Laman

Rabu, 05 Februari 2014

Solilokui Roh dalam Lagu "Resah" oleh Payung Teduh

Ada yang belum pernah mendengarkan lagu-lagu Payung Teduh? Sayang sekali, padahal band ini merupakan teman tidur dan teman merenung yang seru lho. Dari beberapa yang ada, saya paling suka dengan yang judulnya “Resah” dan “Tidurlah”. Selama ini sudah berapa kali memutar lagu berjudul “Resah?” bagi yang suka banget, barangkali gak terhitung ya. Saya pun gak pernah berniat melakukannya. Seperti malam ini, sama sekali saya gak ada rencana untuk menuliskan hal ini. Bahwa yang sudah-sudah, apa yang saya tangkap dari lagu ini ya hanya sekadar lagu galau. Namun, di putaran kedua, setelah seperti biasa saya terlena dengan lagu yang meresahkan—yang sebetulnya hanya memiliki enam larik dasar (enam baris lirik)—ini, saya dapatkan fakta baru yang gak terpikir sebelumnya.

Begini, di empat larik awal sejak 

“Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap” 
sampai ke 
“tapi aku hanya melihat keresahanmu”, 
ini sekilas memang tampak normal dan biasa saja, sebuah keresahan yang sekilas seperti ditujukan kepada kekasih, seseorang yang dicinta. Tapi ketika masuk ke larik selanjutnya yaitu dua larik terakhir

Aku/menunggu/dengan/sabar/di atas/sini/melayang-layang
Tergoyang/angin/menantikan/tubuh itu

Coba resapi lebih dalam, terutama kata-kata yang bercetak tebal.
Apa yang sekarang terasakan dari lagu ini, masihkah ada kesan “romantis”nya?
Baiklah, sejenak coba kita kembali ke larik-larik awal.

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Singkatnya, saya menyimpulkan bahwa lagu ini merupakan suatu senandika/solilokui/monolog. Bukanlah lagu cinta untuk kekasih melainkan betul-betul sebuah lagu tentang keresahan, tetapi yang ditujukan oleh sebentuk ‘roh’ atau ‘arwah’ atau ‘jiwa’ kepada dirinya sendiri. Bahwa ada seseorang yang seperti telah kehilangan dirinya sendiri. Bisa berarti seseorang itu sudah meninggal, berpisah jiwa dan raganya. Juga dapat pula dimaknai secara konotasi bahwa seseorang telah kehilangan semangat hidupnya. Kehilangan jati dirinya. Bahkan untuk sekadar berdiskusi dengan dirinya sendiri, menikmati kesendirian di malam gelap, di antara daun gugur, menyendiri pun sudah tak bisa. Aku hanya bisa melihat keresahanmu.

Resah-Payung Teduh

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang
Tergoyang angin menantikan tubuh itu
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu

Senin, 27 Januari 2014

Menulis (untuk) Memenangkan Sejarah

Lampung Tumbai edisi keempat di Koran Lampost akhirnya terbit. Sudah saya baca sekalian saya gunting bagian itu dengan maksud untuk dibuat klipping. Tapi agak berbeda, kali ini untuk pertama kalinya seorang kawan di fb yang tak lain wartawan dari koran yang bersangkutan, untuk pertama kalinya menandai saya diartikel yang sama tapi versi digital. Jadi, saat menerima notification, saya sempat membaca beberapa komentar di sana. Satu yang menarik perhatian saya begini bunyinya:

"Tulisan ini sangat subyektif. Fakta-faktanya masih banyak yang harus dikoreksi. Orientalis seperti ini banyak bermunculan pada abad-abad ke-19. Tujuannya sengaja mengaburkan sejarah dan pecah belah. Bagi saya tulisan ini tidak layak dijadikan acuan sejarah. Paling tidak hanya untuk data pembanding."

Pada intinya, saya sepakat dengan kritik tersebut. Bahwa benar, di edisi berjudul "Lingkaran Setan di Lampung" kali ini (saya tidak yakin dia telah membaca tiga artikel edisi sebelumnya), taste yang muncul cenderung lebih subjektif dibandingkan tiga edisi terdahulu. Dan bahwa tulisan atau artikel-artikel tersebut memang sebaiknya dijadikan bahan pembanding saja. Tapi persoalannya, kembali pada curhatan saya sebelum ini. Masih terlalu minim sumber rujukan tentang Lampung yang bisa ditemui. Maka ketika ada seseorang yang mengaku penyuka sejarah dan berada dekat dengan manuskrip-manuskrip, apa salahnya coba openmind terhadap pendapatnya.

Selain itu, di tempat lain saya pernah menuliskan: "Menulis untuk diam-diam memenangkan, sejarah." Kenapa saya berkata demikian, sebab memang sejak dulu, catatan sejarah adalah produk dari "pemenang sejarah" dan di balik tulisan-tulisan objektif, mustahil tak terkandung subjektivitas. Hanya saja kadarnya mungkin dikonsep sedemikian rupa agar yang menonjol adalah sisi objektifnya. Dengan menulis, setidaknya seseorang akan bisa memenangkan sejarah hidupnya sendiri. Ingat, "scripta manen verba voilant".

Jadi, apapun tujuan politis di belakang penerbitan artikel pekanan mengenai Lampung tempo dulu itu, saya tetap mengapresiasi usaha pihak-pihak terkait untuk menyodorkan kepada para pencari catatan sejarah untuk bisa memeroleh bahan-bahan pembanding. Sekali lagi, tak ada hal yang benar-benar objektif apalagi mutlak benar. Pembaca yang baik akan selalu berusaha menelusuri celah-celah yang memungkinkan dari suatu argumen. Dan artikel pekanan ini akan bermanfaat untuk menyusuri lebih jauh jejak sejarah Tano Lado yang sejauh ini jelas masih miskin data. Perkara si penulis "dibayar" atau punya niatan buruk terhadap sejarah Lampung, itu kembali lagi pada tiap-tiap orang adakah tindakan lanjutan, mungkin dengan membaca langsung buku-buku rujukannya. Apalagi baru-baru ini sebuah situs web mengabarkan bahwa Belanda telah mengembalikan (atas usaha seorang akademisi UI) sekitar 12.000 naskah Indonesia.


Minggu, 05 Januari 2014

Lampung Tumbai*


Beberapa waktu lalu ketika saya menjenguk nenek yang sedang dirawat di RS Urip Sumoharjo. Sebagai pengait, rumah sakit ini menggunakan nama-nama pahlawan Indonesia sebagai nama kamar di kelas VIP. Ketika itu saya berada di kamar Martha Christina Tiahahu. Entahlah, nenek (adik nenek saya) satu ini bisa dibilang sering (mungkin malah hobi) keluar-masuk rumah sakit karena menurutnya lebih enak dirawat ketimbang sakit di rumah. Di sana kami ngobrol-ngobrol. Salah satu topiknya adalah membahas mengenai Radin Inten, pahlawan nasional Lampung yang namanya baru, baru-baru ini dijadikan nama bandara (awalnya bernama Bandara Branti). Miris ya, padahal kota-kota lain telah menggunakan nama pahlawan jauh lebih lama. Nenek saya bertanya, mungkin juga sekadar basa-basi mengetes pengetahuan saya sebagai yang katanya sarjana Humaniora dari Fakultas Ilmu Budaya,
Berarti, sebagai pahlawan, Radin Inten masuk ya dalam sejarah Indonesia?
Ke-soktahuan-saya pun terusik.  Saya bilang padanya, selama mempelajari sejarah (nasional Indonesia), sejak SD hingga kuliah, saya tidak pernah mendengar nama Lampung dihebohkan. Untungnya, ini agak berkaitan dengan kutipan yang muncul beberapa waktu setelahnya berikut ini,
Walapun tulisan dan dokumentasi mengenai seluruh wilayah nusantara--bahkan sampai pulau dan dusun yang  terkecil--tersedia, dari dahulu kala dan bahkan sampai sekarang perhatian sebagian besar peneliti, penulis dan pengamat budaya mancanegara lebih banyak dicurahkan pada masyarakat dan kebudayaan di Pulau Jawa dan Bali (Lampung Post, 5 Januari 2014)
Waktu itu sebetulnya saya merasa tak yakin, hanya sebatas menduga bahwa memang Lampung tak menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya.

Sebagaimana saya yang dulu justru memilih sastra Indonesia dan bukannya sastra daerah. Baru kemudian di masa-masa akhir kuliah sempat galau kenapa saya malah tak peduli. Tapi apa daya, pilihan sudah ditentukan dan saya hanya bisa menonton, saya tidak menyesal karena sastra Indonesia memang juga passion saya. Hanya saja sedikit sedih kenapa sepertinya saya telah menutup sendiri jalan lain untuk menuju tempat lain. 

Hari ini Lampost sedikit menghibur saya. Bahwa menurut Frieda Amran, antropolog UI yang bermukim di Belanda dan didaulat menjadi pengisi rubrik pekanan tersebut, ada sekitar 1534 tulisan mengenai Lampung dalam bentuk buku, majalah, dan naskah di Perpustakaan KITLV (Koninklijk Intituut Taal-, Land -en Volkenkunde) Leiden, Belanda. Buku tertua mengenai Lampung di sana ditulis oleh Johan Diederik Krusenman tahun 1817.Ternyata benar bahwa Leiden juga menyimpan naskah Tano
Lado. Rasanya seperti dayung bersambut. Saya berharap, resah yang selama ini saya rasakan memang bukan satu-satunya. Semoga memang ada banyak masyarakat Lampung atau yang peduli pada Lampung mengalami hal serupa, keresahan yang mengawali sebuah kejadian. Saya masih berharap bisa jadi bagian dalam -apa ya menyebut hal ini- urusan ini. Terima kasih Lampung Post. Semoga "hal ini" bisa difollowup secara matang dan hasilnya bisa bermanfaat untuk khalayak.

*Tumbai=tempo dulu

Senin, 30 Desember 2013

Filologi dan Lampung

Menjadi mahasiswa sastra Indonesia ada banyak pengetahuan dan ilmu yang saya peroleh, tentu tidak semuanya bisa saya serap dengan baik, sayangnya. Ya, kita yang pernah kuliah memang akhirnya disadarkan bahwa pendidikan di perguruan tinggi itu lebih menuntut mahasiswa untuk belajar mandiri. Bila hanya mengandalkan pelajaran yang disampaikan dosen, tamatlah riwayat, yang ketika lulus hanya sekadar menyandang gelar sarjana tanpa tahu harus melaukan apa karena memang tak matang ilmunya. Orang-orang seperti itu malang betul nasibnya. Satu ilmu yang saya ketahui di antara sekian banyak itu adalah filologi. Singkatnya, ilmu ini berkaitan dengan naskah-naskah kuno. 

Di FIB Undip jurusan sastra Indoesia, pada semester V mahasiswa diberi kesempatan untuk memilih 3 peminatan yaitu Sastra Indonesia, Linguistik, dan Filologi. Sasindo tentu tak jauh-jauh dari penelitian mengenai karya-karya fiksi seperti puisi dan novel. Linguistik lebih menekankan pada tata bahasa. Sementara filologi seperti yang saya paparkan sebelumnya mengajak peminatnya untuk berkonsentrasi membedah naskah-naskah kuno baik yang ada di nusantara maupun di Leiden. Naskah nusantara umumnya beraksara melayu-jawa-arab, sedangkan di Leiden tentu tak berbahasa Indonesia namun membahas nusantara.

Di Undip, konsentrasi filologi lebih cenderung pada naskah jawa. Ketika semester V, kebimbangan saya hanya jatuh pada Sasindo dan Filologi. Itu karena sebetulnya secara konsep keduanya sama-sama membahas objek fiksi-nonfiksi tidak seperti linguistik yang dalam bayangan saya pasti rumit dan akan menyita banyak waktu dengan hapalan teori-teori kebahasaan. Passion saya di sastra, baiklah seiring waktu saya menjatuhkan pilihan pada sastra dan melepaskan filologi karena sadar kemampuan bahasa dan terutama aksara Jawa saya sangat buruk. Padahal beberapa pihak telah sempat memberi masukan bahwa paham aksara Jawa bukan hal yang diperlukan secara mutlak.

Saat skripsi, mahasiswa Filologi boleh membahas naskah kuno lain, misal Sastra Melayu
Tionghoa. Saya memang banyak beralasan. Oya, seandainya memang ada (tolong dimaafkan kesoktahuan saya) kelas filologi di Lampung, sudah barang tentu ada lanjutan pelajaran bahasa dan sastra daerah serta aksara Lampung yang selama ini hanya dipelajari sampai jenjang SMP saja.

Waktu berlalu dan sekarang saya sudah jadi seorang Sarjana Humaniora (S. Hum). Dengan seluruh kerja keras dan ketekunan sekuat saya, masih juga saya merasa kenapa dulu saat kuliah saya masih kurang memaksimalkan waktu yang ada untuk belajar lebih banyak. Saya merasa masih sangat bodoh. Setelah kembali ke rumah, ilmu yang saya pelajari kelihatannya masih belum diminati.

Sampai suatu hari saya baca koran harian, salah satu berita di halaman utamanya menyebut-nyebut FILOLOGI di bagian judul. Mata saya langsung tak sabar ingin membaca isinya. Berita itu menginformasikan bahwa akan diadakan semacam proyek penelitian filologi utnuk mengungkap sejarah Provinsi Lampung yang mengalami missing link dengan sejarah nasional. WOW. Pada artikel lanjutan di edisi selanjutnya, mereka berencana untuk mengmpulkan naskah-naskah beraksara Lampung yang kemungkinan ada di pesantren-pesantren. Karena menurut ahli, Lampung adalah Jawa Timurnya Sumatera. Selain di pesantren, mereka telah mengincar naskah yang (ternyata) ada di Leiden juga.
Sungguhkah?

Sayapun berpikir, bisakah saya ikut ambil bagian dalam proyek itu? Kalau bisa, bagaimana caranya? Bukan mengenai fee, melainkan bagaimana saya bisa menunjukkan kepada tanah kelahiran bahwa saya sangat ingin sumbangsih pengetahuan dan jadi bagian dalam pembangunan. Tapi saya sadar juga bahwa ilmu yang saya miliki sepertinya kurang pas. 

Tulisan ini apa ya? Kekecewaan? Terserahlah. Saya masih lebih kecewa ketika setelah mengetahui informasi itu kemudian bertanya pada teman yang berkuliah di Lampung jurusan Sasindo Daerah 'di sana ada peminatan filologi gak?' dan dijawab 'filologi apaan ya?' Dan lagi, menurut koran itu, yang berinisiatif melakukan penelitian pun bukan Universitas Lampung melainkan IAIN Bandar Lampung. wow wow wow.

Selasa, 19 November 2013

Aroma Nepotisme Orang-orang Dalam

Lulus dan menjadi sarjana memang menjadi klimaks bagi para mahasiswa yang sudah sampai di batas akhir masa studinya. Tapi kalau mau jeli, ketuntasan itu justru menjadi awal perjuangan selanjutnya. Jika belum mengalami sendiri, maka tak perlu buru-buru percaya bahwa menjadi sarjana bukan hal sederhana. Cukuplah dengan serius menjalani kewajiban sebagai mahasiswa dengan tak mengabaikan pentingnya berorganisasi. Nanti, setelah gelar itu betul-betul telah disandang, percaya atau tidak pada kenyataan tersebut tetap sebuah pilihan yang tak bisa dipaksakan.

Hampir tiga bulan menjadi Sarjana Humaniora ternyata membosankan juga. Bayangan indah mendapatkan pekerjaan impian pasca wisuda masih menjadi sekadar impian. Bukan tanpa usaha tentu saja. Padahal jika agak mundur ke belakang, rasanya tawaran-tawaran menggiurkan di masa-masa akhir studi bisa dibilang cukup. Lantas kenapa kenyataannya justru sepahit ini ya. Sekian banyak cv dan surat lamaran pekerjaan telah sampai ke kotak surat elektronik berbagai HRD perusahaan yang dianggap layak. Nyatanya, beberapa panggilan interview tak cukup memuaskan. Siasanya, lebih mengecewakan. Memaksa diri untuk bersabar dan terus saja berusaha. Memupuk keyakinan, optimisme kesuksesan pada pekerjaan impian.

Bertahan dua bulan di kota rantau akhirnya berujung juga. Bujukan baik secara langsung atau diam-diam dari orangtua tak bisa lagi dielakkan. Sudah dua minggu ini saya kembali ke kapung halaman. Hal serupa sudah dilakukan. Memasukkan lagi cv dan surat-surat lamaran pekerjaan itu ke beberapa perusahaan yang lagi-lagi saya anggap paling mendekati keinginan pribadi. Masih nihil. Sejenak saya merenungkan apa yang salah? Atau apa yang kurang? Adakah yang bisa membantu saya memperbaiki kekurangan? Sebab berada di rumah saat masih berstatus mahasiswa itu tak sama dengan saat sudah berstatus sarjana. Memang, orangtua tak secara langsung menunjukkan perbedaan sikap. Tapi sebagai anak—dengan tetap yakin bahwa orangtua tak mungkin bersikap tak menyenangkan secara terang-terangan—tentulah kecanggungan itu pasti ada.

Empat tahun saya tinggalkan, katakanlah kecamatan tempat saya tinggal saja, sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Banyak pabrik-pabrik bermunculan. Dari perusahaan minyak makan sampai besi bekas sekarang berdiri angkuh di sepanjang jalan lintas sumatera. Satu yang menarik hati saya adalah perusahaan susu dan kopi instan. ADA pula sebuah perusahaan agribisnis. Selain karena keduanya sudah punya nama, kedua berada di lokasi tepi pantai, bersentuhan langsung dengan pantai. Saya ingin bekerja di tepi pantai tanpa harus jadi nelayan. Tapi sekali lagi, bukan hal mudah untuk bisa bergabung di perusahaan itu. Bahkan saya ragu, apakah label kampus dan almamater saya itu akan berfungsi jika aroma nepotisme begitu terasa di perusahaan-perusahaan yang saya inginkan? Haruskah saya hanyut juga dalam arus demikian. Saya makin geram dan ingin membuat perusahaan sendiri jadinya.

Memang, untuk bisa melenggang mendirikan perusahaan di suatu kawasan, seringkali ada persyaratan yang mengharuskan perusahaan tersebut memperkerjakan warga sekitar. Jika calon tenaga kerja tersebut memiliki standar kelayakan (pendidikan dan soft skill) tentu bukan perkara. Celakanya, kawasan pedesaan didominasi oleh warga yang tingkat pendidikannya di bawah standar. Demikianlah akhirnya perusahaan tetap berjalan. Seiring waktu, warga yang telah lama direkrut menjadi pekerja itu ada yang punya posisi elit. Umumnya, mereka dipanggil dengan nama “orang dalam”. Pihak yang seringkali mengacaukan pengumuman adanya lowongan pekerjaan di perusahaan tempatnya bekerja.


Senin, 28 Oktober 2013

Kisah Hikmah: Bakti Istri kepada Suami

Suatu hari di zaman Rasulullah saw, seorang suami pamit pada istrinya untuk berjihad. Suami itu berpesan agar istrinya tidak keluar rumah sebelum ia kembali. Setelah kepergian suami itu, keesokan harinya datanglah seseorang yang merupakan utusan dari Ayah perempuan yang ditinggal berjihad oleh suaminya tersebut.
"Saya diutus oleh Ayahmu untuk mengabarkan bahwa beliau sedang sakit keras. Beliau meminta saya untuk menjemputmu." ucap si utusan.
"Maaf, suami saya sedang berjihad. Saya tidak boleh keluar rumah sampai ia kembali."
Utusan itu akhirnya pulang.
Hari berikutnya utusan itu kembali. Kali ini dengan kabar bahwa sakit Ayahnya semakin parah. Ia sangat ingin dikunjungi oleh putrinya. Namun, perempuan itu tetap menolak dengan baik, dengan alasan yang sama seperti sebelumnya.
Hari ketiga, utusan itu mengabarkan bahwa Ayah si perempuan sedang menghadapi sakaratul maut. Meskipun sebentar, kehadiran perempuan itu akan sangat bermakna. Tetapi si perempuan tak berubah pikiran.
Sampai akhirnya hari keempat utusan itu memberitahu bahwa Ayahnya telah meninggal. Jika memang mau, perempuan itu ditunggu kehadirannya di pemakaman. Tapi hal itu tak pernah terjadi. Atas rasa kesalnya, utusan itu mengadu kepada Rasulullah SAW. Menurutnya, perempuan itu sudah keterlaluan karena tak mau menjenguk Ayahnya yang sakit parah bahkan ketika meninggal pun tidak hadir ke pemakamannya.
Rasulullah SAW menjawab:
"Ayah dari si perempuan itu diampuni seluruh kesalahan dan dosanya oleh Allah SWT karena memiliki anak perempuan yang berbakti kepada suaminya."
Sumber: catatan pribadi kajian islami

Rabu, 16 Oktober 2013

Seni untuk?

Dengan itulah, menurut Plekhanov, Pushkin merumuskan sikapnya yang menegaskan “seni [adalah] untuk seni.” Seni bukan untuk tujuan apapun selain sebagai nyanyi.
Bukan, bukan buat gairah dunia,
Bukan untuk kerakusan ataupun perjuangan,
Tapi untuk inspirasi, untuk doa
dan merdunya nyanyi, penyair datang 
Saya bukan penganut "Seni untuk seni" ataupun "seni untuk rakyat". Entah tindakan saya untuk tetap bersifat netral dari kedua kubu masa lalu itu tepat atau tidak, intinya di sini saya hanya ingin sedikit memberikan catatan bahwa sikap tegas Pushkin tersebut justru tidak tegas. Mungkin dia tidak sadar, atau ada konteks tersembunyi yang belum saya ketahui dari kontrasnya ketegasan itu. 
Bahwa seni bukan untuk tujuan apapun --> tapi untuk inspirasi, untuk doa, dan merdunya nyanyi...

Sastra dan Sebuah Kewajiban

Sejak memasuki semester akhir di bangku kuliah dan akhirnya sekarang lulus, rasanya terlalu lama saya tak mengkaji apalagi menuliskan hal-hal terkait sastra. Sore ini saya mampir ke web Caping Goenawan Mohammad. Di sana saya serasa bernostalgia, seolah saya disadarkan dengan sebuah pertanyaan: "Sudahkah kamu lakukan kewajiban sebagai Sarjana Humaniora?"

Saya menyadari bahwa saya belum mengerahkan potensi yang saya punya untuk negeri ini. Baiklah, intinya dalam salah satu catatan itu saya mendengar kembali istilah "Realisme Sosialis" dan L'art pour l'art. Istilah yang pertama adalah masa lalu, kenangan buat saya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengkaji novel milik Nuril Basri berjudul Halo, Aku dalam Novel dengan kajian Psikologi Sastra (abnormal), sebetulnya saya mengawali konsep dengan sebuah novel milik Seno Gumira Ajidarma berjudul Negeri Senja.

Sebelum membaca HADN, lebih dulu saya membaca NS. Sebagai anak SMA, saya akhirnya memaklumi ketakpahaman saya pada novel SGA tersebut. Pemikiran saya belum sampai ke arah sana. Sebab ketika awal duduk di bangku kuliah, barulah dosen saya memberitakan bahwa Negeri Senja bukanlah novel romantis, melainkan politik. Lebih tepatnya ada realisme sosialis di sana. Istilah realisme sosialis saya dapatkan dari hasil pencarian ke berbagai sumber saat saya mencetuskan ide untuk meneliti novel SGA tersebut sebagai skripsi. Sama sekali NS tak bisa sekadar dibaca dari sampul atau endorsment. Secara garis besar, novel ini adalah perumpamaan dari sebuah negara (yang pernah) bertirani.

Sayangnya usaha saya tersebut terhenti. Terbatasnya sumber rujukan dan (terutama) kegigihan saya untuk mendapatkannya, menyebabkan rencana tersebut hanya menjadi sekadar niat baik. Saya beralih pada novel psikologi yang juga sudah saya baca di awal-awal kuliah. Tak masalah, toh sepertinya pun jika saya tetap mengkaji novel SGA saya akan kepayahan.

Minggu, 29 September 2013

Rangkaian Dies Natalis Undip ke-56 "BERKARYA DENGAN EMPATI"


3 impressive things in Undip Dies Natalis 56th tonight. Emha Ainun Najib "Kiai Kanjeng", tradition snack, and that cute lil girl who actived copycat the performer :) with Umi – View on Path.
Cak Nun suatu hari membayangkan Universitas Pangeran Diponegoro menjadi universitas international. Menjadi laboratorium ilmu pengetahuan dan budaya Indonesia dan dunia. Tak sekadar orang-orang asing kuliah di Undip melainkan betul-betul "orang-orang barat" belajar pada orang timur.

Islam adalah rahmatan lilalamin. Artinya, ketika ada seorang muslim, maka apapun yang ada di sekitarnya (manusia) akan terlindungi dalam 3 hal: nyawa, martabat dan hartanya.
Orang barat perlu penjelasan panjang lebar untuk memahami sebuah fakta. Misalnya fakta “rice” yang dalam bahasa Jawa bisa bermakna pari, gabah, beras, dan nasi. 

Menurut Cak Nun, sejarahwan modern tidak mengakui simbah-simbahnya (nenek moyangnya) sebab mereka tidak mengakui babad. Sejarah Indonesia adalah berdasarkan pengakuan sejarah barat. Apa yang tidak tercatat di Leiden maka tidak dianggap sebagai sejarah Indonesia. Maka semoga suatu saat Undip/Indonesia bisa menjadi pusat penyadaran budaya.

Diponegoro dan Gajahmada adalah dua sosok sejarah yang berjuang bukan hanya atas nama Jawa melainkan nusantara. Mereka sebetulnya bisa saja menjadi raja, tetapi mereka tidak mempermasalahkan. Gajahmada merupakan Muslim yang taat. Ia merelakan anaknya, Hayamwuruk menjadi raja (meskipun tidak ada yang tahu bahwa Hawe adalah anaknya).

Lagu jawa gelarno kloso. Eh pagere ambruk eh mergo tak tubruk. Itu adalah gambaran Indonesia yang bukannya menyelesaikan sebuah masalah justru membuat masalah berbiak. Masyarakat berharap dari kampus muncul solusi-solusi. Mahasiswa seharusnya BERKARYA DENGAN EMPATI TERHADAP PERMASALAHAN NEGARA.

Selasa, 17 September 2013

Memaknai Pendakian (Puncak Lawu 3265 mdpl)



Mendaki gunung ialah bentuk lain dari memaknai hidup. Jika biasanya di daratan kita dihadapkan pada beragam masalah yang begitu memberatkan “pundak” namun kita tidak bisa langsung “melihat” seperti apa wujud beban itu, maka dalam pendakian, kita bisa langsung melihat wujud beban yang tak hanya memberatkan bahkan membuat perih kedua bahu, termasuk juga kedua kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya.
Tidak sedikit orang yang berkata “siap” untuk melewati jalur pendakian. Juga tidak sedikit mereka yang telah berada di jalur pendakian kemudian merasa nyaris putus asa karena tak kunjung sampai ke puncaknya. Ini sama persis dengan sikap sebagian orang (termasuk saya) saat menghadapi permasalahan hidup. Ada yang terus berjuang hingga selesai, pun yang menjalaninya dengan sisa-sisa kesabaran yang ada. Ada yang mau tak mau harus menitipkan beban pada orang lain, ada pula yang dengan senang hati membawakan beban orang lain.
Bagi mereka yang sering mengeluh atas permasalahan hidup, memang ada baiknya melakukan pendakian. Tak harus ke Mahameru atau Lawu, cukup ke Ungaran. Tapi lakukan pendakian dengan niat untuk semakin menguatkan fisik dan mental. Bahwa hidup memang adalah sebuah pendakian untuk menuju Tuhan. Dalam pendakian, jalur tidaklah terus menerus naik, ada jalur-jalur datar yang kami menyebutnya “bonus”. Saya maknai, mereka yang senang berlama-lama di jalur datar ini ialah mereka yang salah paham atas kehidupan. Mereka harus sadar bahwa jalur sesungguhnya memanglah mendaki, jalur yang lebih banyak harus mereka lalui.
Untuk mencapai puncak Lawu via Cemoro Kandang, estimasi waktu standarnya sekitar 12 jam. Ini sudah termasuk jeda istirahat. Tapi untuk turun, hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 jam via Cemoro Sewu. Uniknya dua jalur ini yaitu Cemoro Kandang masih berada di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah sedangan Cemoro Sewu merupakan kawasan wisata di Kabupaten Magetan Jawa Timur. Jarak dua kawasan perbatasan ini tak sampai 1km berjalan kaki. Perbedaan estimasi jalur naik dan turun ini dipengaruhi oleh tingkat keekstreman. Meskipun lebih cepat 3 kali lipat, tapi jalur turun Cemoro Sewu lebih ‘gila’ dibanding jalur pendakian.