Dan Akku hanya menatapnya, sengaja tak mengangkat panggilan.

Kalian belum nyampe to?
Kita udah di dlm
Msk aja

Akku mengirimi sms sebagai kompensasi karena tak mengangkat telpon.

Dan sebentar saja mereka bertiga sampai, intinya mereka mengatakan hal yang sama
Kok udah duluan si, di tungguin juga

Akku hanya tersenyum.
***

Di depan Akku dan Umi duduk masih ada satu baris kursi kosong, dua teman Diia memilih duduk disana, tapi Diia justru duduk satu meja dengan kami. Di pojok.

“Kamu di tengah” kata Umi. Dan Akku memandangnya tajam. Membuat Umi tersenyum geli.

“Iya iya”

Sebelum acara utama yaitu bedah buku uisi di mulai, berbagai acara hiburan ditampilkan, ramalan fengshui, musikalisasi puisi dan sekapur sirih dari para pengarang puisi.
Sekapur sirih. Akku mencerna kata majemuk itu.

Masih hangat dalam ingatannya sebuah puisi berjudul persis, di tag ke wall-nya, oleh Diia.

Ketika itu, Akku tak paham betul makna puisinya, puisi kali ini berdiksi berat. Biasanya kalau ingin menyampaikan hal-hal serius, Diia yang memang beberapa kali men-tag-kan puisi, akan memakai diksi yang tak biasa. Dan berkat acara ini, Akku baru mengerti makna puisi berjudul “sekapur sirih” di wall-nya. Bukan paham dengan satu-satu diksinya, melainkan makna yang tersirat. Suatu penyambutan, kata pengantar, ucapan terima kasih, dan hal semacamnya. Dan  Akku tersenyum.

Agenda hari itu sungguh mengandung banyak manfaat, Akku bisa melihat ansung sosok sastrawan, seniman, tokoh besar di Semarang, yang mungkin tak ‘kan ia dapatkan jika masih berkutat di kota kelahirannya, Lampung.

Dalam perjalanan pulang, Diia mengantar dengan sebaris sajak Hanry TM

RINDUKU HILANG LEWAT HUJAN

Akku membalasnya dengan senyuman dan sms balasan,

Terima kasih untuk hari ini, untuk undangan ke acara ini, banyak pegetahuan dan pengalaman yang tak ‘kan ternilai.

Akku termangu di tepi jendela bis yang ia tumpangi, pulang menuju kosan. Sambil menakar –nakar “senja” yang beberapa hari lalu tengah ia bingkai. Sepertinya ukiran bingkai yang Diia buatkan – dalam proses – akan terukir rapi dan … indah. Sepertinya.  Akku coba meyakinkan dugaan ( harapan ) ahh entahlah, mungkin juga doa.  


Bersama senja yang hampir tiba, 26 maret 2010




Jumat, 26 Maret 2010

=====================taubat--opick

Taubat
Album : Ya Rahman
Munsyid : Opick

Wahai Tuhan jauh sudah
Lelah kaki melangkah
Aku hilang tanpa arah
Rindu hati sinarmu

Wahai Tuhan aku lemah
Hina berlumur noda
Hapuskanlah terangilah
Jiwa di hitam jalanku

Ampunkanlah aku
Terimalah taubatku
Sesungguhnya engkau
Sang Maha Pengampun Dosa

Ya Rabbi ijinkanlah
Aku kembali padaMu
Meski mungkin takkan sempurna
Aku sebagai hambaMu

Ampunkanlah aku
Terimalah taubatku
Sesungguhnya engkau
Sang Maha Pengampun Dosa
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali
Kembali kepadaMu

Dan mungkin tak layak
Sujud padaMu
Dan sungguh tak layak aku

downloadnya boleh dsini...

=================== WHEN YOU LOVE SOMEONE-- ENDAH EN REZA

I love you but it's not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you're still in my dream
And I can't stand to wait ‘till nite is coming to my life
But I still have a time to break a silence
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say... “hello”
And I can't stand to wait your love is coming to my life
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

And I never thought that I'm so strong
I stuck on you and wait so long
But when love comes it can't be wrong
Don't ever give up just try and try to get what you want
Cause love will find the way....
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

download lagunya disini, ya..