Laman

Senin, 30 Desember 2013

Filologi dan Lampung

Menjadi mahasiswa sastra Indonesia ada banyak pengetahuan dan ilmu yang saya peroleh, tentu tidak semuanya bisa saya serap dengan baik, sayangnya. Ya, kita yang pernah kuliah memang akhirnya disadarkan bahwa pendidikan di perguruan tinggi itu lebih menuntut mahasiswa untuk belajar mandiri. Bila hanya mengandalkan pelajaran yang disampaikan dosen, tamatlah riwayat, yang ketika lulus hanya sekadar menyandang gelar sarjana tanpa tahu harus melaukan apa karena memang tak matang ilmunya. Orang-orang seperti itu malang betul nasibnya. Satu ilmu yang saya ketahui di antara sekian banyak itu adalah filologi. Singkatnya, ilmu ini berkaitan dengan naskah-naskah kuno. 

Di FIB Undip jurusan sastra Indoesia, pada semester V mahasiswa diberi kesempatan untuk memilih 3 peminatan yaitu Sastra Indonesia, Linguistik, dan Filologi. Sasindo tentu tak jauh-jauh dari penelitian mengenai karya-karya fiksi seperti puisi dan novel. Linguistik lebih menekankan pada tata bahasa. Sementara filologi seperti yang saya paparkan sebelumnya mengajak peminatnya untuk berkonsentrasi membedah naskah-naskah kuno baik yang ada di nusantara maupun di Leiden. Naskah nusantara umumnya beraksara melayu-jawa-arab, sedangkan di Leiden tentu tak berbahasa Indonesia namun membahas nusantara.

Di Undip, konsentrasi filologi lebih cenderung pada naskah jawa. Ketika semester V, kebimbangan saya hanya jatuh pada Sasindo dan Filologi. Itu karena sebetulnya secara konsep keduanya sama-sama membahas objek fiksi-nonfiksi tidak seperti linguistik yang dalam bayangan saya pasti rumit dan akan menyita banyak waktu dengan hapalan teori-teori kebahasaan. Passion saya di sastra, baiklah seiring waktu saya menjatuhkan pilihan pada sastra dan melepaskan filologi karena sadar kemampuan bahasa dan terutama aksara Jawa saya sangat buruk. Padahal beberapa pihak telah sempat memberi masukan bahwa paham aksara Jawa bukan hal yang diperlukan secara mutlak.

Saat skripsi, mahasiswa Filologi boleh membahas naskah kuno lain, misal Sastra Melayu
Tionghoa. Saya memang banyak beralasan. Oya, seandainya memang ada (tolong dimaafkan kesoktahuan saya) kelas filologi di Lampung, sudah barang tentu ada lanjutan pelajaran bahasa dan sastra daerah serta aksara Lampung yang selama ini hanya dipelajari sampai jenjang SMP saja.

Waktu berlalu dan sekarang saya sudah jadi seorang Sarjana Humaniora (S. Hum). Dengan seluruh kerja keras dan ketekunan sekuat saya, masih juga saya merasa kenapa dulu saat kuliah saya masih kurang memaksimalkan waktu yang ada untuk belajar lebih banyak. Saya merasa masih sangat bodoh. Setelah kembali ke rumah, ilmu yang saya pelajari kelihatannya masih belum diminati.

Sampai suatu hari saya baca koran harian, salah satu berita di halaman utamanya menyebut-nyebut FILOLOGI di bagian judul. Mata saya langsung tak sabar ingin membaca isinya. Berita itu menginformasikan bahwa akan diadakan semacam proyek penelitian filologi utnuk mengungkap sejarah Provinsi Lampung yang mengalami missing link dengan sejarah nasional. WOW. Pada artikel lanjutan di edisi selanjutnya, mereka berencana untuk mengmpulkan naskah-naskah beraksara Lampung yang kemungkinan ada di pesantren-pesantren. Karena menurut ahli, Lampung adalah Jawa Timurnya Sumatera. Selain di pesantren, mereka telah mengincar naskah yang (ternyata) ada di Leiden juga.
Sungguhkah?

Sayapun berpikir, bisakah saya ikut ambil bagian dalam proyek itu? Kalau bisa, bagaimana caranya? Bukan mengenai fee, melainkan bagaimana saya bisa menunjukkan kepada tanah kelahiran bahwa saya sangat ingin sumbangsih pengetahuan dan jadi bagian dalam pembangunan. Tapi saya sadar juga bahwa ilmu yang saya miliki sepertinya kurang pas. 

Tulisan ini apa ya? Kekecewaan? Terserahlah. Saya masih lebih kecewa ketika setelah mengetahui informasi itu kemudian bertanya pada teman yang berkuliah di Lampung jurusan Sasindo Daerah 'di sana ada peminatan filologi gak?' dan dijawab 'filologi apaan ya?' Dan lagi, menurut koran itu, yang berinisiatif melakukan penelitian pun bukan Universitas Lampung melainkan IAIN Bandar Lampung. wow wow wow.

Selasa, 19 November 2013

Aroma Nepotisme Orang-orang Dalam

Lulus dan menjadi sarjana memang menjadi klimaks bagi para mahasiswa yang sudah sampai di batas akhir masa studinya. Tapi kalau mau jeli, ketuntasan itu justru menjadi awal perjuangan selanjutnya. Jika belum mengalami sendiri, maka tak perlu buru-buru percaya bahwa menjadi sarjana bukan hal sederhana. Cukuplah dengan serius menjalani kewajiban sebagai mahasiswa dengan tak mengabaikan pentingnya berorganisasi. Nanti, setelah gelar itu betul-betul telah disandang, percaya atau tidak pada kenyataan tersebut tetap sebuah pilihan yang tak bisa dipaksakan.

Hampir tiga bulan menjadi Sarjana Humaniora ternyata membosankan juga. Bayangan indah mendapatkan pekerjaan impian pasca wisuda masih menjadi sekadar impian. Bukan tanpa usaha tentu saja. Padahal jika agak mundur ke belakang, rasanya tawaran-tawaran menggiurkan di masa-masa akhir studi bisa dibilang cukup. Lantas kenapa kenyataannya justru sepahit ini ya. Sekian banyak cv dan surat lamaran pekerjaan telah sampai ke kotak surat elektronik berbagai HRD perusahaan yang dianggap layak. Nyatanya, beberapa panggilan interview tak cukup memuaskan. Siasanya, lebih mengecewakan. Memaksa diri untuk bersabar dan terus saja berusaha. Memupuk keyakinan, optimisme kesuksesan pada pekerjaan impian.

Bertahan dua bulan di kota rantau akhirnya berujung juga. Bujukan baik secara langsung atau diam-diam dari orangtua tak bisa lagi dielakkan. Sudah dua minggu ini saya kembali ke kapung halaman. Hal serupa sudah dilakukan. Memasukkan lagi cv dan surat-surat lamaran pekerjaan itu ke beberapa perusahaan yang lagi-lagi saya anggap paling mendekati keinginan pribadi. Masih nihil. Sejenak saya merenungkan apa yang salah? Atau apa yang kurang? Adakah yang bisa membantu saya memperbaiki kekurangan? Sebab berada di rumah saat masih berstatus mahasiswa itu tak sama dengan saat sudah berstatus sarjana. Memang, orangtua tak secara langsung menunjukkan perbedaan sikap. Tapi sebagai anak—dengan tetap yakin bahwa orangtua tak mungkin bersikap tak menyenangkan secara terang-terangan—tentulah kecanggungan itu pasti ada.

Empat tahun saya tinggalkan, katakanlah kecamatan tempat saya tinggal saja, sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Banyak pabrik-pabrik bermunculan. Dari perusahaan minyak makan sampai besi bekas sekarang berdiri angkuh di sepanjang jalan lintas sumatera. Satu yang menarik hati saya adalah perusahaan susu dan kopi instan. ADA pula sebuah perusahaan agribisnis. Selain karena keduanya sudah punya nama, kedua berada di lokasi tepi pantai, bersentuhan langsung dengan pantai. Saya ingin bekerja di tepi pantai tanpa harus jadi nelayan. Tapi sekali lagi, bukan hal mudah untuk bisa bergabung di perusahaan itu. Bahkan saya ragu, apakah label kampus dan almamater saya itu akan berfungsi jika aroma nepotisme begitu terasa di perusahaan-perusahaan yang saya inginkan? Haruskah saya hanyut juga dalam arus demikian. Saya makin geram dan ingin membuat perusahaan sendiri jadinya.

Memang, untuk bisa melenggang mendirikan perusahaan di suatu kawasan, seringkali ada persyaratan yang mengharuskan perusahaan tersebut memperkerjakan warga sekitar. Jika calon tenaga kerja tersebut memiliki standar kelayakan (pendidikan dan soft skill) tentu bukan perkara. Celakanya, kawasan pedesaan didominasi oleh warga yang tingkat pendidikannya di bawah standar. Demikianlah akhirnya perusahaan tetap berjalan. Seiring waktu, warga yang telah lama direkrut menjadi pekerja itu ada yang punya posisi elit. Umumnya, mereka dipanggil dengan nama “orang dalam”. Pihak yang seringkali mengacaukan pengumuman adanya lowongan pekerjaan di perusahaan tempatnya bekerja.


Senin, 28 Oktober 2013

Kisah Hikmah: Bakti Istri kepada Suami

Suatu hari di zaman Rasulullah saw, seorang suami pamit pada istrinya untuk berjihad. Suami itu berpesan agar istrinya tidak keluar rumah sebelum ia kembali. Setelah kepergian suami itu, keesokan harinya datanglah seseorang yang merupakan utusan dari Ayah perempuan yang ditinggal berjihad oleh suaminya tersebut.
"Saya diutus oleh Ayahmu untuk mengabarkan bahwa beliau sedang sakit keras. Beliau meminta saya untuk menjemputmu." ucap si utusan.
"Maaf, suami saya sedang berjihad. Saya tidak boleh keluar rumah sampai ia kembali."
Utusan itu akhirnya pulang.
Hari berikutnya utusan itu kembali. Kali ini dengan kabar bahwa sakit Ayahnya semakin parah. Ia sangat ingin dikunjungi oleh putrinya. Namun, perempuan itu tetap menolak dengan baik, dengan alasan yang sama seperti sebelumnya.
Hari ketiga, utusan itu mengabarkan bahwa Ayah si perempuan sedang menghadapi sakaratul maut. Meskipun sebentar, kehadiran perempuan itu akan sangat bermakna. Tetapi si perempuan tak berubah pikiran.
Sampai akhirnya hari keempat utusan itu memberitahu bahwa Ayahnya telah meninggal. Jika memang mau, perempuan itu ditunggu kehadirannya di pemakaman. Tapi hal itu tak pernah terjadi. Atas rasa kesalnya, utusan itu mengadu kepada Rasulullah SAW. Menurutnya, perempuan itu sudah keterlaluan karena tak mau menjenguk Ayahnya yang sakit parah bahkan ketika meninggal pun tidak hadir ke pemakamannya.
Rasulullah SAW menjawab:
"Ayah dari si perempuan itu diampuni seluruh kesalahan dan dosanya oleh Allah SWT karena memiliki anak perempuan yang berbakti kepada suaminya."
Sumber: catatan pribadi kajian islami

Rabu, 16 Oktober 2013

Seni untuk?

Dengan itulah, menurut Plekhanov, Pushkin merumuskan sikapnya yang menegaskan “seni [adalah] untuk seni.” Seni bukan untuk tujuan apapun selain sebagai nyanyi.
Bukan, bukan buat gairah dunia,
Bukan untuk kerakusan ataupun perjuangan,
Tapi untuk inspirasi, untuk doa
dan merdunya nyanyi, penyair datang 
Saya bukan penganut "Seni untuk seni" ataupun "seni untuk rakyat". Entah tindakan saya untuk tetap bersifat netral dari kedua kubu masa lalu itu tepat atau tidak, intinya di sini saya hanya ingin sedikit memberikan catatan bahwa sikap tegas Pushkin tersebut justru tidak tegas. Mungkin dia tidak sadar, atau ada konteks tersembunyi yang belum saya ketahui dari kontrasnya ketegasan itu. 
Bahwa seni bukan untuk tujuan apapun --> tapi untuk inspirasi, untuk doa, dan merdunya nyanyi...

Sastra dan Sebuah Kewajiban

Sejak memasuki semester akhir di bangku kuliah dan akhirnya sekarang lulus, rasanya terlalu lama saya tak mengkaji apalagi menuliskan hal-hal terkait sastra. Sore ini saya mampir ke web Caping Goenawan Mohammad. Di sana saya serasa bernostalgia, seolah saya disadarkan dengan sebuah pertanyaan: "Sudahkah kamu lakukan kewajiban sebagai Sarjana Humaniora?"

Saya menyadari bahwa saya belum mengerahkan potensi yang saya punya untuk negeri ini. Baiklah, intinya dalam salah satu catatan itu saya mendengar kembali istilah "Realisme Sosialis" dan L'art pour l'art. Istilah yang pertama adalah masa lalu, kenangan buat saya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengkaji novel milik Nuril Basri berjudul Halo, Aku dalam Novel dengan kajian Psikologi Sastra (abnormal), sebetulnya saya mengawali konsep dengan sebuah novel milik Seno Gumira Ajidarma berjudul Negeri Senja.

Sebelum membaca HADN, lebih dulu saya membaca NS. Sebagai anak SMA, saya akhirnya memaklumi ketakpahaman saya pada novel SGA tersebut. Pemikiran saya belum sampai ke arah sana. Sebab ketika awal duduk di bangku kuliah, barulah dosen saya memberitakan bahwa Negeri Senja bukanlah novel romantis, melainkan politik. Lebih tepatnya ada realisme sosialis di sana. Istilah realisme sosialis saya dapatkan dari hasil pencarian ke berbagai sumber saat saya mencetuskan ide untuk meneliti novel SGA tersebut sebagai skripsi. Sama sekali NS tak bisa sekadar dibaca dari sampul atau endorsment. Secara garis besar, novel ini adalah perumpamaan dari sebuah negara (yang pernah) bertirani.

Sayangnya usaha saya tersebut terhenti. Terbatasnya sumber rujukan dan (terutama) kegigihan saya untuk mendapatkannya, menyebabkan rencana tersebut hanya menjadi sekadar niat baik. Saya beralih pada novel psikologi yang juga sudah saya baca di awal-awal kuliah. Tak masalah, toh sepertinya pun jika saya tetap mengkaji novel SGA saya akan kepayahan.

Minggu, 29 September 2013

Rangkaian Dies Natalis Undip ke-56 "BERKARYA DENGAN EMPATI"


3 impressive things in Undip Dies Natalis 56th tonight. Emha Ainun Najib "Kiai Kanjeng", tradition snack, and that cute lil girl who actived copycat the performer :) with Umi – View on Path.
Cak Nun suatu hari membayangkan Universitas Pangeran Diponegoro menjadi universitas international. Menjadi laboratorium ilmu pengetahuan dan budaya Indonesia dan dunia. Tak sekadar orang-orang asing kuliah di Undip melainkan betul-betul "orang-orang barat" belajar pada orang timur.

Islam adalah rahmatan lilalamin. Artinya, ketika ada seorang muslim, maka apapun yang ada di sekitarnya (manusia) akan terlindungi dalam 3 hal: nyawa, martabat dan hartanya.
Orang barat perlu penjelasan panjang lebar untuk memahami sebuah fakta. Misalnya fakta “rice” yang dalam bahasa Jawa bisa bermakna pari, gabah, beras, dan nasi. 

Menurut Cak Nun, sejarahwan modern tidak mengakui simbah-simbahnya (nenek moyangnya) sebab mereka tidak mengakui babad. Sejarah Indonesia adalah berdasarkan pengakuan sejarah barat. Apa yang tidak tercatat di Leiden maka tidak dianggap sebagai sejarah Indonesia. Maka semoga suatu saat Undip/Indonesia bisa menjadi pusat penyadaran budaya.

Diponegoro dan Gajahmada adalah dua sosok sejarah yang berjuang bukan hanya atas nama Jawa melainkan nusantara. Mereka sebetulnya bisa saja menjadi raja, tetapi mereka tidak mempermasalahkan. Gajahmada merupakan Muslim yang taat. Ia merelakan anaknya, Hayamwuruk menjadi raja (meskipun tidak ada yang tahu bahwa Hawe adalah anaknya).

Lagu jawa gelarno kloso. Eh pagere ambruk eh mergo tak tubruk. Itu adalah gambaran Indonesia yang bukannya menyelesaikan sebuah masalah justru membuat masalah berbiak. Masyarakat berharap dari kampus muncul solusi-solusi. Mahasiswa seharusnya BERKARYA DENGAN EMPATI TERHADAP PERMASALAHAN NEGARA.

Selasa, 17 September 2013

Memaknai Pendakian (Puncak Lawu 3265 mdpl)



Mendaki gunung ialah bentuk lain dari memaknai hidup. Jika biasanya di daratan kita dihadapkan pada beragam masalah yang begitu memberatkan “pundak” namun kita tidak bisa langsung “melihat” seperti apa wujud beban itu, maka dalam pendakian, kita bisa langsung melihat wujud beban yang tak hanya memberatkan bahkan membuat perih kedua bahu, termasuk juga kedua kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya.
Tidak sedikit orang yang berkata “siap” untuk melewati jalur pendakian. Juga tidak sedikit mereka yang telah berada di jalur pendakian kemudian merasa nyaris putus asa karena tak kunjung sampai ke puncaknya. Ini sama persis dengan sikap sebagian orang (termasuk saya) saat menghadapi permasalahan hidup. Ada yang terus berjuang hingga selesai, pun yang menjalaninya dengan sisa-sisa kesabaran yang ada. Ada yang mau tak mau harus menitipkan beban pada orang lain, ada pula yang dengan senang hati membawakan beban orang lain.
Bagi mereka yang sering mengeluh atas permasalahan hidup, memang ada baiknya melakukan pendakian. Tak harus ke Mahameru atau Lawu, cukup ke Ungaran. Tapi lakukan pendakian dengan niat untuk semakin menguatkan fisik dan mental. Bahwa hidup memang adalah sebuah pendakian untuk menuju Tuhan. Dalam pendakian, jalur tidaklah terus menerus naik, ada jalur-jalur datar yang kami menyebutnya “bonus”. Saya maknai, mereka yang senang berlama-lama di jalur datar ini ialah mereka yang salah paham atas kehidupan. Mereka harus sadar bahwa jalur sesungguhnya memanglah mendaki, jalur yang lebih banyak harus mereka lalui.
Untuk mencapai puncak Lawu via Cemoro Kandang, estimasi waktu standarnya sekitar 12 jam. Ini sudah termasuk jeda istirahat. Tapi untuk turun, hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 jam via Cemoro Sewu. Uniknya dua jalur ini yaitu Cemoro Kandang masih berada di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah sedangan Cemoro Sewu merupakan kawasan wisata di Kabupaten Magetan Jawa Timur. Jarak dua kawasan perbatasan ini tak sampai 1km berjalan kaki. Perbedaan estimasi jalur naik dan turun ini dipengaruhi oleh tingkat keekstreman. Meskipun lebih cepat 3 kali lipat, tapi jalur turun Cemoro Sewu lebih ‘gila’ dibanding jalur pendakian.

Jumat, 16 Agustus 2013

Kata Selingkung

Belakangan, selain kosakata alay, bermunculan pula kosakata yang tampaknya baru, yang dipakai oleh masyarakat umum khususnya pengguna sosial media. Yang lumayan kerap muncul ialah penyederhanaan salah satu proses dalam morfologi yaitu repetisi. Repetisi merupakan bentuk kata ulang misalnya kupu-kupu, tali-temali, pepohonan, dll. Bentuk yang terakhir inilah yang secara serampangan banyak digunakan oleh masyarakat. Pepohonan berasal dari kata pohon-pohonan. Contoh lain bentuk ini adalah rerumputan, jejadian, dll. Namun betulkah bentuk-bentuk seperti ‘gegara’, ‘rerupa’, lelama’? Dee bahkan pernah mengkultwitkan perihal ini di akun twitternya. Ia pun heran.

Dalam workshop editor di Bentang Pustaka yang saya ikuti Mei 2013 lalu di Yogyakarta, saya mengenal adanya “kamus selingkung”. Awalnya yang saya dengar adalah kamus “selingkuh”, sebab itulah kali pertama saya mendengarnya. Kamus selingkung ialah sejenis “buku putih” di suatu penerbitan yang digunakan selain KBBI. Kamus ini berfungsi sebagai “kitab suci” acuan yang sifatnya mengikat hanya ke dalam intern penerbitan. Misalnya penggunaan kata “gegara”, dalam KBBI tidak ada kata ini. Berbeda dengan penggunaan kata "sekadar" yang memang bentuk baku dari kesalahkaprahan "sekedar". Atau kata "selebriti" yang belakangan telah mulai digantikan dengan yang baku yaitu "selebritas".

Salah satu penerbit menggunakan istilah pengin (ada yang menggunakan kata ‘pingin’) meskipun yang ada dalam KBBI adalah ‘ingin’, berdasarkan suatu alasan. Diantaranya karena adanya lebih dari satu versi, maka untuk “menyudahi” kegalauan penerbit pun menetapkan satu kata yang mereka pilih untuk digunakan secara konsisten. Pun bila di kemudian hari diharuskan adanya revisi tentu penyesuaian akan senantiasa dilakukan.

Hal tersebut memang tidak sepenuhnya baik. Bahkan bisa jadi melangkahi KBBI. Namun, (menurut saya) penggunaan yang terlanjur marak oleh masyarakat menjadi tuntutan pembaharuan terhadap buku-buku yang baru diterbitkan di suatu era tertentu. Hanya saja, beberapa masyarakat awam yang membaca buku-buku terbitan mereka seringkali menjadi salah kaprah dan menganggap kata tersebutlah yang paling benar. Padahal tidak demikian. Sebab tiap penerbitan memiliki kamus selingkung masing-masing. Asas penggunaan suatu kata dalam kamus selingkung adalah konsistensi.Jadi, sebagai pembaca sebaiknya kita lebih bijak dalam memilih kosakata-kosakata yang memang sudah umum tetapi belum dibakukan dalam KBBI.

Minggu, 21 Juli 2013

La Tahzan, sebab Tuhan Tak Ingin Kita Bersedih

Kesedihan umumnya disebabkan oleh ketakmampuan mengatasi suatu permasalahan. Padahal, permasalahan atau ujian dalam hidup manusia adalah hal lumrah. Sebab hidup adalah proses. Dalam proses, kita melewati fase-fase tertentu. Jika kita gagal melewati sebuah fase atau gagal menyelesaikan suatu permasalahan, maka kita akan menjadi manusia yang stagnan. Hanya berkutat pada masalah yang itu-itu saja. Sedangkan proses menuntut kita untuk senantiasa lanjut ke fase berikutnya.

Sakit hati adalah salah satu bentuk ujian yang harus kita selesaikan pada suatu fase. Ada orang yang bukannya menyelesaikan masalah melainkan justru hanya melakukan pelarian.
Banyak hal bisa dilakukan untuk melarikan diri dari masalah. Cara positif misalnya dengan membaca quran, mendekatkan diri pada Tuhan. Atau dengan cara negatif misalnya minum alkohol. Hal semacam itu bisa memberikan ketenangan pada seseorang. Sehingga masalah tidak diselesaikan tetapi hanya dianggap selesai.

Ada kalanya menyelesaikan suatu permasalahan dengan hanya menganggapnya selesai adalah cara terakhir yang mampu dilakukan seseorang. Apalagi jika itu adalah masalah yang terlalu pelik. Ini semacam pengingkaran agar beban sejenak berkurang.

Sayangnya, menganggap selesai suatu permasalahan tanpa  benar-benar menyelesaikannya adalah sama dengan hanya mengendapkan hal tersebut. Tidak heran bila di kemudian hari, endapan masalah tersebut justru menjadi masalah yang makin serius. Sebab hanya menganggapnya selesai tanpa mengikhlaskannya adalah kesia-siaan.
Terhadap suatu permasalahan, kita harus menyadari masalah tersebut, merasakan dengan penuh kesadaran. Meluapkannya. Jika marah katakan marah. Lepaskan emosi itu. Baru kemudian berusaha melupakan. Hal ini sama dengan ketika kita berusaha untuk merasakan denyutan di seluruh tubuh.

Denyut pada tubuh adalah bukti kasih sayang Allah. Sesungguhnya denyutan ada di seluruh bagian tubuh kita dari kepala sampai kaki. Tapi kita jarang mampu menyadarinya.
Cobalah rasakan denyut nadi di genggaman tangan, langsung terasakah? Jika belum, pejamkan mata dan rasakan. Tidak mampu meraskan denyut di tangan adalah indikator bahwa kita belum bisa merasakan dan menyadari emosi diri. Merasakan apakah kita sudah betul-betul mengikhlasakan sesuatu atau hanya mengendapkannya.
Dalam QS 7: 42-43, Allah SWT berfirman: 
"Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan kami mencabut dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai."

Dari ayat tersebut kita bisa berhikmah bahwa cara menghapus rasa dendam atau sakit hati atau mengikhlaskan suatu masalah adalah dengan berbuat baik, kebajikan. Kalau kita masih sedih ketika mengingat sesuatu (permasalahan di masa lalu yang kita anggap sudah selesai) berarti kita belum ikhlas. Berarti Allah belum mencabut masalah itu dari hati kita.

Pentingnya mengikhlaskan suatu permasalahan sakit hati adalah agar kita tidak larut dalam kesedihan. Kita tidak boleh bersedih. Dalam quran dikatakan "la tahzan" (jangan bersedih). Sebab orang bersedih pertanda jauh dari rahmat Allah. Kesedihan pun bisa membuka peluang bagi setan untuk menjerumuskan kita.

Banyak hal menjadi serba salah ketika kita bersedih. Menyebabkan kita tidak bisa beraktivitas dengan baik. Salah satu contohnya adalah perilaku galau yang belakang seolah menjadi gaya hidup, menjadi bagian yang tak bisa terlewatkan. Padahal jelas bahwa menggalau ialah memanjakan kesedihan diri sendiri.

Disusun dan dikembangkan berdasarkan dari Spiritual Coaching bersama Ustazah Meidian, 21 Juli 2013 di Masjid Kampus Undip Tembalang.


Rabu, 05 Juni 2013

Indonesiaku Atlantisku


Mengenai adanya dugaan bahwa Indonesia adalah benua yang hilang yaitu Antartika, sepertinya saya setuju. Semua hal yang saya butuhkan atau yang akan saya butuhkan, ada di sini. Sejak dilahirkan dan bertahan hidup di negeri ini selama 21 tahun lebih saya memang merasa beruntung menjadi Warga Negara Indonesia. Sebelum dan setelah saya tahu mengenai adanya negara-negara lain di seluruh dunia, meskipun ada keinginan untuk mengunjungi beberapa negara lain, saya tetap mencintai tanah air ini begitu dalam. Tidak ada alasan yang bisa menjelaskan secara pasti kenapa saya begitu mencintai Indonesia. Yang jelas, dalam tubuh saya terkandung begitu banyak unsur tanah dan air Indonesia.

Indonesia adalah negeri yang sangat bahkan terlalu potensial untuk semua hal. Baik dari segi SDM, SDA, dan hal lain yang suatu saat nanti dibutuhkan oleh dunia. Saya setuju dengan ucapan Mr. Fahmi yang mengatakan bahwa meskipun bangsa Indonesia pernah dijajah oleh beberapa bangsa dunia sejak masa lampau hingga sekarang (hanya berbeda teknik penjajahan), Indonesia tetaplah negeri yang survive. Di negeri yang secara serampangan dianggap memiliki tanah subur—karena beberapa tanaman bisa tumbuh tanpa perlu ditanam cukup dengan melempar biji buahnya saja—ini selalu lahir dan tumbuh bibit-bibit baru baik SDM maupun SDA. Indonesia tidak pernah kehabisan orang-orang kreatif yang bisa mengolah apapun menajdi hal bermakna bagi hidup mereka masing-masing.

Menjadi negeri yang adidaya seperti Amerika, Cina atau Jepang mungkin bukan hal diambisiuskan bangsa ini. Tapi saya percaya bahwa Indonesia mumpuni untuk sekadar menjadi negara super power. Ini hanya masalah ada tidaknya kemauan dan tekad yang kuat (ambisiusitas). Menurut pendapat saya, Indonesia tidak begitu ambisius untuk hal tersebut. Tapi yang terpenting bagi bangsa negeri ini adalah selalu bisa mengikuti setiap trend dunia. Indonesia tak perlu menjadi yang nomor satu di dunia tapi dunia akan selalu mengingat negeri ini. Itulah poin penting yang saya peroleh dari pengamatan.  

Sebagai negara kepulauan, Indonesia adalah negara besar yang berani untuk mempertahankan puluhan provinsi untuk tetap menjadi bagian dari NKRI. Tidak seperti negara lain di dunia yang membentuknya menjadi negara bagian (united state). Dikarenakan kemajemukan tersebut, Indonesia memiliki keanekaragaman dalam banyak hal: agama, budaya, tradisi, bahasa dll. Jelas bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya. Bisa jadi karena kekayaan itulah Indonesia lalai untuk merawat apa yang merupakan miliknya. Wajar jika beberapa “harta” yang dimiliki telah dengan mudah diakui sebagai hak milik oleh bangsa lain. Tapi tetap saja, meskipun demikian Indonesia tidak begitu khawatir kehilangan. Adanya tanah subur yang senantiasa menumbuhkan berbagai keperluan hidup membuat bangsa Indonesia tetap tenang, stay woles dan malas. Apalagi sudah banyak bangsa Indonesia yang cenderung melupakan budaya lokal-nasional dan tertarik pada budaya bangsa lain. Mereka lebih suka ikut-ikutan budaya lain. Misalnya budaya barat dan yang sekarang sedang booming adalah budaya Kpop.


Namun demikian, di postingan sebelumnya saya sudah pernah sampaikan bahwa budaya homoseksual yang dianggap berasal dari budaya barat sebetulnya adalah pendapat yang salah. menurut Kang Putu isu lesbian—yang belakangan kerap menjadi topik di buku-buku sastra—ikut mewarnai buku ini. meskipun kang putu menambahkan bahwa isu lesbian sebenarnya telah ada di indonesia sejak dulu. menurutnya, para warok di jawa timur umumnya memiliki simpanan pria tampan sebagai semacam “sarat” profesi. jadi, menurut kang putu lagi, kita tidak perlu mengucapkan kulonuwon pada budaya barat mengenai isu tersebut. Sebagai bukti tambahan bahwa Indonesia sudah lebih dulu memiliki ‘sesuatu’ yang mungkin dianggap baru bahkan dianggap sebgai budaya dari negara lain. Saya sampaikan pula di sini pendapat Mr. Fahmi mengenai budaya rapper yang dianggap kepunyaan American Black. Rapper asli Indonesia adalah dalang. Mereka bicara secara spontan dengan iringan instrumen musik sebagaimana para rapper. Apa yang dilakukan para rapper sebetulnya hanyalah membaca dengan diiringi beat music.